NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bingung

"Itu jengkol nggak sekalian lo jelasin asal usulnya? perjuangan yang nanem sampe bisa ada di piring?" ledek Ziano.

Ara yang tengah memisahkan cabe melotot ke arahnya, "A Nono bukan anak kecil yah. Masa semua harus dijelasin, kalah sama Lusi."

"Nama gue Ziano, bukan Nono. Lo kira gue anak kecil yang di didik dengan cara no no yah."

"Sama aja, A. Yang penting ada Nono nya." tegas Ara, "ini udah aku pisahin cabenya, Aa habisin, terus minum obatnya." Ara menyodorkan piring pada Ziano.

Sebelum pergi ke kamar, Ara menyempatkan mengambil air hangat untuk Ziano. Tak lupa memisahkan obat untuk diminum oleh pemuda yang tengah makan dengan malas.

"Aku taruh sini yah obatnya, A." Ara meletakan mangkuk kecil berisi tiga tablet aneka warna.

"Aku mau ke kamar dulu, banyak kerjaan yang harus aku beresin. Aa setelah minum obat istirahat aja biar cepet pulih." ucapnya sebelum pergi.

Ziano masih belum selesai makan saat Ara keluar dengan kaos oversize putih dan celana jeans, rambutnya panjang diikat satu dengan poni yang menutup kening, tangannya menenteng bantal pink.

Ziano mengucek mata setelah dua kali berkedip untuk memastikan gadis yang baru saja keluar dari kamar itu benar anak si Aki. Pikirnya perasaan tadi gadis itu berhijab kenapa sekarang tiba-tiba lepas hijab. Penampilannya seratus persen berubah meski sama-sama cantik. Saat berhijab terlihat anggun dan dewasa tapi begitu hijabnya dibuka justru jadi imut. Mungkin efek poni yang menutup keningnya.

"A, aku pinjemin bantal buat tidur." Ara meletakan bantal yang ia bawa di samping Ziano.

"Makasih."

"Sama-sama, makannya cepet diabisin A."

"Iya. Lo mau les?" tanya Ziano. Setaunya anak kelas dua belas pasti sibuk les untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Adiknya kan juga begitu.

"Les?" Ara justru balik tanya.

"Iya, belajar buat persiapan ujian sama seleksi masuk universitas."

"Nggak, aku mau bantu-bantu Ambu di warung. Mumpung pulang lebih awal nih, biasanya aku jarang bantu kalo nggak hari libur."

"Kerudung lo kemana? nggak di pake?" tanya Ziano.

Ara menggigit bibir bawahnya, malu. "Aku pake kerudungnya kalo ke sekolah aja, A. Soalnya aturan sekolah wajib berkerudung bagi yang muslim."

"Aku ke warung dulu, A." pamitnya kemudian.

Ziano menatap sekilas Ara yang makin menjauh kemudian meminum obatnya sebelum akhirnya kembali berbaring. "Gue kira Ara lugu, soalnya berkerudung, taunya cuma pas sekolah doang. Pasti sama aja dengan cewek-cewek yang lain. Pintes spik doang itu bocah. Bilang mau bantu di warung juga pasti cuma modus biar di kasih uang jajan lebih."

"Anak sekarang emang rata-rata kayak gitu." gumamnya sebelum akhirnya terlelap kembali.

Di warung Ara menghampiri Yudi yang kali ini sedang memilah cabe rawit. Memisahkan yang matang dan belum, pasalnya yang matang jika tak habis dalam satu hari gampang busuk dan jika dicampur akan memepengaruhi cabe rawit yang lain. Ara mengambil kursi plastik kecil dan ikut duduk di samping Yudi, membantu memisahkan cabe rawit.

"Kata Ambu, Bang Nono udah sadar yah?"

Ara mengangguk, tangannya tetap terampil memilah. "Iya, udah. Udah aku suruh makan, obatnya juga udah aku pisahin."

"Aa tau nggak gimana ceritanya itu A Ano bisa sampe sakit? tadi pagi aku lihat baik-baik aja."

Yudi mengedikan bahunya, "nggak tau. Tiba-tiba ambruk pas ngangkut emping. Tuh empingnya aja ancur, orang nuruninnya dibanting sekaligus." jawabnya seraya melirik ke karung emping di gudang.

"Ketahuan Aki bakal potong gaji deh." lanjutnya dengan lesu.

Ara menyenggol bahu Yudi, "tenang aja, A. Tinggal bilang kalo yang bikin ancur tuh orang yang dibawa sama Abah."

"Ancur? apa yang ancur?" seru Aki Dikun yang baru saja turun dari motor bebek tua warna merah. Katanya sih motor itu lebih tua dari usia Ara. Soalnya udah ada dari sebelum Ara lahir, zaman Ambu sama Abah pacaran. Udah ditawar puluhan juta pun tak pernah dilepas. Tak peduli omongan orang yang menyebutnya *bektu. *

*"*Abah..." Ara beranjak bangkit untuk menyalami ayahnya.

