NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelakuan Ibu Hamil

Hanif terkekeh. Ia mengambil es krim yang sudah dipesan lalu mengejar istrinya yang sudah berjalan cukup jauh.

Dengan langkah cepatnya, Hanif menyusul istrinya untuk kembali.

"Bercanda, bercanda.... Nih es krimnya udah dibeliin."

"Gak mau, udah gak mood," tolak Riyani dengan wajah cemberutnya.

Hanif terus membujuk istrinya dengan es krim yang mulai meleleh pada corn yang tidak terlalu besar di tangannya.

"Sayang, es krimnya udah mulai leleh nih. Gak sayang emangnya?"

"Kamu juga gak sayang sama aku. Makanya ribet banget pinjem uang juga," timpal Riyani sembari duduk pada bangku pinggir jalan.

Hanif duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan riyani untuk kembali membujuknya.

"Nih es krimnya makan dulu. Aa minta maaf ya! Cuman bercanda tadi, beneran," ucapnya.

"Ya, minta maaf ya...." sambungnya lagi.

Riyani mulai memakan es krimnya. "Lain kali jangan begitu lagi! Neng kesel banget barusan."

Hanif mengelus punggungnya, ia mengangguk dan kembali meminta maaf.

...----------------...

Sesampainya di rumah mertua, Riyani berlari masuk—ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Hanif yang panik, bahkan langsung meninggalkan motornya di halaman rumah begitu saja.

Hanif memijat leher istrinya dengan lembut, sementara rasa mual itu semakin menusuk pada dada riyani. Perutnya terasa sedikit sakit, tubuhnya terasa lemas dengan wajah yang pucat.

"Aa lemes banget!!" ucap Riyani dengan rasa mual yang masih terasa.

Dengan sigap, Hanif mengangkat tubuh istrinya untuk berbaring di kamar. Tangannya terus menggenggam Riyani dengan erat ditambah sedikit gemetar karena panik.

Ibu Nur membawa ember kecil, ditambah minyak kayu putih untuk meringankan rasa mual riyani.

Hanif menyingkap baju istrinya. Ia usapkan lembut pada perut riyani—terasa hangat bahkan rasa mualnya mulai hilang.

"Udah mendingan? Kalau belum, kita ke rumah sakit aja ya. Aa khawatir kenapa-napa."

Riyani bangun, ia bersandar pada bantal yang ditumpuk di belakangnya. "Udah mendingan kok, A. Mualnya udah mulai gak berasa."

"Ya udah kalau gitu. Alhamdulillah kalau udah mendingan," ucap Hanif mulai lega, "sekarang Neng istirahat lagi. Bobo, biar lebih enak besok pagi."

Riyani mengangguk. Tapi wanita itu meraih tangan suaminya, "Aa temenin ya. Neng pengen bobo sambil diusap-in."

Hanif tersenyum, mengangguk setuju dengan permintaan istrinya. Ia berbaring di samping istrinya, tangannya mengelus perut riyani dengan lembut.

Perlahan Riyani mulai terlelap. Hanif menatapnya cukup lama, ia usap rambut istrinya yang menghalangi wajah cantiknya itu, "Sayang.... maaf ya!"

Hanif mengecup pelan kening istrinya. Ia beralih mendekap riyani dengan hangat lalu tidur bersama.

...----------------...

Keesokan paginya, Riyani tersenyum melihat Hanif masih tertidur pulas di sampingnya. Perlahan ia alihkan tangan suaminya pada tempat yang lain agar ia bisa bangun dan pergi ke kamar mandi.

Tapi dengan sedikit gerakan saja, lelaki itu terbangun—menahan tubuh istrinya. "Sayang mau kemana? Mual lagi ya?"

"Enggak kok, Aa. Neng cuman mau ke kamar mandi, udah adzan subuh tuh."

"Tapi udah gak apa-apa kan sekarang?"

Riyani menggelengkan kepalanya. Tidak lupa ia kecup pipi hanif sebelum pergi.

Lelaki itu salah tingkah dibuatnya.

Setelah istrinya, Hanif menyusul ke kamar mandi. Bersiap untuk sholat subuh bersama.

Pagi ini, Hanif kembali bekerja. Ia bersiap dengan pakaian, tas, dan juga bekal yang sudah disiapkan istrinya.

Riyani memang tidak memasak setelah tinggal di rumah mertuanya. Pasalnya, mertuanya yang tidak membiarkan dia terlalu banyak beraktivitas.

Riyani mengantar suaminya ke depan, tidak lupa dengan kecupan dari Hanif dan pamit pada anaknya.

