Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kamar penginapan kayu terasa pengap dan lembap, namun kenyamanan di dalamnya jauh lebih mencekam daripada kuburan. Cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip menghasilkan wajah pucat Jiang Xuan yang sedang duduk bersila di atas hamparan jerami.
Di tangan, botol giok putih yang baru saja ia peroleh dari pasar gelap memancarkan aroma herbal tingkat tinggi yang sangat pekat. Namun, sebelum menelan pil tersebut, otak rasional Jiang Xuan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kerusakan tubuhnya.
Bahu kirinya terkoyak, meridian di lengannya retak, dan yang paling parah, tiga tulang rusuknya yang patah akibat hantaman ahli Pembangun Fondasi sebelumnya ternyata telah menyambung dengan posisi yang bengkok saat ia pingsan.
"Jika aku membiarkan pil ini menyembuhkan tulang yang posisinya salah, rongga dadaku akan menyempit permanen. Aliran Qi menuju jantung akan terhambat tiga belas persen," gumam Jiang Xuan datar. "Itu adalah kecacatan yang tidak bisa ditoleransi."
Tanpa ragu sedikit pun, Jiang Xuan menempelkan telapak tangan kirinya tepat di atas dada penentuannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh otot di sekitar payudara, lalu memberikan satu hentakan keras yang luar biasa brutal ke arah dalam.
KRAK! KRAK!
Suara tulang patah bergema nyaring di ruangan sempit itu. Jiang Xuan sengaja mematahkan kembali tulang rusuknya sendiri.
Tubuh pemuda itu gemetar hebat. Keringat dingin seketika meledak dari setiap pori-pori kulitnya, membasahi jubah usangnya dalam hitungan detik. Ia menggigit bibir di bawahnya begitu keras hingga darah segar mengalir ke dagunya, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar atau erangan yang keluar dari mulut. Matanya tetap terbuka, menatap kosong ke depan dengan kendali diri yang tidak manusiawi.
Di sudut ruangan, Lin Ruoxue menahan napas. Perutnya bergejolak melihat pemandangan itu.
Sebagai seorang yang gagah, terluka dalam pertarungan adalah hal yang luar biasa. Tetapi menghancurkan tulang sendiri dengan ekspresi sedatar balok es... itu adalah tingkat kegilaan yang berbeda. Lin Ruoxue menyadari satu hal yang mengerikan: majikannya tidak hanya kejam terhadap musuhnya, ia jauh lebih kejam terhadap tubuhnya sendiri. Seseorang yang memandang rasa sakitnya sendiri murni sebagai hitungan matematis adalah monster yang tidak memiliki kelemahan mental.
Setelah memastikan posisi tulangnya kembali lurus, Jiang Xuan menenggak Pil Penyembuhan Luka Dalam Tingkat Tinggi tersebut.
Efeknya bekerja dengan cepat. Energi hangat dan padat langsung meledak di dalam perut, menyebar ke seluruh jaringan otot dan meridian yang rusak. Serat-serat dagingnya membentangkan diri, tulang rusuknya tersambung sempurna dengan bunyi gemeretak halus.
Semalaman penuh Jiang Xuan duduk mematung memurnikan sisa energi pil itu. Menjelang fajar, saat langit di luar jendela mulai berubah menjadi kelabu pucat, ia membuka matanya. Luka fisiknya telah menutup tanpa bekas. Garis-garis meridiannya kembali kokoh. Kultivasinya di tahap 8 Kondensasi Qi kini benar-benar stabil, berputar dengan tenaga yang jauh melampaui kultivator seangkatannya.
Jiang Xuan memutar lehernya, merasakan kekuatan yang kembali terisi penuh.
Tepat pada saat itu, kedamaian pagi buta dihancurkan oleh suara keributan dari jalanan berbatu di luar penginapan.
Suara derap sepatu bot logam yang berbaris rapi, ringkikan kuda baja, dan sebuah dengusan binatang buas yang sangat rendah terdengar mendekat. Di dalam jubah Lin Ruoxue, Baozi tiba-tiba mencicit panik. Gumpalan bulu itu meronta keluar dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, instingnya mencium bahaya mematikan.
Jiang Xuan segera bangkit. Ia melangkah tanpa suara menuju jendela kayu, mengintip melalui celah sempit di antara papan yang lapuk.
Di bawah sana, jalanan Kota Kayu Hitam telah diblokir. Sepasukan elit penegak hukum yang mengenakan jubah biru tua dengan lambang petir dan awan—seragam resmi regu pembunuh Sekte Awan Azure—sedang menyegel setiap persimpangan.
Memimpin pasukan tersebut adalah seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar di lehernya. Ia memancarkan tekanan Qi cair yang sangat berat dan stabil.
"Diakon Pemburu," gumam Jiang Xuan, matanya menyipit penuh kalkulasi. "Tahap dua Pembangun Fondasi. Jauh lebih kuat dan terlatih daripada tiga tua bangka di altar kemarin."
Namun, yang menjadi masalah utama bukanlah Diakon itu, melainkan makhluk yang dipegangnya dengan rantai besi raksasa. Seekor anjing hitam sebesar anak sapi, tanpa mata, namun memiliki hidung yang mekar seperti bunga karnivora. Itu adalah Anjing Pelacak Siluman tingkat tinggi.
Makhluk itu sedang mengendus tanah dengan liar. Moncongnya mengarah tepat ke pintu depan penginapan tempat Jiang Xuan dan Lin Ruoxue berada.
