Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Darah di Puncak Awan Emas
Cengkeraman tangan Lin Ye di leher Pemimpin Sekte Jian Wuji terasa sedingin bongkahan es abadi dari dasar neraka tingkat kesembilan.
Urat-urat biru yang tebal menonjol keluar di sekujur wajah Jian Wuji yang kini telah berubah warna menjadi ungu kehitaman akibat kekurangan oksigen.
Pria paruh baya yang dulunya dihormati bagaikan dewa oleh puluhan ribu murid itu kini meronta-ronta menyedihkan di udara dengan kedua kaki yang menendang-nendang ruang kosong.
Kedua tangannya yang bergetar hebat berusaha keras untuk melepaskan jari-jari pucat Lin Ye yang mengunci lehernya dengan kekuatan mutlak.
Namun, setiap kali ia mengerahkan sisa energi spiritualnya, hawa kematian dari tubuh Lin Ye langsung membekukan aliran Qi di dalam jalur meridiannya.
Lin Ye menatap mata Jian Wuji yang melotot lebar dan dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam dengan ekspresi wajah yang datar tanpa emosi sedikit pun.
Pemuda berjubah hitam itu sedikit memiringkan kepalanya, seolah sedang mengamati seekor serangga yang sedang sekarat di telapak tangannya.
"Kau berteriak tentang keadilan langit seolah-olah kau adalah pemilik dari alam semesta ini, Jian Wuji," bisik Lin Ye dengan suara yang mengiris keheningan malam.
"Tapi pada akhirnya, ketika kematian menatap langsung ke dalam matamu, kau terlihat sama menyedihkannya dengan babi yang siap untuk disembelih."
Jian Wuji mencoba untuk membuka mulutnya dan mengeluarkan kutukan atau permohonan ampun, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara desisan darah yang tertahan.
Inti Emas di dalam dantian Pemimpin Sekte itu bergetar hebat, mencoba untuk meledakkan diri sebagai upaya perlawanan terakhir dari seorang kultivator tingkat tinggi.
Namun, Lin Ye sudah mengantisipasi hal tersebut dan langsung mengalirkan energi dari Inti Yin Sempurnanya langsung ke dalam dada Jian Wuji.
Energi Yin yang sangat pekat dan korosif itu menembus masuk bagaikan ribuan jarum hitam yang langsung mengunci dan menyegel Inti Emas milik lawannya.
Sensasi Inti Emas yang membeku membuat Jian Wuji menjerit tanpa suara, air mata darah mulai menetes dari sudut kedua matanya.
"Waktumu di dunia yang fana ini sudah habis, Pemimpin Sekte yang agung," ucap Lin Ye sambil mengencangkan cengkeramannya.
Suara retakan tulang leher yang sangat keras dan nyaring bergema menembus kekacauan pertarungan di udara.
Tulang belakang leher Jian Wuji hancur berkeping-keping di bawah tekanan jari-jari pucat tersebut, membuat kepalanya terkulai lemas ke samping dengan sudut yang tidak wajar.
Cahaya kehidupan di sepasang mata Pemimpin Sekte itu langsung padam seketika, menyisakan kekosongan absolut yang menandakan berakhirnya sebuah era.
Namun, Lin Ye sama sekali belum selesai dengan pria munafik yang berada di tangannya ini.
Ia mengangkat tangan kirinya dan membentuk sebuah cakar bayangan yang langsung ditusukkan dengan brutal ke bagian perut Jian Wuji.
Cakar bayangan itu menembus daging dan otot perut dengan mudah, lalu menarik keluar sebuah bola bercahaya keemasan seukuran kepalan tangan dari dalam dantian yang hancur.
Bola keemasan itu adalah Inti Emas milik Jian Wuji, hasil dari kultivasi ratusan tahun yang menyerap energi spiritual paling murni dari langit dan bumi.
Begitu Inti Emas itu ditarik keluar, tubuh fisik Jian Wuji langsung menyusut dan mengering dengan kecepatan yang sangat mengerikan.
