Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal di Kota
Mahendra boleh tak banyak bicara saat mereka bersama. Namun ketika mereka bercinta, ia adalah lelaki yang panas.
Dia tak pernah terburu-buru untuk memulai ke inti percintaan. Mahendra sepertinya sangat suka memanjakan tubuh pasangannya. Ia akan mencium dengan lembut namun penuh gairah, membelai dengan tangannya yang besar ke seluruh bagian tubuh Sinta. Sinta yang tak berpengalaman itu dengan mudah jatuh dalam hasrat untuk disentuh lebih dan lebih.
Susah payah Sinta menahan suaranya namun sentuhan Mahendra terlalu memabukkan sehingga suara Sinta terdengar begitu menggoda sehingga Mahendra menjadi semakin bersemangat menguasai tubuh Sinta.
Dan ketika semuanya selesai, Sinta mendapatkan kepuasan entah untuk yang keberapa kali, Mahendra pun nampak puas dengan napasnya yang belum teratur. Ia melepaskan penyatuan mereka dan berbaring di samping Sinta.
20 menit tanpa suara. Sinta hampir saja tertidur saat tangan Mahendra menarik tubuhnya dan menempatkan Sinta untuk ada di atasnya. "Jangan tidur. Aku masih menginginkan kamu lagi." katanya sebelum mencium Sinta lagi.
************
Pukul 8 pagi, keduanya sudah berada di dalam mobil. Sinta bangun terlambat dan tak sempat sarapan. Ia bangun saat Mahendra sudah tak ada lagi di sampingnya.
Perjalanan ke kota memakan waktu 2 jam lebih. Mahendra sendiri yang mengendarai mobil sedangkan Sinta duduk di sampingnya dengan diam. Sesekali Mahendra berkomunikasi dengan temannya melalui handphone. Tentu saja ia menggunakan Earphone agar tak menganggu konsentrasinya saat menyetir. Ia menggunakan bahasa Inggris, kadang juga bahasa Mandarin.
"Alamat tempat kost mu di mana?" tanya Mahendra saat mobil mulai memasuki kota.
"Di dekat kampusku." kata Sinta sambil menyebutkan alamat kampusnya. Salah satu universitas yang terkenal di kota ini. Sinta saja masuk ke situ melalui jalur prestasi sehingga ia juga mendapatkan beasiswa.
"Aku turun di tempat proyek jalan tol karena letaknya tak jauh dari sini, nanti ada sopir yang akan mengantarmu ke sana."
"Baik." jawab Sinta.
"Ini ambilah."
Sinta menatap amplop berwarna coklat yang disodorkan Mahendra padanya. "Ini apa, bang?"
"Uang. Aku belum menanyakan nomor rekeningmu. Ambilah dulu uang cash ini."
"Tapi aku masih ada uang untuk membayar uang kost ku."
"Ambilah dan jangan membantah." kata Mahendra tegas membuat Sinta pun menerima uang itu.
Proyek jalan tol yang Mahendra kerjakan memang masih di pinggiran kota. Begitu tiba di sana, ia langsung turun. Seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun segera menghampiri mereka. "Pak Sudin, tolong antarkan nyonya ke tempat tujuannya. Setelah dari sana, antar nyonya ke apartemen saya." kata Mahendra sebelum ia mengenakan jaket dan topi lapangan.
"Selamat pagi, nyonya." sapa Pak Sudin.
"Selamat pagi, pak." Sinta menyebutkan alamat tempat kost nya.
Begitu tiba di tempat kost, ibu kost langsung menyambutnya.
"Aduh, neng. Menikah kok nggak undang-undang ibu, sih?" kata ibu Ratna yang sangat baik hati itu. Sinta beberapa kali menunggak bayar kost namun ia tak marah atau mengusir Sinta dari tempat kost itu.
"Maaf, Bu. Nikahnya juga mendadak. Amanat ibu sebelum meninggal."
"Di jodohkan ya? Tapi ibu lihat di FB suaminya ganteng banget. Masih ada darah bule gitu ya? Duh, akhirnya terbelah juga durennya."
Wajah Sinta langsung memerah mendengar perkataan ibu kost yang dikenal sebagai janda yang manis ini. "Ah, ibu bisa saja." Sinta langsung beranjak ke kamarnya. Ia membuka gembok yang menutupi pintu itu dan mulai membereskan barang-barangnya.
