NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

...~Naira Cocok Deh, Bu~...

Semenjak tadi siang, ucapan Arka yang hanya memiliki sisa cuti lima hari terus menggantung di pikirannya. Gadis itu mengerjakan tugas menilai buku siswa dengan perasaan tak tenang. Beberapa kali ia membolak-balik kertas tersebut.

Langit di luar jendela kian menggelap bersama angin yang terus berhembus kencang. Naira belum bisa berpikir jernih.

Ia terus menghitung; jika lima hari dihitung dari hari ini, maka sisanya adalah empat hari. Lalu, hatinya kian sesak. Ada perasaan belum rela melepas Arka.

Ia terus mengingat perlakuan kecil Arka yang selalu membuatnya merasa aman. Gadis itu meletakkan bolpoinnya asal. Naira sudah bulat dengan keputusannya.

Gadis itu segera bangkit dari kursi dan melangkah keluar kamar. Ibunya tengah menikmati kue bolu di ruang tengah sendirian. Suara tawa ayahnya yang diiringi oleh Om Seno terdengar dari teras rumah.

Suara radio yang memutar drama ketoprak terdengar nyaring di ruang tengah. Naira mendaratkan bokongnya di samping sang ibu.

"Bu?" panggilnya pelan.

"Kenapa?"

"Naira mau ngomong penting."

Ibu Naira masih sibuk mendengarkan drama ketoprak yang kian nyaring dengan iringan gamelan.

"Ini penting, Bu."

Ibunya menoleh sesaat. "Ya sudah, tinggal ngomong."

"Gimana kalau..."

"Kalau apa?"

Naira masih ragu sesaat. Bibirnya dikulum pelan, lalu menundukkan pandangannya. Sesak di dadanya kian tak nyaman.

"Naira rasa cocok, deh."

"Cocok apa?" tanya ibunya mengulangi dengan santai.

"Sama Mas Arka." Suara gadis itu kian lirih. Pelan, seolah siap terbang bersama angin sore yang masuk lewat pintu utama.

Namun, telinga tajam Ibu Naira langsung menangkapnya. Tangan wanita paruh baya itu bergegas mematikan radio di meja.

"Kamu serius?" tanyanya lagi.

Nada suara ibunya sedikit meninggi sebelum akhirnya mendekat setengah berbisik. "Kamu serius, Nai?"

Wajah Naira memanas. Kepalanya kian menunduk dalam. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. "Serius, Ibu."

Sang ibu langsung tertawa—cukup keras, nyaring, dan menggema di ruang yang sepi.

"Bu!!" teriak Ayah Naira dari luar.

"Bapakmu harus tahu!" Wanita itu bergegas pergi ke teras rumah dengan cepat. Daster rumahan berwarna hitam bermotif bunga berterbangan bersama langkahnya yang tergesa.

Sedang Naira merasakan tenggorokannya kering. Gadis itu segera pergi ke dapur dengan detakan jantung yang kian terasa kencang. Tangannya cekatan mengambil satu gelas lalu menuang air dari teko.

Satu teguk. Dua teguk. Hingga tandas seluruh gelas, tapi dahaganya belum selesai.

Rasa sesak di dadanya kian menjadi. Beberapa kali ia menepuk dada, berharap hilang rasa pengap yang dirasa. Tapi, seolah semesta tak mengizinkan, ia baru saja meletakkan gelas dengan hentakan yang keras sebelum langkah kaki mendekat perlahan ke samping Naira.

Wangi sabun mint segar dari tubuh Arka tercium samar. Gadis itu buru-buru menoleh ke arah pria itu.

"Ibumu menyuruh aku ke sini." Ucapan pertama pria itu terdengar jauh lebih tenang. Sangat tenang, tapi tidak dengan Naira yang sudah merasa lemas di kakinya.

Gemetar di tangannya yang masih menggenggam gelas terasa jauh lebih kencang daripada tadi. Belum lagi tubuhnya kian merasa kedinginan karena jaraknya dengan Arka kian terkikis.

"Ada apa? Kok heboh banget dari tadi. Aku disuruh nanya kamu."

Naira menoleh ke kanan dan kiri beberapa kali sebelum mendongakkan kepalanya.

"Ibu kan memang begitu, Mas."

"Begitu?"

"Ya, heboh sendiri. Mungkin tadi di drama ketoprak ada yang lucu."

"Oh..."

Jawaban Arka membuat Naira menghela napas lega.

"Padahal aku tadi dengarnya kamu cocok."

