"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala Serigala Dirgantara
Malam itu acara penyambutan anggota baru keluarga Dirgantara diadakan di ballroom Hotel Raffles. Lampu kristal yang berkelip dan suara dentingan piano membuat suasana pesta terasa mewah.
Tapi bagi Aurel, tempat ini adalah arena uji nyali yang pasti akan membuatnya penuh 'luka'. Tapi bukankah dari awal dia sudah memilih jalan ini, jalan yang tak akan pernah mudah untuknya.
"Tenang, Nak," bisik Ratna sambil menggenggam tangan Aurel. "Ibu di sini."
Ratna paham dengan perasaan calon menantunya, dulu diapun pernah mengalami hal seperti yang kini Aurel alami. Dihakimi. Dipandang sebelah mata.
"Ada masalah fatal di server anak perusahaan Makassar. Semua data penting perusahaan hampir diretas, perjanjian kerjasama senilai tiga triliun hampir hilang. Adrian harus turun tangan sendiri karena ada dugaan penghianatan orang dalam. Dia berjanji bahwa hari ini dia akan pulang."
Aurel mengangguk, kemudian mengambil udara sebanyak banyaknya untuk mengisi paru parunya. Berkali kali dia berkata dalam hati. "Kuat Rel, kamu harus kuat.`
Satu jam sudah berlalu. Ratna mulai memperkenalkan Aurel ke satu persatu keluarga besar yang mulai berdatangan.
"Rel ini Tante Rina, dia anak dari adiknya Eyang Dyah Wiyat. Suaminya first leader manager operasional di Dirgantara Group. Rin ini Aurel tunangannya Adrian," sapa Ratna pada wanita yang baru saja mendekat padanya.
Wanita setengah baya itu hanya mengangkat satu sudut bibirnya setelah memindai Aurel dari atas ke bawah. Bahkan sempat memegang gaun seratus empat puluh juta yang Aurel kenakan. Seakan memastikan jika gaun itu 'nyata'.
"Umur berapa kamu?" tanya wanita bernama Rina itu.
"Umur dua puluh sembilan Tante."
"Kerja swasta? Tinggal dimana? Tante dengar bapak kamu udah nggak ada. Kamu tulang punggung keluarga?
"Bapak saya sudah meninggal sejak saya masih dua SMP, dan saya bekerja di Adhikari Digdaya Creative," jawab Aurel.
"Dia hebat lho, dia yang tangani kasus merosotnya saham Kata Raya. Sekarang sudah stabil," ujar Ratna menimpali, ia ingin semua tahu jika menantunya adalah wanita yang hebat.
"Apa nggak terlalu jauh jarak umur mereka Mbak? Nantinya apa bisa...."
"Bisa," potong Ratna sebelum Rina menyelesaikan kata katanya. Dia tahu wanita itu ingin membahas soal keturunan. Jika dia tadi masih bersikap ramah maka sekarang tatapan tajamnya seperti menghunus hati wanita bernama Rina itu. Hingga akhirnya Rina pergi setelah sedikit berbasa basi.
Ratna meraih tangan menantunya, mereka pergi untuk menemui yang lain. Sampai akhirnya... seseorang menghentikan langkah mereka.
"Mbak Ratna...."
Pria berumur sekitar empat puluh lima tahunan , mengenakan jas biru dongker. Jam tangan Rolex melingkar ditangannya. Sangat terlihat jika senyum pria itu palsu.
Wasis Dirgantara, adik dari ayah Adrian.
"Lhoh kamu udah datang Sis, sendirian? Mana istri kamu?"
"Neti ada disana sama istri Teguh Mba, mereka lagi ada bisnis bareng. Kalau tidak salah mereka sama sama tanam saham di sebuah brand kecantikan yang lagi viral. Ini calon istri Adrian?"
Aurel mengangguk ramah pada Wasis, walau pandangan pria itu sama dengan yang lain. Terlihat meremehkan.
"Adhikari Digdaya Creative, gaji pokok lima juta. Mobil second tahun dua ribu sepuluh. Om benar? Kamu pikir semua hal itu bisa dibanggakan disini?"
Ratna maju selangkah. "Wasis cukup, jangan melebihi batasmu. Aurel adalah pilihan Adrian... pilihanku!"
Wasis malah mendekat ke Ratna. "Mbak aku cuma mau jujur, umur dua puluh sembilan apakah bisa mengimbangi Adrian yang masih sangat muda? Aurel hanya akan jadi batu sandungan...."
"Jaga mulutmu!" bentak Ratna. Suaranya yang keras membuat seluruh isi ruangan terdiam. Semua mata kini tertuju padanya.
"Kenapa? Aku salah?" Wasis mengangkat bahu. "Ibu sudah punya kandidat buat Adrian. Mbak dan Mas Wibowo tahu itu sejak awal. Tapi seperti juga Aisha, kalian seperti tutup mata. Sama sekali tidak menghargai lbu sebagai orang tertua di keluarga kita!"
"Aku dan Mas Wibowo selalu menghormati lbu. Tapi kami tak bisa memaksakan kehendak pada anak anak kami. Mereka punya hidup mereka sendiri," lantang Ratna berdiri di depan Aurel. Seakan menjadi tameng atas pandangan miring pada calon menantunya.
"Aku tetap tidak akan menerima dia," ujar Wasis dengan tatapan tajam pada Aurel.
Aurel menunduk, dadanya terasa sakit. Bukan karena Wasis. Tapi karena semua orang mengangguk setuju.
Dion yang hari ini terbang pulang hanya untuk tugas khusus mengawasi Aurel sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya. Pria itu berdiri dipojok ruangan, karena disana ia bisa leluasa mengawasi semuanya.
-Serigala serigala tua mengeroyok domba cantik- tulisnya
Setengah jam sudah berlalu tapi tamu utama mereka belum juga datang.
"Mbak Ratna? ini Aurel ya?"
Aurel bisa melihat senyum tulus calon ibu mertuanya ketika seorang wanita dengan setelan formal datang mendekat. Berbeda dengan yang lain, wanita itu tampak lebih apa adanya.
"Iya ini calon Adrian, kamu pulang kerja langsung kesini Din? Aurel ini Tante Dina. Dia satu satunya anak perempuan Eyang Dyah. Dia pengusaha kuliner, punya restoran di dekat Kata Raya. Adrian sering kesana buat makan siang."
"Hai Aurel selamat datang di rimba raya Dirgantara, apapun yang kamu lihat dan dengar anggep aja angin lalu. Mereka terlihat seperti serigala, tapi kalau didepan calon ayah mertua sama suami kamu ...mereka cuma bekicot yang nggak bisa apa apa."
"Din...yang bener ngomongnya, jangan buat menantu Embak bingung," Ratna memperingatkan. Ada saatnya dia bercerita tentang keluarga besarnya pada Aurel, tapi bukan sekarang.
"Bu aku ke belakang sebentar," bisik Aurel. Suaranya hampir habis.
Ratna mengangguk dan melirik ke arah Dion, dan pria muda itu mengangguk. Mengerti dengan arti tatapan itu.
Di dalam toilet Aurel menatap cermin. Di saat seperti ini dia sungguh merindukan Adrian. Sungguh, dia sudah berusaha untuk menjadi wanita kuat. Menjadi wanita yang pantas di sisi pria itu. Tapi rasa sakitnya seakan tak tertahan lagi.
Tok tok.
"Aurel?" Suara Ratna terdengar dari luar "Eyang Dyah udah datang, kita temuin dia."
"Eyang Dyah Wiyat Dirgantara....."
Aurel memejamkan matanya, satu lagi batu besar yang akan dia hadapi.