NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis / Tamat
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 30 Arum Menjadi Cenayang

“Aku melihat Aruna… dia seperti akan mati,” ucap Arum dengan suara bergetar, napasnya tersengal dan matanya masih basah oleh sisa tangis. Bahunya naik turun tidak teratur, seolah tubuhnya belum sepenuhnya kembali tenang dari apa yang baru saja ia lihat.

Cenayang Wu langsung menatapnya tajam, namun tetap berusaha menahan ketenangan di wajahnya. Ia melangkah lebih dekat, lalu memegang bahu Arum dengan kuat namun tidak menyakitkan.

“Tenang,” ucapnya pelan, tapi tegas, “penglihatan pertama tidak selalu berarti takdir. Bisa jadi itu hanya peringatan… atau pantulan ketakutanmu sendiri.”

Arum menggeleng kecil, jemarinya masih mencengkeram kain di dadanya seolah mencoba menahan rasa sakit yang tidak terlihat. “Tapi rasanya nyata… sangat nyata,” ucapnya lirih. Suaranya pecah di akhir kalimat, membuat suasana di ruangan itu ikut mengeruh.

Beberapa cenayang lain saling bertukar pandang, berbisik pelan. Udara di dalam aula berubah menjadi lebih berat, seolah ada sesuatu yang tak terlihat ikut mendengarkan.

“Kalau itu benar…” ucap salah satu cenayang muda dengan suara hampir berbisik, “berarti sesuatu yang besar sedang mendekat.”

Cenayang Wu menghela napas pelan, lalu menutup matanya sejenak. Ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.

“Karena itu kau tidak boleh membiarkan ketakutan menguasaimu, Arum…” ucapnya, “kau harus belajar membedakan mana penglihatan, dan mana ketakutan hatimu sendiri.”

Arum terdiam.

Namun air matanya justru jatuh semakin deras, menetes tanpa bisa ia tahan.

“Kalau itu hanya ketakutanku…” ucapnya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, .

“kenapa rasanya seperti aku sudah kehilangan dia?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Ruangan itu hanya dipenuhi keheningan yang menekan, sementara Arum tetap berdiri dengan dada yang terasa kosong, seolah apa pun penjelasan yang diberikan tidak mampu menghapus rasa takut yang sudah terlanjur tumbuh di dalam dirinya.

Pagi itu rumah Selir Ratih terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada percakapan ringan seperti hari-hari sebelumnya, hanya suara pelayan yang sesekali terdengar dari dapur. Meja makan sudah penuh dengan hidangan hangat, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar menyentuh suasana hati para penghuninya.

Ravin duduk dengan sendok di tangan, tetapi tidak benar-benar makan. Tatapannya kosong, pikirannya jelas tidak berada di meja itu. Sejak Arum pergi ke aula cenayang, ada sesuatu dalam dirinya yang ikut menghilang.

Arkara yang duduk di seberangnya memperhatikan sejak tadi, lalu menghela napas pelan.

“Kamu sakit?” ucapnya akhirnya.

Ravin bahkan tidak menoleh. “Enggak.”

“Tapi mukamu kayak orang yang ditinggal nikah.”

Ravin langsung melirik tajam. “Cari mati kamu?”

Arkara terkekeh kecil, tapi tawanya perlahan hilang saat melihat Ravin tidak ikut tersenyum sedikit pun. Suasana kembali hening.

Tidak lama kemudian langkah pelan terdengar dari dalam rumah.

Selir Ratih masuk dengan wajah tenang, tapi ada sesuatu yang berat di sorot matanya. Ia berhenti sejenak sebelum berbicara.

“Aruna.”

Ravin langsung mengangkat kepala. “Ibu?”

Ratih duduk perlahan di sampingnya. “Aku ingin kau pergi ke pondok di bukit seberang besok.”

Sendok di tangan Ravin jatuh pelan ke meja. “Apa?”

Arkara ikut menoleh kaget.

Ratih menarik napas, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. “Di sana ada ritual doa keluarga kerajaan. Kau hanya perlu—”

“Aku tidak mau.” Ravin memotong cepat.

“Aruna…”

“Aku bilang tidak.”

Nada suaranya mulai meninggi.

Ratih mencoba menenangkan. “Arkara akan menemanimu.”

“Aku tidak butuh ditemani.” Ravin berdiri. “Kenapa tiba-tiba semua orang mau aku pergi?”

Tatapannya menajam. “Seolah aku ini harus disingkirkan dari istana.”

Ratih terdiam sesaat, dan itu cukup membuat Ravin semakin curiga.

“Kalian menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

Suasana langsung berubah tegang.

Ratih menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa.”

Ravin tertawa kecil pahit. “Kalau begitu apa maksud ‘tameng pondasi pelindung’ itu?”

Ratih membeku.

“Aku bukan anak kecil.” Suara Ravin bergetar menahan emosi. “Semua orang sekarang ngomongin keselamatanku seolah aku bakal mati kapan saja.”

Ratih langsung berdiri dan mendekat. “Itu bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Aku tidak akan pergi ke mana pun.” Ravin menatapnya lurus. “Terutama sekarang Arum sudah jadi cenayang demi aku.”

