NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Langkah Dewangga tidak lagi tegap. Sepatu pantofelnya berbunyi berantakan di atas lantai rumah sakit yang mengkilap, mencerminkan kekacauan di dalam dadanya. Begitu sampai di bagian resepsionis, ia mencengkeram pinggiran meja tinggi itu dengan tangan yang gemetar.

​"Pasien atas nama Siham. Di mana ruangannya?" suaranya serak, nyaris tidak keluar.

​Petugas resepsionis memeriksa komputer sejenak. "Ibu Siham berada di ruang VIP 01, Lantai 4, Pak. Area Onkologi."

​Onkologi.

​Kata itu menghantam Dewangga seperti peluru. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksakan diri berlari menuju lift. Di dalam lift yang bergerak lambat, Dewangga menatap pantulan dirinya di dinding besi. Ia melihat seorang pria yang tampak gagah di luar, namun sebenarnya adalah pecundang besar yang tidak tahu apa-apa tentang istrinya sendiri.

​Begitu pintu lift terbuka di lantai empat, kesunyian yang berbeda menyambutnya. Area ini sangat tenang, hanya terdengar suara monitor jantung yang samar dari balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat. Dewangga berjalan perlahan, menyusuri nomor kamar hingga matanya terpaku pada papan nama kecil di samping pintu VIP 01: Siham.

​Dewangga tidak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu kayu dengan jendela kaca kecil di tengahnya. Dari sana, ia bisa melihat ke dalam.

​Siham terbaring di atas ranjang putih yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kini sangat kecil. Wajahnya hampir tertutup oleh masker oksigen yang membantu pernapasannya. Matanya terpejam rapat, bulu matanya yang lentik tampak kontras dengan kulit wajahnya yang pucat pasi, nyaris sewarna dengan seprai rumah sakit. Beberapa kabel menempel di dadanya, terhubung ke monitor yang menampilkan grafik naik-turun yang lambat.

​Di atas meja samping tempat tidur, laptop Siham masih terbuka, menampilkan layar kosong yang seolah menjadi saksi bisu bahwa ia baru saja mengerahkan sisa tenaganya di sana.

​"Siham..." bisik Dewangga. Tangannya terangkat, hendak menyentuh kaca pintu, namun ia merasa terlalu kotor bahkan untuk sekadar menyentuh bayangan istrinya.

​Tiba-tiba, sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. Dewangga tersentak dan berbalik. Seorang pria paruh baya dengan jas putih dan stetoskop yang melingkar di leher menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kelelahan dan ketegasan.

​"Anda suaminya Ibu Siham?" tanya pria itu. Di papan namanya tertulis nama Dr. Aris, Sp.Onk.

​Dewangga menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir. "Iya. Saya Dewangga. Suaminya."

​Dokter Aris menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar sangat berat. "Bisa kita bicara empat mata di ruangan saya, Pak Dewangga? Ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan."

​Di dalam ruangan dokter yang pengap dengan aroma kertas dan obat, Dewangga duduk di kursi kayu yang terasa sangat keras. Dokter Aris duduk di hadapannya, membuka sebuah map tebal berisi riwayat medis yang sangat tebal.

​"Saya sebenarnya sudah berjanji pada ibu Siham untuk tidak memberi tahu Anda," Dokter Aris memulai, suaranya rendah. "Ibu Siham sangat keras kepala. Dia bilang, dia tidak ingin menjadi beban. Dia tidak ingin Anda merasa terpaksa bersamanya hanya karena rasa kasihan."

​Dewangga mengerutkan kening. "Apa maksud Dokter? Sakit apa dia sebenarnya? Dia hanya bilang lemas karena kurang makan..."

​Dokter Aris memberikan sebuah foto hasil rontgen dan pemindaian CT-scan ke hadapan Dewangga. "Istri Anda menderita kanker paru-paru stadium akhir, Pak Dewangga. Dan itu sudah menyebar ke organ lainnya."

​Dunia Dewangga mendadak hening. Telinganya berdenging hebat. "Kanker? Stadium... akhir? Dokter bercanda, kan? Dia tidak pernah merokok, dia selalu di rumah..."