Lin Ye kemudian membuka telapak tangan kanannya yang memegang leher mayat itu, mengaktifkan pusaran hisapan yang menyedot seluruh jiwa Jian Wuji yang baru saja terlepas.
Jiwa Pemimpin Sekte yang memancarkan cahaya keemasan redup itu menjerit histeris saat ditarik secara paksa masuk ke dalam ruang sistem di dalam benak Lin Ye.
"Sistem melaporkan: Jiwa target Jian Wuji di puncak Alam Inti Emas berhasil diserap secara sempurna."
"Mengekstraksi energi murni dari Inti Emas target untuk memperkuat fondasi Inti Yin Sempurna milik inang."
Lin Ye melemparkan mayat kering Jian Wuji ke bawah, membiarkannya jatuh menghantam bebatuan gunung hingga hancur menjadi serpihan debu kelabu.
Ia menggenggam Inti Emas di tangan kirinya dan langsung meremasnya hingga pecah, membiarkan energi spiritual murni di dalamnya mengalir membanjiri seluruh pori-pori kulitnya.
Aura kultivasi Lin Ye yang baru saja menembus Alam Pembentukan Inti langsung melesat naik dengan sangat gila, menstabilkan dirinya di puncak tahap awal hanya dalam waktu beberapa detik.
Pemandangan kematian tragis Pemimpin Sekte mereka yang terjadi hanya dalam satu gerakan tangan itu langsung menghancurkan sisa-sisa mental para tetua di udara.
Jeritan kepanikan dan keputusasaan meledak dari puluhan mulut tetua pelataran dalam yang masih melayang di atas langit Puncak Awan Emas.
"Pemimpin Sekte telah gugur! Iblis itu tidak bisa dibunuh oleh manusia!" teriak seorang tetua penegak hukum sambil membuang pedangnya dengan tangan gemetar.
"Lari! Selamatkan diri kalian masing-masing! Sekte Pedang Surgawi telah tamat riwayatnya malam ini!" ratap tetua lainnya yang langsung berbalik arah untuk kabur.
Namun, melarikan diri dari wilayah perburuan pasukan bayangan Lin Ye adalah sebuah kemustahilan yang sangat mutlak.
Jenderal Wu An mengayunkan tombak raksasanya, menciptakan pusaran angin hitam yang langsung mengunci ruang pergerakan lima orang tetua yang mencoba terbang menjauh.
Kelima tetua itu terhisap masuk ke dalam pusaran angin mematikan tersebut dan tubuh mereka langsung tercabik-cabik oleh bilah-bilah angin Yin yang setajam silet.
Darah segar dan potongan daging jatuh berhamburan dari langit seperti hujan merah yang sangat mengerikan, menodai kesucian atap-atap Istana Awan Emas.
Di sisi lain, Jenderal Darah Kutukan melesat dengan kecepatan tinggi dan menerjang langsung ke tengah kerumunan sepuluh tetua yang sedang berkumpul.
Pedang gergaji berdarahnya berputar dengan suara deru yang memekakkan telinga, membelah perisai spiritual mereka seolah memotong selembar kertas basah.
Dua orang tetua langsung terbelah menjadi dua bagian dari kepala hingga ke selangkangan, usus dan organ dalam mereka tumpah ruah mewarnai udara malam.
Sisa tetua yang ada di dekatnya memuntahkan darah hitam karena terkena percikan racun mematikan dari pedang gergaji tersebut.
Puluhan ribu prajurit bayangan dan hantu penasaran juga tidak tinggal diam, mereka menerkam sisa-sisa tetua yang sudah kehilangan semangat bertarung.
Para tetua yang dulunya sangat sombong dan angkuh kini hanya bisa menangis, menjerit, dan memohon ampun saat daging mereka digigit dan jiwa mereka ditarik keluar hidup-hidup.
