Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. Kembali lagi
Meski memiliki perasaan aneh yang tidak biasa, namun tetap saja Zora memutuskan untuk memasak di dapur ini dan dia mengabaikan segala perasaan yang timbul di dalam hati. dapur itu dari dulu sampai saat ini sama sekali tidak ada yang berubah sehingga membuat Zora menatap ruangan itu dengan perasaan yang sangat tidak asing sekali.
Wuuuuussssh.
''Hahh!''
Zora berbalik dengan cepat ketika mendadak saja dia merasakan sesuatu yang tak biasa menghembus tubuh dia dari belakang, namun ketika dia melihat dengan jelas Tadi malah tidak ada yang aneh sehingga membuat wanita ini merasa heran dan kebingungan, sedikit perasaan bergetar di dalam hati ini.
Karena tidak ada yang menampakan diri di depan mata, maka Zora kembali fokus pada masakan yang sedang dia buat agar bisa menyuap Bu Susi dengan bubur tersebut, melihat keadaan Bu Susi yang sudah begitu kurus sekali membuat Zora sangat merasa sedih karena dia tahu bahwa tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh wanita tua itu.
Bukan karena Mbak Paini yang lalai tidak memberi makan tapi karena Bu Susi sendiri yang memang tidak mau memakan apa saja yang telah di berikan, hanya beberapa suap dan itu terkadang sampai beberapa hari, Zora tidak tahu apa yang terjadi namun dia mengetahui bahwa ada penyakit yang sangat parah di dalam tubuh Bu Susi.
Tap.
Tap.
''Siapa yang berjalan di atas sana sampai begitu?'' kaget Zora saat mendengar langkah.
''Ya allah!'' Zora terpekik karena lantai rumah meleyot sehingga timbul cap kaki.
Tap.
Tap.
''Tidak, ini hanya halusinasi saja!'' Zora menutup mata karena seolah itu sangat luar biasa.
Dulu Zora juga mengalami hal seperti ini sehingga dia memutuskan untuk pindah saja ke kota agar gangguan itu bisa hilang, Oleh sebab itu juara merasa begitu enggan sekali ketika akan pulang ke desa dan tinggal di rumah ini, namun karena terpaksa sehingga dia tetap berada di sini untuk merawat Bu Susi yang sudah semakin tua.
Terbukti sekarang, Dia baru saja datang saja sudah mengalami hal yang begitu buruk dan pandangan yang tidak masuk akal sekali. orang lain Tentu saja tidak akan percaya bila mendengar cerita bahwa lantai rumah ini bisa meleyot itu hingga berbekas cap kaki manusia.
''Zoraaaaa.....
''Allahu Akbar!'' Zora menjerit kencang karena dalam panci bubur malah muncul kepala manusia.
Bruuuggk.
Seketika dia pingsan di dapur sendirian, hanya karena memasak bubur itu saja membuat dia mengalami begitu banyak hal yang sangat tidak biasa. Devano ada di luar sehingga dia tidak tahu bahwa sang istri telah mengalami hal yang begitu buruk di dapur ini, Mbak Paini sedang menunggu Bu Susi di dalam kamar sehingga wajar bila dia sama sekali tidak tahu.
''Ya allah, Aku ada di mana sekarang?!'' Zora tersentak bangun ketika dia mendapati dirinya berada di tempat asing.
''Kenapa hidup mu begitu enak?'' wanita memakai baju hitam dengan kerudung hitam itu bertanya kepada Zora.
''Siapa kau?'' Zora tidak kenal dengan wanita itu.
''Apa Kau pernah sedikit saja membayangkan hidup yang sengsara?'' wanita berkerudung hitam mengabaikan pertanyaan Zora.
''Kau sedang bicara apa dan kenapa aku ada di tempat ini?'' Zora agak kesal karena wanita itu memunggungi dia.
''Kau jalang tidak tau malu!''
''Aaaaaaghhh!''
