NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kedatangan Baskara di sekolah bukan hanya membuat Daisy tercengang tapi sebagian ibu-ibu yang ada di sekolahtidak bisa menahan diri menunjukkan ketertarikan pada “papa muda” yang mrmang tampan dan jelas-jelas terlihat berkantong tebal.

Antusias Daisy mengikuti setiap acara hari itu mulai kendur. Perhatiannya terpecah, sering kali matanya tertuju pada Baskara yang berdiri di depan kelas, memakai kaca mata hitam memperhatikan aktivitas di lapangan:

“Sisi.” Andara sampai merangkul bahu Daisy yang melamun, tidak jua melempar gelang yang ada di tangannya.

“Kenapa papa ada di sana Kak ?” Kepala Daisy mendongak, wajahnya kelihatan bingung.

“Kan hari ini parenting day.”

“Iya tapi Sisi nggak kasih tahu papa lagipula tahun lalu papa nggak datang, mama juga.”

Kedua alis Andara menaut. “Terus Sisi sama siapa ?”

“Sama mbak Sumi dan mbak Jum.”

Jawaban Daisy membuat Andara terkejut tapi yang ia lakukan justru tersenyum.

“Sekarang Daisy fokus melempar gelang dulu, kasih lihat sama papa kalau putrinya jagoan.”

“Hhhhmmmmm.” Kepala Daisy mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Sekilas Andara sempat melirik Baskara. Gara-gara tertutup kacamata hitam, Andara tidak bisa melihat apakah pria itu sedang melihat kepadanya atau tidak.

“Bagaimana Pak ?” Baskara hanya melirik Rio yang menyusul dan ikut berdiri di sampingnya.

“Apanya yang bagaimana ?”

“Andars. Apa bapak setuju kalau Andara adalah pengasuh yang baik meskipun umurnya baru duapuluh tahun.”

“Kamu yakin umurnya segitu ? Hanya karena badannya pendek bukan berarti dia masih kecil.”

Rio tertawa pelan. “Sudah saya pastikan dari sumbernya Pak. Wajahnya memang imut, seperti gadis tujuhbelas tahun.”

Baskara menatap asistennya dengan dahi berkerut.

“Kenapa aku merasa kamu terlalu bersemangat kalau membicarakan dia. Tertarik padanya ?”

“Mungkin Pak,” sahut Rio sambil terkekeh. “Saya suka perempuan mandiri, kuat tapi hatinya tetap lembut dan penuh kasih sayang. Semua kriteria itu ada pada Andara.”

Baskara berdercih. “Bilang saja kamu suka daun muda tapi setidaknya aku jadi yakin kalau kamu laki-laki normal.”

“Apa pak Bas tidak begitu ? Saya rasa Andara layak diperhitungkan sebagai calon istri ideal. Wajahnya juga tidak kalah dengan perempuan kota.”

“Kamu berniat menjodohkan aku dengan seorang pembantu ?” sinis Baskara.

“Andara bukan pembantu Pak, tapi ibu susu Lily.”

Baskara menghela nafas, melepas kacamatanya. “Di mataku dia tetap saja seorang pembantu ! Kalau memang mau tertarik padanya dan berniat menjadikannya istri, silakan tapi jangan pernah membahasnya lagi denganku !”

“Baik Pak.” Rio menganggukkan kepala dan berusaha menahan senyum.

Sebelum acara selesai Baskara meninggalkan sekolah Daisy dengan alasan harus ke kantor. Dalam hatinya Baskara menyesal karena terbawa emosi sampai nekad turun untuk mencari Andara.

Setelah bertemu, pikiran Baskara mendadak kosong, tidak tahu apa yang ingin dibicarakannya dengan Andara.

“Kemana kita Pak ?” tanya Rio sambil melajukan mobil ke jalan utama.

“Kantor.”

“Baik Pak.”

Begitu Baskara pergi, Daisy bukannya kecewa malah dengan bangga menjawab pertanyaan teman-temannya.

“Dia papaku. Keren kan ?” Daisy sampai membusungkan dada saking bangganya.

“Terus yang tadi temani kamu main siapa ?”

Senyuman Daisy makin lebar, dadanya pun tamabj membusung penuh percaya diri.

“Dia calon mama baruku.”

