NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PERMAINAN NASIB DAN JEBAKAN MALAM

​Lampu-lampu neon fuchsia dan biru dari kelab malam The Zenith berkedip malas di bawah siraman gerimis tipis ibu kota. Dentum bas yang meredam dari dalam dinding kedap suara seolah mengejek kekacauan yang terjadi di pelataran parkir malam itu.

​"Kamu egois, Vanya! Egois!" Derian mengempaskan cengkeraman tangannya pada kemudi mobil Porsche sport hitamnya. Wajahnya merah padam, sisa alkohol dan amarah bercampur menjadi satu maskara emosi yang buruk.

​Vanya Hutama, dengan gaun backless satin merah marun yang mengekspos lekuk tubuhnya yang seksi, tertawa sinis dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah. "Aku egois? Lalu apa sebutannya untuk pria yang mencumbu perempuan lain di toilet kelab saat pacarnya sedang memesan minum? Aku melihatmu dengan mataku sendiri, Derian! Kamu selingkuh di depanku!"

​"Itu hanya salah paham! Kamu terlalu mabuk untuk melihat dengan jelas!" bantah Derian, meski matanya menatap ke arah lain, tanda ia sedang berbohong.

​"Jangan anggap aku bodoh! Kamu pikir aku tidak tahu kamu mendekatiku hanya demi investasi papaku di proyek Mediterania itu?" Vanya menudingkan telunjuknya tepat di depan hidung pria itu. "Keluar dari mobilku! Atau aku yang akan keluar dan membiarkanmu membusuk di sini!"

​"Cukup, Vanya. Kalau itu maumu, silakan!" desis Derian dingin. Tanpa perasaan, pria itu menginjak gas, membiarkan ban mobilnya mencicit keras di atas aspal basah, meninggalkan Vanya yang terhuyung-huyung di atas stiletto sembilan sentimeternya.

​"Derian! Bajingan kamu!" Vanya berteriak ke arah kegelapan jalan. Dia meraba tas tangan kecilnya, menarik keluar ponsel pintarnya. Layarnya menyala sesaat, menampilkan angka satu persen sebelum akhirnya mati total. Hitam. Mati.

​"Sial, sial, sial!" maki Vanya. Sambil mengutuk dalam hati, dia melangkah gontai menyusuri trotoar remang-remang yang sepi, berharap ada taksi yang lewat. Kepalanya berdenyut hebat akibat alkohol dan emosi.

​Di sudut persimpangan jalan yang gelap, beberapa ratus meter dari sana, raungan mesin motor matik tua memecah keheningan. Dua pria di atas satu motor memperhatikan mangsa empuk di depan mereka. Pria di depan mengenakan jaket hijau khas ojek online yang sudah dekil, sementara pria di belakangnya memakai masker hitam dengan tatapan mata yang liar.

​"Cang, lihat itu. Barang bagus," bisik Badrun, si pengendara berjaket ojol palsu.

​Icang, yang duduk di boncengan, menyeringai. "Gadis kota kaya, mabuk lagi. Dompetnya pasti tebal, Bang. Gas!"

​Motor itu meluncur cepat dan berhenti tepat di depan Vanya, memotong jalurnya. Icang langsung turun, merenggut tas kecil Vanya.

​"Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan!" Vanya terkejut. Naluri bertahannya bangkit seketika. Meskipun mabuk, dia memukul dada Icang dengan sisa tenaganya dan menendang tulang kering pria itu.

​"Aduh! Jalang ini melawan!" teriak Icang kesakitan.

​Badrun yang melihat temannya kewalahan segera turun dari motor. Tanpa belas kasihan, sebuah hantaman keras dari kepalan tangan Badrun mendarat tepat di tengkuk Vanya. Pandangan Vanya langsung menggelap. Tubuhnya ambruk ke atas aspal dingin seperti boneka kain yang diputus talinya.

​Icang napasnya memburu, matanya beralih dari tas Vanya ke lekuk tubuh gadis itu. Nafsu bejat mendadak mengubur rasa takutnya. "Bang... lihat ini. Mulus banget. Sayang kalau cuma diambil tasnya."