Zora terjatuh terlentang ke atas tanah ketika wanita itu berbalik dan mencekik dia, Zora sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan karena tenaga wanita berkerudung hitam ini begitu kuat luar biasa sehingga untuk melepaskan diri saja dirinya sudah tidak sanggup lagi.
''Le... lepaskan aku.'' Zora menendang nendang udara.
''Kenapa kau tidak menderita juga?!'' teriak wanita berwajah hancur itu.
''To... to... long.'' Zora sudah tidak. bisa bernafas.
Hueeeeeek.
Sooooor.
Cairan darah kental berwarna merah kehitaman itu keluar dari mulut wanita berwajah hancur dan menimpa tepat di wajah Zora, bukan hanya untuk di wajah saja tapi juga masuk ke dalam mulut sehingga Zora merasakan mual tidak terhingga, begitu banyak cairan yang keluar sehingga membuat Zora sangat gelagapan untuk mengambil nafas.
''Non?!''
''Sayang kamu kenapa?'' Devano juga panik ketika melihat Zora yang terlentang di atas lantai dalam keadaan kejang.
''Pindah kan di atas kursi saja sana dulu, Tuan.'' Mbak Paini memegang erat tangan Zora yang terasa begitu dingin.
Devano segera mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan di atas sofa agar Zora bisa sedikit lebih tenang dan bisa rileks, mendadak saja Zora mengalami hal seperti itu sehingga membuat mereka semua menjadi panik tidak karuan serta mereka juga tidak tahu apa yang telah terjadi kepada wanita muda ini.
''Haaahhhhhh!''
''Bernafas sayang, pelan pelan ambil nafas.'' Devano mengusap keringat dingin di kening Zora.
''Abang!'' Zora langsung menangis begitu sadar
''Iya ini Abang, Abang ada di sini.'' Devano memeluk erat karena zona langsung bangkit terduduk.
''Aku takuuuut, aku tidak mau di rumah ini.'' Zora menangis histeris.
Devano tidak menjawab tapi dia mengelus-elus punggung Zora agar wanita ini bisa sedikit lebih tenang dan bisa berpikir jernih, ini karena baru saja pingsan sehingga mungkin dia tidak mengingat bahwa Bu Susi sedang sakit keras dan mereka datang ke sini untuk merawat orang tua tersebut.
''Minum dulu, Non.'' Mbak Paini memberikan segelas air.
''Ayo minum, kamu pasti merasa haus dan lelah.'' Devano penuh perhatian memberikan segelas air.
''Tadi harusnya istirahat dulu dan jangan langsung memasak karena non Zora pasti merasa sangat lelah.'' ucap Mbak Paini
''Ini bukan lelah atau halusinasi tapi karena rumah ini memang ada yang tidak beres.'' Zora berkata dengan emosi yang sangat tinggi.
Mbak Paini hanya menarik nafas panjang Karena dia sudah tahu sejak dulu bahwa Zora selalu saja seperti ini ketika ada di rumah, dan ternyata setelah bertahun-tahun itu berlalu namun tetap saja Zora tidak berubah sehingga kemungkinan dia akan sangat sulit sekali untuk bertahan di dalam rumah tua ini.
''Aku akan membujuk Ibu agar dia mau ke kota saja dan berobat ke sana.'' tekad Zora.
''Ibu Tidak mungkin mau karena sejak dulu sudah berusaha untuk dibujuk namun tetap saja Ibu menolak.'' ujar Mbak Paini.
''Tapi aku juga tidak Sanggup Bertahan di rumah ini.'' sentak Zora.
Mbak Paini terdiam karena tidak tahu juga mau menjawab apa agar Zora ini bisa sedikit tenang, mereka sama-sama memiliki keinginan yang begitu keras sehingga sebagai pembantu dia juga kebingungan untuk mengambil langkah bagaimana, Bu Susi memang sangat tidak mau bila meninggalkan rumah ini untuk berobat ke kota.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.