.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompromi Emas, Kamar Tidur Baru, dan Status Tirani si Pemalas
Keheningan yang menyelimuti Aula Perjamuan Agung terasa begitu mencekam. Debu putih sisa kehancuran Batu Altar Leluhur masih melayang-layang di udara, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti sosok lempeng Ji Huang. Di atas panggung utama, jantung Tetua Agung berdegup begitu kencang hingga memicu gemuruh samar di dalam rongga dadanya.
Paranoia akut seketika mencengkeram benak sang penguasa tertinggi klan utama.
“Batu Altar Leluhur dibuat dari inti Kuarsa Gunung Spiritual yang diperkuat oleh formasi Lapis ke-9. Bahkan serangan penuh dari seorang ahli bela diri puncak pun tidak akan bisa menggores permukaannya!” batin Tetua Agung dengan punggung yang mendadak basah oleh keringat dingin. “Bocah ini... dia pasti bukan manusia biasa. Dia entah reinkarnasi dari monster kuno masa lalu, atau memiliki entitas dewa pelindung yang teramat agung di dalam jiwanya! Menyerangnya sekarang sama saja dengan menuntun seluruh Keluarga Huang menuju gerbang pemusnahan!”
Sebagai seorang politikus klan yang lihai, Tetua Agung segera mengubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik. Senyum kejam dan dinginnya lenyap, digantikan oleh tawa renyah yang dipaksakan untuk mencairkan atmosfer yang membeku.
"Hahaha! Luar biasa! Benar-benar berkah tersembunyi bagi keluarga kita!" Tetua Agung bertepuk tangan dengan keras, memecah ketakutan ratusan tetua yang hadir. "Hancurnya batu leluhur bukan karena sihir hitam, melainkan karena bakat spiritual murni dari Ji Huang telah melampaui batas kapasitas ukur alat fana ini! Tuduhan klan cabang terbukti salah besar! Ji Huang adalah jenius tak tertandingi yang dikirim langit untuk kejayaan Keluarga Huang!"
Demi menyelamatkan muka klan utama, Tetua Agung langsung membalikkan narasi persidangan secara total. Dia melangkah turun dari panggung emas, mendekati meja Ji Huang dengan sikap yang luar biasa ramah, bahkan cenderung penuh kehati-hatian.
"Ji Huang, sebagai bentuk apresiasi klan atas bakat agungmu, dan sebagai permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini, aku secara pribadi mengangkatmu menjadi Murid Inti Kehormatan tertinggi!" ucap Tetua Agung dengan nada dermawan yang dipaksakan. "Kamu akan menerima jatah bulanan berupa seratus batu spiritual tingkat tinggi, pil pemurni sumsum murni, dan akses bebas ke Paviliun Kitab Suci Utama. Bagaimana?"
Ji Lan yang berdiri di belakang Ji Huang hampir saja pingsan mendengar tawaran fantastis tersebut. Sumber daya sebanyak itu adalah impian dari setiap murid di seluruh kekaisaran!
Namun, Ji Huang yang baru saja menyelesaikan suapan sup sarang burung spiritualnya, hanya menyeka bibirnya dengan ujung lengan baju compang-campingnya. Dia mendongak, menatap Tetua Agung dengan pandangan polos tanpa ada binar keserakahan sedikit pun.
"Tetua Agung, aku malas menerima batu spiritual atau pil-pil pahit seperti itu. Menyerap energi dari batu-batu itu membutuhkan meditasi berjam-jam yang melelahkan dan merusak waktu tidur siangku," ucap Ji Huang blak-blakan dengan nada malas yang konsisten. "Jika kalian benar-benar berniat meminta maaf, aku punya daftar tuntutan yang jauh lebih penting untuk kelangsungan hidup pemalasku."
Tetua Agung berkedut sedikit mendengar penolakan santai itu, namun dia tetap memaksakan senyum. "Katakan saja, apa pun yang kamu butuhkan, klan utama akan memenuhinya."
Ji Huang berdehem kecil, lalu menyebutkan permintaannya dengan wajah tanpa dosa. "Pertama, aku meminta sebuah halaman pribadi yang terisolasi dan bebas dari kunjungan orang asing atau pemeriksaan klan. Kedua, aku ingin ranjangku diganti dengan ranjang Giok Es Spiritual yang bisa mengatur suhu tubuh secara otomatis agar aku tidak kegerahan saat tidur. Ketiga, aku butuh koki pribadi yang ahli memasak hidangan bebek panggang madu setiap hari. Dan yang terakhir... aku menuntut kekebalan hukum mutlak untuk tidak menghadiri apel pagi klan, latihan bersama, atau tugas patroli selamanya."
Mendengar rentetan tuntutan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa depan kultivasi emas itu, Ji Lan langsung menepuk dahinya sendiri dengan ekspresi pasrah yang mendalam. Bagaimana bisa seorang jenius mistis menukar masa depan kultivasinya hanya demi fasilitas tidur siang yang nyaman dan bebek panggang?!
