The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Musim Dingin yang Tak Diundang

Roda kereta kuda itu tidak sekadar berputar; mereka mengerang, sebuah suara gesekan kayu dan besi yang menyiksa di atas jalanan berbatu yang mulai tertutup lapisan es tipis.

Irama itu monoton, krak-gruduk-krak, seolah menghitung mundur detik-detik menuju akhir dari kehidupan yang pernah dikenal Elara.

Di luar jendela, dunia telah berubah menjadi hamparan putih dan abu-abu yang tak berujung, di mana langit menggantung rendah seakan hendak menelan bumi seisinya.

Di dalam kabin kereta yang berlapis beludru biru tua—warna kebanggaan House Draxos—udara terasa jauh lebih dingin daripada badai salju di luar.

Dingin itu tidak hanya menusuk kulit, melainkan merembes masuk ke dalam pori-pori, membekukan aliran darah, dan mencengkeram paru-paru setiap kali Elara mencoba menarik napas.

Elara Vane duduk tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi yang empuk. Gaun pengantinnya yang berwarna putih gading terhampar di sekelilingnya seperti tumpukan salju yang layu.

Sutra halus itu dirancang untuk pernikahan musim semi di ibu kota yang hangat, bukan untuk perjalanan panjang menembus keganasan musim dingin menuju perbatasan utara Kerajaan Vhaloria.

Kain tipis itu tidak mampu menahan hawa dingin yang merayap masuk dari celah jendela yang berembun, membuat ujung-ujung jemarinya mati rasa di balik sarung tangan renda.

Ia menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, meremas kain gaunnya yang kini terasa konyol. Cincin emas dengan permata safir gelap di jari manisnya terasa berat dan asing, lebih mirip borgol daripada simbol penyatuan dua jiwa.

Elara tidak berani bergerak. Ia tidak berani meraih selimut bulu tebal yang terlipat rapi di samping kursi di hadapannya. Ia bahkan nyaris tidak berani bernapas terlalu keras, takut uap napasnya akan mengganggu keheningan yang menyesakkan di antara mereka.

Di hadapannya, duduklah Duke Kaelen Draxos. Sang Iblis Utara.

Kaelen duduk dengan postur militer yang kaku dan sempurna, seolah ia sedang berada di atas takhta besi, bukan di kursi kereta yang berguncang. Pria itu tidak menatapnya.

Sejak mereka meninggalkan katedral di ibu kota tiga hari yang lalu, Kaelen nyaris tidak menatapnya sama sekali. Pandangannya terpaku ke luar jendela, menatap hamparan hutan pinus yang semakin lama semakin memutih, tertelan oleh badai salju yang mulai mengamuk.

Wajah Kaelen adalah definisi dari ketampanan yang berbahaya. Garis rahangnya tajam, seolah dipahat dari batu granit utara yang keras. Hidungnya mancung, dan bibirnya membentuk garis tipis yang menyiratkan ketidaksenangan abadi.

Namun, matanya lah yang paling menakutkan. Mata itu berwarna abu-abu badai, dingin, kosong, dan tak tersentuh. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada rasa ingin tahu. Hanya ada kehampaan yang mengerikan, seolah jiwa pria itu telah lama mati di medan perang, meninggalkan tubuh yang hanya bergerak berdasarkan tugas dan kewajiban.

Sebuah guncangan keras terjadi ketika roda kereta menghantam lubang yang tertutup salju. Tubuh Elara terhuyung ke depan.

Secara refleks, tangannya terulur untuk menahan diri agar tidak jatuh menimpa pria itu. Jemarinya yang gemetar menyentuh lutut Kaelen—hanya sedetik, sebuah sentuhan yang seringan bulu.

Reaksi Kaelen instan dan brutal dalam keheningannya.

Pria itu tidak menyentaknya. Ia tidak membentak. Ia hanya menggeser kakinya, menarik diri dari sentuhan Elara seolah-olah tangan gadis itu adalah bara api yang menjijikkan, atau mungkin, seolah Elara adalah kotoran yang menodai celana seragam militernya yang hitam pekat.

Gerakan mundur itu kecil, sangat halus, namun bagi Elara, itu terasa seperti tamparan keras di wajah.

Elara menarik kembali tangannya, menyembunyikannya di balik lipatan gaun. Jantungnya berdegup kencang, sebuah ritme panik yang menyakitkan di dada.