Tak banyak barang Sinta yang tersisa. Ada beberapa buku, pakaian dan juga beberapa makalah miliknya. Untuk lemari dan tempat tidur, itu adalah milik ibu kost yang dipinjamkan pada Sinta. Ibu Ratna memang sayang pada Sinta karena dia jarang pulang. Jika ia tak ke kampus, ia selalu membantu ibu kost untuk membersihkan halaman dan membantunya memasak. Ibu Ratna memang jualan makanan. Dari dialah Sinta banyak belajar bagimana membuat masakan.
Di dalam kamar kost itu, Sinta membuka amplop coklat yang diberikan Mahendra padanya tadi. Ia kaget melihat isinya. Ada 20 juta. Sinta masih menunggak 2 bulan uang kost. Sebulan uang kostnya delapan ratus ribu. Ia mengambil 20 lembar uang berwarna merah. Tak apalah membayar lebih untuk yang terakhir.
"Bu, ini uang kost saya. Terima kasih untuk semua kebaikan ibu selama saya kost di sini." Sinta menyerahkan uang itu lalu memeluk ibu kost nya.
"Nak, ini kebanyakan." kata Bu Ratna saat menghitung uangnya.
"Tak apa-apa, Bu. Saya pergi dulu ya?"
Pak Sudin sudah memasukan semua barang Sinta di bagasi mobil.
Lalu mereka pun meninggalkan tempat itu. 4 tahun lebih Sinta ada di tempat kost ini. Agak sedih juga meninggalkan tempat ini.
"Nyonya, ini adalah apartemen tuan. Apakah barang-barang nyonya akan saya turun saja?" tanya pak Sudin saat mereka sudah tiba di basement tempat parkir.
"Hanya tas pakaian saja, pak. Biar saya sendiri saja yang membawanya."
"Jangan, nyonya. Nanti saya dimarahi oleh tuan." kata pak Sudin. Ia segera mengambil tas baju Sinta kemudian mengajak Sinta masuk ke dalam lift. Setelah menempelkan kartu akses yang ada, lift secara otomatis langsung menuju ke lantai 9.
"Unit milik tuan nomor 905. Ini kartunya. Awas jangan hilang nyonya karena nyonya tak akan bisa menggunakan lift jika kartunya hilang."
Pak Sudin menyerahkan sebuah kartu akses masuk berwarna kuning. Ia hanya mengantarkan Sinta sampai di depan pintu, selebihnya lelaki itu langsung pergi.
Sinta menempelkan kartu itu di pintu lalu pintu itu terbuka. Sebuah apartemen mewah satu lantai dengan dua kamar. Semu barang di apartemen ini nampak modern.
Sinta baru merasakan kalau perutnya keroncongan. Ia membuka kulkas dan menemukan kulkas itu dalam keadaan kosong. Ia kemudian membuka ponselnya dan mencari tahu apakah ada pasar atau supermarket didekat sini dan ternyata ada. Ia membuka sepatu kets nya, menggantinya dengan sandal jepit lalu mengambil kembali tasnya. Sinta tak membawa semua uang yang diberikan Mahendra padanya tadi. Ini kita besar dan Sinta tak mau mengambil resiko menjadi korban jambret.
Ia memasukan uang 1 juta ke dalam saku celananya, lalu menyimpan ponselnya di saku yang lain dan keluar dari apartemen itu.
Supermarket itu adalah di depan apartemen. Sinta makan soto ayam yang ada di cafe samping supermarket sebelum akhirnya ia berbelanja. Ada sayur, ikan, rempah-rempah dan juga air mineral. Untungnya uang yang Sinta bawah cukup.
Saat ia akan memasuki lobby apartemen, seseorang memanggilnya.
"Sinta!"
Sinta menoleh. Ia langsung tersenyum melihat sahabat baiknya ada di depannya. "Natari?"
Keduanya langsung berpelukan sambil melepaskan kerinduan. "Kamu tega sekali. Menikah dan mengundang aku. Aku sampai menangis karena merasa diabaikan."
Natari, gadis keturunan Jepang itu menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf. Semuanya serba cepat."
"Tapi aku lihat suami mu tampan, lho. Katanya juragan ya?"
"Bukan. Dia kepala desa di desa tetangga."