​Badrun menoleh ke kanan dan kiri, jalanan mati. "Gila kamu, Cang! Kita bisa ketahuan!"

​"Ada rumah tua tak berpenghuni di dekat pinggir jalan sana, Bang. Cuma seratus meter dari sini. Kita bawa dia ke sana dulu. Sebentar saja," desak Icang. Badrun akhirnya luluh. "Cepat angkat dia!"

​Beberapa menit sebelumnya, di jalan yang sama, seorang pemuda bernama Reyhan baru saja menyelesaikan orderan terakhirnya. Dia menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya yang tertutup helm murah yang sudah lecet. Reyhan menarik ritsleting jaket ojolnya yang sudah mulai pudar warnanya. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, motor matik 110cc miliknya yang bergetar hebat tampak kontras dengan kegagahan postur tubuhnya yang sebenarnya atletis.

​Malam ini sangat melelahkan. Sambil mengemudi pelan menuju kontrakannya yang kecil, mata tajam Reyhan menangkap pemandangan aneh di depan sebuah pekarangan luas yang dipenuhi semak belukar. Ada sebuah motor matik yang terparkir tanpa lampu di dekat rumah tua zaman kolonial yang telantar.

​"Jaket ojol?" gumam Reyhan melihat salah satu pria yang menggotong sesuatu masuk ke dalam rumah itu. Sebagai sesama pengemudi ojek online, instingnya mengatakan ada yang tidak beres. Tidak ada orderan yang mengharuskan seseorang membawa tubuh pingsan ke dalam rumah kosong.

​Reyhan memarkir motor matiknya di balik semak-semak, mematikan mesinnya secara perlahan. Dia melangkah senyap, mendekati bangunan tua yang dindingnya sudah ditumbuhi lumut itu.

​Di dalam rumah, cahaya bulan menembus atap yang bocor, menerangi lantai semen yang kotor. Vanya dibaringkan secara kasar. Icang sudah mulai membuka jaketnya dengan tawa menjijikkan.

​"Giliranku dulu ya, Bang," kata Icang bersemangat.

​"Cepatlah, perasaanku tidak enak," balas Badrun yang berjaga di dekat pintu rapuh.

​"Berhenti di sana, Bajingan."

​Suara Reyhan terdengar dingin dan berat. Dia berdiri di ambang pintu, cahaya bulan dari belakang membuat wajahnya tertutup bayangan.

​"Siapa kamu?! Jangan ikut campur atau mati!" bentak Badrun sambil mencabut sebilah pisau dari pinggangnya.

​Reyhan tidak banyak bicara. Saat Badrun menerjang maju, Reyhan dengan tenang menggeser tubuhnya. Meskipun hanya menggunakan teknik dasar yang efektif, hantaman siku Reyhan tepat mengenai rahang Badrun hingga pria itu terjerembap. Icang yang panik mencoba menyerang dengan balok kayu, namun Reyhan lebih cepat; sebuah tendangan telak menghantam perut Icang, membuatnya terlempar ke sudut ruangan.

​Melihat lawannya bukan orang sembarangan, Badrun menyeret Icang bangkit dan kabur lewat jendela belakang, meninggalkan motor dan tas jarahan mereka. Mereka lari ketakutan, mengira Reyhan adalah aparat yang sedang menyamar.

​Reyhan segera menghampiri gadis yang tergeletak di lantai. Dia berlutut, mencoba memeriksa keadaan Vanya. "Mbak? Mbak, bangun... Anda aman sekarang," bisiknya sambil menepuk pipi Vanya perlahan.

​Aroma alkohol dan parfum mahal menusuk hidung Reyhan. Rasa sakit di tengkuk dikombinasikan dengan sentuhan fisik dari orang asing membuat kesadaran Vanya bangkit dalam mode panik ekstrem. Efek halusinasi alkohol membuat wajah Reyhan yang tertutup masker ojol terlihat menakutkan.

