Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
Malam itu tidak ada lagi suara. Setelah serena memperban luka di tangan Revan. Kekacauan sudah di beres kan oleh jasa pembersihan.
Hanya desir hujan di luar jendela.
Revan berjalan ke kamar tanpa menoleh. "Mandi." ucap nya pelan.
Serena mengangguk, lalu mengambil pakaian ganti dari lemari. Ia tidak berani bertanya lagi. Setiap kali ia bertanya, situasinya selalu menjadi lebih buruk.
Di kamar mandi, ia berdiri di depan cermin. Lampu kuning yang redup membuat memar di lengan kirinya terlihat lebih jelas. Ungu kehitaman, berbentuk seperti jari.
Ia hampir terbiasa menatap luka seperti itu. Kebiasaan buruk Revan jika tidak menyakiti Serena maka menyakiti dirinya sendiri.
Ia mengusapnya pelan. Tidak sakit lagi. Namun ingatannya masih ada.
"Gue cuma takut kehilangan lo."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Serena tidak mengetahui mana yang lebih menakutkan: takut kehilangan Revan, atau takut tidak dapat melepaskan diri darinya.
Pukul 23.00, Serena keluar dari kamar mandi. Revan sudah berbaring di ranjang dengan punggung menghadapnya.
Ia ragu sejenak, lalu naik ke tempat tidur. Tubuhnya menempel pada punggung Revan, sebagaimana yang selalu ia lakukan setiap kali pertengkaran selesai.
Revan tidak mendorongnya.
Tangan Revan yang terbalut perban bergerak, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Terlalu erat.
"Maaf," gumam Revan pelan. Suaranya serak, setengah tertidur.
"Gue nggak mau lo takut sama gue, Na."
Serena memejamkan mata. "Aku nggak takut, kak."
Itu kebohongan.
Namun Revan suka mendengarnya.
Revan berbalik, memeluknya dari belakang. Bibirnya menyentuh bahu Serena, tepat di atas garis memar yang tertutup kaus.
"Besok jangan pulang terlambat lagi. Gue gak suka menunggu."
"Iya kak, maaf."
Hanya itu yang dapat ia ucapkan.
Malam itu Revan tidak tidur sampai Serena tertidur terlebih dahulu.
Ketika napas Serena sudah teratur, ia bangun perlahan, duduk di tepi ranjang, menatap wajah Serena yang tampak damai.
Ia menyentuh rambut Serena, menyingkirkan helai yang menutupi dahi.
"Besok gua bakal jemput lo pulang kuliah," ujarnya pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
"Mulai sekarang, gua ga mau ada nama cowok lain yang nganter lo pulang."
Serena tidak menjawab. Ia tidak mendengarnya.
Namun Revan mengangguk kecil, seolah percakapan itu telah selesai.
Pagi berikutnya. 07.03
Serena bangun lebih dahulu. Revan masih tidur, wajahnya tenang. ia menatap tangan Revan yang terbalut perban berada si atas perut nya.
Serena mengusap pelan tangan Revan. Kemudian ia duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri. Terdapat goresan kecil di pergelangan tangan. Mungkin terkena pecahan kaca kemarin.
Telepon genggamnya menyala. Pesan dari Jake:
Lo aman?
Serena menatap layar tersebut lama. Jari-jarinya ingin mengetik Iya, aku baik-baik aja.
Namun ia menghapusnya.
Ia membalas:
Udah aman. Makasih ya, kak Jake.
Kemudian ia mematikan data seluler. Dan meletakkan ponsel nya di meja samping tempat tidur.
Karena apabila Revan melihatnya membalas pesan Jake, hari ini peristiwa yang sama pasti akan terulang lagi.
Kampus Universitas Mandala, 13.20
Matahari siang membuat halaman kampus terasa panas dan berisik.
Serena duduk di bangku taman, lengan panjangnya ia tarik sedikit untuk menutupi pergelangan tangan. Meski telah menggunakan foundation, memar berwarna ungu di sana belum hilang sepenuhnya.
"Rena."
Jake duduk di sebelahnya tanpa permisi, membawa dua botol air mineral.
"Nih. Katanya lo jarang minum ya."
Serena tersenyum kecil. "Makasih, Ka."
Jake menatapnya lama. Bukan tatapan biasa.
