Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Keesokan harinya.
Viona Lin perlahan membuka matanya.
Rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pinggangnya. Wajahnya seketika memucat.
Operasi donor ginjal kemarin bukanlah mimpi.
Ia benar-benar telah kehilangan salah satu ginjalnya.
Tubuhnya masih sangat lemah. Bahkan mengangkat tangan saja terasa sulit.
Namun sebelum ia sempat beristirahat, pintu bangsal didorong terbuka.
Delvin Jiang masuk bersama Moly Su dan putri mereka, Sanny Jiang.
Tatapan mereka dingin, seolah sedang melihat seorang pelayan biasa..Bukan pasien yang baru saja menjalani operasi besar.
Brak!
Delvin melempar sebuah map ke atas ranjang.
"Itu laporan biaya pengobatan adikmu. Semua tagihannya sudah kami lunasi."
Viona segera mengambil map itu. Melihat angka-angka di dalamnya, matanya langsung memerah.
"Terima kasih, Tuan."
Delvin mendengus.
"Ingat satu hal. Jangan pernah memberitahu siapa pun tentang operasi ini. Terutama Dylan."
Viona menundukkan kepala.
"Aku mengerti."
"Bagus."
Moly Su melangkah maju.
"Viona, kau harus sadar statusmu."
Wanita itu menatapnya dengan jijik.
"Sejak ibumu menjualmu kepada keluarga Jiang, semua yang kau miliki adalah milik keluarga Jiang. Jangankan hanya satu ginjal. Bahkan jika kami menginginkan jantung, hati, atau nyawamu, kau tetap harus memberikannya tanpa membantah."
Viona mengepalkan selimut.
Namun ia tidak berani melawan.
Karena sejak kecil, ia memang tidak pernah memiliki hak untuk menolak.
Saat itulah Sanny Jiang masuk ke dalam bangsal.
Gadis itu melirik Viona sekilas sebelum memeluk lengan Moly Su.
"Ma, lebih baik dia pulang saja. Untuk apa tetap dirawat di rumah sakit? Hanya menghabiskan uang keluarga kita."
Moly mengangguk setuju.
"Kau benar."
Delvin menatap Viona.
"Kau dengar sendiri."
"Tapi Tuan..." suara Viona bergetar. "Saya masih sangat lemah. Bekas operasinya juga masih sakit..."
Delvin langsung memotong ucapannya.
"Apa kau mengira manusia rendahan sepertimu layak menghabiskan biaya rumah sakit keluarga Jiang hanya karena telah menyelamatkan Dylan?"
Wajah Viona langsung memucat.
"Kalau tidak mau pulang, bayar sendiri biaya rawat inapmu."
Viona terdiam.
Ia bahkan tidak memiliki seratus yuan di rekeningnya.
Bagaimana mungkin ia mampu membayar rumah sakit terbaik di pusat kota?
Sanny tersenyum manis.
"Pa, Ma. Dua bulan lagi hari ulang tahunku. Aku ingin mengundang teman-temanku ke rumah."
"Tentu saja," jawab Moly sambil tersenyum.
"Aku juga ingin makan masakan rumahan."
Moly langsung mengangguk.
"Baik, Mama akan menyiapkan semuanya."
Kemudian ia menoleh ke arah Viona. "Kau yang akan memasak."
Viona terkejut.
"Nyonya..."
"Delapan hidangan dan semuanya harus sempurna."
Tubuh Viona langsung menegang..Ia bahkan belum pulih dari operasi.
Namun tidak ada seorang pun yang peduli.
"Saat itu Dylan juga akan pulang ke rumah," kata Delvin dingin. "Dan kau harus diam. Jangan sampai dia mengetahui bahwa ginjal yang menyelamatkannya berasal darimu."
Viona menundukkan kepala..
"Saya mengerti."
Melihat jawabannya, keluarga Jiang akhirnya pergi.
Pintu bangsal kembali tertutup.
"Demi biaya pengobatan Vivi, aku hanya bisa bertahan. Vivi, kau harus cepat sadar. Setelah itu kau harus pergi jauh jangan sampai terlibat dengan mereka," gumam Viona.
Dua bulan kemudian.
Di sebuah mansion mewah yang berdiri megah di pusat kota.
Seorang pria tampan dengan tubuh tinggi tegap sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan manset kemejanya.
Wajahnya dingin dan sulit didekati.
Pria itu adalah Dylan Jiang.
Putra sulung Delvin Jiang yang selama bertahun-tahun tidak pernah akur dengan ayahnya.
"Tuan."
Jay melangkah masuk ke dalam kamar.
"Besok Nona Sanny merayakan ulang tahunnya. Tuan Besar berharap Anda pulang."
Dylan bahkan tidak menoleh.
"Tidak tertarik."
Jay terdiam.
"Beliau mengatakan sejak Anda kembali dari luar negeri, Anda belum pernah pulang ke rumah."
Dylan tertawa dingin.
"Apakah dia sudah lupa apa alasan aku pergi ke luar negeri?"
Jay tidak berani menjawab.
"Baiklah, Tuan."
Jay segera mengalihkan topik.
"Hari ini jadwal pemeriksaan rutin Anda di rumah sakit."
"Aku sudah tidak apa-apa."
Dylan mengambil jasnya.
"Tidak perlu."
"Tapi dokter mengatakan Anda harus menjalani pemeriksaan rutin untuk memastikan kondisi ginjal tetap stabil."
Dylan menghela napas kesal.
"Menyusahkan."
Jay tersenyum kecut.
Kemudian Dylan tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apakah sudah diketahui siapa pendonorku?"
Jay menggeleng.
"Belum, Tuan. Dokter menolak memberikan informasi. Saat saya datang di hari operasi anda, pendonornya sudah keluar dari rumah sakit."
Dylan mengernyit.
"Tuan Besar dan Nyonya Moly mengatakan hal yang sama. Mereka meminta kita tidak perlu mencari tahu identitas pendonor."
Tatapan Dylan langsung berubah dingin.
"Tidak perlu mencari tahu?"
"Ya, Tuan."
Dylan mencibir.
"Aneh."
Jay mengangkat kepalanya.
"Tuan?"
"Orang itu telah memberiku satu ginjal. Tapi mereka malah menyuruhku melupakan identitasnya. Itu tidak masuk akal."
Dylan mengenakan jasnya.
"Aku akan pergi ke rumah sakit. Setelah itu aku ingin melihat semua berkas donor yang ada."
Jay terkejut.
"Tuan, Anda tetap ingin tahu?"
"Siapa pun dia, aku ingin mengetahui identitasnya. Ginjalnya telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak suka berutang pada siapa pun."
Jay terdiam mendengar perkataan itu.
"Jika dia membutuhkan uang, aku akan memberinya kompensasi yang layak."
"Jika dia memiliki keluarga, aku akan memastikan mereka hidup dengan baik."
Dylan berhenti sejenak.
Tatapannya sedikit melembut.
"Dan jika dia sudah meninggal... setidaknya aku harus mengunjungi makamnya."
Jay menghela napas.
"Tapi kata Tuan Besar, pendonor adalah pasien dalam kondisi kritis..Artinya kemungkinan besar dia tidak akan hidup lama."
Dylan mengernyit.
"Pasien kritis?"
"Ya. Beliau juga mengatakan bahwa keluarga pendonor tidak ingin identitasnya diketahui."
"Aku akan bertanya langsung kepada dokter."
Dylan melangkah menuju pintu.
"Kalau dokter tetap memilih bungkam?" tanya Jay yang mengikuti atasannya dari belakang.
"Pecat dan ganti dokter lain!" jawab Jay.