Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Bayangan Tetua Akademi
Hutan Kabut Merah perlahan kembali tenang setelah bangkai siluman kalajengking raksasa itu ambruk sepenuhnya. Namun, sisa-sisa energi Yin dari retakan dimensi masih membuat udara terasa dingin dan mencekam.
Mereka berlima menyingkir ke sebuah gua dangkal yang tertutup akar pohon beringin merah, beberapa mil dari titik pertarungan. Qian Fugui langsung menyalakan api unggun kecil menggunakan sisa jimatnya, lalu duduk memeluk lutut sambil sesekali melirik takut-takut ke arah luar hutan.
Bao Tu duduk di atas sebuah batu besar, menaruh palu godamnya di samping kaki. Pemuda gemuk itu menatap Zeng Niu yang sedang membersihkan noda darah siluman dari *Bilah Penebas Tulang* menggunakan segenggam daun kering.
Alis Bao Tu perlahan bertaut. Ia mencoba merasakan fluktuasi aura sahabatnya itu.
Tadi, saat Zeng Niu membelah capit siluman, Niat Membunuhnya begitu pekat hingga terasa seperti Nascent Soul. Namun sekarang, saat Zeng Niu sedang rileks, fluktuasi Qi yang mengalir di meridian pemuda itu terasa luar biasa lemah. Sangat transparan dan rapuh.
"Niu..." Bao Tu memiringkan kepalanya, wajahnya dipenuhi kebingungan. "Kenapa... kenapa kultivasimu terasa seperti mundur? Aku ingat betul sebelum kau jatuh ke alam rahasia, kau sudah berada di Puncak Foundation Establishment. Tapi sekarang, fluktuasi Dantianmu... ini hanya Pengumpulan Qi Tahap 4? Dan Qi-mu berbau seperti... racun kalajengking?"
Mendengar ucapan Bao Tu, Lin Xiaoyu yang sedang membersihkan pedang tipisnya langsung menghentikan gerakannya. Ia memusatkan Persepsi Roh nya ke arah Zeng Niu, dan matanya seketika terbelalak kaget.
Zeng Niu menghentikan usapannya pada pedang raksasanya. Ia menatap kobaran api unggun, wajah nya sedatar biasanya.
"Karena Dantianku memang hancur lebur," jawab Zeng Niu dengan nada seringan orang membicarakan cuaca. "Diledakkan dari dalam oleh ahli Nascent Soul di Benua Selatan. Selama beberapa bulan, aku hidup sebagai manusia fana tanpa setitik Qi pun. Ini adalah hasil dari Dantian yang baru saja dijahit ulang menggunakan racun."
"D-Dijahit ulang?!" Bao Tu terlonjak berdiri, wajahnya pucat pasi. Ia tahu betul bahwa di dunia kultivasi, Dantian yang hancur adalah vonis mati atau cacat permanen.
Lin Xiaoyu menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Menjadi fana di Benua Selatan yang kejam? Menjahit Dantian dengan racun? Meski Zeng Niu menceritakannya dengan wajah tanpa dosa, Xiaoyu tahu persis neraka penderitaan macam apa yang harus dilewati pemuda itu untuk bisa kembali berdiri di hadapan mereka.
"Siapa yang melakukannya padamu?" desis Xiaoyu, matanya memancarkan niat membunuh yang dingin. "Sebutkan sektenya. Aku akan meminta Tetua Mo Yin meratakan mereka."
"Aku sudah membunuh sebagian besar dari mereka, dan sisa-sisanya sedang memburuku. Suku Li dari Benua Selatan," jawab Zeng Niu tenang. Ia menoleh ke arah Zhao Ying yang duduk di seberang api unggun. "Tapi jika bukan karena dia yang menarikku dari tumpukan mayat bersalju dan merawatku saat aku menjadi fana, tulangku sudah menjadi pupuk bunga sejak lama."
Mendengar Zeng Niu menyebutkan hal itu, Lin Xiaoyu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Zhao Ying.
Sejak pertama kali gadis bercadar itu muncul dari balik pepohonan, insting Xiaoyu yang luar biasa tajam sudah merasa ada sesuatu yang janggal. Postur tubuhnya yang anggun, rambut peraknya yang berkilauan di bawah cahaya rembulan, dan aroma teratai es yang samar-samar menguar dari tubuhnya... semua itu terasa sangat familiar di ingatan Xiaoyu.
Mata Xiaoyu menyipit, menelusuri garis wajah Zhao Ying di balik cadar sutra putihnya. Potongan-potongan teka-teki masa lalu mulai tersusun di kepalanya.
