Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pintu mobil terbuka, dan aroma harum sisa parfum mobil bercampur udara subuh yang segar langsung menyambut mereka.
Umi masuk terlebih dahulu ke kursi baris kedua, diikuti oleh Fatma yang bergerak hati-hati agar punggungnya tidak bergesekan kasar dengan sandaran kursi.
Di kursi depan, Adrian bertindak sebagai pengemudi dengan tangan kiri yang mengendalikan setir, sementara Bryan duduk tegap di sampingnya, siap siaga.
Begitu mobil mulai melaju perlahan meninggalkan gerbang pesantren, suasana canggung sempat menyelimuti kabin. Namun, keceriaan Fatma pagi itu seolah menjadi pencair suasana yang paling ampuh.
"Umi, nanti di pasar Fatma mau beli lupis, pastel, sama martabak ya, Umi," celetuk Fatma dengan mata berbinar, menghadap ke arah ibunya.
"Sudah lama sekali rasanya tidak makan lupis pasar yang gulanya kental."
Umi tersenyum lembut, mengelus punggung tangan putrinya.
"Iya, Nduk. Nanti kita cari mbah penjual lupis yang di dekat gerbang barat. Kamu harus makan yang banyak supaya pipimu tidak sepadat kemarin."
"Terus nanti siang Umi masak sayur asem, ya? Segar sepertinya kalau makan sayur asem pakai ikan bakar yang semalam masih ada," lanjut Fatma, menyandarkan kepalanya di bahu Umi dengan manja.
Mendengar celotehan Fatma tentang makanan khas kesukaannya, Adrian yang sedang fokus menyetir hanya bisa tersenyum tipis melalui spion tengah.
Jantungnya menghangat. Dulu, saat masih hidup bersama dalam kemewahan, ia jarang memperhatikan keinginan-keinginan sederhana Fatma seperti ini.
Ia selalu membelikan makanan mahal yang belum tentu membuat wanita itu bahagia.
Bryan yang duduk di samping Adrian pun diam-diam mencatat setiap detail ucapan Fatma dalam ingatannya—lupis, pastel, martabak, dan sayur asem.
Sebagai pria yang juga menaruh harapan, Bryan tahu bahwa jalan menuju hati Fatma bukan lagi tentang kemewahan, melainkan tentang bagaimana memahami kesederhanaan hidup yang dicintai wanita itu.
Mobil itu terus membelah jalanan subuh yang mulai berkabut, membawa empat orang dengan sejuta rasa di dalam hati mereka menuju ramainya pasar tradisional.
Beceknya tanah pasar tradisional dan riuhnya suara tawar-menawar langsung menyambut kedatangan mereka.
Bau khas bumbu dapur, ikan segar, dan aroma jajanan pasar berbaur di udara subuh yang mulai hangat.
Begitu turun dari mobil, pembagian tugas langsung terjadi secara alami.
Umi melangkah mantap menuju lorong bagian dalam yang menjual sayur-mayur dan keperluan sayur asem.
Bryan dengan sigap berjalan di belakang Umi, memegang keranjang belanjaan anyaman yang besar dengan tangan kekarnya.
Tubuh tegap Bryan beralih fungsi menjadi perisai bagi Umi dari himpitan pengunjung pasar yang padat.
Sementara itu, Adrian ditugaskan untuk menemani Fatma.
Dengan langkah hati-hati, Adrian berjalan di sisi kanan Fatma, menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi mantan istrinya itu agar tidak tersenggol orang lain, mengingat luka di punggung Fatma yang belum pulih sepenuhnya.
Mereka berhenti di sebuah lapak sederhana dekat gerbang barat.
Seorang nenek tua sedang sibuk membungkus gumpalan ketan berbentuk segitiga yang dibalur parutan kelapa melimpah, lalu diguyur saus gula merah yang kental di atas selembar daun pisang.
"Mbah, lupisnya dua porsi ya," ucap Fatma ceria.
Saat menunggu pesanan dibuat, Fatma menoleh ke arah Adrian yang sejak tadi hanya berdiri mematung sambil memperhatikan bungkusan daun pisang itu dengan kening berkerut.
"Mas suka?" tanya Fatma polos, menatap wajah mantan suaminya.
Adrian mengerjapkan mata, lalu menunjuk ke arah tumpukan ketan hijau pucat berbalur kelapa itu dengan jari kiri yang canggung.
"Apa ini?" tanya Adrian balik.
Fatma sempat tertegun, lalu matanya membelalak tidak percaya.
"Mas nggak tahu lupis?"
Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya mendadak merona tipis karena merasa sangat asing di lingkungan tersebut.
"Nggak tahu. Mas tahunya donat, croissant," jawab Adrian jujur.
