Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sebelum gong keramat klan dipukul untuk menandai dimulainya pertumpahan darah, ribuan pasang mata yang memadati tribun Koloseum Raksasa mendadak menyadari sebuah kejanggalan besar. Di area panggung VIP barat—tempat di mana para murid inti teratas berkumpul dengan segala kemegahan mereka—terdapat satu pemandangan yang ganjil. Kursi giok putih yang dipahat indah dengan lambang kepingan salju abadi, kursi milik Wu Xue sang Bidadari Es peringkat nomor satu klan, tampak kosong melompong.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran jubah putih khasnya, tidak ada pula hawa dingin sedingin es yang biasanya menyelimuti area di sekitarnya.
Desas-desus dengan cepat menjalar seperti api liar di antara kerumunan penonton bawah. Riuh rendah spekulasi mulai bermunculan memecah ketegangan. Ada yang berbisik bahwa sang bidadari sedang melakukan meditasi terobosan penting di ruang rahasia terdalam klan, sementara yang lain menduga dengan angkuh bahwa Wu Xue sengaja mengabaikan pertandingan semifinal ini karena menganggap duel antara murid luar kasta rendah dan murid dalam peringkat dua bukanlah sesuatu yang selevel untuk disaksikan oleh matanya.
Namun, apa pun alasan di balik hilangnya sang jenius nomor satu, absennya Wu Xue dari arena justru memberikan keuntungan tersendiri bagi atmosfer pertempuran. Sorotan ribuan pasang mata kini bersih dari segala bentuk distraksi, terfokus mutlak pada satu titik: duel murni hidup dan mati antara kegilaan Wu Tian dan tirani Wu Yan.
Di tengah panggung obsidian yang hitam berkilau, ketegangan telah mencapai titik jenuh. Udara di sekeliling panggung terasa begitu berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri menolak untuk dihirup. Wu Yan berdiri dengan tubuh yang sedikit bergetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena gelombang energi spiritual yang terlampau besar sedang dipaksakan berputar di dalam pembuluh darahnya.
DONG...!!!
Gong pertempuran akhirnya dipukul dengan satu hantaman yang sangat keras, memecah keheningan langit Yunzhou. Gaung suaranya yang berat belum sempat habis menyapu tribun ketika panggung batu obsidian di bawah kaki kedua petarung meledak dalam kehancuran masif!
"Mati kau, Sampah Luar!!! Hancurlah menjadi abu bersama kesombonganmu!" raung Wu Yan dengan suara parau yang mengerikan.
Wajah tampannya yang biasanya dipenuhi oleh keangkuhan bangsawan kini telah terdistorsi dengan sangat buruk. Urat-urat pembuluh darah berwarna merah pekat menonjol di sekujur leher dan pelipisnya, berdenyut cepat seiring dengan bekerjanya Pil Tirani Api yang mulai membakar meridian internalnya.
BOOOM!
Dengan satu sentakan kaki yang menghancurkan lantai batu, Wu Yan melesat maju membawa badai api merah menyala. Kecepatannya melampaui segala pertahanan Ranah Pemurnian Qi normal, menyerupai sebuah meteor jatuh yang siap menghantam bumi. Sebilah pedang api raksasa termaterialisasi di tangan kanannya, memancarkan gelombang distorsi panas yang sangat masif hingga mampu melelehkan permukaan batu obsidian di sepanjang jalurnya menjadi cairan lava pijar yang merah membara.
Namun, di hadapan tebasan maut yang sanggup menguapkan genangan air dalam sekejap itu, Wu Tian tidak bergeser mundur seulas senti pun. Alih-alih menggunakan teknik langkah kaki ringan untuk menjaga jarak seperti yang akan dilakukan oleh kultivator waras, kegilaan murni dari altar Shenzhou yang telah lama tertidur di dalam darahnya justru meledak sepenuhnya.
