NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghianat

Armand berdiri di tengah gudang dengan flashdisk di tangannya, sementara cahaya lampu kuning membuat wajahnya tampak jauh lebih dingin daripada biasanya. Kirana masih berdiri beberapa langkah dari ayahnya, tetapi tubuhnya seolah tertahan oleh ancaman yang tidak terlihat. Aiden menatap Armand tanpa berkedip, sedangkan Gavin tampak benar-benar kehilangan bahan bercanda untuk pertama kalinya malam itu.

"Armand, apa maksud semua ini?" Aiden menatapnya tajam.

"Maksudnya sederhana." Armand tersenyum tipis.

"Kamu menculik ayah Kirana?" Rendra mengepalkan tangan.

"Aku meminjamnya sebentar." Armand mengangkat bahu.

"Mulutmu menjijikkan." Kirana menatapnya dingin.

"Akhirnya kamu bicara juga." Armand melirik Kirana.

Aiden melangkah setengah langkah ke depan, tetapi Armand langsung mengangkat flashdisk itu lebih tinggi. Gerakan kecil itu cukup membuat semua orang berhenti karena mereka tahu benda itu bukan sekadar alat penyimpanan biasa, di dalamnya ada data perusahaan, rekaman Proyek Meridian dan kemungkinan besar bukti yang bisa menjatuhkan banyak orang.

"Jangan bergerak." Armand menatap Aiden.

"Kamu tidak akan keluar dari sini." Aiden menahan suaranya.

"Aku sudah keluar dari banyak hal selama lima tahun." Armand tersenyum.

"Kamu suara ketiga di rekaman itu." Rendra menatapnya pucat.

"Selamat." Armand bertepuk pelan. "Akhirnya otakmu bekerja."

Rendra tampak hendak maju, tetapi Kirana langsung menahan langkahnya dengan satu tatapan. Ia tidak ingin Rendra membuat keadaan semakin buruk, apalagi ayahnya masih terikat di tengah ruangan. Segala kemarahan yang ada harus ditahan karena satu gerakan salah bisa membuat pria tua itu celaka.

"Ayah saya tidak ada hubungannya dengan ini." Kirana menatap Armand.

"Tentu ada." Armand melirik pria tua itu.

"Dia sedang sakit!" Kirana menggenggam tasnya.

"Justru itu membuatnya berguna." Armand tersenyum kecil.

"Kamu pengecut." Aiden menatapnya datar.

"Pengecut biasanya hidup lebih lama." Armand mengangkat flashdisk.

Gavin menelan ludah sambil melihat sekeliling gudang, ada dua pintu, beberapa peti kayu, satu jendela tinggi dan kemungkinan besar tidak ada jalan keluar mudah tanpa melewati Armand. Untuk pertama kalinya, ia menyesal karena semua tontonan film aksinya tidak pernah benar-benar mengajarkan cara menghadapi pengkhianat perusahaan.

"Bos." Gavin mendekat pelan.

"Apa?" Aiden tidak mengalihkan pandangan.

"Saya tidak punya rencana." Gavin berbisik.

"Aku juga belum." Aiden menjawab datar.

"Itu tidak menenangkan." Gavin menghela napas.

"Memang bukan untuk menenangkanmu." Aiden tetap fokus.

Armand tertawa pendek melihat mereka, selama bertahun-tahun ia berada di dekat Aiden ia tahu pria itu tenang dalam keadaan paling sulit sekalipun. Namun malam ini berbeda karena ada Kirana di sana, dan kelemahan seperti itu selalu bisa dipakai untuk menekan seseorang.

"Kamu berubah, Aiden." Armand memiringkan kepala.

"Kamu tidak." Aiden menatapnya tajam.

"Dulu kamu hanya peduli perusahaan."

"Sekarang pun begitu."

"Tidak." Armand melirik Kirana. "Sekarang kamu peduli pada istri orang."

Kalimat itu menghantam ruangan seperti benda berat yang jatuh tiba-tiba. Kirana menegang, Rendra langsung menatap Aiden, dan Gavin memejamkan mata seolah berharap kalimat itu tidak pernah keluar. Aiden tidak menunjukkan reaksi besar, tetapi tatapannya berubah lebih dingin daripada sebelumnya.

"Jangan bawa dia ke dalam urusanmu." Aiden melangkah maju.

"Dia sudah di dalam." Armand menunjuk Kirana.

"Aku yang menyeretnya?" Kirana menahan marah.

"Bukan." Armand tersenyum. "Suamimu yang membukakan pintu."

Rendra menunduk sebentar. Ia tidak bisa membantah karena sebagian besar kekacauan itu memang bermula dari kebohongannya sendiri. Namun melihat Kirana berdiri dalam bahaya karena kesalahannya membuat rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

"Aku yang kamu cari." Rendra maju satu langkah.

"Kamu terlalu percaya diri." Armand menatapnya malas.

"Kamu memakai namaku untuk menutup jejakmu." Rendra menunjuknya.

"Benar." Armand mengangguk santai.

"Kenapa?" Kirana menatap Armand.

"Karena dia mudah dipakai." Armand tertawa kecil.

Rendra mengepalkan tangan, tetapi Aiden lebih dulu menahannya dengan gerakan kecil. Situasi itu membutuhkan kepala dingin, bukan ledakan emosi. Armand sengaja memancing mereka agar kehilangan kendali, dan Aiden tidak berniat memberikan kesenangan itu.

"Proyek Meridian gagal karena kamu." Aiden menatap Armand.

