NovelToon NovelToon
Artificial: Destiny Of The North Non-Bender.

Artificial: Destiny Of The North Non-Bender.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Kambing Bersayap

Di dunia yang mengagungkan keaslian elemen biologis, menjadi Non-Bender adalah sebuah kutukan. Kyra Frost, remaja 14 tahun yang dianggap cacat oleh sukunya sendiri, terpaksa menelan pil pahit kehidupan sebagai kurir logistik. Tapi alam tidak tahu, bahwa di balik dinding laboratorium sains Benua Utama, sebuah eksperimen terlarang sedang menanti untuk merekayasa ulang aliran energi tubuh mereka. Ketika takdir memaksa yang cacat menjadi yang terkuat, bersiaplah menghadapi bangkitnya elemen buatan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kambing Bersayap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Malam itu di pabrik minyak yang mati dan sepi, nyala api kecil dari pembakaran kayu menjadi satu-satunya sumber kehangatan. Setelah menyantap makan malam, mereka semua terdiam. Tidak ada gelak tawa, tidak ada tingkah konyol dan tidak ada obrolan yang santai seperti di Sektor Satu maupun di Glacias. Yang ada hanya helaan napas berat, rintihan pelan saat perban-perban lengket di kelupas dari luka basah, dan desis gesekan kain kusam.

Arya duduk agak jauh di sudut kegelapan. Punggungnya yang lebar bersandar sepenuhnya pada dinding beton yang dingin dan berlumut. Baju sipil yang ia kenakan robek di bagian perut memperlihatkan sebuah luka sabetan yang membiru dan membeku di bagian pinggirnya—efek dari elemen es milik Arya sendiri yang ia gunakan untuk menghentikan pendarahan internal.

Ia menatap nyala api unggun kecil yang memantulkan bayangan pasukannya anak buahnya yang biasanya gagah dan rapi kini terlihat seperti kelompok hantu perang yang merangkak keluar dari kuburan berlumpur. Dia memberikan perintah untuk beristirahat total malam ini dengan jadwal beraga secara bergantian walau faktanya, Arya lah yang berjaga semalaman karena tidak bisa tidur dan dia sengaja membiarkan semua anak buahnya tertidur sampai pagi hari.

Di tengah lamunannya, langkah kaki Rayyan terdengar mendekat. Setelah selesai membantu merawat luka pasukan Glacias, pria itu menghampiri Arya yang sedari tadi duduk sendiri di pojokan sementara pasukannya termasuk Kapten Januar sudah tertidur sampai mendengkur keras. 

“Kau dari tadi duduk di pojokan saja seperti sambal.” Ucap Rayyan ketika sampai di depan Arya. Ia memberikan sebotol air bersih untuk minum dan membasuh muka. “Kau terluka kan? Sini biar aku bantu membersihkannya.” 

“Nanti saja. Kau sudah memastikan kalau pasukanku baik-baik saja? Maksudku… soal luka-luka—” belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, pandangannya terbalik seratus delapan puluh derajat.

Rayyan memanfaatkan pengendalian airnya untuk membuat Arya telungkup. Kaki dan tangannya terkunci rapat sementara jemarinya sibuk meneliti seluruh tubuh Arya kalau ada luka lain yang tersembunyi. Setelah memastikan, air dari Rayyan membilas seluruh tubuh Arya sampai bersih tanpa noda. “Baiklah, luka mu yang di perut harus di jahit Arya”

“HEI! apa yang kau lakukan! LEPAS!” Ucap Arya ketika dirinya sadar tengah dibelenggu dan di bilas bersih oleh Rayyan. “Ayolah kawan, kau tak perlu melakukan ini bukan? Sudah selesai? Jahit lukanya nanti saja.”

“Diam…dari awal kau selalu bertindak tanpa memikirkan orang lain. Bagaimana kalau salah satu diantara kami ada yang meninggal? Aku benci sifatmu yang seperti itu. Sekarang, turuti apa perintahku dan tutup mulutmu!” Ucap Rayyan dingin. 

“Kau pikir aku tidak kerepotan setiap saat menjaga baris belakang dan memastikan kalau tidak ada yang tewas dalam perjalanan? Dan sekarang jawab aku, Jenderal. Kalau kau mati karena luka yang infeksi, bagaimana kau bisa menemukan adik mu?” ucap Rayya seraya menyiapkan peralatan rawat luka seadanya. Dirinya sudah melepaskan belenggu air yang mencengkram tangan dan kaki Arya. 

