Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tuan Sanjaya
Sejak pagi, Kepala Desa sudah beberapa kali melirik jam dinding di ruang kerjanya.
Di atas meja telah tersedia dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Berkas pembebasan lahan tersusun rapi di sampingnya. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman balai desa.
Seorang staf bergegas masuk. "Pak Lurah, Tuan Sanjaya sudah datang."
Kepala desa segera berdiri. "Silakan beliau masuk."
Beberapa detik kemudian, Tuan Sanjaya melangkah memasuki ruangan. Roni mengikuti di belakangnya.
"Selamat pagi, Tuan."
Sanjaya mengangguk singkat sebelum duduk.
"Ada perkembangan?"
Kepala desa menyerahkan sebuah map. "Sebagian besar lahan sudah berhasil kita kuasai. Tinggal beberapa bidang yang masih ditolak pemiliknya."
"Siapa saja?"
"Pak Sukri dan 2 warga yang lain? Mereka masih bertahan."
Sanjaya membuka map itu sekilas, lalu menutupnya kembali. "Kamu tahu, seorang guru TK telah ikut campur dalam urusan kita."
"Guru TK ?"
Roni ikut menimpali. "Perempuan yang sama juga pernah menggagalkan rencana saya mendapatkan tanda tangan Linda, Tuan."
Tatapan Sanjaya berubah tajam. "Semakin sering namanya muncul..." Ia mengetukkan jari telunjuk di atas meja. "...semakin besar rasa penasaranku."
Kepala desa membuka buku administrasi penduduk. "Sesuai data, Kinan adalah pendatang baru. Mengajar di TK desa. Tinggal di rumah kontrakan bersama suaminya, Darwin."
Sanjaya tersenyum tipis. "Data hanya menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan. Aku ingin melihatnya sendiri."
"Kebetulan, Pak." Kepala desa tersenyum. "Hari ini TK sedang mengadakan kegiatan. Kalau Tuan berkenan, kita bisa sekalian menyerahkan bantuan pendidikan yang memang sudah dijadwalkan."
Sanjaya menatap kepala desa beberapa saat.
"Lumayan." Ia bangkit dari kursinya. "Kalau begitu, jangan buat dia curiga."
Beberapa menit kemudian, kardus-kardus berisi buku gambar, buku tulis dan alat tulis dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Bagi warga desa, itu hanyalah kunjungan seorang dermawan.
Namun bagi Tuan Sanjaya... Hari itu adalah awal untuk mengenal lebih dekat perempuan bernama Kinan.
.
Pagi itu, halaman TK dipenuhi suara tawa anak-anak. Sebagian berlarian mengejar teman-temannya, sebagian lagi duduk rapi di teras sambil menyanyikan lagu yang dipandu Kinan.
"Bagus... sekarang tepuk semangat!"
"Prok... prok... prok... Se...mangat ...!" Suasana sekolah kecil itu begitu hidup.
Di saat yang sama, sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman. Kepala desa turun lebih dulu, disusul seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi. Kemeja putih berlengan panjang, celana bahan hitam, serta jam tangan yang tampak mahal di pergelangan tangannya.
Melihat kedatangan mereka, kepala Sekolah segera menghampiri. "Selamat pagi, Pak Kades."
"Pagi, Bu Ratna." Kepala desa tersenyum ramah.
"Hari ini kita kedatangan tamu. Beliau Pak Sanjaya. Salah satu pengusaha yang ingin memberikan bantuan untuk anak-anak TK."
Ratna mengangguk sopan. "Terima kasih sudah berkenan datang, Pak."
"Senang bisa bertemu langsung dengan Bu Guru." Sanjaya memperhatikan guru lain yang sedang bersama anak-anak.
"Kami hanya sekolah kecil, Pak," ucap Ratna. "Anak-anak pasti senang mendapat perhatian."
Sanjaya mengangguk tipis. "Anak-anak adalah masa depan desa."
Beberapa warga yang kebetulan melintas ikut berhenti menyaksikan kegiatan itu. Mereka mengenal Sanjaya sebagai pengusaha yang sering memberikan bantuan.
