NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

*BAB 19

Nayla berdiri di depan tenda medis.

Di tangannya, gayung plastik hijau. Sari yang kasih tadi pagi — sambil menunjuk ke arah belakang tenda dengan ekspresi orang yang sudah hafal betul setiap sudut tempat ini.

"Di sana, Dok. Sumur. Airnya dingin, ya." Sari menambahkan dengan nada peringatan sekaligus hiburan. "Dan cuma sampai jam 9. Setelah itu, pompa listrik mati."

Nayla mengangguk. "Siap."

Sari tersenyum — senyum orang yang tahu "siap" itu belum benar-benar siap.

Sumur itu tidak jauh. Beberapa langkah di belakang tenda medis, diapit dua pohon pisang yang daunnya sudah menguning di tepi. Ember merah tergeletak di sampingnya — setengah penuh air yang permukaannya diam, seperti tidak mau diganggu pagi ini.

Nayla berjongkok. Memeriksa air dengan tangan kirinya.

"Dingin banget," gumamnya pelan.

Bukan dingin seperti AC atau kulkas — tapi dingin yang datang dari dalam tanah.

Ia mengambil gayung. Menyendok air dari ember. Mengangkat ke atas kepala —

Dan berhenti.

Sebentar.

Nayla menatap air di gayung itu beberapa detik. Butiran air menetes pelan dari tepinya. Jatuh ke tanah. Hilang diserap.

"Ya Allah."

Ia menghembuskan napas panjang.

Lalu mengangkat gayung lagi.

Air jatuh.

Dingin.

Menusuk.

Membuat napas tertahan sejenak di tenggorokan.

Nayla berdiri. Air menetes dari rambutnya yang tergerai. Mengalir di leher, di punggung, di ujung jari yang masih menggenggam gayung.

Ia menutup mata.

Dingin.

Dingin.

Dingin.

Tapi beberapa detik kemudian — dinginnya mulai pergi. Atau mungkin tubuhnya yang mulai menerima. Nayla tidak tahu mana yang benar.

Ia membuka mata.

Menatap permukaan air di ember yang kembali diam setelah diganggu. Menatap gayung hijau di tangannya. Menatap dua pohon pisang yang daunnya bergerak pelan ditiup angin pagi.

"Hari ketiga," batinnya. "Masih 57 hari lagi."

Di kejauhan, langkah terdengar.

Nayla menoleh tanpa sadar.

Raditya.

Berjalan tergesa-gesa dari arah pos komando — seragam lengkap, topi terpasang, langkahnya lebih cepat dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang menunggunya. sesuatu yang harus ia selesaikan sebelum orang lain tahu.

Ia tidak menoleh ke arah sumur.

Tidak tahu — atau pura-pura tidak tahu — ada seseorang yang berdiri basah di belakang tenda medis, menatapnya tanpa alasan yang jelas.

Nayla masih berdiri di sana.

Basah. Dingin. Gayung masih di tangan.

Matanya mengikuti punggung yang menjauh sampai menghilang di balik tenda komando.

Lalu ia berjongkok lagi. Mengambil gayung. Menyendok air untuk terakhir kalinya.

Air jatuh. Dingin lagi — tapi kali ini terasa berbeda. Lebih bisa diterima. Atau mungkin ia yang sudah mulai terbiasa.

Air menetes ke tanah. Menyerap. Hilang.

Seolah tidak pernah ada.

Nayla berdiri. Mengibaskan rambut pelan. Lalu menatap gayung hijau di tangannya sebentar.

"Masih 57 hari," gumamnya dalam hati. "Tapi pagi ini terasa tidak sepanjang kemarin."

Nayla baru saja membalikkan badan hendak kembali ke tenda ketika —

"Wah."

Ia berhenti.

Dimas berdiri di sudut tenda medis — tangan di pinggang, kepala sedikit miring, ekspresi orang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik di pagi yang seharusnya biasa.

"Pagi-pagi sudah mandi di sumur, Dok?" tanyanya. Nada suaranya terlalu santai untuk tidak disengaja.

Nayla menatapnya datar. "Memangnya kenapa, Sersan?"

"Nggak." Dimas mengangkat kedua tangan — gesture menyerah yang tidak benar-benar menyerah. "Salut aja. Airnya dingin banget tuh, Dok. Biasanya orang baru butuh seminggu sebelum berani."

"Saya baru hari ketiga."

"Nah." Dimas menunjuk ke arahnya dengan satu jari. "Itu yang bikin salut."

Nayla mengernyit. "Bapak dari tadi ngapain di sini?"

"Lewat." jawabnya singkat. Tapi kakinya tidak bergerak ke mana-mana.

Nayla menatapnya sebentar — lalu menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya ke tenda.

"Dok—" suara Dimas dari belakang.

Nayla menoleh.

Dimas masih berdiri di tempat yang sama. Senyumnya tipis — bukan senyum iseng, tapi senyum yang menyimpan sesuatu.

"Selamat pagi." ucapnya singkat.

Nayla mengernyit sebentar — lalu tanpa bisa ditahan, sudut bibirnya bergerak naik.

"Selamat pagi, Sersan."

Ia masuk ke tenda.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!