Sejenak Arya terdiam. Ia lalu berpikir keras. Kalimat Rayyan ada benarnya juga. Dan lagi pula, dia terlalu egois pada misi kali ini. 

Rayyan bergerak cepat merawat luka di perut Arya dengan hati-hati. Membersihkan lukanya sampai bersih, memberikan campuran tanaman herbal dan menutupnya dengan kain bersih. Sesekali Arya berteriak karena nyeri yang melanda. Namun apa boleh buat. Rayyan saat ini dalam mode guru BK yang tidak bisa di bantah. 

Setelah selesai dengan kegiatan merawat lukanya, ia duduk bersandar di sebelah Arya. Dengan tatapan mata yang lelah, dia memulai obrolan. 

“Lihat? Mereka semua kelelahan setelah sepuluh hari tanpa istirahat yang cukup. Aku bahkan sempat merasakan kalau aliran omnia mereka sedikit kacau akibat kurang istirahat.” ucapnya. Matanya menatap lurus ke arah api unggun yang dikelilingi pasukan Glacias yang tertidur pulas dan kakinya selonjoran karena terasa kaku.

“Aku… aku hanya ingin segera menyusul adikku…” ucap Arya hampa.

“Tenangkan dirimu, Arya. Kita akan menemukan mereka. Untuk sekarang, beristirahatlah. Tutup pintu masuknya dengan es mu. Dengan begitu, kau akan merasakan kalau ada yang menerobos masuk.” ucap Rayyan sembari memejamkan matanya.

Arya menatap dinding es buatannya yang tampak kokoh dan tebal. Dinding es yang menjadi penutup pintu gudang sekaligus menyegel mereka semua di alam gudang. Pendar kebiruan es itu membiaskan bayangan wajah Rayyan yang sudah terpejam di sampingnya, tertidur dengan napas yang teratur. Tertidur setelah sekian lama tidak tidur.

Jenderal muda itu menyandarkan kepalanya ke dinding beton. Jemarinya yang kapalan meraba kain perban di perutnya yang terasa hangat oleh balutan herbal buatan Rayyan. Rasa nyeri itu masih ada, namun emosi membara yang merusak pikirannya perlahan surut berganti dengan ketenangan. Kata-kata Rayyan benar. Jika ia ambruk karena ego dan kecerobohannya sendiri, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Kyra. 

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari terakhir, Arya membiarkan kelopak matanya terpejam. Membiarkan dirinya tertidur untuk malam ini.

keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi menyeruak menembus celah-celah atap seng Pabrik Minyak yang berlubang.

Pasukan Glacias terbangun dengan kondisi yang jauh lebih segar. Meskipun luka-luka di tubuh mereka belum sepenuhnya sembuh dan masih terbalut kain kusam serta pakaian yang masih bernoda, porsi tidur selama tujuh jam penuh membuat sinar mata mereka kembali tajam. Stamina yang tadinya berada di titik nadir kini terisi kembali.

“Perhatian semuanya!” Suara Kapten Januar bergema tegas saat seluruh pasukan selesai mengemas perbekalan dan meminum pasokan air bersih yang disediakan oleh Rayyan. Wajah sang Kapten terlihat gagah kembali, tidak ada lagi jejak kelelahan yang konyol. “Hari ini kita akan menyebrang ke sektor tiga. Tidak ada pertempuran acak, tidak ada yang melenceng dari rute dan fokus penuh untuk menemukan laboratorium tempat Kyra dan kawan-kawan berada!” 

“SIAP, KAPTEN!” Sahut Bambang, Rendy, Danu, Bisma dan anggota tim lainnya serempak.

Arya melangkah ke depan barisan. Dengan gerakan cepat, dinding es yang menutup pintu keluar berubah menjadi pecahan kristal yang menguap di udara pagi. Ia memutar tubuhnya, matanya menatap seluruh prajurit miliknya dan Rayyan yang berdiri mantap di belakangnya.

“Terimakasih untuk semalam,” ucap Arya singkat namun tulus seraya melirik Rayyan. Lalu, tatapannya beralih lurus ke garis cakrawala utara yang dipenuhi kabut tebal. Sektor Tiga. 

“Ayo, kita jemput adikku dan selesaikan bajingan yang bernama Arkan!” 

Namun, belum sempat semuanya melangkah keluar gedung, Rayyan tiba-tiba menghalangi pintu keluar dengan tangan yang terlipat di dada. Pemuda itu menggelengkan kepalanya menatap kondisi seluruh pasukan militer Glacias yang benar-benar mengenaskan. 

