NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. Kecerdasan Sang Ratu

Malam harinya, di kantor pusat Wardhana Group, Damian baru saja menyelesaikan rapat daruratnya dengan dewan komisaris. Kepalanya terasa pening, dan ego maskulinnya masih terluka oleh penarikan aset nekat yang dilakukan Aksa.

Brak!

Pintu ruang kerja Damian dibuka paksa dari luar. Nyonya Zen masuk dengan wajah yang memerah padam menahan amarah, melemparkan amplop cokelat dari Clarissa tepat di atas meja kerja putra pertamanya itu.

Garis-garis kemarahan di wajah Damian yang semula tampak begitu pekat, mendadak tertahan di udara saat sepasang netra elangnya meneliti lebih jauh lembar demi lembar foto di bawah temaram lampu meja kerjanya. Jarinya yang besar berhenti tepat pada foto di mana Valerian tampak masuk ke gedung itu sendirian, tanpa ada siluet Aksa di sampingnya dalam satu bingkai yang sama.

Damian menarik napas panjang, mencoba meredam detak jantungnya yang sempat berdegup gila oleh riak cemburu. Sebagai seorang penguasa hukum yang terbiasa menganalisis bukti di pengadilan, logikanya kembali bekerja.

"Ibu, tenanglah," ucap Damian, suaranya kembali memberat dan kaku, mencoba mengendalikan situasi agar harga dirinya tidak terlihat jatuh di depan ibunya sendiri. "Foto-foto ini tidak memperlihatkan mereka berada di dalam satu ruangan. Clarissa terlalu berlebihan dan terbawa emosi karena rencana pertunangannya diabaikan oleh Aksa."

Nyonya Zen mengernyitkan dahi, masih tidak puas dengan ketenangan putranya. "Tapi Damian, bagaimana jika istri itu benar-benar berniat mengkhianatimu?!

"Aku yang memegang kendali atas Valerian, Ibu. Semalam dia sudah membuktikan kepatuhannya padaku di kamar utama," sahut Damian dengan nada angkuh dan merendahkan yang teramat pekat, seolah menegaskan kekuasaan mutlaknya atas tubuh sang istri. "Urusan bisnis orang tuanya masih berada di tanganku. Dia tidak akan berani bermain gila jika tidak ingin melihat keluarganya hancur."

Meskipun di depan Nyonya Zen ia tampak begitu tenang dan membela sang istri, di dalam lubuk hati Damian, sebuah riak curiga yang baru telah tertanam. Ia menyambar kunci mobilnya, tetap memutuskan untuk pulang ke rumah malam itu dengan satu tujuan: memastikan dengan matanya sendiri bahwa Valerian tidak sedang menyembunyikan apa pun di balik punggungnya.

Sementara itu, di dalam ruang rapat privat gedung Sudirman, kehangatan intens yang sempat mengunci Aksa dan Valerian perlahan terurai. Valerian menarik napasnya yang terengah, dengan lembut mendorong dada bidang Aksa menggunakan jemarinya yang masih gemetar akibat sisa pagutan intim mereka.

"Aksa... kita harus menyudahi ini," bisik Valerian parau, matanya yang sayu menatap rahang tegas adik iparnya dengan tatapan memohon. "Damian mungkin tidak tahu tentang proyek ini, tapi instingnya sangat tajam. Jika aku pulang terlalu malam dengan penampilan seperti ini, dia akan langsung mencurigaiku."

Aksa terkekeh rendah, sebuah tawa humoris yang sarat akan gairah posesif yang kian menggelap. Ia merapikan kerah blazer marun Valerian dengan sangat hati-hati, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan diri agar tidak kembali merengkuh tubuh ramping wanita itu. Sisi protektifnya mengingatkan bahwa keselamatan posisi Valerian di rumah Wardhana adalah hal yang paling utama saat ini.

Baiklah, pergilah malam ini, Sang Ratu Rahasia," bisik Aksa parau tepat di dekat telinga Valerian. "Pelajari berkas yang kuberikan tadi di rumah. Besok, aku akan membimbingmu lagi untuk bertemu dengan investor pertama kita. Ingat janjiku, sebentar lagi kau akan memiliki aset yang cukup besar untuk membuat Damian berlutut di depan keluargamu."

Valerian mengangguk pelan, menyambar tas jinjingnya yang berisi dokumen V-Property Group, lalu bergegas keluar dari ruangan melalui lift khusus agar tidak meninggalkan jejak.

Satu jam kemudian, Valerian telah kembali ke kediaman Wardhana. Ia langsung menuju kamar kerjanya yang kecil di lantai dua, berniat menyimpan kembali dokumen rahasia itu ke dalam laci dengan kunci ganda sebelum Damian pulang.

Namun, tepat saat jemarinya baru saja memasukkan map hitam itu ke dalam laci, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar berhenti tepat di depan pintunya.

Klik.

