Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Di dalam kelas yang seharusnya tidak begitu ramai karena beberapa siswa-siswi keluar untuk istirahat, Sari dan gengnya malah membuat suasana menjadi sangat ribut. Sebelumnya, dia entah sengaja atau tidak menabrak meja Elma hingga menjatuhkan tas beserta isinya ke lantai. Sialnya, Elma membawa manga bergenre romantis komedi yang isinya sudah menjadi rahasia umum penuh dengan lawakan kotor terkesan mesum. Tentu saja, mengetahui seseorang membaca manga jenis itu pasti menimbulkan kesan negatif, terutama kalau yang membawanya adalah siswi tingkat atas paling populer di kelas.
Dalam hati, aku mengumpat habis-habisan. 'Dasar si blonde bodoh! Apa yang kamu pikirkan sampai membawa manga seperti itu ke sekolah?! Jangan-jangan dia punya fetish membawa sesuatu yang berbahaya ke sekolah?!' Ya ampun... apa lagi yang bisa lebih buruk dari situasi ini? Elma pasti akan menjadi bahan tertawaan sekelas, lalu rumornya akan menyebar cepat ke kelas lain, dan akhirnya satu sekolah akan menghujat si cewek populer itu.
"Ini beneran punya Elma? Iiih, enggak nyangka banget~" ucap salah satu teman Sari, nadanya dibuat-buat seolah jijik padahal matanya berbinar penasaran sambil membolak-balik halaman manga tersebut. Dasar munafik!
"Pasti, dong. Orang jelas-jelas keluar dari dalam tas Elma," timpal Sari dengan seringai licik.
"Iya benar, aku sendiri yang melihat buku itu jatuh berserakan tahu!" sahut teman Sari yang lain dengan wajah bangga, seolah baru saja memenangkan penghargaan.
Keadaan semakin tidak kondusif. Siswa-siswi lain yang kebetulan berada di ruang kelas mulai ikut membicarakan Elma, memanaskan suasana karena penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka semua sama saja, munafik! Di depan tampak berusaha acuh tak acuh, tapi di belakang langsung berbisik-bisik menyebarkan hal-hal negatif tentang Elma—melenceng jauh dari urusan manga romantis komedi itu.
"Uaaah, ngeri banget! Lihat nih, jorok banget gambarnya! Ha ha ha!" Sari setengah berteriak sengaja memamerkan entah halaman bergambar apa kepada teman - temannya. Dia benar-benar berniat menyalakan api gosip alih-alih meredakannya.
"Iih~ dengan wajah polos kayak begitu ternyata Elma aslinya mesum, ya? Pantas saja sih, ha ha ha," timpal temannya dengan tawa mengejek yang memekakkan telinga.
...Sreeeekkk!
Bunyi pintu kelas yang digeser kasar membuatku menoleh. Aku mendapati Elma dan teman-temannya baru saja kembali dari luar. Ini pasti akan menjadi pertengkaran yang panas. Bagaimanapun, Sari tidak akan sudi melewatkan kesempatan emas untuk mempermalukan Elma di depan umum, karena pada dasarnya dia memang menaruh rasa benci tak berdasar pada Elma. Seketika kelas menjadi hening senyap. Tatapan semua orang kini tertuju lurus ke arah pintu.
"Hei, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba diam?" tanya salah satu teman Elma sambil berjalan mendekati mejanya. Saat itu aku mendadak lupa siapa nama cewek yang merupakan teman terdekat Elma ini. Mungkin karena aku sudah terlanjur panik, atau karena sejak dulu aku selalu terintimidasi oleh tatapan matanya yang tajam seolah ingin menguliti orang...
Tidak juga, sih... Memang sepertinya dia sudah terlahir dengan mata seganas itu.