"Ya Allah. Kamu melepaskan Arsen demi seorang kepala desa? Kamu tahu, Arsen menelepon aku sambil menangis saat melihat foto pernikahan mu."
"Nata, kamu kan tahu kalau aku dan Arsen tak pacaran."
"Tapi Arsen suka kamu, Ta."
"Sudahlah. Aku ini sudah menjadi istri orang. Oh ya, kamu ngapain di sini?"
"Aku dari apartemen sepupuku. Dia tinggal di sini. Di lantai 5. Terus kamu ngapain di sini? Belanja ya?"
"Di sini juga apartemen suamiku."
"Wah....wah...pak kades pastinya tajir melintir dong. Aku ikut ke dalam boleh? Suamimu tak galak kan?"
"Suamiku ada di proyek. Ayo masuk! Kita masak bersama."
"Asyik!"
Natari dan Sinta masuk ke apartemen itu secara bersama.
"Wah, selera suamimu memang menunjukkan kualitasnya sebagai seorang konglomerat. Kamu tahu berapa harga sofa ini? Sangat mahal. Interior dapurnya juga sangat modern." puji Natari.
"Aku sampai bingung bagaimana menggunakan alat-alat ini." kata Sinta sambil tertawa.
Keduanya masak bersama.
"Ta, bagaimana kamu bisa kenal dengan si pak kades? Usianya sudah tua ya? Tapi kok di foto kelihatan ganteng, tinggi dan nggak tua." tanya Natari saat keduanya sudah selesai makan dan duduk di ruang tamu."
"Sebelum meninggal, ibuku meminta aku menikah dengan Mahendra. Tapi aku ini istri kedua."
"Apa? Kamu istri kedua? Kok kamu mau sih, Ta? Apakah karena dia kaya? Namun kamu nggak matre kan? Buktinya kamu tolak Arsen karena dia anak orang kaya."
Sinta memilih tak menceritakan alasan yang sebenarnya. "Bukan. Aku menikah untuk memenuhi janjiku pada ibuku."
"Aku nggak mau ah dijadikan istri kedua. Apakah madumu baik? Jangan mau ditindas olehnya. Aku melihat bagaimana mamaku menderita karena menjadi istri kedua. Walaupun istri pertama papaku ada di Jepang, tetap saja dia suka mengintimidasi mamaku."
"Mau bagimana lagi? Mungkin sudah nasibku seperti ini."
"Tapi si pak kades baik kan?"
"Baik. Walaupun orangnya agak dingin. Tak banyak bicara."
"Terus, malam pengantinnya gimana? Kamu merasakan kenikmatan juga? Atau dia hanya memuaskan dirinya padamu?"
"Natari!" Sinta jadi malu.
"Jangan malu, Ta. Kita kan sahabat."
"Ya....gitulah. Awalnya sakit tapi lama kelamaan....ah....sudahlah. Cerita yang lain saja."
Natari tertawa. "Dasar perawan! Punya suamimu besar tidak?"
Sinta mengangguk malu.
"Cie...cie....akhirnya bisa merasakan juga."
"Skripsi mu gimana?" Sinta mengalihkan pembicaraan. Di angkatan mereka memang baru Sinta yang selesai.
"Bab satu sudah selesai, bab 2 sementara diketik."
"Baguslah. Tetap semangat ya?"
Ponsel Batari berdering. "Mamaku sudah mencari ku. Aku pergi dulu ya?" Natari pamit. Sinta merasa kesepian. Ia mengambil sapu dan membersihkan ruangan apartemen yang nampaknya sedikit berdebu. Mungkin jarang dibersihkan.
Hari sudah sore. Sinta berdiri di balkon apartemen sambil memperhatikan anak-anak yang bermain basket di halaman.
Sinta ingat Arsen. Dia juga pemain basket. Arsen fakultas tehnik yang pernah menjadi ketua senat. Sinta menolak Arsen karena mama Arsen pernah menemui Sinta dan melarangnya untuk berhubungan dengan Arsen. Sinta menutup pintu hatinya untuk cowok itu.
Sinta tak tahu harus melakukan apa lagi. Ia memilih tidur di sofa karena tak tahu kamar mana yang harus ditempatinya. Sinta bahkan tak punya nomor telepon Mahendra untuk sekedar bertanya di mana suaminya itu.
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