*****

Sudah dua hari Baskara sakit. Sepertinya efek kurang tidur karena menemani Savira menjaga Doni selama 6 malam.

Tapi Baskara malah melarang Rio memberitahu Savira. Ia ingin istirahat total tanpa diganggu sampai handphone pun di non-aktifkam.

Ternyata langit sudah mulai gelap saat Baskara bangun dari tidur siang. Kepalanya masih agak pusing tapi perutnya keroncongan, tanda nafsu makannya mulai membaik.

Diraihnya botol air mineral dan diteguk sedikit lalu ia mengambil handphone untuk memesan makanan.

Baru masuk ke aplikasi, suara bel berbunyi. Baskara menautkan kedua alisnya, sepertinya ia tidak menyuruh Rio datang dan Savira tidak tahu lokasi apartemen ini.

Dengan agak sempoyongan Baskara keluar kamar. Kedua alisnya menaut saat melihat wajah di layar monitor kecil yang ada dekat pintu.

“Saya disuruh pak Rio kemari,” ujar Andara sambil mengangkat jinjingan di tangannya begitu Baskara membuka pintu.

Meskipun sedang sakit, wajah Baskara yang sedang kesal masih cukup menakutkan. Baru saja membuka mulut, cacing-cacing dalam perutnya sudah berteriak minta diberi makan.

Andara tertawa. “Saya tidak akan lama.”

Tanpa bicara Baskara melebarkan pintu dan mendahului Andara langsung menuju ke dapur.

Sambil melangkah, mata Andara langsung menelisik setiap sudut ruangan dan mulutnya tidak sungkan berdecak menganggumi apartemen Baskara yang lumayan luas dan terlihat keren.

“Pak Rio bilang pak Bas mungkin masuk angin jadi saya buatkan air jahe. Sebaiknya diminum sebelum makan.”

Andara mengeluarkan dua termos dari dalam kantong makanan.

“Saya ambilkan gelas. Dimana….”

Baskara tidak menjawab namun mengambil gelas dan peralatan makan. Andara mengulum senyum melihat ada 2 gelas yang dibawa Baskara.

Tanpa bertanya, Andara menuangkan isi termos ke dalam gelas. Hanya setengah.

“Hati-hati masih panas.” Andara menyodorkan gelas yang sudah terisi penuh.

“Saya siapkan makan malamnya.”

Satu persatu kotak makanan dikeluarkan lalu ditata di atas meja makan yang minimalis dan hanya ada 2 bangku.

“Semuanya masakan saya, tmaaf kalau kurang enak. Pak Rio mendadak banget minta saya supaya membawakan makanan kemari jadi bahan-bahannya pakai yang ada di kulkas.”

Baskara tidak bicara apa-apa, perutnya sudah terlalu lapar sampai kepalanya pusing lagi. Baskara sampai tidak menolak saat Andara menuangkan nasi beserta sayur dan lauk ke atas piringnya.

“Habis ini boleh saya merapikan kamar bapak ?”

“Tidak usah !”

“Baik Pak.”

Tidak ingin merusak nafsu makan Baskara, Andara pun menjauh, melihat-lihat ruangan yang ada di belakang dapur.

Semuanya tertata dengan baik dan sangat bersih. Andara yakin bukan Baskara yang merapikan sendiri tapi pembantu pulang hari.

Kira-kira 30 menit kemudian Andara baru kembali ke dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ternyata Baskara sudah tidak ada, di ruang tengah pun tidak kelihatan. Kemungkinan pria itu sudah kembali ke kamar.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban pada Rio, Andara mengambil foto priing dan makanan di atas meja lalu ia merapikan sisa makanan untuk disimpan di dalam kulkas.

Betapa kagetnya Andara melihat kulkas Baskara nyaris kosong. Hanya ada beberapa botol minuman untuk kesehatan dan air mineral.

Setelah memastikan semuanya sudah rapi kembali, Andara mengeluarkan buku memo yang selalu ada di dalam tasnya.

Maaf saya tidak pamitan karena tidak ingin menganggu. Kalau pak Bas memerlukan saya, silakan hubungi saya langsung di 081Xxxxxx

Andara meletakkan memo itu di atas meja, ditindih dengan termos.

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!