Sepasang mata hitam legamnya melebar sempurna dengan kilatan liar yang teramat haus darah. Sudut bibirnya tertarik tinggi hingga ke batas pipi, membentuk sebuah seringai iblis yang sangat lebar dan menakutkan.
Dengan satu raungan serak yang keluar dari tenggorokannya, Wu Tian justru menerjang lurus masuk ke dalam badai api murni tersebut dengan kecepatan fisik mentah yang tidak masuk akal. Ia menantang badai api dengan tubuh telanjang tanpa dilapisi seulas pun perisai spiritual!
JEDAAANG! BUM! BUM! BUM!
Pertarungan jarak dekat yang teramat epik, brutal, dan berada di luar nalar sehat langsung tersaji di atas panggung. Udara di sekeliling arena meledak bertubi-tubi tanpa henti, menghasilkan suara dentuman yang memekakkan telinga seisi Koloseum. Cakar-cakar kosong Wu Tian yang bergerak secepat sambaran petir beradu langsung dengan bilah pedang api milik Wu Yan secara frontal.
Jual beli serangan terjadi dengan ritme yang teramat gila. Wu Yan menebaskan pedangnya dari atas, dari samping, dan menikam dengan kecepatan penuh, namun Wu Tian membalasnya dengan kombinasi pukulan membabi buta, sikuan, dan cakar fisiknya yang sanggup memecah gelombang udara.
Setiap kali pedang api Wu Yan hampir menebas leher atau dadanya, Wu Tian selalu berhasil menangkis, mengalihkan arah bilah pedang dengan punggung tangannya, atau bahkan memukul patah fokus energi api tersebut murni menggunakan kekuatan otot fisiknya. Wu Yan dibuat kerepotan dan terkejut setengah mati di dalam badai apinya sendiri.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa ada manusia di dunia luar yang bisa menyentuh dan bertarung di dalam api spiritual tingkat puncaknya tanpa merintikkan darah sama sekali. Gelombang panas yang mendidih dan hawa kematian berdarah yang pekat saling menggulung satu sama lain di atas panggung, menciptakan kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi menutupi pandangan mata biasa.
Melihat level pertarungan yang sudah berada di luar batas kewajaran generasi muda ini, atmosfer di tribun atas panggung kehormatan tertinggi mendadak bergeser menjadi teramat tegang dan mencekam. Para tetua senior dari ketiga faksi besar—Klan Wu, Klan Li, dan Sekte Pedang Langit—tidak lagi bisa duduk dengan tenang di atas singgasana giok mereka.
Satu per satu dari para penguasa Yunzhou itu berdiri dengan raut wajah yang berubah menjadi teramat serius, menatap lurus ke arah kepulan asap di tengah arena.
Tekanan energi yang dihasilkan oleh benturan Wu Tian dan Wu Yan mulai merembes keluar dari celah-cellah formasi pelindung transparan panggung, menyebarkan hawa panas dan intimidasi yang membuat murid-murid di tribun bawah mulai merasa sesak napas.
Melihat kegilaan pertarungan ini, sepasang tangan para master senior dari Sekte Pedang Langit dan Klan Li mulai bergerak perlahan ke arah pinggang mereka, bersiap meletakkannya di atas gagang pedang dan belati masing-masing. Mata tua mereka memancarkan kilatan kewaspadaan yang teramat pekat.
Sebagai petarung kawakan, mereka tahu betul dengan satu kenyataan pahit yang kini terpampang nyata: siapa pun yang memenangkan duel gila di bawah sana, baik Wu Yan yang diperkuat obat terlarang secara curang maupun Wu Tian yang memiliki tubuh monster fisik murni, eksistensi pemenang tersebut akan menjadi ancaman terbesar yang sanggup merusak seluruh peta keseimbangan kekuatan di wilayah Yunzhou.
