NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Jejak yang Menyambung ke Masa Lalu

Setelah gagal menjerat Dika lewat urusan pembelian barang, Rendra tidak mundur. Sebaliknya, rasa kesal dan kecemburuannya justru makin membara. Ia sadar, selama hanya menyerang lewat hal-hal kecil atau urusan keuangan, Dika selalu punya bukti yang cukup untuk membela diri. Maka ia mulai berpikir mencari kelemahan lain — sesuatu yang lebih pribadi, yang bisa mengguncang kepercayaan keluarga Wijaya dari akarnya.

Ia mulai mengumpulkan informasi diam-diam, menelusuri asal-usul Dika, tempat tinggalnya, keadaan ibunya, dan segala hal yang bisa dijadikan bahan untuk menimbulkan keraguan baru. “Jika tidak bisa menjatuhkannya lewat perbuatannya, maka jatuhkanlah lewat pandangan orang terhadap asal-usulnya,” gumamnya dalam hati dengan senyum dingin.

Suatu sore, saat suasana rumah sedang sepi, Rendra datang lagi dengan alasan menyampaikan laporan ringan dari ayahnya. Namun begitu duduk di ruang tamu, ia mulai membuka pembicaraan dengan nada halus namun menusuk.

“Nyonya, saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan sesuatu sebagai perhatian semata,” katanya sambil menatap lurus ke wajah Nyonya Wijaya. “Saya mendengar kabar dari beberapa orang di luar bahwa Dika berasal dari lingkungan yang kurang teratur, hidup dalam keterbatasan, dan ada yang bilang… keluarganya dulu pernah terlibat dalam masalah kecil di masa lalu. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi saya pikir sebaiknya Nyonya tahu, agar tidak salah menilai orang yang dipercaya mengurus banyak hal penting.”

Mendengar itu, Nyonya Wijaya hanya diam sejenak, matanya tetap tenang. Namun di sudut ruangan, Kirana yang mendengarnya merasa geram. Ia tahu betul maksud ucapan itu — bukan sekadar menyampaikan kabar, tapi menabur keraguan tentang latar belakang Dika.

“Terima kasih atas perhatianmu, Rendra,” jawab Nyonya Wijaya pelan namun tegas. “Tapi saya menilai seseorang bukan dari tempat ia dilahirkan atau keadaan keluarganya, melainkan dari apa yang ia perbuat sekarang. Orang yang lahir di lingkungan baik belum tentu berhati baik, dan orang yang hidup dalam keterbatasan belum tentu tidak punya prinsip. Selama ini Dika telah membuktikan sikapnya dengan kerja nyata, bukan dengan cerita orang lain.”

Rendra terkejut mendengar jawaban itu, namun ia tidak menyerah. “Tapi Nyonya, kita tidak bisa melupakan masa lalu sepenuhnya. Kadang sifat dan kebiasaan turun-temurun, atau lingkungan tempat dibesarkan bisa memengaruhi tindakan seseorang tanpa disadari. Kita harus tetap waspada.”

Percakapan itu terdengar sampai ke telinga Dika yang baru saja kembali dari kebun. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, mendengar setiap kata tanpa masuk atau menyela. Ia tidak marah, hanya merasa sedih melihat bagaimana orang berusaha mencari celah bahkan pada hal yang tidak bisa diubah.

Saat Rendra pergi, Nyonya Wijaya memanggil Dika masuk. “Dika, kamu pasti mendengar apa yang dikatakannya tadi. Apa yang ingin kamu sampaikan?”

Dika melangkah masuk dengan kepala tetap tegak, tidak merasa rendah diri atau malu. “Saya tidak akan menyangkal, Nyonya. Memang benar saya lahir dan besar di gang sempit Pademangan, hidup sederhana, dan pernah merasakan kekurangan. Tapi saya bangga dengan ibu saya yang membesarkan saya dengan ajaran jujur dan sabar. Keluarga saya tidak pernah mencuri, tidak pernah menipu, dan tidak pernah berutang tanpa berusaha melunasinya. Jika ada cerita lain yang dibesar-besarkan, itu hanya cara untuk menutupi kenyataan bahwa mereka tidak punya alasan untuk menyalahkan perbuatan saya.”