"Baik! Semua permintaanmu dikabulkan tanpa terkecuali!" jawab Tetua Agung cepat, menghela napas lega karena mengira tuntutan Ji Huang akan jauh lebih berat secara politik.
Sebelum beranjak dari kursinya, sepasang mata sayu Ji Huang mendadak melirik ke arah sudut ruangan, di mana Huang Fu sedang berdiri gemetar sembari memegangi cangkir gioknya yang retak.
"Oh, satu hal lagi, Tetua Agung," kata Ji Huang polos sambil menunjuk Huang Fu dengan jari yang masih berminyak. "Orang Sok Keren di sebelah sana itu selalu berteriak-teriak di dekat telingaku sejak dari Kota Amerta. Suaranya yang melengking sangat merusak ritme tidur siangku yang berharga. Bisakah dia dilarang mendekati tempat tidur baruku dalam radius lima kilometer?"
Mendengar hal itu, wajah tampan Huang Fu seketika memucat. "Ji Huang! Kamu—"
"Diam, Huang Fu!" bentak Tetua Agung tanpa ampun, langsung memotong ucapan cucunya demi menyenangkan sang "monster tersembunyi". Tetua Agung menoleh ke arah pengawal zirah hitam. "Mulai besok pagi, pindahkan Huang Fu ke pos penjagaan perbatasan luar klan di pegunungan es selama tiga tahun! Jangan biarkan dia kembali ke pusat kota sebelum masa tugasnya selesai!"
Huang Fu seketika lemas, lututnya membentur lantai marmer dengan wajah dipenuhi keputusasaan mutlak. Dia dikirim ke perbatasan es yang terpencil hanya karena keluhan seorang pemuda yang terganggu tidur siangnya!
Satu jam kemudian, proses perpindahan pun selesai. Ji Huang dipindahkan dari paviliun isolasi sebelumnya menuju ke Paviliun Awan Tenang, sebuah kompleks kediaman super mewah yang terletak di puncak bukit paling sunyi di area kediaman inti. Tempat ini dulunya merupakan kediaman pribadi milik mantan Tetua Agung yang telah pensiun.
Halamannya dipenuhi oleh tanaman herba penenang yang mengeluarkan aroma terapi alami, dan di dalam kamar utamanya, sebuah ranjang besar dari Giok Es Spiritual berwarna putih salju telah terpasang dengan rapi. Kasur bulu angsa setebal tiga jengkal melapisi giok es tersebut, menciptakan kombinasi kehangatan dan kesejukan yang luar biasa sempurna.
Xiao Mei berjalan di belakang Ji Huang dengan senyuman manis yang memancarkan kebahagiaan murni. Berkat kenaikan status Ji Huang, gadis tercantik di kalangan pelayan itu kini secara resmi diangkat menjadi Kepala Pelayan Pribadi Paviliun Awan Tenang, dengan anggaran tak terbatas langsung dari kas klan utama.
Ji Huang langsung menjatuhkan tubuh fanya ke atas ranjang baru tersebut. Begitu punggungnya menyentuh kasur, sensasi rileks yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di kehidupan ini langsung merayap ke seluruh jaringan sarafnya.
"Ah... luar biasa," desis Ji Huang sangat puas, matanya langsung terpejam setengah. "Dunia kultivasi ini ternyata tidak seburuk yang kupikirkan. Selama kamu bisa menghancurkan beberapa batu tua milik mereka, mereka akan memberimu tempat tidur yang sangat sempurna tanpa banyak bicara."
Ji Lan yang ikut mengantarnya hingga ke depan pintu kamar hanya bisa bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap, menatap sepupunya dengan tatapan jutek yang campur aduk. "Jadi... setelah membuat seluruh eselon atas klan utama ketakutan setengah mati, aktivitas pertamamu sebagai Murid Inti Kehormatan adalah langsung tidur?"
Ji Huang menguap lebar, menarik selimut sutra esnya hingga sebatas dagu, lalu menggumam malas tanpa membuka mata, "Sepupu jutek, tidur adalah bentuk kultivasi tertinggi bagi jiwaku. Xiao Mei... tolong matikan lampion spiritual di sudut kamar, dan tutup tirainya rapat-rapat. Aku berniat tidur siang yang panjang sampai lusa pagi."
"Baik, Tuan Muda Ji Huang. Selamat istirahat," ucap Xiao Mei dengan nada merdu yang penuh rasa hormat, melangkah perlahan untuk memadamkan cahaya ruangan.
Ji Lan hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, membalikkan tubuhnya untuk beristirahat di kamar tamu paviliun, sadar bahwa mulai hari ini, pusat kota Keluarga Huang yang agung telah resmi kedatangan seorang tirani pemalas yang tidak akan bisa diganggu oleh siapa pun.
Apakah kamu ingin melanjutkan ke bab berikutnya di mana ketenangan tidur siang Ji Huang kembali terusik oleh kedatangan utusan dari sekte luar yang mencari masalah dengan klan utama?