Lin Ye melayang di udara dengan tangan terlipat di belakang punggung, menyaksikan simfoni pembantaian ini dengan sepasang mata yang sedingin es abadi.
Ia terus menyerap ratusan aliran energi jiwa yang dikirimkan oleh pasukan bayangannya, membuat kekuatan di dalam dantiannya terus bergolak bagaikan lautan badai.
Di atas tanah berbatu di depan mulut gua, Tetua Agung Chu Zhen masih berdiri mematung dengan sisa-sisa kewarasannya yang telah hancur lebur sepenuhnya.
Matanya yang merah darah menatap ke langit yang kini dipenuhi oleh potongan mayat rekan-rekannya, atasan, dan teman-teman seperjuangannya selama ratusan tahun.
Hujan darah menetes membasahi wajah keriput dan jubah putihnya yang sudah kotor, namun ia sama sekali tidak menghapus noda merah tersebut.
Pikirannya telah benar-benar terputus dari kenyataan, menyisakan sebuah kekosongan yang hanya diisi oleh kebencian dan rasa sakit yang tak terlukiskan.
Keluarganya telah musnah, sektenya telah dihancurkan, dan ambisinya untuk hidup abadi telah direnggut dengan paksa oleh pemuda berjubah hitam di atas sana.
"Hahaha... hahahaha... HAHAHAHAHA!" tawa parau yang sangat gila meledak dari mulut Chu Zhen, tawanya terdengar sangat menyedihkan dan penuh keputusasaan.
Tawa itu menarik perhatian Lin Ye yang perlahan menurunkan pandangannya ke bawah, menatap sisa sampah tua yang masih bernapas di wilayah kekuasaannya.
Chu Zhen mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah Lin Ye dengan mata yang melotot hingga bola matanya hampir keluar dari kelopaknya.
"Kau menang, iblis... kau telah menghancurkan segala sesuatu yang aku miliki di dunia ini!" teriak Chu Zhen dengan suara yang serak dan pecah.
"Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau bisa berjalan keluar dari gunung ini dengan senyuman kemenangan di wajahmu!"
Chu Zhen menancapkan Pedang Penghukum Matahari miliknya ke atas tanah, lalu merobek dada jubahnya sendiri hingga memperlihatkan kulit dadanya yang keriput.
Ia menggunakan kuku jarinya sendiri untuk menusuk tepat ke bagian tengah dadanya, menggali masuk untuk menarik paksa setetes esensi jantung murninya.
Tubuh pria tua itu seketika memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan, ratusan kali lipat lebih terang dari saat ia menyerang sebelumnya.
Suhu udara di sekitarnya langsung melonjak drastis hingga ribuan derajat, melelehkan bebatuan di bawah telapak kakinya menjadi lahar pijar.
"Sistem memberikan peringatan bahaya tingkat tertinggi!" suara mekanis di dalam benak Lin Ye bergema dengan cepat.
"Target Chu Zhen sedang memicu ledakan Inti Emas miliknya sendiri dengan membakar seluruh jiwa dan esensi darahnya."
"Ledakan dari kultivator puncak Alam Inti Emas ini memiliki daya hancur yang setara dengan serangan kultivator Alam Jiwa Baru Lahir, cukup untuk meratakan seluruh pegunungan ini menjadi debu!"
Mendengar peringatan dari sistem, ujung alis Lin Ye hanya terangkat sedikit tanpa menunjukkan tanda-tanda kepanikan sedikit pun.
Ia sudah menduga bahwa pria tua bangka yang keras kepala ini pasti akan memilih jalan penghancuran diri jika sudut kematiannya telah tertutup rapat.
Namun, di hadapan hukum kematian yang mutlak, bahkan hak untuk bunuh diri pun harus mendapatkan persetujuan dari sang kaisar bayangan.
"Kau pikir kau memiliki hak untuk mengakhiri nyawamu sendiri di hadapanku, Chu Zhen?" suara Lin Ye bergema dari langit bagaikan vonis hukuman dari dewa.