​"Kanker tidak selalu memilih korbannya berdasarkan gaya hidup, Pak. Ibu Siham sudah berjuang selama hampir ini secara diam-diam. Dia memang menolak kemoterapi dan saya baru tahu saat beliau tadi bilang jika ternyata beliau baru kehilangan Ayah tercintanya, ibu Siham selalu datang ke rumah sakit ini sendirian dengan taksi, bahkan saat kondisinya sedang drop setelah pengobatan, dia tetap pulang dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan Anda," Dokter Aris menjelaskan dengan nada yang semakin menusuk nurani Dewangga.

​Dewangga teringat saat-saat ia membentak Siham karena sarapan yang terlambat. Ia teringat saat ia membiarkan Siham berjalan kaki di malam hari. Ia teringat saat ia menyebut naskah Siham sebagai sampah.

​"Kenapa... kenapa dia tidak bilang?" suara Dewangga pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya.

​"Karena dia merasa Anda sudah terlalu sibuk dengan dunia Anda sendiri," jawab Dokter Aris tanpa basa-basi. "Dia sering bercerita, naskah yang dia tulis Aksara Renjana adalah satu-satunya tempat dia bisa bicara. Di sana, dia menggambarkan seorang istri yang sedang menunggu kepulangannya namun sang suami justru sedang menunggu kematian istrinya agar bisa kembali ke masa lalu. Itulah yang dia rasakan, Pak."

​Dewangga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah di ruangan itu. Ia merasa seperti monster. Selama ini, ia pikir dialah yang paling menderita karena pengkhianatan masa lalunya, padahal di sampingnya, ada seorang wanita yang sedang menghadapi kematian setiap hari dan ia justru menambah beban itu dengan kemarahan dan pengabaian.

Dan satu hal yang Dewangga baru tahu Aksara Renjana adalah istrinya ini berdasarkan penuturan Dafi Dr. Aris.

​"Kondisinya saat ini sangat kritis," lanjut Dokter Aris. "Cairan di paru-parunya sudah terlalu banyak. Kami baru saja melakukan prosedur untuk mengeluarkannya. Dia sangat lemah. Sejujurnya, Pak Dewangga... ini adalah fase di mana kita hanya bisa memberikan kenyamanan. Waktunya tidak banyak lagi."

​Dewangga bangkit dengan terhuyung-huyung. Ia tidak sanggup lagi mendengar penjelasan medis. Ia hanya ingin ke kamar 01. Ia ingin bersimpuh di kaki Siham.

​"Dokter... tolong... lakukan apa saja. Uang bukan masalah. Saya akan bawa dia ke luar negeri, ke dokter terbaik manapun!" raung Dewangga.

​Dokter Aris menatap Dewangga dengan iba. "Sudah terlambat untuk itu, Pak. Yang ibu Siham butuhkan sekarang bukan dokter di luar negeri. Yang dia butuhkan adalah pengakuan bahwa selama lima tahun ini, dia tidak sendirian. Dia butuh suaminya, bukan CEO Dewangga."

​Dewangga keluar dari ruangan itu dengan langkah yang hancur. Ia berjalan kembali ke arah kamar Siham. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk jantungnya. Begitu sampai di depan tempat tidur Siham, ia berlutut di lantai, menggenggam tangan Siham yang terasa sangat dingin dan kaku.

​"Maafkan aku, Siham... Maafkan aku..." isaknya sembari menciumi tangan istrinya. "Bangunlah... maki aku, lawan aku seperti kataku semalam. Jangan diam seperti ini. Aku mohon..."

​Di bawah masker oksigen, bibir Siham yang pucat tampak tidak bergerak. Monitor jantung masih berbunyi teratur, namun setiap dentingnya terdengar seperti hitung mundur bagi Dewangga.

​Ia menatap laptop Siham yang masih terbuka. Ia melihat bab terakhir yang baru saja diketik Siham sebelum ia pingsan: "Aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai bayangan. Kini, biarkan aku menjadi cahaya yang pergi, agar kamu tidak lagi merasa gelap dalam kebencianmu sendiri."

​Dewangga meraung dalam diam. Ia baru menyadari, bahwa selama ini ia sedang memegang berlian yang sangat indah, namun ia justru membuangnya ke lumpur demi mengejar sepotong kaca pecah dari masa lalunya. Dan kini, saat ia ingin menggenggam berlian itu erat-alih, berlian itu sudah mulai retak dan siap untuk hancur selamanya.

1
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
Uthie
Nangisssss 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!