Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Sore harinya Gaby pulang kerumahnya, Anny menyambut Gaby dengan penuh kegembiraan.
"Selamat datang, nona!" Ucap Anny dengan senyum hangat.
"Terima kasih," jawab Gaby membalas senyuman hangat Anny.
Anny dan Gaby berjalan beriringan menuju meja makan. Anny tiba-tiba teringat perihal kejadian siang kala itu, ketika Kangjian mengambil surat Gaby.
"Ah, nona?" Panggil Anny ketika Gaby hendak duduk.
"Ada apa?" Jawab Gaby sembari duduk dikursi.
"Tadi siang, sekertaris Kang datang kerumah dan ia tak sengaja menginjak surat untuk nona. Saya berniat menyimpannya tapi surat itu terjatuh." Ucap Anny dengan sembari menuangkan jus jeruk.
"Benarkah? Apa sekertaris Kang melihatnya?" Tanya Gaby terkejut.
"Tidak, saya dengan cepat merebutnya dan menyembunyikannya. Sekertaris Kang sempat curiga namun, saya beralasan bahwa surat itu adalah sebuah surat tagihan!" Jawab Anny menjelaskan.
"Syukurlah, sekertaris Kang tidak melihatnya!" Sahut Gaby dengan lega.
Beberapa menit kemudian, Gaby telah selesai menyantap cemilan sorenya. Setelahnya Gaby menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.
"Dimana surat itu?" Ucapnya pelan saat tengah mencari keberadaan surat tersebut.
Tampaklah sebuah surat yang terletak dimeja kecil dekat lemari pakaian. Lantas Gaby mengambilnya dan membacanya, setelah selesai membaca. Gaby kemudian berpikir keras.
"Bekerja? Kenapa aku harus bekerja?" Ucapnya pelan.
"Disurat kali ini tertulis aku harus membiasakan diri dengan pekerjaan. Tapi, aku harus bekerja apa?" Lanjutnya sambil menolak pinggang.
"Sudalah, biar kupikirkan nanti saja!" Gaby menyimpan kembali surat tersebut bersama dengan surat-surat lainnya.
Beberapa jam setelahnya Ardiaz datang menemui Gaby. Gaby dan Anny menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat.
"Selamat sore tuan," sapa Gaby.
"Selamat sore juga, Anny siapkan teh keruang kerjaku!" Jawab Ardiaz dengan sambil memerintah Anny.
"Baik tuan!" Sigap Anny menyanggupi.
Lantas Anny beranjak pergi kedapur untuk menyiapkan teh.
"Kau ikut denganku!" Ucap Ardiaz menarik pelan lengan Gaby.
Gaby mengangguk kemudian berjalan mengikuti Ardiaz.
"Bagaimana rencanamu hari ini?" Tanya Ardiaz sesaat setelah ia duduk.
"Berjalan dengan lancar, hanya saja sepertinya Shany bukan orang sembarangan!" Jawab Gaby yang mengingat tentang kejadian dikampusnya.
"Benarkah? Bagaimana menurutmu mengenai keluarga Shanzoora?" Tanya Ardiaz menyelidik.
"Keluarga yang berbahaya, keluarga tersebut bukan keluarga yang sembarangan!" Jawab Gaby dengan ekspresi serius.
"Kau benar, memang keluarga yang sangat tertutup!" Sahut Ardiaz.
Kedatangan Anny menghentikan pembicaraan keduanya, Anny meletakan teh hangat disebuah meja. Gaby pun duduk dikursi setelah Ardiaz memberi kode untuk duduk bersama denganya. Kini keduanya duduk berdampingan dengan perasaan tegang.
"Kenapa tegang sekali?" Batin keduanya bersamaan.
"Ummm... oh ya, tadi pagi Bryan meminta saya untuk menemaninya jalan-jalan besok. Apakah saya boleh pergi?" Tanya Gaby yang teringat saat sedang berbicara dengan Bryan.
"Boleh saja, tapi hanya sampai pukul 10 siang saja. Setelahnya kau harus pulang, jika terlambat maka saya akan menghukummu!" Tegas Ardiaz mengizinkan Gaby untuk pergi.
"Kau tahu kan hukuman apa?" Lanjutnya sambil meneguk tehnya.
"Baik, saya mengerti!!" Jawab Gaby dengan senyum ceria.
"Malam harinya kau harus pergi denganku!" Sahut Ardiaz dengan tatapan dingin.
Gaby menelan ludah saat melihat tatapan dingin Ardiaz.
"Ba-baik tuan!" Jawab Gaby pelan.
Keesokan harinya...