Waktu itu... saat retakan Alam Rahasia menelan Zeng Niu, seluruh akademi gempar karena seorang tetua pelatih dari pelataran dalam juga menghilang tanpa jejak di hari yang sama, batin Xiaoyu, otaknya berputar cepat. Namanya... Tetua Zhao. Rambut perak, ahli elemen es, dan memiliki kecantikan mutlak yang membuat para tetua pria segan menatap matanya.
Xiaoyu melangkah maju, pedangnya disarungkan, namun kewaspadaannya meningkat.
"Nona Ying..." ucap Xiaoyu perlahan, nada suaranya mengandung rasa hormat sekaligus keraguan. "Rambut perak, pemahaman mendalam tentang pertempuran, dan nama 'Ying'. Saat Zeng Niu hilang di alam rahasia, Akademi Jiannan juga kehilangan satu tetua pentingnya. Apakah kau... Tetua Pelatih Zhao Ying dari Pelataran Dalam?"
Bao Tu yang masih meratapi nasib Dantian Zeng Niu mendadak membeku. Ia menoleh ke arah gadis bergaun sutra biru itu dengan gerakan patah-patah layaknya boneka kayu.
"T-Tetua Pelatih Zhao?!" rahang Bao Tu nyaris jatuh menyentuh tanah.
Di Akademi Jiannan, Tetua Zhao Ying dikenal sebagai "Dewi Es Tanpa Ampun". Ia sangat misterius, jarang muncul, namun sekalinya turun tangan membimbing murid, metode pelatihannya sangat brutal hingga murid pelataran dalam pun menangis darah.
Zhao Ying menatap Xiaoyu dengan sorot mata yang memancarkan sedikit kekaguman. "Mata yang sangat tajam, Lin Xiaoyu dari Paviliun Pedang Bayangan."
Gadis itu perlahan mengangkat tangannya yang seputih pualam, menarik ikatan cadar sutranya di belakang telinga, lalu membiarkannya jatuh ke pangkuannya.
Cahaya api unggun menyinari paras cantiknya yang tak tertandingi. Wajah yang dulunya sangat dingin tak tersentuh di akademi, kini terlihat lebih lembut dan manusiawi, meski aura kebangsawanannya tak pernah pudar.
"Leluhurku..." Bao Tu langsung berlutut dengan satu kaki, memberikan hormat militer khas akademi dengan tubuh gemetar. "M-Murid Pelataran Luar, Bao Tu, m-menyapa Tetua Zhao! Maafkan murid yang bodoh ini karena tadi memanggil Anda k-kakak ipar... Tolong jangan hukum saya mencabut rumput berduri!"
Zeng Niu mendengus pelan, menendang kerikil ke arah Bao Tu. "Berdirilah, Gendut. Jangan bertingkah memalukan."
Zhao Ying tersenyum tipis, sebuah senyum yang dulu tidak akan pernah ia tunjukkan di lingkungan akademi. "Berdirilah, Bao Tu. Aku tidak lagi berstatus sebagai Tetua Akademi Jiannan. Gelar itu hanyalah penyamaranku selama aku mencari petunjuk di Benua Utara. Sekarang, aku hanyalah Zhao Ying... seorang rekan seperjalanan bagi pria berjubah hitam di sebelahmu ini."
Bao Tu perlahan berdiri, wajahnya merah padam menahan malu, namun matanya memancarkan pencerahan. Pantas saja Zeng Niu yang sedingin batu itu salah tingkah! Pria itu ternyata menyelamatkan nyawa seorang Tetua Akademi dan entah bagaimana menjalin ikatan dengannya selama terjebak di Benua Selatan!
"Banyak yang terjadi di bawah sana," Zeng Niu membuka suara, menggeser topik kembali ke arah yang lebih serius. Zeng Niu lalu mulai menceritakan secara singkat neraka yang mereka lewati. Mulai dari kejatuhannya di Puncak Tengkorak Beku, kehidupan fana di Desa Ujung Sungai, pertempuran di Makam Asura, hingga kebenaran bahwa Benua Selatan adalah Penjara Fana bagi mayat-mayat dewa kuno. Ia sengaja tidak menyebutkan asal usul Zhao Ying dari Tiga Puluh Tiga Surga demi keamanan gadis itu.
Xiaoyu dan Bao Tu mendengarkan dengan napas tertahan. Kisah itu terlalu besar, terlalu kelam, dan terlalu gila untuk dicerna oleh murid pelataran luar seukuran mereka. Qian Fugui bahkan menyumpal telinganya sendiri di pertengahan cerita, tak ingin mendengar rahasia yang bisa membuat umurnya memendek.