Rasa malu merambat naik ke lehernya, panas dan menyengat di tengah udara beku. Ia merasa kotor. Ia merasa tidak diinginkan.

"Maafkan saya, Yang Mulia," bisik Elara. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena sudah berjam-jam tidak digunakan.

Kaelen tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Ia hanya menghela napas, sebuah hembusan udara putih yang panjang, lalu kembali menatap jendela yang kini mulai berembun.

Pengabaian itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Kemarahan setidaknya menunjukkan bahwa Kaelen menganggapnya ada sebagai manusia.

Pengabaian ini menegaskan bahwa bagi Kaelen, Elara hanyalah sebuah barang, sebuah kewajiban politik yang tidak diinginkan namun harus dibawa pulang.

Elara menundukkan kepalanya, menatap cincin di jarinya yang longgar. Ayahnya, Baron Vane, telah menjualnya demi melunasi hutang judi yang menggunung.

Tidak ada kata-kata manis saat perpisahan, tidak ada pelukan hangat. Hanya sebuah kontrak yang ditandatangani di atas meja kayu mahoni, di mana Elara ditukar dengan peti-peti emas yang dikirimkan oleh keluarga Draxos. Ia hanyalah alat tukar. Dan sekarang, pemilik barunya jelas tidak menginginkannya.

"Ayahmu bilang kau tidak banyak bicara."

Suara itu berat, dalam, dan tiba-tiba memecah keheningan seperti guntur di kejauhan. Elara tersentak kaget. Ia mengangkat wajahnya, mencari mata Kaelen.

Pria itu akhirnya menatapnya. Tatapan itu menelanjangi, tajam, dan penuh penilaian, seolah sedang menimbang nilai barang dagangan yang baru dibelinya.

Elara menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. "Saya... saya hanya berusaha tidak mengganggu ketenangan Anda, Yang Mulia."

"Ketenangan," ulang Kaelen, nada suaranya datar tanpa emosi. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai sinis yang nyaris tak terlihat. "Tidak ada ketenangan di Utara, Elara. Kau akan segera belajar bahwa keheningan di sini bukan berarti damai. Itu berarti kematian sedang mengintai."

Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mengancam. Elara merasakan bulu kuduknya meremang.

"Saya akan berusaha beradaptasi," jawab Elara pelan, mencoba terdengar lebih berani dari yang ia rasakan, meski suaranya sedikit bergetar.

Kaelen mendengus pelan, seolah jawaban itu menggelikan baginya. Ia kembali memalingkan wajah ke jendela, memutuskan kontak mata secepat ia memulainya. "Beradaptasi," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Elara. "Bunga dari rumah kaca ibu kota tidak beradaptasi di sini. Mereka layu, lalu mati membeku di bawah tumpukan salju."

Hati Elara mencelos. Pria ini sudah memvonisnya. Sebelum Elara sempat melangkah masuk ke rumah barunya, sebelum ia sempat menunjukkan siapa dirinya, Kaelen sudah memutuskan bahwa ia tidak akan bertahan.

Bahwa ia lemah. Bahwa ia hanya akan menjadi mayat beku lainnya di tanah terkutuk ini.