​Vanya mengira Reyhan adalah salah satu dari begal tadi. Ketakutan yang luar biasa membuat sistem sarafnya bereaksi histeris. Dia mendorong dada Reyhan dan berteriak sekuat tenaga.

​"Aaahhh!... Jangaannn!... Lepaskan aku!... Aaahhh!"

​"Hei, tenang! Saya menolongmu!" Reyhan mencoba memegang pundak Vanya agar gadis itu tidak melukai dirinya sendiri saat meronta, namun tindakan itu justru memperburuk keadaan. Gaun satin Vanya yang memang sudah koyak di bagian bahu semakin tersingkap saat ia bergerak liar.

​"Tolong! Tolong!" teriak Vanya histeris.

​Dan sialnya, malam itu, tak jauh dari sana, sekelompok warga desa pinggiran kota sedang melakukan ronda malam. Suara teriakan Vanya yang melengking memecah keheningan malam.

​"Kang Dadang! Dengar itu? Ada suara perempuan menjerit di rumah tua!" bisik Malik, seorang pemuda pengangguran yang selalu mencari gara-gara.

​"Wah, ada yang tidak beres! Ayo serbu!" seru Kang Dadang, ketua ronda, sambil mengacungkan tongkat kayu.

​Dalam hitungan detik, belasan warga bersenjatakan senter dan pentungan merangsek masuk ke dalam rumah tua itu.

​BRAAAKKK!

​Pintu depan dihantam terbuka. Sorotan belasan lampu senter yang menyilaukan langsung mengarah ke posisi Reyhan yang sedang mencoba menenangkan Vanya. Di mata warga, pemandangan itu sangat jelas: Seorang pria berjaket ojol lusuh sedang berada di atas seorang gadis berpakaian seksi yang sedang menangis histeris dengan baju yang robek.

​"Astagfirullah! Biadab! Tertangkap basah kalian!" teriak Kang Dadang geram.

​Reyhan langsung berdiri, mengangkat kedua tangannya. "Kalian salah paham. Gadis ini dibegal. Saya pengemudi ojol yang kebetulan lewat..."

​"Halah! Ojol atau ojol-ojolan kamu?! Menolong kok sampai bajunya robek begitu! Lihat itu mukanya mesum!" sahut Malik memprovokasi. "Warga, lihat! Ini pasti mereka mau berbuat mesum di tempat kita!"

​Vanya yang masih dalam keadaan shock dan mabuk berat, merangkak mundur sambil menangis sesenggukan. "Pergi... jangan sentuh aku... hiks... pergi..." racis Vanya lirih.

​Kata-kata Vanya yang tidak jelas itu menjadi bukti bagi warga. "Dengar sendiri kan! Ceweknya sampai ketakutan begitu! Ayo, seret mereka ke balai desa!"

​Reyhan menatap kerumunan itu dengan tatapan tajam namun ia tetap tenang. Ia tahu, melawan warga yang sedang terbakar amarah hanya akan membuat keadaan semakin kacau. Ia menatap motor matik tuanya di luar yang kini ditendang oleh warga, lalu kembali menatap Vanya yang kini diselimuti sarung secara paksa oleh ibu-ibu desa yang berdatangan.

​"Jalan! Jangan banyak tingkah kamu penjahat kelamin!" Malik mendorong punggung Reyhan.

​Di bawah temaram lampu jalanan kampung yang becek, Reyhan—si pengemudi ojol yang menyimpan rahasia besar tentang siapa dirinya sebenarnya—dan Vanya Hutama, sang putri konglomerat, diarak warga menuju balai desa. Cemoohan dan makian terlontar dari setiap sudut rumah yang mereka lewati.

​Malam itu, nasib dua orang dari dunia yang sangat berbeda ini resmi terikat dalam sebuah skandal yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Reyhan hanya terdiam, namun di balik tatapan matanya yang dingin, ia mulai menghitung setiap orang yang telah memfitnahnya malam ini.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!