Tak lama, terdengar suara Sari dan gengnya terkekeh sinis. Namun, Elma dan lingkaran pertemanannya masih tampak kebingungan dengan atmosfer kelas yang mendadak aneh. Begitu Elma melangkah sampai ke dekat kursi temannya, langkah cewek itu mendadak terhenti. Matanya membelalak kaget, lalu dia langsung berlari melewatiku menuju mejanya sendiri.
"Hei, itu tasku, kan?" seru Elma, merujuk pada tas dan barang-barangnya yang masih terhampar mengenaskan di lantai.
"Oh~ maaf ya, Elma. Sari tadi enggak sengaja menabrak mejamu," timpal teman Sari dengan nada sarkas yang luar biasa sinis. Aku bisa melihat Elma tengah mati-matian menahan emosinya. Kedua tangannya mengepal begitu erat di sisi tubuh sampai buku-buku jarinya memutih mendengar ucapan meremehkan itu.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Sari tiba-tiba mengangkat tinggi-tinggi manga di tangannya, seolah ingin memamerkan kepada seluruh dunia coreng hitam yang berhasil dia temukan dari privasi Elma. Dari tempatku duduk, aku bahkan bisa membayangkan betapa syoknya wajah Elma sekarang meski posisinya membelakangiku. Tubuhnya tersentak hebat lalu mendadak kaku, membatu di tempat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan untuk sekadar merebut kembali buku itu pun dia tidak lakukan. Aku tahu dia benar-benar kena mental.
"He he he... Lihat deh apa yang kami temukan waktu membereskan barangmu yang jatuh. Apaan nih?" cetus Sari setengah berteriak dengan nada mengejek. Sumpah, tingkahnya menjengkelkan sekali sampai aku yang melihatnya ikut tersulut emosi.
"Elma ternyata seorang wibu~" ejek teman Sari. Sambil tertawa terpingkal-pingkal, Sari terus membuka lembar demi lembar manga itu, seolah-olah sengaja mencari gambar yang paling vulgar untuk semakin menginjak-injak harga diri Elma.
"I... Itu... Bukan..." suara Elma terdengar bergetar hebat, nyaris berupa gumaman lemah yang tenggelam di tengah tawa riuh. Dia bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimat sederhananya.
"Hah?! Bukan katamu?! Ini jelas-jelas tas kamu, kan? Buku ini jatuh dari dalam tasmu, jangan mengelak deh~" potong Sari dengan suara meninggi. Dia benar-benar berniat mempermalukan Elma sampai ke titik nadir.
"Kamu sebenarnya doyan sama cerita mesum gini, ya? Ini yang para wibu sebut hentai itu, kan?" timpal temannya saling bersahutan, terus menghujani Elma dengan cemoohan.
"Hai, Tuan Putri Wibu! Ha ha ha!" sahut teman Sari yang lain, tertawa puas di atas penderitaan orang lain.
Emosiku sudah mencapai puncaknya, rasanya sulit sekali untuk ditahan. Ini seperti melihat seseorang diadili secara kejam tepat di depan matamu. Jujur, dari awal aku tidak punya rencana sama sekali untuk ikut campur dalam drama antara Elma dan Sari. Namun, dadaku terasa sesak melihat seseorang disudutkan di depan umum tanpa ampun seperti ini. Lebih dari itu, Sari sudah menghina genre romantis komedi seolah-olah itu adalah sebuah aib menjijikkan. Secara tidak langsung, dia juga sedang menginjak-injak harga diriku, kan?
Aku melirik untuk memastikan apa yang akan dilakukan Elma. Aku pikir ini sudah batas toleransinya dan sewajarnya dia mulai membalas untuk membela diri. Tapi yang kulihat justru sebaliknya. Dia hanya diam terpaku, pasrah layaknya karakter protagonis tertindas di sinetron yang cuma bisa menangis saat dianiaya. Rasanya aku ingin mengumpat melihat ketidakberdayaannya.
"Tidak... Aku bilang bukan..." gumam Elma lirih, matanya menatap kosong ke lantai sementara Sari terus mengacak-acak isi manga tersebut.
