Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantin
Sephia meletakkan kepalanya di atas meja kelas yang dingin. Pelajaran matematika di jam pertama benar-benar menguras sisa-sisa energinya setelah dipaksa bangun pagi-pagi buta oleh Alan.
"Pia, kantin yuk? Muka lo udah kayak zombie kelaperan gitu," ajak Hana sambil menggoyang-goyang bahu Sephia begitu bel istirahat pertama berbunyi.
Sephia menghela napas panjang, lalu menegakkan badannya. "Yuk deh. Gue butuh yang seger-seger biar otak gue gak meledak."
Sebelum berdiri, Sephia sempat melirik ke bangku belakang sekilas. Alan sedang sibuk memainkan ponselnya dengan ekspresi datar seperti biasa. Sephia mendengus pelan, lalu berjalan keluar kelas mengekor di belakang Hana.
Sesampainya di kantin, suasananya ramai luar biasa. Setelah mengantre cukup lama, Sephia dan Hana akhirnya berhasil mendapatkan semangkuk bakso dan duduk di salah satu meja kosong di bagian tengah kantin. Sephia langsung meracik baksonya dengan sambal yang agak banyak, berniat meluapkan kekesalannya hari ini lewat makanan pedas.
Baru saja Sephia meniup suapan bakso pertamanya, suasana kantin yang tadinya bising mendadak agak mereda. Beberapa siswi di meja sebelah mulai berbisik-bisik heboh sambil menunjuk ke arah jalan masuk kantin.
"Eh, Kak Saga ke kantin kelas 11?"
"Gila, ganteng banget hari ini. Mau nyamper siapa ya?"
Sephia refleks mendongak dengan mulut yang masih sedikit kepedesan. Di sana, Sagara sedang berjalan membelah kerumunan kantin dengan langkah santai. Alih-alih seragamnya berantakan seperti anak cowok kebanyakan, Sagara terlihat sangat rapi dengan senyum hangat khasnya yang terpasang sempurna. Di tangan kanannya, dia membawa sebuah kantong plastik kecil berisi minuman.
Langkah Sagara berhenti tepat di depan meja Sephia. Senyumnya melebar. "Hai, Pia. Boleh Kakak duduk di sini?"
Hana yang ada di sebelah Sephia langsung tersedak kuah baksonya sendiri. Dia buru-buru menggeser duduknya. "B-boleh banget, Kak Saga! Duduk aja, kosong kok!" ucap Hana penuh semangat, matanya melirik-lirik Sephia dengan kode heboh yang sangat kentara.
Sagara duduk di samping Sephia, membuat aroma parfum maskulinnya yang segar langsung memenuhi indra penciuman Sephia, mengalahkan aroma kuah bakso di meja.
"Kak Saga kok ke kantin kelas 11? Biasanya kan nongkrongnya di kantin belakang dekat lapangan?" tanya Sephia setelah menelan baksonya, wajahnya agak memerah karena sensasi pedas.
Sagara terkekeh pelan, tangannya bergerak natural mengacak pucuk kepala Sephia—aksi yang sukses memicu bisikan iri dari cewek-cewek fans Sagara di sekitar mereka. "Sengaja. Tadi pagi kan aku telat nyamper kamu ke rumah. Kata Mama kamu, kamu udah berangkat jam 6 kurang ya? Rajin banget sekarang."
Mendengar kata "Mama kamu", Sephia langsung tersenyum canggung dan agak gelagapan. "Ah... iya Kak, ada... urusan dikit kemarin-kemarin." Sephia sengaja gak menyebut nama Alan demi keamanan nasional.
"Ya udah, gak apa-apa. Karena pagi tadi aku gagal ngajak kamu bareng, nih, aku bawain ganti buat nemenin bakso kamu," ucap Sagara sambil mengeluarkan dua botol minuman teh hijau khas Jepang dari kantong plastiknya, lalu menaruhnya di dekat mangkok bakso Sephia. "Ini Ocha asli, kemarin aku bawa agak banyak dari Jepang. Pas banget kan minum yang seger pas lagi makan bakso pedas kayak gini?"
Mata Sephia langsung berbinar. Kebetulan tenggorokannya emang lagi mulai kepanasan gara-gara sambal bakso. "Wah! Pas banget, Kak! Pia emang lagi butuh yang seger-seger nih. Makasih banyak ya, Kak Saga emang paling pengertian!" seru Sephia senang, langsung membuka tutup botolnya dan meminumnya dengan lahap.
Sagara tersenyum puas melihat binar bahagia di mata Sephia. Rasa nyesek di dadanya akibat ucapan Mama Sephia tadi pagi perlahan menguap, digantikan perasaan menang karena dia berhasil membuat Sephia tersenyum lebar lagi berkat perhatian kecilnya.
Namun, momen manis itu mendadak terusik oleh kehadiran seseorang.
Sesosok bayangan tinggi tegap tiba-tiba berdiri di ujung meja mereka. Suasana di sekitar meja itu mendadak turun drastis suhunya, berubah mencekam. Sephia menoleh, dan rasanya dia pengin langsung pura-pura pingsan saat itu juga.
Alan sedang berdiri di sana, memegang sebotol susu kotak cokelat di tangan kanannya. Tatapan matanya yang sedingin es kutub utara langsung mengunci pandangan Sagara yang duduk di samping Sephia.
Alan tidak mengatakan apa-apa, tapi aura intimidasi yang keluar dari tubuhnya membuat Hana yang duduk di seberang mereka refleks menelan ludah ketakutan. Alan berjalan mendekat, lalu dengan santai menaruh botol susu kotak cokelat itu tepat di atas meja, persis di sebelah botol Ocha pemberian Sagara.
"Minum," ucap Alan pendek ke arah Sephia, suaranya berat dan sangat ketus. "Utang cicilan lo hari ini nambah karena lo belum minum susu pagi ini."
Sagara menaikkan sebelah alisnya, senyum ramahnya perlahan memudar berganti dengan tatapan mata yang tajam dan tegas menantang Alan. "Sori, tapi Pia lagi makan bakso dan udah ada minuman dari gue. Dan kayaknya dia gak butuh susu kotak murahan itu sekarang."
Tensi di kantin mendadak terasa luar biasa tegang. Dua cowok paling populer di SMA Garuda kini resmi berhadapan langsung, memperebutkan satu cewek yang sekarang cuma bisa meremas sendok baksonya dengan pasrah, berdoa dalam hati agar bumi mendadak terbelah dan menelan dirinya hidup-hidup.