"Udah pulang jam segini neng?"

"Gurunya rapat, Abah." Ara kembali duduk dan memilah cabe rawit.

"Itu tadi apa yang ancur?" meski sudah diajak ngobrol ke topik yang lain, tetap saja si Abah masih ingat dengan apa yang ia dengar saat baru tiba.

Ara dan Yudi saling lirik.

"Malah pada diem. Apa yang ancur?" ditatapnya kedua bocah di depannya itu.

Yudi beranjak dan berjalan menuju karung emping, "ini Aki..." ucapnya lirih.

Abah membuka karung empingnya lantas menghela nafas panjang.

"Kamu itu gimana sih, Yud? kayak baru pertama kerja saja. Kan Aki udah bilang, kalo nurunin emping itu pelan-pelan, gampang ancur." Abah mengambil beberapa emping. Makanan dengan rasa pahit yang khas itu bentuknya tak lagi bagus, rata-rata terbelah jadi dua, bahkan ada yang jadi tiga.

Mendengar Abahnya ngomel, Ara mendekat kepada Yudi dan ikut memeriksa emping. "Beneran bubuk sih kalo ini."

"Kamu tau kan Yud, ini harganya nggak murah. Kalo udah ancur gini harganya juga ikut ancur, bahkan bisa nggak laku." jelas Aki. Karena emping itu dijual ke rumah makan dan pusat oleh-oleh, mereka enggan menerima jika barangnya tak bagus.

"Tadi pagi udah rugi tomat gara-gara Nono, sekarang kamu yang udah pelangalaman malah lebih parah, bikin Aki rugi banyak nih dari emping." keluh Aki Dikun.

"Sekarang si Nono mana? lagi kamu kasih tugas apa dia? kok nggak kelihatan?" Aki Dikun celingukan mencari keberadaan karyawan barunya.

"Si Nono harus diajarin bener-bener, kerjanya juga harus diawasi, jangan sampe bikin Aki jadi rugi lagi." lanjutnya.

"Bang Nono nya sakit, Aki." jawab Yudi.

"Itu emping juga ancur sama bang Nono." lanjutnya pelan.

"Apa!" Aki Dikun tepok jidat mendengarnya.

"Bener-bener si Nono." kali ini menggelengkan kepala.

"Kamu ngajarinnya bener nggak sih, Yud?" lagi-lagi Yudi yang kena omel.

"Abah atuh jangan ngomel-ngomel sama A Yudi, kan yang salah A Ano." sela Ara.

"Kan Yudi yang Abah kasih tugas ngajarin dia, Neng."

"Maaf, Aki. Aku sudah berusaha ngajarin dengan benar. Udah aku jelasin, aku kasih contoh juga, tapi yah gitu." Kali ini giliran Yudi yang menghela nafas panjang.

"Aku suruh nimbang mentega nggak pas mulu. Sekalinya pas, ngelipat plastiknya nggak bener."

"Aku suruh nimbang minyak malah lebih parah, Aki."

"Akhirnya aku suruh buat bantu nurunin belanjaan yang dari Kebumen, eh empingnya malah ancur." jelas Yudi panjang lebar.

Mendengarnya membuat Ara ikut menghela nafas panjang, "parah banget."

Aki Dikun membuka peci yang dikenakannya dan menepuk-nepukkan penutup kepala itu ke tangan, gemas. "Kalo kayak gini Aki bisa rugi terus-terusan."

"Lagian Abah nemu karyawan kayak gitu dimana sih? minimalnya seleksi lah Abah kalo mau rekrut karyawan." ucap Ara.

"Abah ketemu di kereta," Abah pun menceritakan pertemuan mereka dari awal hingga soal Ziano yang mau pinjam uang dan mau diganti sepuluh kali lipat.

"Terus kalo udah kayak gini gimana? kasih uang aja biar pergi gitu?" Ara mencoba memberi solusi.

"Nggak bisa gitu dong, Ra. Kalo kayak gitu enak dong dia berhasil nipu kita." sambung Yudi.

"Terus gimana? dibiarin kerja disini juga bikin rugi." jawab Ara, realistis. Meskipun sebenernya sayang sih, soalnya wajahnya lumayan memanjakan mata.

Alhasil Ara, Abah dan Yudi hanya saling melempar pandangan tanpa bicara. Bingung, maju kena mundur juga kena. Sama-sama rugi pada akhirnya. Disuruh kerja bikin rugi, dikasih uang juga mereka rugi, buang-buang uang tanpa kontribusi.

1
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
Vike Kusumaningrum 💜
Jahat banget kamu Cel, masalah hati g ada yang bisa maksa euy. masih untung dibiarin ketemuan sm Ano g diaduin ke Aki, malah ngelunjak kamu.
Shee_👚: marcel dah di kasih susu malah balas tuba🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!