"Reruntuhan itu mungkin sudah hancur," pikiran Jiang Xuan bekerja dengan kecepatan kilat merangkai deduksi. "Tapi kabut darah, debu obsidian, dan energi formasi dari tempat itu menempel di jubah dan sepatu kita. Kita tidak sempat menghilangkan jejak aura sepenuhnya. Hidung binatang itu mencium sisa energi Reruntuhan Kuno."
Di jalanan, Diakon Pemburu itu mengangkat tangannya. Pasukan sekte langsung mengepung bangunan penginapan berlantai dua tersebut. Pedang-pedang terhunus.
"Tutup seluruh gerbang kota!" teriak Diakon itu, suaranya menggema penuh ancaman. "Anjing ini memastikan ada tikus dari reruntuhan di dalam gedung ini! Geledah setiap kamar! Jika melawan, potong kaki dan tangannya, kita butuh mereka hidup untuk diinterogasi!"
Di dalam kamar, Lin Ruoxue langsung menghunus Pedang Ratapan Musim Dingin. Wajahnya memucat. "Mereka menemukan kita. Kita terkepung. Gerbang kota ditutup, dan regu ini terlalu banyak untuk diterobos secara langsung."
Jiang Xuan berbalik dari jendela. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Bahaya adalah makanan sehari-harinya.
"Kita tidak akan lari menerobos gerbang," ucap Jiang Xuan mengusap debu dari Kuas Tulang di tangannya. "Jika kita berlari keluar, kita akan menjadi target panah dan formasi pengepungan mereka di ruang terbuka. Satu-satunya cara untuk keluar dari jaring ini adalah dengan membunuh laba-labanya."
Jiang Xuan menatap Lin Ruoxue dengan pandangan seorang komandan yang sedang menempatkan bidak caturnya.
"Ruoxue. Turun ke lantai dasar penginapan sekarang juga."
Mata gadis itu melebar. "Kau menyuruhku turun ke sana? Menghadapi regu elit sekte dan Diakon tahap dua Pembangun Fondasi secara langsung?!"
"Tepat sekali," jawab Jiang Xuan dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan. "Saat mereka mendobrak pintu depan, aku ingin kau meledakkan seluruh hawa esmu. Jangan menahan diri. Bekukan seluruh meja, kursi, dan lantai bawah. Buat keributan sebesar mungkin. Menjeritlah, mengamuklah, jadilah anomali yang paling mengancam di mata mereka."
"Kau gila! Itu sama saja bunuh diri!" bantah Lin Ruoxue, napasnya memburu. "Aku baru di tahap 4 Kondensasi Qi! Satu tebasan dari Diakon itu bisa membelahku menjadi dua!"
"Kau memiliki Pedang Ratapan Musim Dingin. Manfaatkan hawa bekunya untuk menunda serangan mereka," Jiang Xuan melangkah mendekati gadis itu, Niat Membunuhnya menekan Ruoxue secara mental melalui Segel Jiwa. "Mereka telah diinstruksikan untuk menangkap target hidup-hidup untuk diinterogasi. Mereka tidak akan langsung memenggalmu. Saat seluruh perhatian pasukan dan Diakon itu terfokus padamu di lantai bawah..."
Seringai maut, kotor, dan sangat licik mengembang di wajah Jiang Xuan.
"...aku akan memburu Diakon itu dari titik buta di lantai dua. Kau adalah perisaiku, Ruoxue. Tugasmu adalah memastikan matanya tidak melihat ke arah langit-langit."
Lin Ruoxue menggertakkan giginya hingga terasa ngilu. Majikannya tidak pernah berubah. Ia selalu digunakan sebagai umpan daging, dilempar ke dalam rahang kematian murni untuk memberikan celah satu detik bagi Jiang Xuan. Tidak ada rasa peduli, hanya perhitungan untung rugi dari sebuah nyawa.
Namun, ia tidak punya pilihan. Jika Jiang Xuan tertangkap, ia juga akan mati disiksa oleh sekte.
"Jika aku mati di bawah sana, aku akan menghantuimu dari neraka," kutuk Lin Ruoxue dengan suara penuh kebencian.
Ia memutar tubuhnya, menyelipkan pedang kristalnya di balik jubah kasarnya, dan berjalan keluar kamar menuju tangga kayu yang mengarah ke kedai lantai bawah.
Jiang Xuan tidak memedulikan kutukan itu. Ia memastikan Baozi tetap bersembunyi di kolong kasur, lalu ia melangkah keluar kamar tanpa suara.
Dengan kelincahan seekor hantu, Jiang Xuan melompat ke atas balok kayu penyangga atap di lantai dua. Ia menyatu dengan bayangan gelap di atas tangga, memandang lurus ke arah pintu utama penginapan di bawah. Kuas Tulangnya digenggam erat, meneteskan Formasi Niat yang tidak terlihat.
Di bawah sana, Lin Ruoxue baru saja tiba di tengah ruangan kedai yang kosong saat suara hantaman terdengar keras.
BAM!
Pintu utama penginapan ditendang hancur hingga lepas dari engselnya. Tiga elit sekte merangsek masuk dengan pedang terhunus, diikuti oleh sosok tinggi Diakon Pemburu yang matanya berkilat buas mencari mangsa.
Ketegangan mencapai puncaknya. Bentrokan pendarahan tidak bisa dihindari lagi.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