NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA PERTANYAAN

Oku-Niko sudah menyambut kepulangan mereka sejak sejam yang lalu. Yukari baru saja keluar dari kamar mandi, sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer.

Di luar, pintu kamar Akira terbuka pelan. Pria itu berniat turun ke dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Suasana rumah begitu sunyi, hanya ada berkas cahaya lampu yang keluar dari celah bawah pintu kamar Yukari.

Saat hendak melangkah lagi, perhatian Akira teralih pada sebuah buku bersampul kulit di atas meja ruang tengah—buku antik yang dibawa Yukari dari Aoyama siang tadi. Karena penasaran, Akira berjalan mendekat lalu mengambil buku itu. Di atas sampulnya yang tebal, sebaris judul tercetak dengan tinta emas: Kisah-Kisah Sunyi dari Negeri Dewa.

Akira membuka halaman pertama, lalu mulai membaca beberapa lembar secara acak.

"Menarik juga..." gumamnya pelan. Pria itu kemudian duduk di sofa mencari posisi yang nyaman.

Tanpa terasa, jemarinya terus membalik halaman berikutnya. Gaya bahasa buku itu sebenarnya sederhana, tapi setiap kisah di dalamnya entah bagaimana membuat Akira ingin terus membaca sampai tahu akhir ceritanya.

Saking asyiknya membaca, Akira sampai tidak menyadari kalau pintu kamar Yukari sudah terbuka. Gadis itu keluar dan langsung mendapati Akira yang sedang serius membaca bukunya. Sebuah senyuman kecil langsung muncul di wajah Yukari.

Akira mendongak dan langsung salah tingkah karena ketahuan. Wajahnya agak memerah.

"Maaf. Aku hanya ingin tahu isinya," kata Akira buru-buru menutup buku, merasa agak sungkan.

Yukari berjalan menghampiri meja sambil terkekeh geli. "Dalam dunia buku tidak ada istilah dilarang membaca, Akira-san. Santai saja," candanya ringan. "Asal jangan melipat halamannya ya."

Akira ikut tertawa pelan. "Itu tidak mungkin kulakukan."

Yukari kemudian ikut duduk di sampingnya. "Bagaimana? Bukunya menarik?"

Akira mengangguk. "Jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan. Sampulnya terlihat berat dan kaku, tapi isi ceritanya membuatku ingin terus membuka halaman berikutnya."

Mata Yukari langsung berbinar senang. "Itu berarti... Akira-san sudah cocok dengan bukunya."

Akira menoleh. "Cocok?"

"Mm." Yukari mengangguk kecil. "Menurutku setiap buku selalu punya pembacanya sendiri. Kalau sebuah buku bisa membuatmu ingin terus membaca tanpa sadar, berarti buku itu memang sudah takdirnya bertemu denganmu."

Akira kembali memandangi buku di tanganinya, meresapi kata-kata itu. "Begitu ya..." gumamnya pelan.

Suasana sempat hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Akira kembali menatap Yukari. "...Kalau begitu... mau membaca kelanjutannya... bersama?"

Yukari tampak sedikit terkejut. "Berdua?"

Akira mengangguk pelan. "Kalau Yukari-san tidak keberatan."

Yukari terdiam cukup lama. Dia melihat buku antik di tangan Akira, lalu kembali melihat wajah pria itu. Perlahan, sudut bibirnya terangkat. "Baiklah. Aku juga ingin membacanya lagi."

Akira bergeser duduk sedikit agar mereka sama-sama bisa melihat isi buku dengan nyaman. "Terakhir sampai halaman berapa?" tanyanya.

"Di sini." Yukari menunjuk sebuah halaman yang sudah diberi pita pembatas buku.

"Baik." Akira membuka halaman itu perlahan.

Mereka pun mulai membaca dalam diam. Tidak ada percakapan lagi, hanya suara lembut lembaran kertas tua yang sesekali dibalik.

Srek...

Beberapa halaman pertama dibalik oleh Akira. Yukari tersenyum kecil, lalu membalik halaman berikutnya dengan hati-hati. Begitulah seterusnya secara bergantian.

Namun, tidak seperti Yukari yang benar-benar tenggelam dalam setiap kalimat di buku tersebut, fokus Akira beberapa kali justru teralih ke samping. Dia diam-diam memperhatikan wajah Yukari yang sedang membaca dengan begitu serius.

Sorot mata gadis itu bergerak mengikuti setiap baris tulisan. Sesekali bibirnya tersenyum tipis saat menemukan bagian yang seru, dan kadang alisnya mengernyit kecil ketika membaca kisah yang menyedihkan.

Akira kembali menunduk ke arah buku, berusaha memusatkan perhatiannya. Namun beberapa menit kemudian, pandangannya kembali melayang kepada Yukari. Entah mengapa, melihat berbagai ekspresi wajah Yukari saat membaca ternyata jauh lebih menarik daripada isi buku yang sedang mereka buka bersama.

