Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tak lama kemudian pintu terbuka, beberapa orang masuk disertai sapaan sopan. Daxon segera menyembunyikan segala gejolak di hatinya di balik wajah dingin dan sikap tegas yang biasa ia tampakkan. Ia berdiri menyambut dengan jabat tangan kuat, namun pikirannya tak sepenuhnya ada di ruangan itu.
Di sepanjang pembicaraan, matanya sesekali melirik jam dinding, benaknya terus kembali pada Azalea yang di kediaman. Ia berusaha tetap tenang dan menguasai jalannya perundingan, meski rasa cemas perlahan mulai merayap kembali—membuatnya sadar betapa besar perubahan yang terjadi pada dirinya belakangan ini.
Setelah perundingan selesai dan para tamu pamit pulang, Daxon kembali duduk sendirian di kursi kerjanya. Ia tak langsung menyentuh tumpukan berkas lain, melainkan meremas pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Di balik sikap tegas yang baru saja ia tunjukkan, hatinya tak tenang memikirkan keadaan Azalea di kediaman.
Aldric masuk kembali membawa secangkir kopi, meletakkannya di meja tanpa banyak bicara. Ia tahu Daxon masih terperangkap dalam kekacauan perasaannya sendiri—antara keinginan semula dan rasa sayang yang mulai tumbuh diam‑diam.
Tak lama Daxon bangkit berdiri dan merapikan berkasnya. "Hari ini selesai disini, kita pulang lebih awal," katanya singkat pada Aldric.
Aldric mengangguk mengerti, tak bertanya lebih jauh. Mereka bergegas turun ke lobi, dan tak lama mobil kembali melaju meninggalkan gedung perkantoran. Sepanjang jalan, Daxon menatap ke luar jendela, hatinya tak sabar ingin kembali memastikan keadaan Azalea di rumah.
...****************...
Sesampainya di kediaman, Daxon langsung melangkah cepat menuju kamar. Ia mendapati Azalea duduk di tepi ranjang, masih tampak lemas namun wajahnya terlihat sedikit lebih tenang sambil memegang sisa potongan mangga.
Melihat kedatangannya, Azalea tertegun sejenak. “Kau pulang lebih awal?” tanyanya pelan.
Daxon mengangguk singkat, lalu mendekat dan duduk di sisinya. Tangannya terulur menyentuh dahi gadis itu, memastikan tak ada demam kembali.
“Aku ingin memastikan kau baik‑baik saja,” jawabnya rendah, meski tak berani menatap mata Azalea terlalu lama agar rasa yang mulai tumbuh tak terlihat jelas.
Azalea menatapnya dengan pandangan memelas. “Aku ingin keluar sebentar… berjalan‑jalan di halaman sekitar rumah, aku sangat bosan di dalam kamar,” ucapnya pelan, seolah takut ditolak.
Daxon terdiam sejenak mengamati wajah pucat itu. Ia mengangguk perlahan, lalu membantu Azalea berdiri dan membungkus bahunya dengan selendang tipis. “Baiklah, asal jangan terlalu lama dan tetap di sekeliling kediaman saja,” ucapnya lembut namun tegas. Ia pun berjalan mendampingi Azalea perlahan menuju ke luar, membiarkan Azalea menghirup udara segar yang menenangkan.
Udara segar menyapa saat mereka melangkah keluar. Azalea berjalan perlahan, menikmati pemandangan taman yang rindang, sementara Daxon berjalan di sebelahnya, siap menopang kapan saja jika ia terasa goyah. Sesekali Azalea berhenti menatap bunga‑bunga di sisi halaman kediaman, wajahnya tampak lebih cerah dari sebelumnya.
Daxon diam saja, namun matanya tak pernah lepas mengawasi setiap langkah kecil itu. Di dalam hatinya, ia merasa damai melihat gadis itu kembali tersenyum—meski ia masih berusaha keras menyembunyikan betapa berartinya momen ini baginya.
Saat melewati sebidang tanah kosong yang bersih di sudut halaman, mata Azalea berbinar. Ia berhenti sejenak, menatap hamparan tanah itu lekat‑lekat.
“Tempat ini cukup luas dan terkena sinar matahari,” gumamnya pelan, lalu menoleh ke arah Daxon. “Bagaimana kalau aku menanam sayuran di sini? Rasanya akan menyenangkan merawatnya sendiri.” ucap Azalea.
Daxon mengamati tanah itu sebentar, lalu kembali menatap wajah Azalea yang tampak penuh semangat. Ia mengangguk pelan. “Boleh saja. Nanti aku suruh orang menyiapkan segala keperluan yang kamu inginkan.”
Wajah Azalea makin berseri saat menyebutkan satu per satu tanaman yang terlintas di benaknya. “Ada kangkung, bayam, selada… dan mungkin juga cabai,” katanya bersemangat, matanya berbinar cerah. “Aku ingin merawatnya sendiri, melihatnya tumbuh besar dan berbuah.”
Daxon hanya diam mendengarkan, namun sudut bibirnya perlahan terangkat sedikit melihat semangat itu kembali bersinar. Ia berjanji akan memastikan segala benih dan peralatan siap besok pagi, agar keinginan itu bisa segera terwujud.
