Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Malam itu, setelah makan malam bersama keluarga Halvar, Elara memilih kembali ke kamarnya lebih dulu.
Tubuhnya memang sudah terasa lebih baik daripada saat berada di sekolah, tetapi rasa lelah yang sejak pagi mengganggunya belum benar-benar hilang.
Ia menutup pintu perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tatapannya lurus ke arah jendela.
Hamparan cahaya dari lampu-lampu kota terlihat terang, menggantikan gelapnya malam.
Elara mengangkat telapak tangannya.
Perlahan, cahaya keemasan tipis muncul di atas kulitnya. Namun, sinarnya tidak seterang biasanya.
Elara memperhatikannya beberapa saat.
Lalu, cahaya itu kembali menghilang.
Keningnya mengernyit.
Ia kembali mengingat apa yang dirasakannya saat berada di hutan sore tadi.
Tubuhnya yang semula lemah perlahan kembali bertenaga. Bahkan kepalanya yang sejak pagi terasa berat seolah kembali ringan hanya dalam waktu singkat.
Padahal, ia tidak melakukan apa pun.
Elara terdiam cukup lama. Tatapannya kemudian beralih kepada pepohonan yang terlihat samar dari balik jendela kamarnya.
“Jadi begitu...” gumamnya pelan.
Gadis itu akhirnya mengerti.
Selama tinggal di hutan, ia tidak pernah sekalipun merasa kelelahan setelah menggunakan kekuatannya. Sebanyak apa pun kekuatan itu digunakan, energinya selalu kembali seperti semula.
Namun, sejak datang ke kota... semuanya berubah.
Setiap kali menggunakan kekuatannya, tubuhnya perlahan menjadi lemah. Rasa lelah itu pun tidak kunjung hilang.
Baru setelah kembali menginjakkan kaki di hutan sore tadi, energinya kembali pulih.
Elara perlahan menutup kedua matanya.
“Bukan kekuatanku yang melemah...” Ia berhenti sejenak. “Tapi energiku.”
Jawaban itu akhirnya ia temukan.
Selama ini, alam yang menjadi sumber energi bagi dirinya. Semakin dekat ia dengan alam yang masih alami, semakin cepat energinya kembali.
Sebaliknya, di tengah padatnya kota yang dipenuhi beton dan gedung-gedung tinggi, energinya perlahan terkikis.
Elara membuka matanya kembali.
Jika ia terus menggunakan kekuatannya tanpa memulihkan energi tersebut, suatu saat nanti ia tidak akan bisa menggunakannya lagi seperti biasa.
Dan jika itu terjadi... bukan hanya kekuatannya yang akan terpengaruh.
Tapi juga dirinya.
***
Pagi itu, halaman sekolah mulai dipenuhi para siswa yang baru datang. Elara berjalan sendirian menyusuri koridor menuju kelasnya.
Langkahnya tetap tenang seperti biasa. Wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan sehari sebelumnya, meskipun sesekali ia masih merasakan tubuhnya sedikit lebih lemah dari biasanya.
“Elara.”
Suara seseorang dari belakang membuat langkahnya terhenti.
Elara menoleh dengan tenang. Wajahnya tetap datar saat melihat Bianca berdiri beberapa meter di belakangnya.
Gadis itu tersenyum tipis, berusaha menunjukkan sikap ramah.
“Ada apa?” tanya Elara datar.
“Aku hanya ingin bicara sebentar.”
Elara tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menunggu apa yang ingin disampaikan Bianca.
Bianca kemudian berjalan mendekat.
“Aku heran,” ucapnya perlahan. “Sejak kamu datang, keluarga Halvar jadi berubah.”
Elara masih diam.
Melihat tidak ada reaksi apa pun darinya, Bianca mulai kehilangan kesabaran.
“Leonard jadi semakin menjauh dariku. Bahkan sekarang, dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama kalian.”
“Menjauh?” Elara mengernyit tipis. “Memangnya kapan kalian dekat?”
Senyum Bianca seketika menghilang.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak menyangka Elara akan menjawab sesederhana itu, seolah hubungan yang selama ini ia perjuangkan memang tidak pernah ada.
“Kamu...” Bianca menarik napas, berusaha menahan emosinya. “Bukankah kamu sengaja mendekati mereka, Elara?”
“Aku tidak pernah mendekati siapa pun.”
“Lalu kenapa?” Bianca menatapnya tajam. “Kenapa semua perhatian mereka selalu tertuju padamu?”
Elara terdiam sejenak. Ia menatap Bianca tanpa terlihat memahami kenapa gadis itu begitu marah.
“Mungkin karena aku adik mereka.”
Jawaban itu membuat Bianca kembali terdiam.
"Mereka kakakku. Wajar kalau mereka memperhatikanku.”
