Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pesan lewat Pantulan Cermin
Alena menunduk, jari-jarinya mencengkeram cangkir lebih erat. Ia terdiam cukup lama, lalu akhirnya berbicara dengan suara hampir berbisik. “Ada bayangan. Di cermin. Sosok pria berjubah… dia memanggilku Ratu. Dia bilang aku harus segera kembali ke Istana Bulan Emas. Kalau tidak, segel akan retak… dan orang-orang yang mengejarku akan semakin banyak.”
Raka langsung tegang. Ia duduk lebih tegak, mata mengeras. “Mereka sudah menemukanmu.”
Alena mengangguk pelan, masih tidak berani menatap mata Raka. “Aku pikir… kalau aku lari cukup jauh, mereka tidak akan mencariku lagi. Tapi ternyata aku salah.”
Raka terdiam. Dia menatap Alena lama sekali, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Lalu ia menghela napas dalam, mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Jadi itu sebabnya wajahmu pucat tadi,” gumamnya. “Bukan karena kelelahan. Bukan karena ciuman tadi. Tapi karena istana sudah mengirim utusan.”
Alena mengangkat wajah, sedikit terkejut mendengar nada suara Raka yang terdengar… sudah menduga. “Kau… tidak terkejut?” tanyanya pelan.
Raka menatapnya lurus. “Aku terkejut karena mereka sudah berhasil menembus sampai ke sini. Tapi soal identitasmu… aku sudah punya dugaan saat prajurit bayangan itu datang.”
Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, jari-jari saling bertaut. “Alena apa rencanamu sekarang? Karena kalau utusan mereka sudah bisa muncul di cermin kamar ini… berarti perlindungan yang selama ini menjagamu sudah mulai lemah.”
Alena menelan ludah. “Apa yang harus aku lakukan?”
Raka menatapnya serius. “Untuk malam ini, kau tidak boleh sendirian. Tidak boleh mendekati cermin mana pun di rumah ini. Dan… kau harus memikirkan keputusan untuk kembali ke istana.”
Alena menunduk lagi, memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin. Dia terdiam lama, seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan suara pelan dan bergetar, dia membuka mulut.
“Lalu bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan kehidupanku di sini?”
Raka mengangguk. “Aku tahu kau sedang bingung... tapi ada banyak orang yang tidak bersalah akan menjadi korban jika kau terlalu lama mengambil keputusan.”
Ia mengulurkan tangan, menaruhnya di atas tangan Alena yang masih mencengkeram cangkir.
“Tenanglah... ada aku di sini,” katanya pelan. “Apa pun yang datang dari istana itu… mereka harus melewati aku dulu.”
Alena menatap tangan Raka di atas tangannya. Dia merasa sedikit lebih tenang, tapi di sudut kamar, cermin besar di dekat lemari masih terasa seperti sedang mengawasi. Dan jauh di suatu tempat, di balik kabut abadi… Istana Bulan Emas sedang menunggu.
Malam semakin larut Alena akhirnya tertidur di tempat tidurnya setelah percakapan panjang tadi. Napasnya sudah teratur, wajahnya yang tadi pucat kini terlihat lebih tenang di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Selimut menutupi tubuhnya hingga bahu.
Raka duduk di kursi di sudut kamar cukup lama, memastikan gadis itu benar-benar tidur nyenyak. Setelah yakin, ia berdiri pelan, mematikan lampu tidur hingga hanya menyisakan cahaya redup dari luar jendela, lalu keluar dari kamar tanpa mengeluarkan suara.
Dia menutup pintu pelan. Di lorong yang gelap, Raka berhenti. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. “Keluar.”
Dari balik bayangan di ujung lorong, sosok pria tinggi berpakaian hitam muncul tanpa suara. Wajahnya tertutup sebagian oleh topeng gelap, tapi postur tubuhnya tegap seperti prajurit terlatih. Dia menghampiri Raka dan menunduk hormat singkat.
“Yang Mulia,” sapa pengawal pribadi itu pelan.
Raka menatapnya tajam. “Laporkan.”
Pria itu menegakkan tubuh. “Ada kekacauan di istana, Yang Mulia. Dewan kerajaan mulai retak. Beberapa faksi saling tuduh. Segel pelindung di batas dunia semakin lemah, dan bayangan-bayangan sudah mulai lolos lebih banyak dari yang kami duga. Kami… tidak bisa mengatasinya sendirian.”