“Kalian semua… stamina sudah kembali dengan sempurna, masa kalian berangkat dengan tampilan yang sama sekali tidak paripurna? Bau kalian lebih parah daripada bangkai tikus yang direndam minyak tanah.” Celetuk Rayyan tanpa dosa.

“Bisa tolong dihaluskan sedikit kalimatnya, mas Rayyan?” Sahut Bambang heran. “Kami ini habis tempur selama sepuluh hari non-stop ya mas, bukan habis piknik. Jadi wajar saja tampilan kami seperti ini. Lagipula, kita tidak akan bertemu orang lain disini.” 

“Huft… kalian itu anggota militer yang seharusnya bisa merawat diri. Bagaimana sih didikan pemimpin kalian?” Ucap Rayyan sembari melirik sinis ke arah Arya.

“Hei apa maksudnya itu?!” sahut Arya cepat.

“Sudah… aku tidak mau melanjutkan perjalanan kalau kalian masih kotor dan bau busuk. Bisa-bisa aroma kalian tercium oleh musuh yang tidak seharusnya muncul!” Tanpa persetujuan siapapun, Rayyan mengangkat kedua tangannya. Pasokan air murni yang sudah ia murnikan secara diam-diam dari tangki limbah mendadak terangkat ke udara. Dengan cepat, gelombang air yang tercipta membentuk pusaran air raksasa yang berputar di atas kepala pasukan Glacias. “Dan… siapa bilang kalian akan mandi? Kita tidak akan menghabiskan waktu untuk itu bukan?”

“E-Eh … Rayyan? Kau mau apa dengan air sebanyak itu? Dan apa maksudnya—” belum sempat Kapten Januar menyelesaikan kalimatnya, tanpa ampun Rayyan menurunkan air yang berputar dengan kecepatan tinggi itu ke semua orang yang ada disana termasuk Arya dan dirinya.

WHUUUSSSHHH!

“AAAARRRGGHHHH” 

“OI…. APA MAKSUDNYA INI—?!”

“ASTAGA… DINGIN!!” 

“RAYYAN, KAU MAU MEMBUAT KAMI MATI KEDINGINAN SEBELUM BERTEMU MUSUH HAH?!”

Semua orang disana berteriak kencang karena terkejut dan kedinginan. Aliran airnya tidak keras sampai mematahkan tulang, tapi cukup kuat untuk meluruhkan semua kerak darah, sisa minyak yang menempel, noda lumpur hingga daki yang menempel di kulit dan baju mereka.

Bambang yang ketakutan langsung megap-megap seperti ikan mas yang terdampar, Rendy yang tadinya hanya diam menyimak pasrah langsung berusaha kabur namun tidak akan dibiarkan oleh Rayyan. Sementara Kapten Januar cuma bisa berdiri pasrah menutup mata dan mulutnya sambil menahan supaya aliran air yang memutar cepat mengelilingi tubuhnya. Lalu Arya, posisinya sekarang dia berjongkok dan meringkuk sambil menutupi telinganya kuat-kuat.

Rayyan mengendalikan pusaran air itu dengan presisi yang sangat tinggi. Membilas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menyapu bersih seluruh kotoran lalu memisahkan kotornya ke sudut gudang. “Lihat? airnya sama keruhnya dibanding air yang belum aku murnikan.”

Dalam kurun waktu kurang dari tiga menit, semburan air itu berhenti. 

Seluruh prajurit Glacias kini sudah bersih. Tapi basah kuyup. Tidak ada lagi bau minyak, tidak ada lagi lapisan hitam di muka. Semua bersih. Wajah ketat dan seram Kapten Januar kini terlihat jauh lebih segar meski bajunya menempel kuat di tubuhnya karena basah. 

Walau basah, uniknya rambut semua orang disana sudah tertata rapi seperti hasil penata rambut profesional. Rayyan sengaja membuatnya seperti itu.

“Nah… kalau begini kan enak dipandang. Lagipula, kalian tidak akan mati karena kedinginan. Kalian itu pasukan militer Glacias bukan?” ucap Rayyan enteng. “Sekarang, kalian tinggal pakai pengendalian elemen kalian untuk mengeringkan tubuh kalian. Jangan manja!” 

“Aku menamai ini sebagai Strategi Perang 101, musuh akan segan melihat pasukan yang rapi dan paripurna seperti kalian.” Sambung Rayyan seraya mengendalikan air yang masih tersisa di bajunya hingga kering.