"Proyek itu gagal karena kalian terlalu percaya sistem." Armand menjawab tenang.

"Kamu mencuri data." Aiden mengeraskan rahang.

"Aku mengambil peluang." Armand mengangkat bahu.

"Dan menghancurkan hidup orang lain." Fajar muncul dari sisi gudang.

Semua orang langsung menoleh. Fajar berdiri di dekat pintu samping bersama dua petugas keamanan yang ternyata mengikuti diam-diam. Wajahnya penuh amarah, tetapi ia tetap menahan diri karena ayah Kirana masih menjadi sandera di tengah ruangan.

"Fajar." Armand menyipitkan mata.

"Kamu pikir aku akan melewatkan akhir ceritanya?" Fajar melangkah masuk.

"Kamu selalu datang terlambat." Armand tersenyum.

"Kali ini tidak." Fajar menatapnya.

Kehadiran Fajar mengubah suasana. Armand kini tidak lagi memiliki kendali penuh karena jumlah orang di ruangan itu bertambah. Namun flashdisk masih di tangannya, dan ayah Kirana masih berada dalam jangkauan ancaman jika ia nekat melakukan sesuatu.

"Kamu mau apa?" Armand menatap Fajar.

"Kembalikan yang kamu curi." Fajar mengulurkan tangan.

"Data ini milikku sekarang." Armand menggenggam flashdisk.

"Itu bukti kejahatanmu." Fajar menahan napas.

"Bukti hanya berguna kalau sampai ke tangan yang benar." Armand tersenyum.

Kirana perlahan menggeser langkah ke arah ayahnya. Gerakannya sangat kecil, tetapi Aiden melihatnya dari sudut mata. Ia tahu Kirana tidak akan tinggal diam jika menyangkut keluarganya, dan justru itu yang membuatnya semakin khawatir.

"Kirana, jangan." Aiden menatapnya cepat.

"Saya harus membuka ikatan Ayah." Kirana berbisik.

"Tunggu aba-aba." Aiden menahan suara.

"Ayah tidak kuat." Kirana menatap ayahnya.

"Aiden benar." Ayah Kirana menggeleng lemah.

"Ayah diam." Kirana menahan tangis.

Pria tua itu mencoba tersenyum, tetapi wajah pucatnya membuat Kirana semakin sulit bernapas. Ia tidak pernah merasa setakut itu, bahkan saat mengetahui Rendra berselingkuh. Pengkhianatan bisa membuatnya hancur, tetapi kehilangan ayahnya akan membuatnya benar-benar runtuh.

"Sentuh dia, dan flashdisk ini hancur." Armand mengangkat benda itu.

"Kalau flashdisk hancur, kamu juga tidak punya pegangan." Aiden menatapnya.

"Aku masih punya sandera." Armand melirik ayah Kirana.

"Kalau kamu menyentuhnya, aku pastikan kamu tidak keluar hidup tenang." Kirana menatapnya dingin.

Armand tampak terkejut sebentar. Kirana yang selama ini tampak dingin dan sedikit bicara ternyata memiliki keberanian yang tidak ia perkirakan. Bahkan Aiden ikut menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah baru saja melihat sisi lain yang lebih tajam dari wanita itu.

"Menarik." Armand tersenyum.

"Jangan puji dia." Gavin mengangkat tangan. "Dia sudah cukup menyeramkan saat diam."

"Gavin." Aiden meliriknya.

"Maaf." Gavin langsung menutup mulut.

Fajar memanfaatkan momen kecil itu untuk bergerak lebih dekat. Namun Armand menyadarinya dan langsung mundur ke arah ayah Kirana. Semua orang kembali menegang, sementara Kirana spontan melangkah maju.

"Berhenti!" Kirana mengangkat tangan.

"Kalau kalian ingin pria tua ini selamat, biarkan aku pergi." Armand menatap mereka.

"Kamu tidak akan jauh." Aiden menatap pintu.

"Aku tidak butuh jauh." Armand mengeluarkan remote kecil dari sakunya.

"Apa itu?" Rendra menatap benda itu.

"Jaminan." Armand tersenyum.

Fajar langsung membeku saat melihat remote tersebut. Wajahnya berubah pucat karena ia memahami kemungkinan paling buruk jauh lebih cepat daripada yang lain. Gudang tua itu terlalu sunyi, terlalu kosong, dan terlalu mudah dipersiapkan untuk sesuatu yang berbahaya.

"Kalian harus keluar." Fajar menatap Aiden.

"Apa maksudmu?" Gavin panik.

"Gudang ini dipasangi bahan peledak." Fajar menunjuk remote.

Kirana langsung menoleh ke arah ayahnya. Dalam satu detik, semua hal bergerak terlalu cepat. Aiden berlari ke arahnya, Rendra bergerak ke kursi ayahnya, Gavin menarik Rani yang baru masuk dari pintu belakang, dan Armand menekan tombol remote dengan senyum dingin.

"Terlambat." Armand menekan tombol itu.

Lampu gudang tiba-tiba padam.

Satu bunyi bip panjang terdengar dari bawah peti kayu di dekat kursi ayah Kirana.

Dan dalam gelap, suara Aiden terdengar tajam.

"Semua tiarap!" Aiden berteriak sambil menarik Kirana ke pelukannya.

1
Rahmaa
thor kaya ada episode yg terlewat kah, kenapa tiba-tiba niko?
Rahmaa
ngakak banget karna gavin🤣🤣🤣
Dew666
💎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!