Para master senior antarklan ini mulai melepaskan sedikit tekanan aura spiritual mereka ke udara, saling mengunci pandangan satu sama lain, bersiap untuk melakukan intervensi paksa dengan senjata mereka jika situasi di atas arena menjadi benar-benar tidak terkendali atau mengancam keselamatan murid utama klan mereka.
Di tengah pusaran asap, debu obsidian, dan bara api yang mulai mengecil akibat benturan yang terus-menerus, Wu Yan mulai merasakan tubuhnya mencapai batas maksimal. Napasnya terdengar terengah-engah dengan dada yang naik turun tidak teratur, dan darah segar mulai merembes keluar dari pori-pori kulit serta sudut matanya.
Efek samping dari Pil Tirani Api yang masif mulai memakan balik fondasi meridian internalnya karena tubuhnya tidak mampu menampung energi spiritual yang dipaksakan. Aliran energi apinya tidak lagi stabil, berfluktuasi dengan liar dan melemah di beberapa titik.
Sebaliknya, kegilaan fisik Wu Tian justru semakin meroket mencapai puncaknya tanpa ada tanda-tanda kelelahan sedikit pun. Sebagian besar jubah biru tua mewah milik Wu Tian memang telah hangus terbakar akibat paparan api spiritual, memperlihatkan kulit dada dan otot-otot tegapnya yang dipenuhi guratan otot kawat.
Namun, dari dalam pori-pori kulitnya yang mandi hawa panas, justru mengalir samar kabut tipis berwarna hitam pekat—sebuah representasi dari hawa kematian murni dari altar kuno Shenzhou yang kejam. Hawa hitam itu menyelimuti tangannya layaknya sarung tangan tak terlihat, membuat kulit fisiknya sama sekali tidak bisa tersentuh atau terluka oleh api dunia luar.
KEPIS!
Di bawah tatapan mata Wu Yan yang dipenuhi oleh horor dan keputusasaan yang mendalam, tangan kanan Wu Tian bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menembus sisa kobaran api terakhir yang membentengi tubuh Wu Yan. Tangan kosong Wu Tian mencengkeram langsung bilah pedang api raksasa milik Wu Yan dengan genggaman yang teramat erat.
BZZZZT... PRASSH!
Dengan sekali sentakan dan remasan fisik murni yang memancarkan suara derit logam, Wu Tian memadamkan seluruh kobaran api spiritual di pedang tersebut hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya merah yang padam di udara.
Sebelum Wu Yan sempat menarik kembali gagang senjatanya yang kosong karena syok yang teramat sangat, Wu Tian menyentakkan tangan kanannya maju ke depan. Ia mencengkeram kerah baju jubah dalam Wu Yan secara paksa, lalu menarik tubuh sang murid inti mendekat dengan satu tarikan kasar.
Wajah Wu Yan yang kini dipenuhi oleh keringat dingin dan ketakutan mutlak seketika berada tepat beberapa senti di depan wajah Wu Tian. Seringai iblis di wajah Wu Tian melebar sempurna, memperlihatkan deretan giginya dengan tatapan mata yang teramat dingin dan kosong, seperti seorang predator yang sedang menatap mangsa yang sudah tidak berdaya.
"Apakah ini... adalah batas dari seluruh kesombongan yang kamu banggakan?" bisik Wu Tian dengan nada suara yang teramat rendah, sedingin es kuburan abadi, tepat di telinga Wu Yan yang mendadak membeku. "Nyala apimu yang agung itu... ternyata hanya bisa digunakan untuk menghangatkan air mandi."
Bersamaan dengan selesainya kalimat dingin tersebut, kepalan tangan kiri Wu Tian yang telah ditarik jauh ke belakang mulai diselimuti oleh distorsi udara yang teramat padat. Seluruh daya hancur fisik murni dari altar Shenzhou terpusat di ujung tinjunya, siap dihantamkan lurus ke arah wajah Wu Yan untuk satu serangan pamungkas yang akan menentukan akhir dari kesombongan faksi murid dalam esok hari.