Dalam hati aku menjerit frustrasi, 'Kamu seburuk ini dalam membela diri?! Jangan perlihatkan kelemahanmu sekarang, blonde! Sudah berapa lama sih kamu jadi anak nakal di sekolah?! Mana perlawananmu?!' Ya, cuma itu yang bisa kulakukan. Mengumpat langsung di depan mukanya pun aku tidak punya keberanian.
Lebih parahnya lagi, hal yang membuatku makin muak adalah reaksi teman-teman Elma. Di saat seperti ini, mereka ke mana saja? Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan anggota geng Elma. Dan... sialan, mereka hanya diam mematung, menonton adegan itu sebagai penonton pasif tanpa ada niat sedikit pun untuk membantu Elma yang semakin tersudut. Apa-apaan mereka ini?
Tapi...
Aku mendadak teringat sesuatu. Lingkaran pertemanan mereka baru saja terbentuk, tidak lebih dari dua bulan sejak awal masuk sekolah. Hubungan mereka bisa dibilang masih seumur jagung dan belum memiliki ikatan emosional yang dalam. Pantas saja reaksi mereka hanya diam dan mengamati. Kesalahan Elma adalah menunjukkan kerapuhannya di awal. Aku mulai paham apa yang ada di otak teman-teman Elma saat ini. Mereka sedang menilai apa Elma masih cocok menjadi teman mereka atau tidak setelah mengetahui fakta ini...
Jadi begitu, ya...
Mungkin karena rentetan kejadian ini, Elma akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di kehidupan pertamaku dulu. Di saat aku tidak berada di dalam kelas, event kejam ini pasti terjadi. Pada akhirnya, teman-teman Elma perlahan menjauh setelah 'topeng' sang bintang kelas terkelupas, menyisakan dirinya yang kesepian setelah jatuh dari puncak popularitas. Yang membuatku cemas adalah bagaimana kelanjutan hidup cewek itu setelah ini. Apa dia sanggup menjadi sekuat diriku, bertahan hidup sebagai serigala penyendiri dengan segala konsekuensi pahitnya? Kurasa tidak. Dia itu seorang ekstrover tulen.
Sama sepertiku...
Elma sama sepertiku, tipe orang yang tidak bisa mengubah kesialan tragis menjadi bahan lelucon untuk menertawakan diri sendiri. Kami tidak seberuntung Reza yang bisa mengubah momen memalukan seperti menginjak kotoran kucing menjadi candaan segar di tengah kelas lalu tertawa bersama-sama...
...Sekarang aku ingat...
...Kenangan dari kehidupanku yang sebelumnya mendadak berputar dengan sangat jelas...
Bulan Mei. Kejadian tragis itu memang terjadi di bulan Mei... Tepatnya pada jam istirahat sebelum kami dijadwalkan pindah ruang kelas. Saat itu aku ketiduran di kelas, dan tidak ada satu orang pun yang berbaik hati membangunkan diriku. Yah, itulah salah satu kerugian menjadi serigala penyendiri; kamu akan dilupakan begitu saja saat terlelap ketika kelas harus dikosongkan.
Ketika aku terbangun dan terburu-buru merapikan barang untuk menyusul ke kelas selanjutnya, aku menyadari ada sosok lain yang masih duduk diam membeku di ruangan itu. Untuk memastikan bahwa itu adalah manusia dan bukan penampakan hantu, aku menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. Elma... Ya, punggung rapuh itu adalah milik Elma. Dia tetap duduk diam di bangkunya meskipun bel tanda jam istirahat selesai sudah bergaung keras.
Waktu itu, aku tidak punya alasan ataupun keberanian untuk menegurnya, sekadar menanyakan kenapa dia tidak pindah kelas seperti yang lain pun aku rasa aku tidak memiliki hak karena kami tidak saling mengenal. Dan... itu adalah kali terakhir aku melihat sosok Elma di kehidupan SMA-ku yang dulu. Tak lama setelah kejadian itu, giliran Sari yang dikabarkan keluar dari sekolah. Ya, runtutan memori kelam itu sekarang terkunci rapat di kepalaku.