Sepanjang hidupnya yang bergelimang kemewahan, sarapan pagi Adrian selalu berkisar antara roti panggang premium, kue-kue pastri ala Prancis di kafe bintang lima, atau menu hotel. Jajanan pasar tradisional berlapis daun pisang seperti ini sama sekali tidak pernah masuk ke dalam daftar menunya.
Mendengar pengakuan jujur itu, Fatma tidak bisa menahan senyumnya.
Ada rasa geli sekaligus miris yang menggelitik hatinya.
Jawaban Adrian barusan mempertegas betapa jauhnya jarak dunia yang dulu memisahkan mereka berdua; Adrian si anak kota yang serba modern, dan Fatma si gadis pondok yang mencintai kesederhanaan.
"Ini namanya lupis, Mas. Rasanya manis dan kenyal," ujar Fatma lembut, nadanya terdengar seperti seorang guru yang sedang mengenalkan hal baru pada muridnya.
"Nanti Mas harus coba. Biar tahu kalau kuliner tradisional itu tidak kalah enak dari croissant mahal yang biasa Mas makan." Adrian hanya terdiam menatap senyuman Fatma.
Di tengah hiruk-pikuk pasar yang kotor dan bising, ia rela menanggalkan status sosialnya yang tinggi, hanya demi bisa mencicipi rasa asing yang teramat dicintai oleh wanita di hadapannya itu.
Nenek penjual itu tersenyum ramah, menyerahkan dua pincuk daun pisang berisi lupis yang masih mengepulkan aroma wangi daun pandan dan legitnya gula aren.
"Ini, Nduk, lupisnya. Masih hangat," ucap si nenek dengan bahasa Jawa yang kental.
"Terima kasih, Mbah," jawab Fatma sopan sembari menyerahkan selembar uang.
Fatma mengambil sepotong kecil lupis menggunakan lidi kecil yang disediakan sebagai garpu. Sebelum menyuapkannya ke dalam mulut, ia memejamkan mata sejenak.
"Bismillahirrahmanirrahim..." lirih Fatma, lalu mengunyahnya perlahan.
Wajahnya seketika memancarkan rona kebahagiaan.
Rasa manis alami dari kuah kental gula aren yang berpadu dengan gurihnya parutan kelapa dan kenyalnya ketan langsung memanjakan lidahnya.
Fatma benar-benar menikmati setiap gigitan kecil jajanan pasar tersebut, seolah semua beban di pundaknya luruh seketika oleh kelezatan yang sederhana itu.
Melihat Fatma yang begitu lahap, Adrian hanya bisa menelan ludah.
Rasa penasaran mulai mengusik seleranya yang biasanya tinggi.
Fatma yang menyadari tatapan mata Adrian langsung menyodorkan pincuk daun pisang satunya ke hadapan mantan suaminya.
"Enak kan, Mas? Coba sekarang Mas rasakan sendiri."
Adrian menerima pincuk itu dengan tangan kirinya yang bebas secara hati-hati.
Menggunakan lidi kecil, ia menusuk sepotong lupis yang lumayan tebal lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Begitu kunyahan pertama dimulai, mata Adrian langsung melebar.
Rasa manis yang pekat namun tidak bikin enek, ditambah tekstur kenyal yang lembut di lidah, benar-benar di luar ekspektasinya.
Ini sangat berbeda dengan rasa manis buatan dari pastri modern yang biasa ia beli di mal-mal besar.
"Iya, ini enak sekali," aku Adrian jujur dengan raut wajah takjub.
Ia mengangguk-angguk, menyuap potongan kedua dengan lebih mantap.
Fatma tersenyum puas melihat respons Adrian. Rasa bangganya sebagai anak daerah muncul ketika kuliner tradisional pilihannya berhasil memikat lidah seorang pengusaha kota.
Turning back to the seller, Fatma raised five fingers.
"Mbah, tolong buatkan lima porsi lagi ya, dibungkus bawa pulang."
"Walah, banyak sekali, Nduk? Buat siapa saja?" tanya si nenek sembari dengan cekatan menata daun pisang baru.
"Buat Umi, Abah, Bryan, sama Ustaz Damar di pondok, Mbah," jawab Fatma ramah.
Adrian yang sedang mengunyah potongan terakhirnya mendadak tertegun mendengar nama terakhir yang diucapkan Fatma.
Ada sedikit rasa sesak yang kembali menyelinap di dadanya. Namun, melihat binar kebaikan di mata Fatma yang ingin berbagi kebahagiaan subuh ini kepada semua orang, Adrian memilih untuk meredam egonya dan tersenyum tipis, menghargai ketulusan hati wanita yang kini terasa semakin jauh untuk ia gapai kembali.