“Nanti kalau sudah sampai di sektor tiga, kalau ada musuh yang menembak akan ku pastikan aku bakal dorong tubuhmu yang ringkih itu ke depan, Ray.” Ucap Bambang dengan rahang yang mengeras. Tak lama, ia pun membekukan seluruh air di tubuhnya dan merontokan semuanya dalam sekejap mata. Sekarang sudah resmi menyandang bersih, rapi dan wangi.

“Kalau kau bukan kawan lamaku, sudah aku pastikan kau akan ku kurung dalam penjara es dan membuatmu kedinginan dan kering seperti dendeng sapi.” Ucap Arya dingin. “Lalu, apa apaan ini. Sudah membuat basah kuyup malah di suruh mengeringkan sendiri. Dasar tidak bertanggung jawab!”

“Hei, kalian seharusnya berterima kasih karena aku membantu kalian untuk tetap tampil paripurna! Dan kalau disuruh mati, aku lebih memilih mati dalam keadaan bersih daripada bau busuk seperti kalian tadi.”

“Kau tidak bisa memilih kapan akan mati, Rayyan.” Sahut kapten Januar dengan mata tertutup dan sesekali menepuk telinganya untuk mengeluarkan air yang terperangkap di dalam telinganya.

“Baiklah, baiklah… sekarang, ayo kita jemput adikku dan selesaikan bajingan bernama Arkan itu!” Ucap Arya. 

Arya melangkah maju memimpin pasukannya berjalan menembus kabut. Namun, di tempat lain yang sangat jauh dari jangkauan pandangannya, di balik dinding besi laboratorium sektor tiga yang dingin… sesuatu yang jauh lebih kelam sedang terjadi. Sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan terjadi oleh Arya.

 

Sepuluh hari lalu ketika pasukan militer Glacias baru menginjakkan kaki di sektor Dua.

Dr. Arkan menyeka debu yang menempel pada jas putihnya yang licin tanpa lipatan. Matanya menatap rendah tiga remaja yang tak sadarkan diri yang tiga perempat tubuhnya terkubur di dalam tanah. Kondisi ketiganya tidak bisa dikatakan baik. Kyra dengan kepala yang penuh akan pecahan tanah keras yang menghantam kepalanya beberapa saat lalu. Tampak hidungnya mengeluarkan darah dengan deras. Kevin tampak tak sadarkan diri dengan bekas muntahan darah di depan wajahnya yang masih menggenang. Semetara Gio tampak pipi kanan dan kirinya memar kebiruan serta bibir yang sobek dan berdarah.

Dr. Arkan berjalan santai mengelilingi ketiga remaja ini dengan langkah yang perlahan. Tak lama, jemarinya yang lentik terangkat ke udara. Segera setelah itu tanah yang diam kini bergejolak ngeri. Beberapa titik dalam radius tiga ratus meter, sebuah tanah mencuat tinggi membentuk sebuah pilar dengan bentuk persegi panjang yang kokoh, sementara di titik lain tanah-tanah itu membentuk dinding tebal yang menjulang tinggi. Dr. Arkan membangun kembali laboratorium pribadi miliknya dalam waktu singkat dan hanya menggunakan ayunan ringan jemarinya yang lentik.

Bukan laboratorium, mungkin kita menyebutnya semacam kurungan yang terbuat dari tanah padat dan kokoh. Tak lupa, Dr. Arkan memuat sebuah kursi dan meja dari tanah kemudian mengeluarkan tab miliknya yang selamat dari reruntuhan.

“Menarik…” gumamnya pelan. “Detak jantung Kyra yang tadinya tidak beraturan karena panik, kini mulai melambat dengan sendirinya. Lalu, Kevin… wah anak ini walau pingsan lebih dulu tapi tubuhnya ternyata kuat juga. Hm…. Mereka memasuki fase hibernasi pertahanan kah?” Dengan gerakan yang lembut, Dr. Arkan mengeluarkan ketiga remaja itu dari dalam tanah dan membaringkan mereka bertiga di atas gundukan tanah yang dibuat sedikit lebih tinggi. Tak lupa juga Dr. Arkan mengunci semua tangan dan kaki mereka supaya tidak bisa bergerak atau kabur.

Dengan memanfaatkan pengendalian tanahnya, Dr. Arkan memantau langsung detak jantung dan denyut nadi mereka lewat getaran yang diterima oleh elemen tanahnya.

1
SilentNovels
sebenarnya ada kok fitur catatan penuli.
btw semangat teruss yuk saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!