Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3.
Salindra bergeming melihat ayah dan ibunya, ia melangkah mundur jauh dari mereka berdua. Yuda melihat mantan istrinya merasa ada yang berbeda tidak seperti dulu, sekarang terlihat lebih cantik dan elegan.
Kamila mengabaikan pertanyaan Yuda mantan suaminya. Ia hanya fokus dengan Salindra saja karena tujuannya adalah bertemu dengan Salindra.
"Salindra, ibu mohon tinggal sama ibu, ya!" pinta Kamila memohon.
“Salindra akan tinggal bersamaku, bukan sama kamu," tolak Yuda dengan yakin kalau Salindra bersedia tinggal bersamanya.
"Maaf, ayah, aku tidak bisa ikut dengan ayah, karena saat ini aku sedang ingin fokus bekerja," kata Salindra dengan berat hati.
"Begitu juga dengan ibu, aku akan tetap tinggal di sini bersama kak Jayanti, selama ini kami sudah terbiasa hidup tanpa kalian dan kami masih bisa bertahan hingga saat ini. Jadi, biarkan kami menentukan masa depan kami sendiri," lanjut Salindra mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kamila menatap wajah Salindra lekat dan memikirkan perkataannya. Kamila merasa tubuhnya berat dan ingin mengeluarkan apa yang ada di dalam benaknya selama ini bahwa dirinya sangat rapuh tanpa kedua anaknya. Kamila menahan airmata di kelopak matanya agar tidak jatuh lalu melangkah mundur.
“Kamu sungguh tega, Yuda. Kamu sudah memisahkan anakku dariku, dan kamu menaruh kebencian di hatinya agar membenciku," bentak Kamila dengan mata nyalang.
"Bukan aku tapi kamu, kamu tidak bisa mendidiknya dan memilih pria lain yang punya banyak harta dibanding aku," Yuda menyangkal dan menuduh balik mantan istrinya.
"Brengsek, dasar laki-laki serakah tidak punya hati dan otak," sahut Kamila menampar wajah Yuda mantan suaminya.
Salindra tersentak, tubuhnya membeku mendengar perselisihan antara ayah dan ibunya. Ia menangis histeris sambil berkata. "Sudah cukup, hentikan,"
Yuda dan Kamila terdiam lalu menoleh ke samping melihat Salindra menangis sambil duduk di sudut ruangan. Kamila ingin mendekat tapi, Salindra menolak dan mengarahkan tangannya agar ibunya tidak mendekatinya.
Yuda melihat Salindra, diam tidak berani mendekat apalagi mengajak bicara. Ia tahu kalau Salindra sedang marah tidak mau didekati siapapun. Akhirnya Yuda meninggalkan rumah mereka.
Salindra melihat kepergian ayahnya lalu melihat ibunya masih berada di ruang tamu sedang melihatnya, ia membenci hal itu. Kamila berusaha mendekati anaknya dan mengajak berdiri. Namun, Salindra kekeh dengan pendiriannya menolak disentuh ibunya.
"Kenapa ibu masih di sini?“ tanya Salindra lirih.
Kamila menoleh dengan pandangan sayu. "Bolehkah ibu merawat kamu, Nak?" tanya Kamila penuh permohonan.
"Sudah aku bilang, jangan tanya karena aku tidak tahu," jawab Salindra sambil menggelengkan kepala.
"Tapi kamu mau kan, tinggal sama ibu," tanya Kamila lagi.
“Tolong bu, jangan paksa aku tinggal sama ibu, lebih baik sekarang ibu pergi," Salindra mengusir ibunya.
Kamila beranjak meninggalkan rumah mereka berjalan perlahan sesekali menoleh ke belakang melihat Salindra. Ada penyesalan dalam hatinya juga berharap maaf dari Salindra, ia sangat menyesal karena sudah meninggalkan kedua anaknya.
Menjelang malam Jayanti baru pulang kerja, ia langsung membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian rumahan. Ia mencari Salindra ke kamar dan mengetuk pintu dengan keras. Pintu terbuka terlihat Salindra dengan mata sembab membuat Jayanti penasaran. "Kamu kenapa?"
Salindra berjalan melewati Jayanti menuju meja makan dan mengambil nasi dan lauk lalu melahapnya. Jayanti mengikuti Salindra duduk lalu mengambil nasi dan lauk tidak lupa sayur. Ia tidak langsung makan tapi menunggu jawaban Salindra atas pertanyaannya.
“Tadi ayah dan ibu ke sini," jawab Salindra sambil melanjutkan suapan berikutnya.
Jayanti terkejut mendengarnya, ia melihat mata Salindra lekat. "Apa yang mereka katakan sama kamu?"