"Kalian merangkak kembali dari kuburan kosmik..." gumam Xiaoyu takjub, menatap Zeng Niu dengan rasa hormat yang benar-benar baru. "Pantas saja Niat Membunuhmu tadi terasa begitu purba. Kau telah membunuh hantu dari zaman kuno."
Xiaoyu lalu menghela napas panjang, merapikan duduknya. "Sekarang giliranku. Zeng Niu, Tetua Zhao, Benua Utara tidak lagi seaman saat kalian tinggalkan."
"Apa yang terjadi pada akademi?" tanya Zeng Niu, mengingat guru tuanya yang selalu mabuk, Penatua Angin Mabuk.
"Akademi Jiannan saat ini dalam status siaga perang tingkat tertinggi," jelas Xiaoyu, wajahnya mengeras. "Bukan hanya akademi, tapi seluruh Sembilan Sekte Besar di Benua Utara. Retakan dimensi yang kalian lewati tadi bukanlah satu-satunya. Penghalang benua yang memisahkan Utara, Selatan, dan wilayah lainnya mulai runtuh di mana-mana akibat melemahnya Segel Langit.
Suku Li dan sekte-sekte sihir darah dari Selatan mulai melakukan infiltrasi. Mereka tidak mendeklarasikan perang terbuka, melainkan menculik murid-murid jenius dan menjarah titik-titik urat nadi spiritual bumi di perbatasan. Akademi mengirimkan seluruh murid elit untuk berpatroli, memetakan retakan, dan membunuh penyusup."
Bao Tu mengangguk muram. "Dan kudengar... beberapa sekte hitam di Benua Utara malah memanfaatkan kekacauan ini untuk beraliansi secara rahasia dengan Suku Li. Mereka ingin menjatuhkan Sembilan Sekte Besar."
Zeng Niu menatap Bilah Penebas Tulang nya. Dunia fana ini sedang menuju era kekacauan besar. Dan di tengah badai ini, ia memiliki satu kelemahan fatal: kekuatannya belum cukup.
"Xiaoyu, di mana tempat terdekat dengan konsentrasi Qi spiritual paling murni di perbatasan ini?" tanya Zeng Niu tiba-tiba, matanya memancarkan nyala api ambisi yang sangat tajam.
"Kau ingin melakukan terobosan?" tebak Xiaoyu cepat.
"Ya. Dantian jahitanku sangat lapar. Aku memiliki pengalaman pemahaman batas Foundation Establishment, aku hanya butuh energi mentah dalam jumlah banyak untuk mengisinya kembali," jawab Zeng Niu. Ia melirik Zhao Ying. "Dan bukan hanya aku. Kultivasi Zhao Ying masih tersegel oleh kutukan dimensi. Jika kita ingin bertahan hidup dan mencapai ibukota akademi dengan selamat, kita harus mengembalikan kekuatan kami berdua. Menjadi fana sudah cukup bagiku."
Xiaoyu terdiam sejenak, mengingat-ingat peta militer yang diberikan tetuanya.
"Sekitar lima ratus batu ke arah barat laut dari sini," ucap Xiaoyu, matanya berbinar menemukan secercah harapan. "Ada sebuah Kolam Sumsum Es Kunlun. Itu adalah tanah pusaka netral yang diperebutkan oleh faksi-faksi lokal. Namun, karena ini masa perang perbatasan, kudengar tempat itu sedang dijaga ketat oleh aliansi beberapa sekte tingkat menengah untuk monopoli para tetua mereka."
Zeng Niu perlahan bangkit berdiri. Ia meraih Bilah Penebas Tulang seberat seribu kati itu dan memukulkannya ke bahunya, menciptakan bunyi dentuman pelan. Seringai yang mematikan mengembang sempurna di wajahnya, diiringi percikan kecil petir ungu yang menari di sudut pupil matanya.
"Dijaga ketat oleh sekte menengah?" Zeng Niu mendengus sinis, Niat Membunuhnya perlahan meresap ke udara malam. "Sempurna. Sudah lama aku tidak memberikan salam perkenalan kepada sekte-sekte ortodoks Benua Utara."
Bao Tu menelan ludah, namun darah tempurnya ikut mendidih. Ia mengangkat palu godam raksasanya. "Si Palu Penghancur siap menghancurkan gerbang mereka, Niu!"
Zhao Ying tersenyum lembut di balik cahaya api. Ia memasang kembali cadar sutranya, namun matanya memancarkan cahaya dingin sang Bintang Putih yang siap menyapu dunia fana bersama pemuda gila di hadapannya.