Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Sekolah yang Berubah
Pagi harinya suasana sekolah terasa berbeda.
Terlalu berbeda.
Koridor yang biasanya membuat bulu kuduk berdiri kini terasa biasa saja.
Tidak ada hawa dingin aneh.
Tidak ada bisikan samar.
Bahkan lantai tiga yang selama ini selalu terlihat menyeramkan kini hanya tampak seperti lorong sekolah kosong biasa.
Naresha berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan gedung sekolah lama itu.
Entah kenapa…
Ia masih belum terbiasa dengan suasana normal.
“Lo bengong ngapain?”
Suara Arven membuat Naresha menoleh cepat.
Cowok itu berjalan mendekat sambil membawa tas selempang hitamnya seperti biasa.
Namun hari ini wajahnya terlihat jauh lebih santai.
Tidak pucat.
Tidak tegang.
Dan itu membuat Naresha diam beberapa detik memperhatikannya.
“Apa?”
Naresha buru-buru memalingkan wajah.
“Ga ada.”
Arven menyipitkan mata curiga.
“Lo ngeliatin gue aneh.”
“Perasaan lo aja.”
“Bohong.”
“Berisik.”
Arven terkekeh kecil lalu berjalan masuk ke area sekolah.
Naresha refleks mengikuti di sampingnya.
Dan seperti biasa…
Beberapa siswa langsung memperhatikan mereka.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
“Itu Arven kan?”
“Yang anak pindahan itu…”
“Sekarang deket banget sama Naresha ya…”
Naresha langsung mendecakkan lidah pelan.
“Ih mereka kepo banget sih.”
Arven malah terlihat santai.
“Biarin aja.”
“Lo ga risih?”
Cowok itu melirik Naresha sebentar lalu tersenyum kecil.
“Engga.”
Deg.
Naresha langsung salah tingkah sendiri lagi.
“Astaga kenapa sih lo sekarang suka ngomong aneh…”
“Emang gue ngomong apa?”
Naresha langsung berjalan lebih cepat meninggalkannya.
Arven malah tertawa pelan di belakang.
•
Jam pelajaran berjalan normal.
Terlalu normal malah.
Guru-guru mengajar seperti biasa.
Teman-teman sekelas ribut seperti biasa.
Dan semua itu terasa aneh setelah malam penuh monster dan kutukan yang mereka alami.
Naresha menopang dagu sambil menatap keluar jendela kelas.
Pikirannya masih sering melayang ke Evelyn.
Kadang ia masih merasa perempuan itu akan muncul di ujung lorong sambil tersenyum kecil.
Namun sekarang…
Tidak ada siapa-siapa.
Kosong.
“Sha.”
Naresha menoleh.
Arven melemparkan permen kecil ke mejanya.
“Apaan?”
“Lo dari tadi bengong.”
Naresha membuka bungkus permen itu pelan.
“Cuma capek.”
“Boong.”
Naresha mendengus kecil.
“Lo cenayang ya?”
Arven tersenyum tipis.
“Engga. Tapi muka lo gampang dibaca.”
Naresha langsung melotot kecil.
“Sembarangan.”
Namun Arven benar.
Ia memang sedang memikirkan Evelyn lagi.
Dan mungkin Arven juga tahu itu.
Cowok itu tiba-tiba bicara pelan,
“Dia udah tenang sekarang.”
Deg.
Naresha langsung diam.
Tatapannya turun ke meja.
“Iya…”
“Jadi jangan sedih terus.”
Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.
“Aku cuma kadang masih kepikiran aja.”
Arven mengangguk kecil.
“Aku juga.”
Sunyi beberapa saat.
Lalu tiba-tiba—
BRAK!
Pintu kelas terbuka keras sampai semua orang kaget.
Seorang guru masuk dengan wajah tegang.
“Semua murid tetap di kelas dulu.”
Suasana langsung ramai.
“Kenapa pak?”
“Ada apa?”
Guru itu terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Pak Damar ditemukan tadi pagi.”
Deg.
Naresha langsung menegang.
Arven juga langsung mengangkat kepala cepat.
“Ditemukan gimana?” tanya salah satu murid.
Guru itu menelan ludah pelan.
“Beliau meninggal di rumahnya semalam.”
Sunyi.
Seluruh kelas langsung diam.
Naresha merasakan hawa dingin menjalar pelan di tengkuknya.
Arven menatap lurus ke depan dengan ekspresi kosong.
“Penyebabnya belum jelas,” lanjut guru itu pelan. “Tapi polisi sedang menyelidiki.”
Bisik-bisik langsung memenuhi kelas.
Namun Naresha tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas.
Karena pikirannya langsung kembali ke semalam.
Tatapan kosong Pak Damar saat berjalan pergi di tengah hujan.
Dan entah kenapa…
Dadanya mendadak terasa tidak nyaman.
Arven perlahan menoleh ke arah Naresha.
Tatapan mereka bertemu.
Dan tanpa perlu bicara…
Mereka tahu sedang memikirkan hal yang sama.
Apa semuanya benar-benar sudah selesai?