“Makanlah dulu," perintahnya melihat nasi di piring kakaknya belum di makan.
Jayanti melihat nasi di piringnya langsung melahapnya dengan pelan. Otaknya memikirkan kedatangan ayah dan ibunya tanpa sepengetahuan dirinya. Ia tidak menyangka kalau ayahnya punya nyali datang ke rumah, sedangkan ibunya sudah pasti berharap pada Salindra. Jayanti memperhatikan Salindra menyelesaikan makannya, ia pun segera menghabiskan sisa makanannya, lalu mencuci piring bekas ia makan.
"Apa kamu ingin tinggal bersama salah satu dari mereka?" tanya Jayanti begitu selesai merapihkan meja makan.
Salindra menatap kakaknya lalu menggeleng dengan cepat. Meskipun hatinya menampik tapi, ada rasa yang sulit untuk dijelaskan. Salindra mengharapkan sebuah keluarga utuh seperti orang lain tapi kenyataannya justru membuatnya membenci keadaan.
“Jika di suruh memilih antara mereka berdua, kamu akan memilih siapa?" tanya Jayanti duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Salindra menarik napas panjang lalu menghembuskan ke udara, ia duduk di kursi samping kakaknya. "Aku akan memilih tinggal sendiri tanpa mereka dan menunjukkan keberhasilanku,"
Jayanti menghentikan jarinya memainkan ponsel dan beralih melihat Salindra. "Benar sekali, itu baru namanya anak hebat,"
Jayanti tersenyum lebar mendengar ucapan adiknya dan menyemangatinya. Salindra tersenyum getir saat mengingat penolakkan waktu melamar pekerjaan. Aku harus mendapat pekerjaan secepatnya agar bisa mempunyai uang banyak untuk membiayai hidup masa depanku kelak batin Salindra.
"Kamu sudah melamar pekerjaan?" tanya Jayanti matanya fokus pada layar ponselnya.
Salindra melirik ponsel dalam genggaman kakaknya. Sedangkan ia jarang memainkan ponselnya selain chatingan dengan teman akrabnya. Salindra tidak pernah membuka sosial media meskipun banyak aplikasi tapi ia tidak tertarik sama sekali pada ponselnya, kalaupun hiburan ia akan menonton televisi yang gambarnya besar dan lebih jelas.
Salindra mengambil remot dan menyalakan televisi, jarinya menekan tombol volume dan tombol program untuk melihat acara. Jarinya berhenti ketika melihat film action yang menurutnya bagus. Ia begitu serius ketika melihat adegan action yang menegangkan. Sesekali Salindra berbicara sendiri bahkan mengayunkan tangannya seolah ikut terlibat dalam cerita yang ia tonton.
Jayanti melirik Salindra lalu beralih ke acara televisi justru ikut melihat film tersebut dan mematikan ponselnya fokus di layar televisi. "Bagus juga filmnya," gumamnya.
"Kak, aku ngantuk mau ke kamar," kata Salindra sambil menguap menutupi mulutnya menggunakan tangannya.
Jayanti mengangguk tapi pandangannya masih fokus pada layar televisi dan mengganti program lainnya.
Di kamar Salindra tidak bisa memejamkan mata, angannya yang ingin segera mendapatkan pekerjaan terus berputar dikepalanya. Bayangan tentang dunia pekerjaan menghantuinya sampai terbawa mimpi.
"Salindra, tolong bereskan meja saya sekarang," perintah seorang Manager perusahaan dengan tegas
Salindra yang baru saja masuk kerja merasa sangat senang mengerjakan perintah atasannya dan segera menjalankan tugasnya dengan semangat. Namun, baru saja mulai dikejutkan oleh suara perempuan yang masuk ke dalam ruangan sambil membentaknya dengan suara nyaring.
“Apa yang kamu lakukan di ruangan ini, kamu pasti ingin berbuat curang kan, hayo ngaku," katanya sambil menunjuk ke arah Salindra.
Salindra yang tidak tahu apa-apa bingung melihat perempuan tersebut masuk dan langsung menuduhnya yang bukan-bukan. Ia ingin membela diri namun, sang manager masuk ikut membentaknya.
"Saya kan tadi di suruh_"
"Keluar kamu dari sini," usir sang manager.
Tanpa menunggu waktu Salindra bergegas keluar dari ruangan sambil melirik ke manager dan perempuan di sebelahnya merasa ada yang aneh. Sebelum benar-benar pergi Sang Manager berkata.
“Jangan sampai ada orang yang tahu!"
"Baik, Pak," jawabnya melangkah pergi dengan menahan rasa kesal sambil menggerutu dalam hati.