Gagang pintu bergerak berputar dari arah luar! Jantung Valerian seketika berhenti berdegup seolah dihantam guntur. Dengan gerakan secepat kilat yang didorong oleh adrenalin ketakutan, ia mendorong laci tersebut hingga berbunyi klik halus tanda mengunci, tepat setengah detik sebelum pintu ruangan terbuka sepenuhnya.

Damian melangkah masuk dengan setelan jasnya yang kaku. Matanya yang tajam langsung menyapu meja kerja Valerian yang kini tampak bersih, hanya menyisakan sebuah buku novel tua yang sengaja Valerian letakkan di sana sebagai tameng penyamaran.

"Kau sedang apa di sini, Valerian?" tanya Damian dingin, melangkah mendekat dengan aura mengintimidasi yang begitu mencekik. Matanya menyipit, mencoba mencari fokus dari rasa curiga yang ditanamkan oleh foto-foto Clarissa sore tadi.

Valerian mencoba tersenyum setenang mungkin, meski seluruh tubuhnya sedingin es. "Aku hanya sedang membaca buku untuk menghilangkan penat, Damian. Kenapa kau pulang cepat sekali malam ini?"

Damian tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia berjalan mengitari meja kerja, lalu berdiri tepat di belakang kursi Valerian. Lengan kekarnya perlahan merayap turun, mencengkeram bahu Valerian dengan gerakan posesif yang merendahkan, lalu menundukkan kepalanya untuk menghirup aroma leher istrinya. Damian sedang memastikan apakah ada aroma pria lain—aroma Aksa—yang tertinggal di tubuh wanita itu.

Aroma parfum kayu manis milik Aksa untungnya telah memudar sepanjang perjalanan pulang tadi, digantikan oleh aroma sabun murni yang sempat Valerian basuhkan di wajahnya. Damian mendeham berat, merasa puas karena tidak menemukan bukti fisik apa pun malam ini. Siasat dan rahasia besar Valerian bersama sang adik ipar masih tersimpan rapat dan aman di bawah hidung suaminya sendiri.

"Baguslah jika kau hanya membaca di rumah," bisik Damian parau, meremas bahu Valerian dengan cengkeraman yang menuntut kepatuhan mutlak. "Mandilah sekarang, lalu tunggu aku di kamar utama. Malam ini aku ingin kau melayaniku lagi seperti semalam."

Klik.

Suara pintu yang ditutup oleh Damian dari luar menyisakan keheningan yang seketika runtuh di dalam ruang kerja kecil itu. Valerian mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada, sementara seluruh persendiannya mendadak lemas. Adrenalin karena nyaris tertangkap basah menyimpan dokumen V-Property Group membuat jantungnya masih bertalu hebat.

Namun, ia tidak punya waktu untuk bernapas lega. Kalimat Damian sebelum keluar tadi—tuntutan untuk dilayani kembali di kamar utama malam ini—bagaikan alarm bahaya yang berdering kencang di kepalanya. Sentuhan posesif Damian semalam, yang didorong oleh ancaman bisnis keluarga, masih menyisakan rasa perih di harga dirinya. Valerian tahu, jika ia kembali menyerahkan tubuhnya dalam kondisi tertekan seperti ini, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Valerian segera bangkit, merapikan penampilannya, lalu melangkah keluar menuju kamar utama tempat Damian sedang menanggalkan jam tangan dan bersiap untuk mandi.

"Damian," panggil Valerian lembut, sengaja mengatur nada suaranya agar terdengar seperti istri yang patuh dan penuh perhatian.

Damian berbalik, menatapnya dengan sepasang netra elang yang masih dipenuhi riak cemburu dan dominasi yang kaku. "Ada apa? Aku menyuruhmu bersiap, bukan ke mari."

Valerian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka dengan gerakan anggun. Ia mengulurkan tangan, membantu Damian melonggarkan kancing kerah kemejanya—sebuah gestur manis yang sengaja ia gunakan sebagai tameng penyamaran.

"Bukannya nanti jam tujuh malam kau ada janji pertemuan penting dengan Sang Menteri?" tanya Valerian dengan tatapan sayu yang tampak begitu meyakinkan. "Jamuan makan malam bisnis untuk proyek mega-struktur Wardhana Group, bukan? Jika kita... melakukannya sekarang, aku takut kau akan terlambat dan tidak fokus menghadapi relasi pentingmu itu."

Valerian memberikan senyuman tipis yang sarat akan godaan terselubung, seraya mengusap dada bidang Damian perlahan. "Simpan dulu gairahmu untuk nanti malam, Damian. Sukseskan dulu pertemuan jam tujuh nanti, setelah itu... aku akan melayanimu sepuas yang kau mau."

Mendengar kalimat cerdas istrinya yang mendahului kepentingan bisnis besarnya, ego maskulin Damian seketika terpuaskan. Siasat Valerian berhasil. Damian menghentikan gerakannya, lalu terkekeh rendah penuh keangkuhan. Ia mencengkeram pinggang Valerian erat, mengecup keningnya dengan posesif.