Tak lama kemudian, beberapa kardus berisi buku tulis, buku gambar, pensil warna, dan makanan ringan diturunkan dari mobil.
Sorak gembira anak-anak langsung memenuhi halaman.
"Wah... hadiah!"
"Kita dapat buku baru!"
Kinan membantu menenangkan mereka. "Satu per satu, ya. Jangan berebut."
"Siapa, Guru itu!" tanya Sanjaya memperhatikan Kinan.
"Oh, dia guru baru di TK, Bu Kinan namanya. " Bu Ratna memanggilnya untuk datang dan memperkenalkan pada Tuan Sanjaya.
Senyum tipis terukir di wajah Sanjaya. Perhatiannya tertuju pada perempuan itu
Roni tidak salah. Kinan memang terlihat seperti guru TK pada umumnya. Sabar. Lembut. Dekat dengan anak-anak. Namun ada sesuatu pada sorot matanya yang membuat Sanjaya terus berpikir. Tatapan itu terlalu tenang. Bukan tatapan seseorang yang mudah panik.
"Bu Kinan."
Kinan menoleh. "Ya, Pak?"
"Anak-anak di sini tampaknya sangat menyukai Ibu."
Kinan tersenyum. "Mereka hanya butuh diperhatikan."
"Benar." Sanjaya mengambil sebuah kotak pensil warna, lalu menyerahkannya kepada seorang anak. "Anak-anak biasanya paling pandai mengenali orang baik."
Kinan menatapnya sejenak. "Saya percaya begitu."
"Begitu juga saya." Keduanya sama-sama tersenyum.
Namun tak satu pun dari mereka benar-benar mempercayai lawan bicaranya.
Tak jauh dari sana, Roni berdiri sambil mengamati Kinan tanpa berkedip. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana perempuan itu menggagalkan rencananya memperoleh tanda tangan Linda, lalu menghentikan anak buah Sanjaya memaksa Pak Sukri menjual tanah.
Beberapa saat kemudian, seluruh hadiah selesai dibagikan. Anak-anak sibuk dengan hadiah mereka. Sebagian langsung membuka kotak pensil warna dengan wajah penuh kegembiraan.
Kepala desa tertawa kecil melihat tingkah mereka. "Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Sanjaya."
"Sama-sama." Sanjaya mengangguk pelan.
"Saya hanya berharap bantuan kecil ini bermanfaat." Ia kemudian menoleh kepada Kinan.
"Terima kasih sudah menjaga anak-anak di desa ini."
"Itu memang tugas saya." Jawaban Kinan terdengar sederhana.
Namun sekali lagi, Sanjaya menangkap ketegasan yang tidak biasa dari perempuan itu.
Tak lama kemudian, ia berpamitan. "Saya permisi."
"Silakan, Pak."
Mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman TK. Begitu keluar dari gerbang sekolah, senyum ramah di wajah Sanjaya perlahan memudar.
"Bagaimana menurut Tuan?" tanya Roni yang duduk di kursi depan.
Sanjaya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah sekolah yang semakin jauh di kaca spion.
"Dia tidak gugup."
"Mungkin karena memang tidak bersalah."
"Bisa jadi."
Sanjaya menggeleng pelan. "Atau..." Roni menoleh. "Dia sudah terlalu terbiasa menyembunyikan sesuatu."
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi.
Beberapa saat kemudian, Sanjaya berkata tanpa mengalihkan pandangan. "Awasi dia."
"Baik, Tuan."
"Jangan bertindak gegabah."
Roni mengangguk. "Lalu?"
Sanjaya menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku ingin tahu siapa sebenarnya perempuan bernama Kinan itu."
Mobil hitam tersebut terus melaju meninggalkan desa, sementara di belakangnya, Kinan kembali masuk ke dalam kelas dan melanjutkan pelajaran seolah hari itu hanyalah kunjungan biasa.
Ia tidak menyadari bahwa sejak pertemuan singkat itu, dirinya telah menjadi pusat perhatian seorang pria yang tak pernah melepaskan target sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkannya.