NovelToon NovelToon
Rama Dan Kemungkinan Kecil

Rama Dan Kemungkinan Kecil

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:324
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesempatan

Suasana kubikel kembali hening untuk beberapa saat setelah percakapan tentang peliknya proses mencari uang itu mereda. Rama kembali menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka yang membosankan, sementara Iwan tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Iwan tiba-tiba memutar kembali kursi rodanya, menghadap penuh ke arah Rama dengan tatapan mata yang mendadak serius.

"rama...."

"apa kamu mau mencoba peruntungan....?" kata Iwan...yg membuat rama tersentak.

Rama menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Pertanyaan itu terdengar tidak biasa, terutama keluar dari mulut Iwan yang biasanya hanya hobi membahas urusan pekerjaan atau candaan receh tentang sepak bola. Nada suaranya mengandung sesuatu yang misterius sekaligus memancing rasa penasaran.

Rama menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Pertanyaan itu terdengar tidak biasa, terutama keluar dari mulut Iwan yang biasanya hanya hobi membahas urusan pekerjaan atau candaan receh tentang sepak bola. Nada suaranya mengandung sesuatu yang misterius sekaligus memancing rasa penasaran.

"maksud mu" tanya rama. Ia menoleh sepenuhnya, menatap Iwan dengan dahi yang mulai berkerut.

"yah kan pembahasan kita tadi mentok di uang." Iwan jeda kalimatnya sejenak, memastikan tidak ada rekan kerja lain di sekitar mereka yang menguping percakapan ini. "lalu apa kamu mau mencoba 1 kesempatan buat merubahnya... mungkin saja.... kamu malah bisa membalik keadaan..." kata Iwan dengan nada datarnya...

Kata-kata Iwan mengambang di udara, meninggalkan gaung yang cukup kuat di kepala Rama. Membalik keadaan? Sebuah frasa yang terdengar sangat muluk bagi seorang pemuda yang baru saja didepak karena kalah saing dengan sedan Eropa. Namun, ada percikan kecil yang menyala di dalam dada Rama. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa pasrahnya yang sejak pagi tadi mendominasi.

"lanjutkan" kata rama singkat.

Iwan tidak langsung menjawab. Ia menatap Rama lekat-lekat, seolah sedang mengukur seberapa besar nyali yang dimiliki oleh sahabat di hadapannya ini. "tapi..." Iwan sengaja menggantung kalimatnya, membuat atmosfer di antara mereka semakin intens. "apakah kamu cukup berani...???"

Dahi rama sedikit mengkerut mendengar pejelasan iwan... Pertanyaan tentang keberanian itu justru membuatnya merasa sedikit tertantang. Ia merasa tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan atau ditakutkan di dunia ini. Kehilangan Ratna sudah menjadi titik terendah dalam beberapa tahun terakhir hidupnya. Namun dia tak memotong perkataan itu. Ia memilih diam, memberikan ruang bagi Iwan untuk menuntaskan apa pun yang sedang direncanakannya.

Iwan lalu menunjukkan 1 gambar dari hp nya... la menyodorkan layar ponsel pintar itu tepat di hadapan wajah Rama. "kamu lihat ini..."

Rama pun melihat itu. Pandangannya langsung terkunci pada objek yang ada di dalam layar. Kedua matanya sedikit melebar, mengekspresikan rasa terkejut yang tertahan. Yah disana terpampang jelas foto seorang wanita sangat cantik. Wanita itu memiliki rambut hitam yang jatuh dengan anggun, tatapan mata yang teduh namun memancarkan aura kelas atas, serta senyuman yang sanggup menghentikan detak jantung pria mana pun yang melihatnya. Kecantikan wanita di foto itu terasa sangat tidak nyata, bahkan jauh melebihi Ratna. Jika Ratna adalah standar kecantikan wanita harian yang biasa ia temui, maka wanita di dalam foto ini berada di level yang sepenuhnya berbeda, seperti seorang putri dari keluarga terpandang yang selama ini hanya bisa dilihat di dalam majalah majalah mewah.

Melihat reaksi Rama yang terpaku selama beberapa detik, Iwan tersenyum... la tahu umpannya telah berhasil menarik perhatian sahabatnya.

"kamu suka" tanya iwan...

Rama menarik pandangannya dari layar ponsel Iwan, lalu mendengus pelan sambil bersandar pada kursinya. "hanya pria g normal yg g suka dengan kecantikan" kata rama. Suaranya terdengar jujur tanpa ada maksud untuk menutupi kekagumannya. Menolak fakta bahwa wanita di foto itu sangat menawan hanya akan membuat dirinya terlihat bodoh.

Mendengar jawaban jujur itu, Iwan langsung terbahak pelan. "hahah""nah kamu daftar aja, keluarganya lagi cari calon mantu...." kata Iwan dengan wajah tanpa dosa.

Rama hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar kelanjutan kalimat sahabatnya. "maksudmu" tanya rama.. Pikirannya mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Cari calon menantu? Di zaman sekarang? Melalui sebuah proses pendaftaran yang gambarnya disebarkan secara digital? Semua ini terdengar seperti plot film atau dongeng yang tidak masuk akal.

"yah begitulah tapi... tes nya lumayan ketat bro...." lanjut iwan, kali ini dengan nada yang sedikit memperingatkan.

Perkataan Iwan tadi meruntuhkan semangat rama... Begitu mendengar kata 'persyaratan ketat', mental Rama yang sejak semalam sudah terbiasa dengan realita sosial langsung ambruk kembali. Pikirannya langsung melompat pada asumsi-asumsi logis: keluarga sekaya dan seterpandang itu pasti mencari menantu yang minimal setara, memiliki perusahaan, lulusan luar negeri, atau paling tidak mengendarai sedan Eropa yang setingkat dengan milik Tony. Sementara dirinya? Hanya seorang karyawan biasa dengan aset berupa motor matic tua yang bodinya lecet-lecet.

"aduhh bro... kamu belum tau ujian nya malah lesu duluan. semangat dong..." kata iwan... yang menyadari perubahan raut wajah Rama yang mendadak kembali muram dan kehilangan gairah.

Rama mengembuskan napas pendek, merasa bahwa candaan Iwan kali ini agak kelewatan untuk situasi hatinya yang sedang rapuh. "ia deh lanjutin" kata rama... la pasrah saja mendengarkan, menganggap ini semua hanya hiburan pengisi waktu luang di jam kantor yang menjemukan.

Iwan kembali menepuk pundak Rama, mencoba menyalurkan sisa-sisa energi positif yang ia miliki agar sahabatnya itu tidak menyerah sebelum bertarung. "ya kamu daftar aja dulu... siapa tau dipanggil. nanti kan pas tes kamu bisa pilih maju..." begitu kata iwan menyemangati rekan kerja sekaligus sahabatnya.

Bagi iwan, kesempatan tetaplah kesempatan, sekecil apa pun probabilitasnya untuk berhasil. Setidaknya, dengan mendaftar, Rama memiliki satu harapan baru yang bisa mengalihkan fokusnya dari bayang-bayang Ratna dan sedan putih yang meremukkan hatinya semalam. Rama hanya bisa menatap foto wanita cantik itu sekali lagi di layar ponsel Iwan yang kini sudah meredup, menyimpan sebuah tanda tanya besar tentang apa sebenarnya ujian ketat yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut.

1
sakura
.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!