PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
BAB 21 — KENANGAN YANG RETAK
Embusan angin pagi membuat dedaunan di halaman Kediaman Axlarta bergoyang pelan.
Mahendra masih berdiri di taman dengan secangkir kopi yang mulai dingin di tangannya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Eiri yang sedang memegang lolipop rasa stroberi.
Kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu masih terus terngiang di kepalanya.
"Kalau suatu hari nanti kamu melupakanku... aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."
Itu adalah janji yang pernah ia ucapkan sembilan tahun lalu.
Tak pernah sekalipun Mahendra menceritakan kalimat itu kepada siapa pun.
Artinya...
Kenangan Eiri benar-benar mulai kembali.
"Eiri."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti semua ingatanmu kembali... apa yang akan kamu lakukan?"
Eiri tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi kebingungan.
"Aku tidak tahu."
"Aku bahkan belum yakin apakah semua mimpi itu nyata atau hanya bunga tidur."
Mahendra menghela napas pelan.
"Bukan mimpi."
"Itu kenanganmu."
Eiri menatapnya.
"Tuan tahu sesuatu?"
Mahendra tersenyum kecil.
"Belum saatnya."
Jawaban itu membuat Eiri semakin penasaran.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan.
"Tuan Mahendra!"
Ergan datang sambil membawa sebuah map cokelat.
Wajahnya terlihat serius.
Mahendra langsung berdiri.
"Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu tentang Victor Hanzel."
Mahendra segera mengajak Ergan masuk ke ruang kerja.
Eiri hanya bisa melihat mereka dari kejauhan.
Perasaannya mengatakan bahwa nama Victor bukanlah nama asing.
Tetapi...
Ia tidak tahu kenapa.
Di ruang kerja...
Ergan meletakkan beberapa foto di atas meja.
"Kami berhasil menemukan bekas gudang milik Victor."
Mahendra memperhatikan satu per satu foto itu.
Gudang tua.
Pelabuhan.
Dan sebuah bangunan kosong yang terbengkalai.
"Lalu?"
"Di sana ditemukan simbol Bulan Sabit."
Mahendra mengepalkan tangannya.
"Jadi benar..."
"Victor memang berhubungan dengan Organisasi Bulan Sabit."
Ergan mengangguk.
"Masih ada lagi."
Ia menyerahkan sebuah foto lama yang sudah kusam.
Mahendra membeku.
Di foto itu terdapat seorang pria muda yang berdiri bersama ayahnya.
Pria itu...
Adalah Victor Hanzel.
"Bagaimana mungkin..."
Mahendra berbisik pelan.
"Ayah mengenalnya..."
Ergan ikut terdiam.
"Itu berarti hubungan mereka sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu."
Mahendra membuka buku peninggalan ayahnya.
Ia membandingkan simbol di foto dengan gambar dalam buku.
Persis sama.
Seketika dadanya terasa sesak.
Semua teka-teki yang selama ini tersembunyi perlahan mulai terhubung.
Sementara itu...
Eiri berjalan sendirian menuju gudang belakang rumah.
Ia tidak tahu mengapa langkah kakinya membawanya ke sana.
Saat membuka pintu gudang...
Derit kayu tua memecah keheningan.
Matanya langsung tertuju pada sebuah album foto yang terjatuh di lantai.
"Album ini..."
Ia mengambilnya perlahan.
Halaman demi halaman dibuka.
Foto-foto lama memenuhi setiap lembar.
Ada foto keluarga.
Ada foto rumah lama.
Hingga akhirnya...
Tangannya berhenti pada halaman terakhir.
Foto tiga anak kecil yang sedang berpelukan.
Eiri membeku.
Napasnya terasa berat.
"Kenapa..."
"Kenapa aku merasa pernah berada di sana?"
Tangannya mulai bergetar.
Saat jari-jarinya menyentuh wajah anak perempuan kecil di foto...
Seketika kepalanya terasa sangat sakit.
"Aghh!"
Kilasan demi kilasan mulai bermunculan.
Seorang gadis kecil menangis.
Seorang anak laki-laki memeluknya.
Seorang anak perempuan yang lebih besar terus mengatakan,
"Jangan menangis, Eiri..."
"Kakak akan selalu melindungimu."
Air mata Eiri menetes tanpa sadar.
"Ka..."
"Kak..."
Ia memegang kepalanya erat.
"Mel..."
Namun sebelum nama itu selesai terucap...
"BRUK!"
Sebuah kotak kayu jatuh dari rak paling atas.
Eiri terkejut.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung kecil berbentuk hati.
Kalung itu terlihat sudah sangat tua.
Ketika Eiri mengambilnya...
Sebuah tulisan kecil terlihat di bagian belakang.
Untuk adikku tersayang, Eiri.
Air mata Eiri langsung mengalir deras.
Dadanya terasa sesak.
"Siapa..."
"Siapa yang memberikanku ini?"
Di lantai dua...
Melveri yang sedang mencari Eiri melihat gudang dalam keadaan terbuka.
Ia segera berlari ke sana.
"Eiri!"
Saat memasuki gudang...
Ia melihat Eiri terduduk di lantai sambil menangis dan menggenggam kalung itu.
Melveri membeku.
Kalung tersebut...
Adalah hadiah ulang tahun yang pernah ia berikan kepada adiknya sebelum mereka dipisahkan.
"Eiri..."
Suara Melveri bergetar.
Eiri perlahan mengangkat kepalanya.
Begitu mata mereka bertemu...
Sebuah kenangan kembali menghantam pikiran Eiri.
"Ka... Kak..."
Melveri menutup mulutnya.
Air matanya ikut jatuh.
"Eiri..."
Tanpa sadar mereka saling berpelukan.
Tangisan keduanya memenuhi gudang tua itu.
Namun...
Dari balik jendela gudang...
Sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
Pria bertopi hitam itu kembali muncul.
Ia tersenyum tipis.
"Ingatanmu mulai kembali, Eiri."
"Tapi..."
"Belum waktunya mengetahui seluruh kebenaran."
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu menghilang di balik bayangan pepohonan sebelum siapa pun menyadarinya.
Di saat yang sama...
Sebuah ponsel di saku Mahendra bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Begitu panggilan diangkat, terdengar suara pria tua yang dingin.
"Mahendra..."
"Kalau kau ingin mengetahui siapa sebenarnya Victor Hanzel..."
"...datanglah sendiri ke Pelabuhan Timur malam ini."
"Satu langkah yang salah..."
"...kau akan kehilangan Eiri untuk kedua kalinya."
Tut... tut...
Mahendra membeku.
Matanya langsung berubah tajam.
"Permainan ini... akhirnya dimulai."
Bersambung ke BAB 22 — PELABUHAN TIMUR.