"Lo yakin aman? Gue liat ekspresi lo dari pagi aneh, pacar lo marah ya?"
Serena menggeleng cepat. "Aman kok, Ka. Dia cuma... cemburuan saja. Biasa."
Jake mengernyit. Matanya menangkap sesuatu pada pergelangan tangan Serena yang sedikit tersingkap ketika ia meraih botol air.
Bekas biru keunguan yang jelas bukan luka biasa.
"Ren," suaranya menjadi lebih pelan. "Itu memar, bukan?"
Serena segera menarik tangannya, menyembunyikannya di balik lengan.
"Aduh, aku lupa kak, ini ketabrak meja kemarin. Ga sengaja, Ka. Biasa kadang aku suka ceroboh."
Jake diam. Ia mengenal Serena cukup lama untuk mengetahui bahwa Serena adalah orang yang sangat berhati-hati.
Orang yang pelupa tidak akan mengenakan lengan panjang pada cuaca 32 derajat.
"Kalau dia nyakitin lo lagi, lo ngomong ya," ujar Jake pelan.
"Gua ga peduli dia siapa. Gua ga bakal diem."
Serena menunduk. Dadanya terasa sesak.
"Iya, Ka. Makasih."
Namun di dalam pikirannya, ia telah membayangkan wajah Revan apabila mengetahui Jake berbicara seperti itu.
17.45
Kuliah terakhir selesai lebih cepat dari biasanya. Serena berdiri di depan Gedung F. Ia sengaja tidak langsung pulang. Tangannya menggenggam tali tas erat-erat, matanya sesekali melirik ke arah parkiran.
Mobil hitam Revan belum tampak. Seperti janjinya dia akan menjemput Serena hari ini.
Di dalam pikirannya terdapat dua kemungkinan.
Pertama, Revan lupa.
Kedua, Revan sengaja terlambat agar ia merasa cemas.
Dan biasanya, yang kedua yang benar.
"Serena!"
Suara Jake memanggil dari belakang. Ia berjalan bersama dua temannya menuju parkiran sepeda motor.
"Lo menunggu siapa? Udah sore begini."
Serena terkejut. "Oh, Kak Jake... menunggu ojek online. Telat nih kayaknya, mungkin macet."
Jake mengangguk, tetapi matanya masih tertuju pada pergelangan tangan Serena yang tertutup lengan panjang.
"Yakin gapapa? Kalo mau gue anterin."
Serena segera menggeleng. "Ga usah kak, makasih. Aku beneran udah pesen."
Jake hanya tersenyum tipis. "Yaudah hati-hati ya, kabarin kalo ada apa-apa."
Serena mengangguk. Jake dan temannya kemudian berjalan menuju parkiran sepeda motor.
Baru satu menit setelah Jake pergi, suara mesin mobil yang familiar terdengar dari ujung parkiran.
Mobil hitam. Plat nomor yang telah ia hafal di luar kepala.
Revan turun dari dalam mobil. Jasnya masih rapi, dasinya agak kendur. Wajahnya datar, namun matanya tidak.
Revan sempat melihat Jake dan Serena berbicara. Ia tidak mendengar isi pembicaraan tersebut, namun cukup untuk melihat cara laki-laki itu berdiri terlalu dekat, cara matanya terlalu lama tertuju pada Serena.
Ia menatap Serena dari jarak lima meter, lalu berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tetapi membawa tekanan.
"Beres?" suaranya datar.
Serena mengangguk kecil. "Udah, kak."
Revan menyapu pandangannya dari kepala hingga kaki. Berhenti sejenak pada lengan panjang Serena yang sengaja ditarik untuk menutupi pergelangan tangan.
Matanya menyipit setengah detik.
"Pulang," ujarnya singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik menuju mobil.
Serena mengikuti dari belakang. Langkahnya kecil dan berhati-hati.
Di dalam mobil, aroma parfum Revan langsung menyergap. Udara dingin dari penyejuk ruangan terasa sepi. Revan tidak menyalakan musik.
Sebelum memutar kunci kontak, ia bertanya pelan tanpa menoleh:
"Itu tadi Jake kan?"
Serena menahan napas.
Tangannya yang berada di pangkuan mengepal pelan. Jantung nya mulai terpacu lebih kuat. Rasa cemas itu datang lagi.