Terpopuler

Comments

Poi Klj

Poi Klj

okkkk

2026-07-17

2

Roaffi Jj

Roaffi Jj

bagus

2026-07-17

2

Kalong Super

Kalong Super

👍👍👍👍👍👍gassss

2026-06-28

5

lihat semua
Episodes
1 Musim Dingin yang Tak Diundang
2 bab 2
3 Menara yang Dilupakan
4 bab 4
5 Roti Hangat dan Tatapan Dingin
6 bab 6
7 Di Antara Debu dan Tinta
8 bab 8
9 Iblis yang Bermimpi
10 Bekas Luka dan Balsem Dingin
11 bab 11
12 Galeri Wajah-Wajah Mati
13 bab 13
14 Gula, Tepung, dan Harapan yang Rapuh
15 bab 15
16 Di Antara Neraca dan Dinginnya Batu
17 bab 17
18 Detak Jantung di Balik Dinding Batu
19 bab 19
20 Kertas yang Terbakar
21 Kuburan Bunga Kaca
22 Sup Rusa
23 bab 23
24 Jejak Darah di Salju Putih
25 Demam yang Membakar Dingin
26 bab 26
27 Malam Tanpa Mimpi
28 Hantu di Pagi Hari
29 bab 29
30 Debu Emas di Atas Batu Hitam
31 bab 31
32 Tamu dari Sisa Abu
33 Racun dalam Cangkir Teh
34 bab 34
35 Makan Malam di Atas Mata Pisau
36 bab 36
37 Mawar di Bawah Abu
38 bab 38
39 Kunci Besi dan Pintu yang Terbuka
40 Bayangan di Kota Besi
41 bab 41
42 Langkah Kaki di Lantai Kayu
43 bab 43
44 Di Bawah Ribuan Mata Api
45 bab 45
46 Gema Langkah di Lantai Batu
47 bab 47
48 Lilin yang Menolak Mati
49 Benang Merah dan Jarum Perak
50 bab 50
51 Ular di Balik Sutra
52 Umpan Merah di Rumah Kaca
53 bab 53
54 Abu di Tangan Sang Duchess
55 Hening yang Berisik
56 bab 56
57 Jantung di Bawah Akar
58 bab 58
59 Jejak Kaki di Ujung Dunia
60 Tulang Putih dan Angin Hitam
61 bab 61
62 Darah di Atas Es, Gema di Bawah Batu
63 Api yang Memandu Pulang
64 bab 64
65 Bunga Es di Atas Batu Nisan
66 Detak Jam di Musim Dingin
67 bab 67
68 Tinta Beracun dari Selatan
69 Peta di Atas Meja Makan
70 Tali Busur yang Menjerit
71 Aroma Parfum di Tengah Bau Kuda
72 bab 72
73 Darah di Atas Salju Perawan
74 bab 74
75 Tinta Emas di Atas Kertas Pengkhianatan
76 bab 76
77 Sangkar Emas dan Burung Kenari
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Musim Dingin yang Tak Diundang
2
bab 2
3
Menara yang Dilupakan
4
bab 4
5
Roti Hangat dan Tatapan Dingin
6
bab 6
7
Di Antara Debu dan Tinta
8
bab 8
9
Iblis yang Bermimpi
10
Bekas Luka dan Balsem Dingin
11
bab 11
12
Galeri Wajah-Wajah Mati
13
bab 13
14
Gula, Tepung, dan Harapan yang Rapuh
15
bab 15
16
Di Antara Neraca dan Dinginnya Batu
17
bab 17
18
Detak Jantung di Balik Dinding Batu
19
bab 19
20
Kertas yang Terbakar
21
Kuburan Bunga Kaca
22
Sup Rusa
23
bab 23
24
Jejak Darah di Salju Putih
25
Demam yang Membakar Dingin
26
bab 26
27
Malam Tanpa Mimpi
28
Hantu di Pagi Hari
29
bab 29
30
Debu Emas di Atas Batu Hitam
31
bab 31
32
Tamu dari Sisa Abu
33
Racun dalam Cangkir Teh
34
bab 34
35
Makan Malam di Atas Mata Pisau
36
bab 36
37
Mawar di Bawah Abu
38
bab 38
39
Kunci Besi dan Pintu yang Terbuka
40
Bayangan di Kota Besi
41
bab 41
42
Langkah Kaki di Lantai Kayu
43
bab 43
44
Di Bawah Ribuan Mata Api
45
bab 45
46
Gema Langkah di Lantai Batu
47
bab 47
48
Lilin yang Menolak Mati
49
Benang Merah dan Jarum Perak
50
bab 50
51
Ular di Balik Sutra
52
Umpan Merah di Rumah Kaca
53
bab 53
54
Abu di Tangan Sang Duchess
55
Hening yang Berisik
56
bab 56
57
Jantung di Bawah Akar
58
bab 58
59
Jejak Kaki di Ujung Dunia
60
Tulang Putih dan Angin Hitam
61
bab 61
62
Darah di Atas Es, Gema di Bawah Batu
63
Api yang Memandu Pulang
64
bab 64
65
Bunga Es di Atas Batu Nisan
66
Detak Jam di Musim Dingin
67
bab 67
68
Tinta Beracun dari Selatan
69
Peta di Atas Meja Makan
70
Tali Busur yang Menjerit
71
Aroma Parfum di Tengah Bau Kuda
72
bab 72
73
Darah di Atas Salju Perawan
74
bab 74
75
Tinta Emas di Atas Kertas Pengkhianatan
76
bab 76
77
Sangkar Emas dan Burung Kenari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!