Suaranya mengecil. “Dia meninggalkan hidupnya… dan ibu mau aku pergi?”

Ratih terdiam.

“Aku tidak takut.” Ravin menghela napas berat. “Tapi aku juga tidak mau lari.”

Angin pagi masuk melalui jendela, membuat suasana semakin dingin.

Ratih perlahan menyentuh wajah putranya. Tangannya gemetar.

“Aku hanya ingin kau tetap hidup…” ucapnya lirih, hampir pecah. “Itu saja.”

Ravin terdiam.

Untuk pertama kalinya ia melihat ibunya bukan sebagai sosok tegas di istana, tapi sebagai seorang perempuan yang benar-benar takut kehilangan anaknya.

Dan itu membuat amarahnya perlahan runtuh.

Siang itu langit istana mendung. Angin membawa hawa dingin yang menyusup sampai ke dalam ruang pribadi Ratu Shima.

Ia duduk di singgasana dengan ekspresi tenang, tapi matanya tidak pernah benar-benar diam. Di hadapannya, Cenayang Wu berdiri dengan sikap hormat seperti biasa.

“Aku ingin pernikahan Putra Mahkota berjalan tanpa gangguan,” ucap Ratu Shima pelan.

Cenayang Wu mengangguk tanpa bicara.

“Ajeng memiliki energi yang baik.” Ratu menatap jauh ke luar jendela. “Jika dia menjadi permaisuri, kerajaan akan stabil.”

“Dibutuhkan ritual besar,” jawab Cenayang Wu akhirnya.

Ratu menatapnya. “Kau bisa melakukannya?”

“Bisa.”

“Tapi?”

Cenayang Wu menunduk sedikit. “Aku membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelahnya.”

Ratu mengernyit. “Berapa lama?”

“Beberapa tahun.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, Ratu Shima tampak tidak nyaman. Namun ia tidak menolak.

“Baik.”

Tapi tatapannya berubah perlahan menjadi lebih dingin.

“Ada satu hal lagi.”

Cenayang Wu langsung merasakan perubahan itu.

Ratu melangkah mendekat.

“Selir Ratih.” Suaranya rendah.

Cenayang Wu menegang tipis.

“Aku ingin dia menghilang.”

Ruangan seolah membeku.

“Yang Mulia…” Cenayang Wu mencoba menahan nada suaranya. “Itu akan menimbulkan masalah besar.”

“Aku bisa mengaturnya.” Ratu tersenyum tipis. “Tidak akan ada yang tahu.”

Cenayang Wu terdiam.

Ia tahu ini bukan ancaman kosong.

Ini sudah keputusan.

Dan jika Selir Ratih benar-benar menjadi target—

istana tidak akan pernah sama lagi.

Sore itu, di kediaman Cenayang Wu, angin berhembus pelan melewati pohon bambu.

Arum duduk di teras kayu, menatap kosong ke depan sampai suara langkah kaki menghentikan lamunannya.

Ia menoleh.

“Ravin…?”

Belum sempat ia selesai bicara, Ravin sudah berdiri di depannya.

Arum langsung berlari dan memeluknya erat tanpa ragu.

Ravin sedikit terkejut, lalu perlahan membalas pelukan itu.

Hangat.

Terlalu hangat untuk dunia yang semakin terasa dingin.

“Aku kangen…” gumam Arum pelan.

“Aku juga.”

Beberapa saat mereka hanya diam.

Tidak ada istana.

Tidak ada cenayang.

Tidak ada ancaman.

Hanya mereka berdua.

Ravin melepas pelukan pelan lalu menatap wajah Arum. “Kamu capek.”

Arum tersenyum kecil. “Belajar jadi cenayang itu melelahkan.”

“Makanya jangan sok kuat.”

Arum langsung mencubit lengannya pelan. “Banyak omong.”

Ravin tertawa kecil.

Namun setelah itu wajahnya perlahan berubah serius.

“Arum…” ucapnya pelan.

Arum langsung tahu arah pembicaraan itu.

“Empat puluh hari lagi,” jawabnya lirih.

Hening.

Ravin menghela napas panjang. “Cepat banget.”

Arum menunduk.

Karena ia juga takut.

Takut setelah itu semuanya benar-benar berakhir.

Ravin tiba-tiba menatapnya. “Bunga kenanga muda itu apa?”

Arum mengernyit. “Kenanga muda?”

“Ibu nyuruh aku ambil di pondok bukit seberang.” Ravin menggeleng pelan. “Tapi aku nolak.”

Arum langsung terdiam.

“Mungkin…” ucapnya pelan, “itu cara Selir Ratih melindungi kamu.”

Ravin menoleh. “Melindungi?”

Arum mengangguk pelan. “Kalau benar sesuatu akan terjadi di istana, beliau mungkin ingin kamu jauh dari sana.”

Suasana langsung berubah berat.

Ravin tertawa kecil pahit. “Semua orang nyuruh aku pergi.”

Tatapannya meredup. “Tapi tidak ada yang tahu… aku justru takut ditinggal.”

Arum terdiam lama.

Karena untuk pertama kalinya ia melihat Ravin bukan sebagai putra mahkota atau reinkarnasi—

tapi sebagai seseorang yang sama-sama takut kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!