"Kau benar-benar mulai tahu bagaimana cara bersikap sebagai nyonya rumah yang baik, Valerian," bisik Damian parau, sepenuhnya termakan oleh alibi cerdas sang istri. "Baiklah, kita tunda sampai malam ini selesai. Sekarang, pakai gaun terbaikmu. Kau harus mendampingiku malam ini."

Pukul 19.00 WIB, atmosfer kemewahan restoran privat di hotel bintang lima itu terasa begitu mencekik. Ruangan bernuansa emas dan kayu jati itu dipesan khusus oleh Damian. Valerian berdiri anggun di samping suaminya dengan balutan gaun sutra hitam pekat, menampilkan siluet tubuhnya yang seksi sekaligus elegan.

Namun, kejutan besar yang tak pernah diduga terjadi saat pintu geser ruangan terbuka. Sang Menteri melangkah masuk tidak sendirian, melainkan didampingi oleh Aksa yang tampil teramat seksi dan berkarisma dengan tuksedo hitam formalnya.

Pertemuan dua bersaudara itu langsung memicu ketegangan kuadrat di udara. Terlebih ketika Sang Menteri memperkenalkan Aksa sebagai mitra strategis baru dari V-Property Group—perusahaan rahasia yang proposal investasinya dinilai jauh lebih menguntungkan daripada Wardhana Group.

"Aksa? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Damian dengan suara baritonnya yang merendah, menatap adiknya dengan kilat amarah yang siap meledak.

Aksa hanya menyunggingkan seringai tipis yang mematikan di sudut bibirnya, menatap Valerian dengan tatapan posesif yang menuntut kepasrahan total dari wanita itu. "Aku hanya sedang menawarkan pilihan yang lebih cerdas untuk proyek ini, Kak Damian."

Di tengah ketegangan yang kian meruncing dan ego Damian yang mulai tersulut emosi, Valerian tahu ini adalah panggungnya. Ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan hasil bimbingan rahasia Aksa dan membuktikan bahwa ia bukan lagi wanita pajangan yang bodoh.

Saat Sang Menteri mulai memaparkan kendala regulasi tata kota dan analisis risiko zona hijau yang membuat proposal Wardhana Group terancam ditolak, Damian tampak mulai kesulitan mempertahankan argumen hukumnya yang kaku.

Valerian perlahan meletakkan gelas anggurnya dengan anggun, menarik perhatian semua orang di meja makan tersebut.

"Mohon maaf sebelumnya, Bapak Menteri," Valerian membuka suara dengan nada yang teramat tenang, jernih, dan penuh percaya diri. "Jika boleh saya menambahkan analisis kecil mengenai proyek di kawasan Jakarta Barat tersebut."

Damian tersentak, menatap istrinya dengan kening berkerut dalam, sementara Aksa bersandar pada kursinya dengan senyuman bangga yang kian melebar di wajah tampannya.

Jika kita melihat dari perspektif makroekonomi dan pengembangan wilayah, kendala zona hijau yang Bapak sebutkan sebenarnya bisa dialihkan menjadi nilai jual eco-luxury residence," papar Valerian dengan sangat cerdas. Kalimat-kalimatnya tertata rapi, menggunakan istilah investasi dan analisis risiko yang tepat, persis seperti yang diajarkan Aksa di ruang rapat Sudirman siang tadi.

"Proposal yang diajukan oleh V-Property," lanjut Valerian, melirik Aksa sekilas dengan binar mata yang sarat akan aliansi rahasia, "tidak hanya menawarkan bangunan fisik, melainkan integrasi tata kota ramah lingkungan yang otomatis memotong birokrasi amdal hingga tiga puluh persen. Jadi, alih-alih Wardhana Group dan V-Property saling menjatuhkan, bukankah lebih menguntungkan jika ada pembagian akuisisi lahan?"

Sang Menteri seketika tertegun, lalu bertepuk tangan pelan dengan mata yang berbinar kagum. "Luar biasa! Damian, aku tidak menyangka istrimu memiliki pemikiran bisnis sejenius ini. Penjelasannya benar-benar memotong inti masalah yang sejak tadi kita debatkan!"

Damian mematung di tempatnya, menatap Valerian dengan pandangan tidak percaya sekaligus takjub yang luar biasa. Istri pajangan yang selama ini ia anggap hanya tahu cara menangis, malam ini justru menyelamatkan wajah Wardhana Group sekaligus memperlihatkan pesona kecerdasan yang teramat seksi dan memukau semua orang.

Namun, di bawah meja makan yang tertutup kain panjang, Aksa sengaja menggeser kaki bootnya, menyentuh lembut ujung sepatu tumit tinggi Valerian—sebuah kecupan tersembunyi yang intim sebagai apresiasi atas kejeniusan wanita miliknya. Valerian terengah pelan, menahan gejolak gairah semu dan ketakutan yang berpadu sempurna.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!