Bianca menggertakkan giginya pelan.
Bagi Elara, semuanya memang sesederhana itu.
Namun, bagi Bianca, justru itulah yang membuatnya semakin kesal.
Elara menatap Bianca selama beberapa saat. Mata hijau itu masih terlihat tenang, seolah semua ucapan Bianca hanya angin lalu.
“Sudah selesai?”
Bianca mengernyit heran. “Apa?”
“Kalau sudah, aku mau masuk kelas.”
Elara berbalik dan hendak melangkah begitu saja. Namun, Bianca segera bergerak menghalangi jalannya.
“Aku belum selesai,” tekannya, berusaha menahan emosinya.
Elara mengembuskan napas pelan. Ia menatap Bianca tanpa sedikit pun terlihat terganggu.
“Kalau begitu, cepatlah.”
Untuk sesaat, Bianca kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah menyangka Elara sama sekali tidak terpancing dengan ucapannya.
“Aku paling tidak suka dengan orang yang berpura-pura tidak peduli,” ucap Bianca akhirnya.
“Aku memang tidak peduli.”
Jawaban Elara terdengar begitu datar. Justru karena itulah Bianca semakin kesal.
“Jangan sok suci, Elara.”
Elara mengernyit tipis. “Apa aku terlihat seperti dewa di matamu?”
“ELARA!” bentak Bianca tanpa sadar.
Beberapa siswa yang sedang melintas mulai menoleh ke arah mereka. Bianca langsung menyadari hal itu. Ia menarik napas panjang, lalu berusaha kembali memasang senyum agar tidak kehilangan citranya di depan siswa lain.
“Aku hanya mengingatkanmu,” katanya dengan suara yang lebih tenang. “Apa pun tujuanmu mendekati keluarga Halvar... jangan pernah berpikir kamu bisa mengambil tempat orang lain.”
Elara memiringkan kepalanya. “Memangnya aku mengambil tempat siapa di keluarga Halvar?”
Bianca terdiam.
Elara ikut terdiam sesaat, seolah benar-benar sedang memikirkan pertanyaan itu.
“Tempatmu?” tanyanya polos.
Bianca menatapnya tajam.
Elara kemudian tersenyum tipis. “Aku rasa tidak.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan tenang.
“Karena... kamu memang tidak punya tempat di keluarga Halvar.”
Wajah Bianca seketika menegang.
Namun, Elara sudah tidak memperhatikannya lagi. Gadis itu berjalan melewati Bianca begitu saja dan melanjutkan langkah menuju kelasnya.
Bianca masih berdiri di tempatnya. Tatapannya terus mengikuti langkah Elara hingga gadis itu menghilang di balik koridor.
Tangannya kembali mengepal.
“Jangan senang dulu, Elara,” gumamnya lirih.
Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
“Aku akan membuatmu pergi dari keluarga Halvar... dengan tanganmu sendiri.”
“Bianca!”
Bianca segera menoleh saat mendengar salah satu temannya memanggil.
“Kamu kenapa masih di sini? Bukannya sebentar lagi kelas kita masuk?” tanya gadis yang merupakan teman itu.
Bianca segera memasang kembali senyum manisnya, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit yang lalu.
“Aku hanya bertemu seseorang.”
“Elara, ya?”
Bianca mengangguk pelan.
“Aku hanya tidak mengerti,” ucapnya sambil menghela napas. “Kenapa keluarga Halvar begitu menyayanginya.”
Eve mengernyit tipis. “Memangnya kenapa? Dari yang aku dengar, Elara pernah menyelamatkan Tuan Danendra dan Nyonya Livia. Itu alasan mereka mengadopsinya.”
Bianca kembali mengembuskan napas pelan. Kali ini, ia sengaja memasang wajah sedih seolah benar-benar mengkhawatirkan sesuatu.
“Aku hanya takut...” Bianca berhenti sejenak, lalu menatap Eve. “Suatu hari nanti mereka kecewa.”
“Maksudmu?”
Bianca tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sebentar sebelum kembali menatap Eve.
“Tidak semua orang yang terlihat baik benar-benar memiliki niat baik.”
Eve mengernyit semakin dalam. “Kamu tahu sesuatu?”
Bianca segera menggeleng.
“Aku juga tidak tahu.” Ia tersenyum kecil. “Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.”
Bianca kemudian menarik napas pelan. “Tapi... semoga saja firasatku salah.”
Eve masih terlihat penasaran. Namun, Bianca tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya tersenyum tipis sebelum melangkah meninggalkan koridor bersama Eve.
Tanpa mereka sadari, beberapa kalimat sederhana yang Bianca ucapkan barusan telah menanamkan sesuatu di dalam pikiran Eve.
Rasa penasaran, dan keraguan terhadap Elara.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