Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Tanpa Nama dan Kebangkitan Nurani
*"Jangan pernah mengira bahwa hilangnya cahaya di mataku berarti matinya api di dalam jiwaku, karena justru saat sihir purba itu pergi, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanyalah penjaga pintu, bukan pemilik rumahnya."*
Suaraku terdengar rendah, tenang, namun tajam membelah keributan medan perang di depan mata. Aku mencengkeram cincin kayu itu di telapak tanganku. Rasa dingin dari permukaan cincin itu merambat ke nadiku, bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai peringatan. Di kejauhan, Julius bergerak seperti badai emas; pedangnya menari dengan presisi yang mematikan, menebas bayangan-bayangan Kolektor yang mencoba mendekat. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Mereka tidak manusiawi, mereka adalah kumpulan hasrat yang mencuri esensi kehidupan, dan Julius perlahan mulai kewalahan.
Aku menatap cincin di tanganku sekali lagi. Cincin itu tidak memiliki permata, hanya ukiran tangan yang terlihat kasar namun memiliki pola yang familiar. Pola itu... itu adalah peta dari nadi manusia. *Sihir bukanlah darah, sihir adalah kehendak.* Kalimat itu tiba-tiba terngiang di kepalaku, suara Marie Vance yang asli, seolah dia sedang berbisik tepat di samping telingaku.
Aku tidak memiliki sihir purba lagi. Tubuhku terasa ringan, kosong dari beban energi yang selama ini menekan tulang belulangku. Namun, kekosongan itu justru membuatku merasakan sesuatu yang selama ini tertutup oleh gemuruh kekuatan besar: *kesadaran akan lingkungan.*
Aku menutup mata, bukan untuk memanggil mantra, tapi untuk *mendengarkan*. Aku mendengarkan desah napas hutan terbalik ini. Aku mendengarkan denyut tanah di bawah kaki para Kolektor. Aku mendengarkan ritme pedang Julius yang mulai memelan karena kelelahan.
*"Kau tidak bisa bersembunyi selamanya, Marie Vance!"* suara Ayah palsuku menggelegar, diikuti oleh tawa dingin yang menyakitkan telinga. Dia berdiri di atas gundukan batu, mengamati Julius yang mulai terjepit. *"Cepat atau lambat, dia akan jatuh, dan kau akan menjadi milik kami sepenuhnya."*
Aku tidak menjawab. Aku meletakkan cincin itu di jariku. Begitu cincin kayu itu melingkar di jari manisku, sesuatu yang luar biasa terjadi. Aku tidak merasakan ledakan kekuatan, melainkan sebuah kejernihan yang menyakitkan. Aku bisa melihat aliran energi di sekelilingku. Bukan sebagai awan sihir yang harus dikendalikan, tapi sebagai benang-benang halus yang terhubung dengan setiap makhluk hidup di hutan ini.
Aku tidak butuh sihir untuk menggerakkan mereka. Aku hanya perlu *meminta*.
Aku melangkah maju. Tidak ada aura yang terpancar, tidak ada cahaya yang membutakan mata. Namun, saat aku berjalan, pepohonan yang tumbuh terbalik di hutan itu mulai bergetar. Akar-akar yang tadinya tertahan di udara perlahan turun, menyentuh tanah, dan bergerak seperti ular yang lapar.
*"Julius, mundur ke arahku!"* teriakku.
Julius, yang mendengar suaraku, langsung melakukan manuver melompat mundur, menghindari tebasan belati Kolektor. Dia menatapku, matanya membelalak kaget melihatku berjalan tanpa perlindungan sihir di tengah kerumunan musuh. *"Marie! Jangan gila! Kau tidak punya kekuatan lagi!"*
*"Aku tidak butuh kekuatan untuk mengendalikan mereka, Julius. Aku hanya perlu mengingatkan mereka siapa pemilik tanah ini,"* kataku santai.
Pria yang mengaku sebagai Ayahku itu melompat turun dari gundukannya, belati hitam di tangannya siap menebas leherku. *"Kau hanyalah manusia biasa sekarang! Apa yang bisa kau lakukan tanpa sihirmu, gadis bodoh?"*
Dia menebas. Aku tidak menghindar. Aku hanya menggerakkan jariku, mengikuti pola ukiran di cincin kayu itu. Saat belati itu hampir menyentuh kulitku, akar-akar pohon kuno yang tadi bergerak seperti ular tiba-tiba melesat dari tanah dan melilit tangan pria itu, menahan serangannya tepat beberapa sentimeter dari wajahku.
Pria itu terkesiap, mencoba memotong akar-akar itu dengan sihir hitamnya, tapi tidak terjadi apa-apa. Sihir hitamnya justru terserap oleh akar-akar itu, membuat mereka tumbuh semakin tebal dan kuat.
