"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik rahasia
Sinar matahari hari Rabu pagi menembus celah-celah gorden kamar, menyinari wajah Tyas yang masih terlelap. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tyas menggeliat pelan di balik selimutnya. Ia teringat bahwa ia masih memiliki waktu beberapa hari untuk bersantai sebelum hari Senin depan, hari di mana semester baru di kampus dimulai dan ia resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru.
Keheningan paginya perlahan terusik oleh sapuan lembut di pucuk kepalanya. Tyas membuka mata perlahan dan mendapati Angga sudah berada di sisi ranjangnya. Pria itu sudah rapi, mengenakan kemeja kasual yang wangi.
Sebelum Tyas benar-benar sadar dari kantuknya, Angga merunduk dan mendaratkan satu kecupan lembut namun dalam di kening Tyas. Sentuhan itu membuat jantung Tyas berdesir, menyisakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Angga menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Tyas dengan pandangan yang kini kembali tenang dan terkendali. "Tyas, bangun. Sudah jam delapan," ujar Angga dengan suara berat khas bangun tidurnya yang terdengar seksi.
Pria itu mengusap lembut rambut pendek sebahu Tyas sebelum melanjutkan pertanyaannya, "Mbak Ranimu sebentar lagi mendarat. Kamu mau ikut Mas jemput ke bandara, atau mau tunggu di rumah saja?"
Pertanyaan itu seketika membuat kantuk Tyas hilang tak berbekas. Realitas yang sejak kemarin ia takuti kini telah tiba. Hari Rabu ini, Mbak Rani akan kembali ke rumah satu lantai ini, dan dinding pembatas antara dirinya dan Mas Angga harus kembali ditegakkan rapat-rapat. Tyas menelan ludah, menatap kakak iparnya dengan tatapan bimbang, menyadari bahwa sandiwara besar mereka akan segera dimulai dalam hitungan jam.
"Aku ikut, Mas. Bosan juga kalau harus di rumah terus," jawab Tyas sembari mendudukkan diri di tepi kasur.
Angga tersenyum tipis, mengacak rambut pendek sebahu Tyas dengan sayang sebelum beranjak berdiri. "Ya sudah, cepat mandi. Mas tunggu di luar ya."
Begitu pintu kamar tertutup dan Angga melangkah pergi, Tyas menghela napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Lehernya yang memerah kemarin kini sudah agak tersamarkan, namun ada satu rahasia lain yang jauh lebih besar dan mengerikan yang tersimpan rapat di dalam perutnya. Rahasia yang bahkan Mas Angga pun tidak mengetahuinya.
Sebenarnya, pada hari pertama Tyas menginjakkan kaki di rumah ini—hari di mana ia meringkuk menahan sakit yang luar biasa hingga memicu perhatian intens dari Angga—dia sama sekali tidak sedang mengalami kram karena datang bulan.
Kenyataan pahitnya, Tyas sedang hamil anak Satya.
Rasa panik yang luar biasa saat mengetahui dirinya terlambat datang bulan dan melihat dua garis merah pada testpack beberapa waktu lalu membuatnya nekat. Sebelum menyerahkan diri untuk tinggal bersama Mbak Rani, Tyas diam-diam mendatangi sebuah apotek kecil di pinggiran kota untuk membeli obat penggugur kandungan secara ilegal.
Efek obat itulah yang memicu kontraksi hebat di rahimnya, menyebabkan perutnya kram parah hingga mengeluarkan darah yang ia klaim sebagai darah menstruasi biasa kepada Angga dan Mbak Rani. Bagi Tyas, janin itu adalah kutukan yang harus dilenyapkan agar masa depan kuliahnya tidak hancur, sekaligus memutuskan ikatan biologisnya dengan Satya.
Tyas mengusap perutnya yang kini sudah terasa datar dan tidak sakit lagi. Proses itu sudah selesai, rahasia kelam itu terkubur bersama gugurnya janin tersebut. Namun, Tyas tidak pernah menyangka bahwa drama "sakit perut" yang ia rekayasa justru menjadi pintu masuk yang menjebaknya ke dalam pelukan terlarang bersama kakak iparnya sendiri.
Dengan perasaan yang campur aduk, Tyas meraih handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap-siap. Beberapa jam lagi, Mbak Rani akan kembali, dan Tyas harus memastikan tidak ada satu pun dari deretan rahasia busuk ini yang bocor ke permukaan.