Raka mengatupkan rahang. Matanya menatap ke arah pintu kamar Alena yang tertutup. “Seberapa parah?”
“Sangat parah, Yang Mulia. Jika dibiarkan hingga fajar, retakan bisa melebar. Beberapa utusan sudah berhasil menembus sampai ke dunia ini… termasuk yang muncul di cermin tadi malam.”
Raka terdiam beberapa detik. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap tengkuknya. “Aku harus pergi.”
Pengawal itu mengangguk. “Kami sudah menyiapkan jalur rahasia. Tapi… bagaimana dengan Sang Ratu?”
Raka menoleh tajam ke arahnya. “Jangan panggil dia seperti itu di sini. Selama dia masih di dunia ini, dia adalah Alena.”
“Baik, Yang Mulia.”
Raka menatap pintu kamar sekali lagi, seolah enggan. Lalu dia berbicara dengan suara tegas.
“Jaga dia. Jangan biarkan siapa pun mendekat, baik dari istana maupun dari luar. Jika ada bayangan yang mencoba masuk lewat cermin, hancurkan tanpa ampun. Jangan biarkan dia terbangun dan menyadari kepergianku… setidaknya sampai aku kembali.”
Pengawal itu menunduk dalam. “Hamba akan menjaganya dengan nyawa hamba, Yang Mulia.”
Raka mengangguk singkat. Dia melangkah mendekati pintu kamar Alena sekali lagi, membuka celah kecil, memandang gadis yang sedang tertidur.
Untuk sesaat, ekspresinya melembut. “Tunggu aku,” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. “Aku akan kembali sebelum mereka menyentuhmu.”
Lalu dia menutup pintu kembali. Tanpa banyak kata, Raka menghilang bersama pengawalnya ke dalam bayangan di ujung lorong. Dalam hitungan detik, lorong itu kembali kosong dan sunyi, seolah tidak pernah ada siapa pun.
Di dalam kamar, Alena bergeser sedikit dalam tidurnya. Alisnya berkerut, seolah sedang bermimpi buruk. Tapi dia tidak terbangun.
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menembus tirai kamar. Alena membuka mata pelan. Ia mengucek wajahnya, lalu menoleh ke kursi di sudut kamar—tempat Raka duduk menjaganya semalam. Kursi itu kosong. Tidak ada selimut, cangkir teh sisa, atau jejak kehadiran pria itu.
Alena duduk, mengerutkan dahi. Dia turun dari tempat tidur dan keluar ke lorong.
“Raka?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Dia lalu memeriksa ruang tamu, dapur, bahkan ruang kerja kecil di lantai bawah. Semua kosong. Hanya keheningan yang menyambutnya. Di meja dapur, terdapat selembar kertas kecil yang terselip di bawah gelas.
"Ada urusan mendesak. Jangan kemana-mana sendirian. Tunggu aku."
Tidak ada tanda tangan. Tapi Alena langsung tahu itu tulisan Raka. Dia menggenggam kertas itu erat, merasa dada sesak. Raka pergi tanpa memberi tahu lebih detail. Dan dari nada tulisannya… sepertinya urusan itu bukan perkara biasa.
Meski begitu, Alena mencoba menenangkan diri. Dia mandi, berpakaian, lalu berangkat ke kantor seperti biasa. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus kembali pada kepergian Raka dan bayangan pria berjubah yang muncul di cermin semalam.
Di kantor, Alena meletakkan tas di mejanya dan menyalakan komputer. Dia mencoba fokus bekerja, tapi matanya terus saja melirik ke arah ruang direktur di ujung ruangan. Pintu itu tertutup. Tirainya tidak digeser. Tidak ada cahaya dari dalam.
Setiap kali ada suara langkah di lorong, Alena langsung menoleh, berharap melihat sosok tinggi berjas hitam yang biasa berjalan dengan langkah tegas. Tapi yang lewat hanya karyawan lain, Dito yang tampak sibuk, atau staf HRD.
Harapan itu terus kosong. Mira yang duduk di sebelahnya akhirnya menyadari. “Kau dari tadi terus melirik ruang Pak Raka,” bisiknya. “Ada apa? Dia tidak masuk hari ini?”