*"Apa ini?! Mengapa sihirku tidak bekerja?!"* teriaknya panik.
*"Karena tanah ini tidak mengenalmu sebagai pemiliknya,"* jawabku dingin. Aku menatap para Kolektor yang lain. Dengan satu gerakan tangan, aku membuat tanah di bawah kaki mereka melunak menjadi rawa yang dalam. Mereka tidak tenggelam, tapi mereka terjebak, kaki mereka terikat oleh serat-serat tanah yang memadat sekeras baja.
Julius berdiri di sampingku, napasnya terengah-engah, pedangnya yang tadinya emas kusam kini mulai bersinar kembali, namun bukan karena sihirku, melainkan karena *tekadnya sendiri*.
*"Kau... kau mengendalikan alam tanpa merapal mantra?"* tanya Julius, takjub.
*"Bukan mengendalikan,"* kataku, memegang tangannya. *"Aku hanya menyelaraskan diri. Ternyata, selama ini kita selalu berusaha memaksa dunia ini menuruti kehendak kita dengan sihir. Padahal, dunia ini hanya ingin kita memohon dengan hati."*
Ayah palsuku yang masih terikat di akar mencoba meronta. *"Kau pikir kau sudah menang? Kau hanya penipu yang menggunakan trik murahan! Kolektor tidak akan pernah berhenti! Selama masih ada cerita yang belum terselesaikan, kami akan selalu kembali!"*
Aku mendekatinya, berlutut tepat di depan wajahnya yang dipenuhi kebencian. Aku melepas cincin kayu itu dari jariku dan menempelkannya di dahi pria itu.
*"Kalian menyebut kami koleksi,"* bisikku. *"Maka biarkan kalian menjadi saksi dari cerita yang tidak akan pernah kalian tulis."*
Aku membisikkan sebuah nama—bukan nama manusia, tapi nama asli dari tempat ini yang kudengar dari getaran tanah tadi. *Arash-Ka-Dura*. Seketika, pria itu teriak kesakitan. Tubuhnya perlahan diselimuti oleh lumut dan tanaman merambat. Dia tidak mati, dia hanya berubah menjadi bagian dari hutan ini. Dia menjadi pohon—sebuah monumen abadi atas keserakahannya sendiri.
Pasukan Kolektor lainnya, melihat pemimpin mereka menjadi pohon, segera kocar-kacir melarikan diri ke dalam kabut. Mereka tidak berani kembali.
Hutan kembali tenang. Namun, tubuhku terasa sangat lemah. Rasa haus yang luar biasa dan rasa lelah yang menghujam tulang membuatku hampir tumbang. Julius segera menangkapku sebelum aku menyentuh tanah.
*"Kau berhasil,"* bisiknya, wajahnya penuh kekaguman dan kasih sayang. *"Kau tidak butuh sihir purba itu, Marie. Kau jauh lebih hebat dari apa pun yang pernah kubayangkan."*
Aku tersenyum tipis, tapi pandanganku mulai menggelap. *"Jangan terlalu memujiku... aku hanya... melakukan apa yang perlu dilakukan."*
Saat aku akan jatuh pingsan, aku merasakan seseorang memegang bahuku. Bukan Julius. Itu adalah wanita tua penjaga danau tadi. Dia tidak lagi tertutup kain putih, matanya kini terbuka—biru jernih seperti air danau.
*"Kau telah lulus ujian, Marie Vance,"* katanya. *"Darah adalah alat, tapi kesadaran adalah sang pembawa pesan. Kau telah melepaskan segel ketiga tanpa harus menghancurkan dirimu sendiri."*
*"Segel ketiga?"* gumamku lemah. *"Aku tidak... aku tidak merasa..."*
*"Segel ketiga adalah segel *Pilihan*,"* jawab wanita itu. *"Dan kau telah memilih untuk menjadi manusia di atas segalanya. Namun, ingatlah, mereka yang telah mencoba menguasaimu tidak akan berhenti. Masih ada banyak Kolektor di luar sana, dan mereka kini memiliki target baru: Julius."*
Aku tersentak, berusaha memaksakan mataku terbuka. *"Julius? Mengapa dia?"*
Wanita tua itu menunjuk ke arah dada Julius. Di balik bajunya yang robek, aku melihat sebuah tanda yang samar—tanda yang selama ini tersembunyi. Itu adalah simbol dari *Kunci Utama* yang sebenarnya.
*"Dia bukan hanya pengawalmu, Marie. Dia adalah wadah fisik dari perpustakaan yang sebenarnya. Mereka mencarimu untuk mendapatkan segel, tapi mereka mencari Julius untuk mendapatkan *Isi* dari seluruh cerita dunia ini."*
Aku menoleh ke arah Julius yang kini terlihat bingung. Dia sendiri tidak tahu bahwa tubuhnya menyembunyikan rahasia sebesar itu.