Kirana yang mendengarkan berdiri di sampingnya, menyampaikan dukungan lewat pandangan matanya. “Justru dari keterbatasan itulah ia belajar menghargai apa yang dimiliki dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Bukan dari kemewahan, tapi dari hati yang bersih.”

Malam itu, Dika merasa perlu pulang sebentar ke rumahnya untuk menenangkan pikiran sekaligus bertemu ibunya. Sesampainya di sana, ibunya menyambutnya dengan senyum seperti biasa, seolah tahu ada beban yang sedang dipikul putranya.

“Wajahmu terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang berat, Nak,” kata ibunya lembut sambil menyuguhkan teh hangat.

Dika menceritakan semuanya: bagaimana mereka mulai menyerang latar belakangnya, berusaha membuatnya terlihat tidak pantas hanya karena tempat asalnya. Ibunya mendengarkan dengan tenang, lalu memegang kedua tangan Dika.

“Anakku, ingatlah apa yang sering Ibu katakan: pakaian bisa menyembunyikan badan, tapi hati tidak bisa disembunyikan selamanya. Mereka yang menyerangmu bukan karena kamu salah, tapi karena mereka tidak punya cara lain untuk mengalahkan kebenaran yang kamu bawa. Jika kamu mulai merasa rendah diri atau marah, berarti kamu membiarkan mereka memenangkan hati dan pikiranmu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri — cahaya itu tidak akan berubah terangnya meski dibawa dari tempat yang gelap sekalipun.”

Kata-kata ibunya menenangkan hati Dika seketika. Ia kembali mengingat prinsip yang dipegangnya sejak awal: nilai seseorang tidak diukur dari asal-usul, melainkan dari apa yang ia perbuat dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Saat ia kembali ke rumah Wijaya keesokan harinya, ia menemukan Kirana sudah menunggunya di taman. Wajahnya terlihat lega melihat Dika datang dengan semangat yang sama seperti biasanya.

“Kamu tidak berubah sedikit pun,” ujar Kirana tersenyum. “Saya khawatir ucapan mereka akan membuatmu merasa tertekan.”

“Tidak, Non,” jawab Dika sambil tersenyum tulus. “Justru itu menjadi pengingat baru bagi saya: jalan yang kita pilih ini memang tidak akan pernah lepas dari pandangan orang yang berbeda-beda. Ada yang menghargai, ada yang meragukan, dan ada yang sengaja mencari kesalahan. Tapi selama hati saya tetap bersih dan langkah saya tetap lurus, pandangan buruk itu hanya akan menjadi debu yang akan hilang ditiup angin.”

Namun, di tempat lain, Rendra justru menemukan sesuatu yang membuat matanya berbinar penuh harapan baru. Saat menelusuri cerita lama, ia mendengar sebuah kisah yang hampir terlupakan: bahwa bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah kejadian di mana sejumlah barang hilang dari rumah Wijaya, dan salah satu keluarga di lingkungan tempat tinggal Dika sempat disebut-sebut sebagai tersangka.

Ia tidak peduli apakah itu benar atau tidak. Baginya, cukup menjadi cerita yang bisa dibesar-besarkan untuk menimbulkan keraguan yang lebih dalam lagi.

“Jika tidak bisa menjatuhkannya dengan masa kini, maka gunakan masa lalu yang sudah lama terkubur,” gumamnya dengan senyum penuh rencana. “Lihat saja nanti, seberapa kuat cahaya itu bisa bertahan saat diselimuti kabut cerita lama yang belum terungkap kebenarannya.”

Tanpa mereka sadari, babak baru yang melibatkan rahasia masa lalu perlahan mulai terbuka, dan kali ini ujiannya menyentuh akar dari segala kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!