Arka tersenyum samar. "Cocok sama apa?"

Naira menegang. Bahunya naik tanpa bisa diturunkan untuk sesaat. Tatapannya terkunci pada Arka.

"Sama...."

"Mas Arka."

Runtuh sudah harga diri Naira. Ia yang dulu menolak, kini justru menyatakan lebih dulu.

"Emang kamu sudah siap nikah sama aku?"

Jawaban cepat dari Arka membuat gadis itu merasa ingin segera kabur dari sana.

"Apa-apaan sih, Mas. Maksudnya cocok jadi teman."

Arka menganggukkan kepalanya samar. "Oh."

"Jadi ibumu benar-benar heboh. Bahkan sudah bahas kapan mau nikah. Makanya aku disuruh nanya kamu."

Wajah Naira kian memanas. Ia menundukkan kepalanya memperhatikan lantai dapur.

Namun Arka tak berhenti menggodanya, "Padahal aku mau segera menelepon kantor komandan buat mengabari agar surat-surat bisa diurus secepatnya."

Jantung Naira terasa merosot. Napasnya sedikit lega, tapi tidak dengan sesak di dadanya.

"Secepatnya kalau bisa," gumam gadis itu lirih, hampir tak terdengar.

Namun Arka mampu menangkap suara itu dengan baik.

"Yakin?"

Naira masih menundukkan kepalanya, menghadap ke sisi lain. "Yakin."

"Lihat aku."

Naira terdiam sesaat, kepalanya mendongak mendapati Arka berdiri dengan tegap di hadapannya. Bayangan pria itu menutupi seluruh tubuh Naira dari cahaya lampu di ruang dapur. Aroma tubuhnya tercium semakin jelas.

Tatapan keduanya bertemu. Mata Arka tampak berbinar—bukan bercanda, ada ketajaman yang mempertanyakan keseriusan Naira. Gadis itu masih berdiri dengan tubuh yang sudah terasa lemas. Kakinya seolah tak dapat berpijak lagi.

"Kamu yakin?" tanya pria itu lagi.

"Yakin, Mas," jawab Naira pelan. Bibir tipisnya bergerak sedikit gemetar.

Untuk sesaat pandangan mata Arka kian melembut. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun urung dilakukan.

"Kita bicara sama orang tua di luar."

Naira masih membeku di tempat. "Aku malu."

Arka hanya mengerutkan dahi. "Kamu yang tadi bilang ke ibumu. Kenapa sekarang malu?"

"Ya..." Gadis itu melihat ke sisi lain. "Kupikir Ibu tidak akan secepat ini ngomong ke Ayah."

"Ayo." Telapak tangan besar Arka menggenggam lengan Naira pelan, menuntun gadis itu menuju ruang tengah di mana orang tuanya dan Ayah Arka duduk dengan senyum sumringah.

"Ibu buatkan teh panas dulu," ucap ibunya dengan senyum genit penuh kemenangan, lalu melenggang masuk ke dapur setelah sejoli itu keluar.

"Nai." Ayah Naira mulai membuka pembicaraan setelah Naira duduk dengan posisi tak nyaman. Beberapa kali ia bergerak mencari posisi duduk yang pas, namun tak berhasil.

"Kamu merasa cocok sama Arka?"

Naira menganggukkan kepalanya pelan.

"Karena apa?"

Ia menggigit bibir bawahnya. "Aman."

"Sudah kubilang, Yok. Mereka itu cocok," Om Seno lebih dulu menimpali dengan tawa yang lebih lebar.

"Lalu, habis ini mau gimana, Ka?"

Arka yang duduk bersebelahan dengan Naira tampak tegap, tenang, dan terkendali. Tak banyak menunduk dan tak banyak bergerak. Sesaat ia melirik ke arah Naira yang masih menundukkan kepalanya.

"Jika diperkenankan, saya ingin membuat ikatan resmi berupa pertunangan lebih dulu agar Naira,Bapak ,Ibu merasa tenang..." Ia menoleh ke arah Naira. "Dan sesegera mungkin kami akan menikah setelah semua berkas siap."

Naira mendongakkan kepalanya menatap Arka yang duduk di sebelahnya. Sebersit pemikiran datang di dadanya: berkas. Tentu, menikahi seorang tentara tak sesederhana itu. Ada protokol, pengabdian dan waktu yang harus dicurahkan penuh. Namun, genggaman di lengan Naira beserta usapan halus dari jemari besar kasar Arka cukup menenangkan gadis itu.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!