*"Kita harus pergi dari sini,"* kataku, mencoba berdiri meski kaki-kakiku gemetar. *"Kita harus menemukan tempat di mana kita bisa menyembunyikan rahasia ini."*
Namun, sebelum kami bisa melangkah, tanah di bawah kami mulai bergetar lagi. Bukan dengan getaran hutan, tapi dengan getaran yang sangat kuat—seperti langkah kaki raksasa. Dari balik awan merah jambu, sesuatu yang besar mulai turun ke bumi. Itu bukan Kolektor, bukan pula pengkhianat.
Itu adalah *Penjaga Waktu*. Makhluk raksasa yang tidak memiliki wujud tetap, hanya siluet cahaya yang terus berubah.
*"Kalian telah mengganggu keseimbangan 'Limbah Waktu',"* suaranya tidak keluar dari mulut, tapi bergema langsung di otak kami. *"Kalian harus membayar hutang waktu yang kalian curi dengan cara mengubah takdir kalian sendiri."*
Makhluk itu mengulurkan tangannya yang sebesar gunung ke arah kami. Aku menarik Julius, namun tangan cahaya itu terlalu cepat.
*"Julius, pegang tanganku!"* teriakku.
Saat tangan cahaya itu menyentuh kami, dunia di sekitar kami hancur lebur. Hutan terbalik, desa danau, semuanya lenyap dalam satu kedipan mata. Kami terlempar ke dalam pusaran ruang yang tidak memiliki warna.
Di dalam pusaran itu, aku melihat kilasan kehidupan yang belum pernah kulihat. Aku melihat diriku di masa depan, berdiri di depan sebuah tahta yang hancur. Aku melihat Julius, berdiri dengan pedang yang sudah berubah menjadi kristal hitam, menatap ke arah musuh yang wajahnya tidak bisa kulihat.
Dan di tengah-tengah kilasan itu, aku melihat sebuah tangan—tangan yang sama dengan tangan Kolektor—mengulurkan sebuah pena kepadaku.
*Tuliskan akhirmu,* suara itu berbisik.
Aku merasakan tangan Julius perlahan terlepas dari genggamanku di dalam pusaran itu.
*"Julius! Jangan lepaskan!"* teriakku, suaraku tersedot oleh ruang hampa.
*"Marie! Aku akan selalu menemukanmu!"* suaranya terdengar sangat jauh, hampir hilang ditelan kegelapan.
Pusaran itu semakin kencang, memisahkan kami dengan paksa. Aku terlempar keluar, jatuh ke sebuah tempat yang asing—sebuah kota yang terbuat dari batu hitam, dengan langit yang tidak memiliki bulan.
Aku terkapar di atas batu dingin, sendirian. Tidak ada Julius. Tidak ada hutan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Aku bangkit dengan susah payah, dan di depanku, aku melihat sebuah bangunan besar yang pintu gerbangnya tertulis dalam bahasa kuno yang mulai kubisa baca.
*Selamat datang di Perpustakaan Terakhir.*
Aku berdiri terpaku. Jadi ini tempatnya? Tempat di mana semua cerita berakhir? Aku menoleh ke belakang, berharap melihat Julius, tapi yang kutemukan hanyalah kegelapan yang tak berujung.
Tiba-tiba, pintu gerbang besar itu terbuka perlahan tanpa ada yang menyentuhnya. Dari dalam, seseorang keluar. Sosok itu mengenakan jubah yang sangat mirip dengan milikku, tapi dengan sulaman emas yang membentuk rasi bintang yang terus bergerak.
Dia menatapku, wajahnya tidak tertutup, dan saat dia melihat wajahku, dia tersenyum—senyum yang penuh dengan rasa kasihan.
*"Akhirnya, kau sampai juga, Marie Vance,"* katanya lembut. *"Tapi kau terlambat. Julius sudah menyerahkan dirinya untuk menyelamatkanmu."*
Duniaku benar-benar hancur. Aku jatuh terduduk, tanganku yang gemetar memegang cincin kayu yang kini kehilangan warnanya.
*"Apa maksudmu dia menyerahkan diri?"* tanyaku, suaraku pecah.
Dia mendekat, berlutut di depanku, dan memberikan sesuatu yang membuat hatiku berhenti berdetak. Itu adalah pedang milik Julius—pedang yang sudah patah dan berlumuran darah.
*"Dia mengorbankan segalanya agar kau bisa sampai di sini. Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Apakah kau akan masuk ke perpustakaan ini dan menjadi saksi atas kematiannya, atau kau akan kembali ke masa lalu dan mencegah semua ini terjadi?"*