Gaby bersiap memakai gaunnya dan setelahnya ia berpamitan kepada Anny untuk pergi bersama Bryan pagi ini. Bryan menunggu Gaby didepan gerbang, karena Ardiaz melarang siapa pun untuk masuk kehalaman rumah kecuali dirinya. Ia juga berpesan kepada penjaga pagar untuk tidak memperbolehkan siapa pun untuk masuk.
"Kau sudah menunggu lama?" Tanya Gaby setelah ia menemui Bryan.
"Iya, kau lama sekali. Tapi, hasilnya tidak mengecewakan!" Jawab Bryan dengan senyum menggoda.
"Baiklah, ayo pergi!" Sahut Gaby sambil masuk kedalam mobil Bryan.
Perjalanan mereka dimulai, Bryan melajukan kendaraannya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Setelah cukup lama berkendara, akhirnya keduanya sampai disebuah taman bunga. Cuaca yang masih pagi menyejukan suasana.
"Wah, indah sekali disini!!" Ucap Gaby terkagum melihat taman yang begitu indah.
"Baguslah jika kau suka!" Jawab Bryan.
"Ayo silahkan duduk," lanjut Bryan sambil menunjuk sebuah kursi panjang dibelakang mereka.
Bryan dan Gaby duduk disana dan mengobrol-ngobrol tentang diri mereka masing-masing. Setelah cukup bosan duduk terus, mereka pun berjalan-jalan mengitari taman. Angin berhembus sangat kencang sehingga beberapa daun dan bunga berguguran dari pohonnya. Suasana yang begitu indah dan romantis, hanya saja kali ini bukan bersama Ardiaz melainkan bersama Bryan.
Tiupan angin membuat rambut Gaby berantakan. Bryan membalikan badan Gaby dan membantu merapikan rambutnya, tatapan kagum Bryan terukir jelas dimatanya. Bryan menyelipkan rambut Gaby kebelakang telinganya. Gaby berpura-pura dengan memasang ekspresi malu dan terkejut seperti saat Ardiaz mencium tangannya.
"Kau terlihat sangat cantik!" Ucap Bryan jujur.
Kemudian Bryan mengambil kotak kecil dari dalam sakunya. Setelahnya Bryan membuka kotak tersebut dan tampaklah sebuah gelang cantik berhiaskan kupu-kupu kecil. Bryan mengambilnya, ia hendak memasangkannya ditangan kiri Gaby. Sesaat ketika Bryan menarik lengan Gaby untuk memasangkan gelang tersebut. Namun, Gaby menariknya seakan tidak ingin gelang tersebut terpasang ditangan kirinya.
Raut wajah heran terpampang jelas diwajah Bryan.
"Ada apa?" Tanya Bryan keheranan.
"Tidak ada, pasangkan gelang itu ditangan kanan saja!" Jawab Gaby sembari menyerahkan tangan kanannya.
"Bagaimana bisa gelang itu terpasang ditangan kiriku. Bekas kecupan tuan Ardiaz masih membekas hangat ditanganku!" Batin Gaby dengan wajah memerah saat mengingat kejadian mengenai Ardiaz yang memasangkan cincin ditangan kiri Gaby lalu mencium lembut punggung tangannya.
Bryan selesai memasangkan gelang tersebut kemudian memberi kecupan kecil dipunggung tangan Gaby. Anehnya perasaan Gaby saat Bryan mencium Gaby hanya biasa-biasa saja. Padahal ketika Ardiaz yang melakukannya, jantung Gaby berdetak dengan kencang dan tubuhnya gemetar juga wajah Gaby merah membara.
"Terima kasih!" Ucap Gaby dengan tulus.
Pukul 10.00 tepat, Gaby meminta Bryan untuk mengantarnya pulang karena sudah waktunya pulang.
"Sesuai janji!" Batin Gaby.
Bryan menyetujui permintaan Gaby lalu ia mengantar Gaby pulang kerumahnya. Hari yang begitu menyenangkan bagi Bryan, namun tidak bagi Gaby.
Keduanya sampai dirumah Gaby, Bryan membukakan pintu mobil untuk Gaby. Kemudian mencium kembali punggung tangan Gaby dengan lembut.
"Haish... kenapa kau mencium tanganku lagi, untung saja tangan kanan!" Batin Gaby yang merasa kesal.
Gaby masuk kedalam rumah dengan perasaan kesal. Ia memakan buah apel tanpa dikupas terlebih dahulu.
"Memang tak ada undang-undang larangan mencium tangan. Tapi, apakah sopan jika tiba-tiba mencium tangan seperti itu?" Batin Gaby kesal.
"Ah sudahlah, hari ini apa yang harus aku lakukan? Toh masih pukul 10 siang." Ucap Gaby bosan sambil melihat jam dinding.
"Mungkin jika berbaring dan membaca buku akan lebih baik!" Lanjutnya dengan sembari beranjak dari sofa dan masuk kedalam kamarnya.