Jangan-jangan... ini adalah event khusus yang harus kuselesaikan agar roda takdir dan kenangan ini berputar ke arah yang benar? Ini adalah titik balik yang akan menentukan perubahan besar dalam hidupku. Haruskah aku menghentikan Sari? Tapi kalau aku nekat ikut campur, dia pasti akan menatapku jijik sambil mencibir, 'Penyendiri enggak punya hak buat ikutan bicara!' atau kalimat lain sejenisnya. Terlebih lagi, masih ada secercah harapan kalau kejadian ini bisa berakhir damai, tidak seperti akhir tragis di kehidupan pertamaku. Aku sempat berharap Elma bisa mengatasinya sendiri...
"Hei! Kami enggak bakal paham kalau kamu cuma komat-kamit kayak dukun!" bentak Sari kasar pada Elma. Ini sinyal buruk, situasinya makin lepas kendali.
"Ooh, aku tahu. Tuan Putri Wibu kita ini ceritanya lagi pura-pura tuli dan mengabaikan kita," kompor teman Sari, sengaja memanaskan situasi yang sudah hampir gosong. Cewek itu benar-benar menguji kesabaranku, bahkan sampai sekarang aku tetap tidak sudi mengingat namanya.
"I... Itu..." Elma terbata-bata dengan suara yang makin tenggelam. Mengapa dia bisa selemah ini? Bukankah di luar sana dia dikenal sebagai anak nakal kelas?!!
...'Di kehidupan sebelumnya... aku enggak tahu banyak tentang Elma dan Sari... tapi mengetahui mereka berdua berakhir putus sekolah... menurutku itu adalah hal yang sangat buruk...'...
Tiba-tiba, untaian kalimat Maya saat kami berada di rooftop sekolah terngiang kembali di dalam kepalaku. Maya sangat memedulikan event ini dan menaruh harapan besar agar takdir kelam di masa lalu bisa diubah menjadi lebih baik di kehidupan kedua ini.
Ah, sialan! Kenapa di saat aku ingin hidup tenang tanpa beban, suara dan gurat wajah cemas Maya malah membayangi pikiranku?! Seorang serigala penyendiri yang payah dalam urusan hubungan interpersonal seperti aku sudah sepatutnya berdiri di zona netral, tidak perlu terseret ke dalam badai drama orang lain. Aku harus mengutamakan kedamaian diriku sendiri di atas urusan orang lain. Bukankah itu esensi utama dari seorang serigala penyendiri?
Namun, jika aku kembali menelan kegagalan di kehidupan kedua ini, sosok yang paling tidak bisa kumaafkan adalah diriku sendiri. Kalimat pasrah seperti 'Aku tidak bisa berbuat apa-apa' pada akhirnya hanya akan menenggelamkanku ke dalam kubangan rasa bersalah, menjadikanku manusia sampah yang tidak berguna karena sengaja membiarkan event krusial ini lewat begitu saja.
...Braaaak!!!
Aku menggebrak meja dengan kekuatan penuh hingga suaranya menggelegar, seketika membungkam seluruh kebisingan di dalam kelas. Keheningan mencekam langsung tercipta. Aku tahu pasti, detik ini juga puluhan pasang mata langsung tertuju padaku dengan tatapan syok. Tubuhku bergetar hebat menahan luapan adrenalin, namun respons nekat ini sepenuhnya selaras dengan rencana gila yang mendadak melintas di kepalaku.
Aku berbalik, menatap tajam ke arah Elma dan gerombolan Sari, lalu berteriak lantang dengan seluruh kekuatan paru-paruku:
"Manga Rom-Com itu milikku!!!" teriakku dengan sepenuh tenaga...