"Dedek.... Ayah pamit kerja dulu ya. Jangan nakal sama jangan buat mamah susah ya! Kasian mamah gak ada yang nemenin kalau gak ada ayah."

"Iya Ayah siap," jawab Riyani membuat Hanif terkekeh pelan.

...----------------...

Waktu tidak terasa, Hanif membawa kotak bekalnya ke Taman—berbarengan dengan Azka yang membawa makanan dari kantin ke sana.

"Nif, istri lo baik?"

Hanif mengangguk, "alhamdulilah.... Semalem sempet mual sih dia. Gw panik ngeliat dia mual sampe nangis bahkan hampir pingsan."

"Ya pasti gitu sih kebanyakan kalau trimester pertama."

Hanif mengangguk. "Yang bikin paniknya, gw kasian ngeliat dia muntah sampe pucet."

"Ya mau gimana lagi, kan muntahnya juga gak bisa dipindahin ke suami."

"Gak gitu juga, Azka."

...----------------...

Hanif masih memikirkan tentang istrinya. Sekalipun ia dokter dan sudah cukup lama bekerja tapi kehamilan bukan bidangnya, ia tidak mengerti banyak hal tentang sampai ke dalam.

Lelaki itu memilih menemui Dokter Lala selaku dokter kandungan yang lebih berpengalaman dan dokter yang menangani istrinya.

Dokter Lala tersenyum melihat Hanif masuk pada ruangannya.

"Dok, saya minta maaf ganggu waktunya ya!"

"Gak apa-apa, Dokter Hanif. Duduk aja, pasti ada yang mau ditanyain tentang kehamilan istrinya kan?"

Hanif mengangguk. Ia kembali menceritakan yang terjadi pada istrinya kemarin malam.

Dokter Lala mengangguk paham. "Tapi vitamin sama obatnya rutin diminum kan?"

"Rutin, Dok. Kebetulan istri bukan yang susah minum obat, jadi dia rutin konsumsinya," jawab Hanif.

"Kayaknya emang bawaan bayi, hormonnya juga kan gak bakal stabil kayak biasa. Tapi kalau muntahnya udah gak wajar, kayak sering dan lama lebih baik dibawa periksa aja, gak apa-apa kalau belum waktunya kontrol juga. Nanti saya periksa dan kasih resep yang lain kalau misalnya gak cocok sama istri dokter hanif."

"Ibu hamil biasanya pengen makan yang ada di bayangannya sendiri. Kayak ngidam tuh biasanya emang dia lihat atau ada di nalurinya," jelasnya, "mungkin bisa aja karena es krim itu atau ada sesuatu yang dimakan sebelumnya bisa memicu rasa mual juga."

Hanif mengangguk paham. Ia juga meminta beberapa tips untuk menangani ibu hamil jika sedang mual atau bahkan sulit untuk tidur.

Sorenya, Hanif sudah mengemas kembali barang-barangnya, sudah berganti pakaian dari pakaian kerjanya. Lalu bersiap untuk pulang.

Ia mainkan ponselnya, mengirim pesan pada riyani untuk sekedar bertanya ingin dibawakan apa.

(Neng pengen kue pancong, ada gak?)

Hanif sempat terdiam, berpikir dimana ia bisa menjumpainya.

"Nanti Aa carikan ya! Kamu tunggu di rumah, Aa usahakan dapat."

(Kalau gak ada juga gak apa-apa. Neng gak pengen banget kok)

"Iya,"

"Pokoknya nanti Aa usahakan beli."

"Tunggu di rumah, See you,"

"Love U."

"Love you more, Aa," jawab Riyani membuat Hanif tersipu.

Hanif melajukan motornya—keluar dari rumah sakit lalu mencari pedagang kue pancong di sepanjang jalan. Untungnya, di dekat perumahan ibunya ia menemukan pedagang kue itu.

Dengan rasa senangnya, Hanif kembali dengan bungkusan kue pancong yang masih hangat untuk istrinya.

"Sayang!?" panggilnya.

Riyani membuka pintunya. Ia tersenyum pada Hanif yang sudah pasti membawakan apa yang dia mau.

Manjanya riyani memeluk tubuh hanif dengan erat. "Makasih Sayang!! Kirain gak bakal dapet."

Hanif mengecup puncak kepalanya, "kan kata Aa juga pasti diusahakan. Kebetulan ada pedagang yang lewat di depan, makanya gak jauh nyari juga."

"Alhamdulillah kalau gitu,"

"Aa kayaknya bakal dapet rejeki banyak setelah kamu hamil," ucap Hanif.

Riyani mendongak pada suaminya. "Emang iya? Kok tau bakal dapet rejeki banyak? Darimana emangnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!