Angin malam yang berembus masuk dari celah jendela membuat beberapa helai rambut cokelat Yukari bergerak pelan. Tanpa sadar, Akira bergumam sangat lirih.

"...Cantik."

Suara itu begitu pelan, nyaris seperti bisikan yang lolos tanpa sengaja. Namun, karena ruangan sangat sunyi, Yukari tetap mendengarnya. Dia perlahan mengangkat wajahnya. "Eh?"

Akira seketika tersadar dan matanya sedikit membelalak. Dia buru-buru memalingkan wajah kembali ke arah buku, pura-pura fokus membaca seolah tidak terjadi apa-apa.

Yukari memperhatikan wajah samping Akira yang mendadak kaku selama beberapa detik. Senyum kecil kembali menghiasi bibirnya. Dia memilih untuk tidak menggoda pria itu demi menjaga harga dirinya. Sebaliknya, Yukari melirik ke arah jam dinding.

"Akira-san."

"Ya?"

"Aku mungkin masuk ke kamar dulu ya." Pandangan Yukari kembali jatuh pada buku di tangan Akira.

Akira terdiam. Sebenarnya, dia sudah tidak terlalu tertarik untuk melanjutkan membaca buku itu. Yang dia inginkan justru menikmati obrolan sederhana seperti ini lebih lama dengan Yukari. Namun, dia tidak pandai mengungkapkannya.

"Ah..." Akira menjeda kalimatnya dengan ragu. "Baiklah, Yukari-san. Selamat malam."

Meski tetap berusaha tersenyum, ada sedikit raut kecewa yang tidak berhasil Akira sembunyikan dari wajahnya. Yukari yang sudah berdiri langsung menangkap perubahan ekspresi itu. Dia menghentikan langkahnya, menoleh kembali, lalu tersenyum jahil.

"Emm... Mau cokelat hangat sebelum tidur?"

Akira mengangkat kepalanya secepat kilat. "Mau."

Jawabannya keluar begitu spontan hingga membuat ia sendiri sedikit terkejut. Yukari tidak dapat menahan tawanya melihat respons kilat itu. "Hehe... Jawabanmu cepat sekali, Akira-san."

Akira berdeham pelan, wajahnya memerah karena salah tingkah. "...Aku memang suka cokelat hangat."

Yukari hanya mengangguk sambil menahan tawa. "Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku buatkan dulu."

Akira terus memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di balik anak tangga dapur. Tanpa sadar, senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

***

Tidak lama kemudian, Yukari kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

"Hati-hati, masih panas," ucap Yukari sembari meletakkan salah satunya di depan Akira.

"Terima kasih, Yukari-san," balas Akira pelan.

Yukari kembali duduk di atas tatami, meniup perlahan permukaan cokelat hangatnya. "Aku baru sadar..."

"Hm?" Akira mengangkat pandangannya dari cangkir.

"Selama ini yang kita bicarakan selalu soal pekerjaan, rumah, atau urusan buku perpustakaan." Yukari tersenyum jahil. "Kita belum pernah benar-benar saling mengenal."

Akira memiringkan kepalanya sedikit, bingung. "Lalu?"

"Bagaimana kalau kita main permainan sederhana?"

"Permainan?"

"Namanya 'Tiga Pertanyaan'." Yukari mengangkat tiga jarinya. "Kita bergantian melempar pertanyaan, tapi yang gampang-gampang aja ya!"

Akira terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan melihat antusiasme gadis itu. "...Baiklah."

"Kalau begitu, aku mulai duluan!" Yukari menyesap cokelat hangatnya lebih dulu, lalu menunjuk Akira dengan jari telunjuknya. "Masakan favoritmu?"

Akira berpikir beberapa detik. "Nikujaga."

Yukari mengerjapkan matanya tidak percaya. "Eh? Bukan masakan Prancis yang rumit atau makanan mahal?"

Akira menggeleng pelan. "Aku lebih suka masakan rumahan."

Yukari tersenyum puas. "Aneh ya. Orang yang jago masak ternyata justru paling suka makanan yang sesederhana itu."

Akira ikut tersenyum tipis. "Sekarang giliranku."

Yukari langsung duduk tegak dengan semangat. "Silakan!"

"Masakan favoritmu?"

Yukari tertawa kecil tanpa beban. "Semua."

Akira terdiam dan menatap Yukari dengan wajah datar yang tidak puas. Yukari yang melihat ekspresi Akira langsung merasa geli, lalu buru-buru melanjutkan jawabannya sebelum Akira memprotes.

"Asal bukan kayu dan batu, aku tidak pilih-pilih makanan, Akira-san! Selama rasanya enak, pasti kumakan," bela Yukari sambil mengangkat kedua bahunya.

Akira menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. 'Pantas saja dua porsi nasi goreng tadi pagi dihabiskan sendiri tanpa sisa,' batin Akira dalam hati.