Azalea tersenyum kecil, lega keinginannya disetujui. Mereka berjalan perlahan kembali menyusuri jalan setapak menuju ke pintu kediaman. Daxon tetap berada di sisi kanannya, tangannya siap menopang bahu gadis itu bila terasa goyah sedikit saja. Sinar matahari siang bersinar terang namun angin berhembus cukup sejuk, membawa kesejukan yang membuat rasa mual di dada Azalea perlahan hilang berganti perasaan tenang.
Sesampainya di ambang pintu, Azalea berhenti sejenak dan menoleh padanya. “Terima kasih,” ucapnya pelan, matanya bertemu pandang dengan Daxon yang hanya diam membalas dengan anggukan halus.
Saat hendak melangkah masuk, Azalea menyadari betapa banyak penjaga yang berdiri waspada di sekeliling pekarangan dan di dekat pintu‑pintu utama. Senyum kecil terukir di bibirnya, lalu ia menoleh menatap Daxon dengan mata berbinar cerah seolah menemukan hal yang menyenangkan.
Daxon tertegun sejenak, kebingungan kembali menyelinap di matanya. Ia tak mengerti apa yang membuat Azalea tampak begitu gembira melihat para pengawalnya.
“Kenapa kau tersenyum begitu?” tanyanya akhirnya, nada bicaranya tetap tenang meski di dalam hati ia makin tak paham akan maksud tatapan itu.
Azalea menunjuk ke arah barisan penjaga itu, matanya makin berbinar cerah. "Andai saja mereka mengenakan pakaian berwarna merah muda… pasti akan terlihat sangat indah dan menyenangkan dipandang," katanya polos.
Lalu menatap Daxon penuh harap. "Aku ingin melihat mereka memakai pakaian berwarna merah muda." ucap Azalea
Daxon tertegun sejenak, tak menyangka permintaan itu muncul begitu saja. Namun melihat wajah Azalea yang tampak bahagia, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan suruh Felix untuk membeli pakaian berwarna merah muda," jawabnya, meski di dalam hati ia masih bingung melihat keinginan gadisnya yang tiba‑tiba begitu unik.
Azalea mengangguk gembira, lalu matanya berbinar kembali saat teringat hal lain. “Aku mau gaun yang warna merah muda untuk mereka, dan aku juga ingin merias wajah hari ini,” ucapnya penuh semangat. “Sudah lama rasanya aku tak memakai riasan.”
Daxon mengamati wajah polos itu sejenak, lalu mengangguk setuju. “Baiklah, akan kupanggil penata rias untukmu,” jawabnya lembut, tak kuasa menolak melihat kegembiraan yang tampak begitu tulus di matanya.
Azalea segera menggeleng tegas. “Bukan, aku yang ingin melakukannya sendiri,” katanya sambil tersenyum cerah.
"Aku ingin merias wajah mereka semua dengan warna merah muda, lalu memandangi hasilnya.” ucap Azalea
Daxon tertegun sejenak, tak menyangka mendengar keinginan itu. Namun melihat betapa bahagianya gadis itu, ia akhirnya mengangguk setuju. “Baiklah, asal jangan terlalu lelah,” ucapnya lembut, membiarkan Azalea mewujudkan keinginannya yang sederhana itu.
...****************...
Saat sore mulai turun, kelima penjaga itu sudah duduk berbaris rapi di kursi‑kursi yang disiapkan. Tubuh tegap mereka kini terbalut gaun merah muda, membuat mereka tampak kaku dan canggung. Dari ujung mata, mereka sering melirik ke arah Daxon, berharap mendapat reaksi atau sekadar isyarat.
Namun Daxon mengabaikan mereka, tangannya memegang berkas seolah sedang membaca saksama, dan sengaja berpura‑pura tak menyadari pemandangan itu sama sekali. Di balik sikap dinginnya, ia sesekali mengintip diam‑diam, sementara Azalea bersiap dengan kotak rias di tangannya, wajahnya berseri‑seri penuh semangat.
Azalea bergerak cerah mendekati barisan itu, tangannya cekatan mengoleskan riasan lembut berwarna merah muda di pipi dan bibir mereka. Para penjaga hanya diam kaku, tak berani bergerak sedikit pun meski merasa sangat canggung mengenakan gaun dan dihias begini.
Daxon tetap berpura‑pura tenggelam dalam berkas, namun telinganya tak luput mendengar tawa kecil Azalea yang sesekali terdengar renyah. Hatinya perlahan terasa hangat, meski ia takkan pernah mengakuinya secara terang‑terangan.
Tak lama kemudian Aldric lewat ke sana, dan matanya seketika terbelalak melihat pemandangan itu. Ia terpaku di tempatnya, menatap kelima penjaga berbadan tegap yang mengenakan gaun merah muda lengkap dengan riasan serupa di wajah mereka. Aldric menahan ketawa sekuat tenaga agar tak tertawa terbahak‑bahak, lalu melirik sekilas ke arah Daxon yang masih pura‑pura sibuk.
"Daxon..." ucapnya akhirnya, suaranya sedikit bergetar. "Saya tidak menyangka akan melihat pemandangan seunik ini di kediaman ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