"Baik, sekarang pertanyaan kedua!" Yukari kembali mengangkat satu jarinya. "Kau takut hantu?"

Akira mengernyitkan dahi, tampak heran. "Kenapa pertanyaannya jauh sekali? Dari makanan langsung melompat ke hantu?"

"Hahaha! Jawab saja dulu, Akira-san!"

Akira berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Aku tidak takut."

Yukari spontan memuji dengan mata berbinar, "Wah, ternyata kau seorang pemberani ya!"

Akira menjelaskan sambil terkekeh pelan, "Hantu tidak melukai manusia, Yukari-san. Manusia justru jauh lebih menakutkan."

Yukari tertawa geli mendengar jawaban realistis itu. "Itu ada benarnya juga sih."

"Kalau kau sendiri bagaimana?" tanya Akira balik.

Yukari langsung menggeleng mantap. "Tidak takut juga! Asal hantunya ada di dalam film, aku pasti tahu kapan mereka akan muncul. Hahaha!"

Suara tawa renyah Yukari kembali memenuhi ruang tengah, membuat atmosfer malam itu terasa semakin santai. Akira ikut tersenyum melihat tawa lepas gadis di hadapannya.

Setelah tawa Yukari perlahan mereda, suasana di ruang tengah perlahan berubah menjadi agak melow. Yukari menatap cangkir cokelatnya yang mulai mendingin, lalu kembali menatap Akira dengan ekspresi yang lebih serius.

"Nah... sekarang pertanyaan terakhir," ucap Yukari pelan. "Apa hal yang paling kau takuti?"

Akira terdiam. Cukup lama dia hanya menatap riak kecil di dalam cangkir cokelat hangatnya. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan desir angin malam di luar rumah.

"Dulu... aku sangat takut pada kesendirian," jawab Akira, suaranya terdengar begitu berat dan pelan. Kalimatnya sempat menggantung sejenak sebelum dia melanjutkan, "...tapi sekarang, aku lebih takut kehilangan harapan."

Jawaban itu membuat Yukari tertegun. Dia bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari kalimat pendek yang diucapkan Akira. Cukup lama—bahkan terasa sangat lama—mereka berdua larut dalam keheningan masing-masing, sampai akhirnya Akira mengangkat wajahnya dan melempar pertanyaan terakhir untuk Yukari.

"Kalau kau... apa yang paling kau takuti?"

Yukari tersenyum tipis, tatapannya beralih menatap ke arah jendela luar yang gelap gulita.

"Dulu, saat aku pertama kali ditinggal sendirian setelah kehilangan orang tuaku... aku harus tinggal di rumah besar ini sendirian," cerita Yukari dengan suara yang perlahan melembut, membawa memori masa lalunya ke ruang tengah. "Malam itu, hujan turun sangat deras. Aku terpaksa mendengar suara menggelegar petir di tengah kesendirian itu..."

Yukari menoleh kembali ke arah Akira, tersenyum agak canggung. "Sejak saat itu, aku jadi sangat takut dengan petir. Agak kekanak-kanakan ya?"

Akira menatap sepasang mata jernih Yukari dengan tatapan yang teramat tulus. Dia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak..." ucap Akira lembut. "Kehilangan harapan jauh lebih kekanak-kanakan."

Yukari tertegun mendengarnya, lalu sebuah senyuman yang sangat hangat perlahan terukir di wajahnya.

"Baiklah... cokelat hangatnya sudah habis..." ucap Yukari sambil terkekeh kecil. "Jam juga sudah jam sebelas malam. Jangan bilang kau masih ingin mengobrol, Akira-san."

Gadis itu kemudian melirik jam dinding tua di ruang tengah yang detaknya terdengar semakin jelas karena malam sudah larut.

Yukari tidak bisa menahan diri lagi lalu menguap pelan, tangan mungilnya refleks menutup mulut. Rasa kantuk yang sempat hilang kini datang menyerangnya sekaligus.

Akira bangkit dari duduknya. Dia mengambil cangkir kosong di hadapan Yukari dengan gerakan pelan.

"Terima kasih sudah mengobrol sebentar," ucap Akira, tatapannya melembut. "Masuklah ke kamar. Gelas-gelas ini biar aku saja yang bereskan ke dapur."

Yukari tersenyum mendengarnya, merasa tersentuh dengan perhatian kecil itu. "Baiklah... Selamat malam, Akira-san. Jangan lupa sebelum tidur minum madunya dulu ya..." ucapnya setengah berbisik sembari kembali menguap dan melangkah pelan masuk ke dalam kamarnya.

"Baiklah, Yukari-san. Selamat malam," balas Akira lirih.

Akira menatap pintu kamar yang menutup itu, lalu mengangguk kecil dengan senyuman tipis yang terus menghiasi wajah tegasnya.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!