NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Ya sudahlah, Paman. Aku mau belajar. Besok ada ulangan," ucap Liora sambil mengangkat beberapa buku tebal dari meja belajarnya.
Marco yang masih berdiri di ambang pintu hanya mengangguk pelan. Tatapannya jatuh pada tumpukan buku hukum dan sejarah yang memenuhi meja gadis itu.
"Yang rajin, gadis culunku," ujarnya sambil tersenyum tipis, sengaja menggoda.
Liora langsung mendengus pelan.
"Paman..."
"Apa?"
"Berapa kali aku harus mengatakan? Jangan panggil aku gadis culun."
"Lalu?"
"Gadis pintar."
Marco mengangkat sebelah alisnya. "Percaya diri sekali kau."
"Memang kenyataannya begitu."
"Hm." Marco menahan senyum. "Nilai ulanganmu saja belum keluar."
Liora menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kalau nanti nilaiku paling tinggi, Paman harus minta maaf kepadaku, dan mentraktirku makan."
"Baiklah."
"Serius?"
"Kalau kau benar-benar mendapat nilai tertinggi."
Liora menyipitkan mata, seolah sedang menilai apakah pria itu sedang mengerjainya atau tidak.
"Janji?"
Marco mengangguk sekali.
"Janji."
Liora tersenyum puas.
"Nah, itu baru Paman Marco."
Marco berbalik hendak kembali ke kamarnya.
"Jangan begadang."
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Liora dari belakang.
"Paman."
"Apa lagi?"
Liora tersenyum jahil. "Terima kasih."
Marco menoleh sekilas. "Untuk apa?"
"Sudah mengingatkanku untuk belajar."
Marco menghela napas pelan. "Kau memang aneh."
"Kalau aku tidak aneh, Paman pasti bosan."
Pria itu menggeleng kecil. "Mana mungkin."
Liora terkekeh pelan. "Selamat malam, Paman."
"Selamat malam."
Marco menutup pintu pembatas dengan perlahan.
Suasana kembali sunyi. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan sesekali bunyi pena yang bergerak di atas kertas.
Di kamarnya sendiri, Marco merebahkan tubuh di sofa dekat jendela. Tatapannya mengarah pada langit malam yang dihiasi bintang-bintang redup yang membentang di penjuru kota Amsterdam.
Entah sejak kapan, suasana mansion yang dulu terasa begitu sepi kini berubah lebih hidup. Bukan karena jumlah penghuninya bertambah. Melainkan karena kehadiran satu gadis yang tidak pernah bisa diam.
Liora.
Marco menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Gadis culun yang cukup menggemaskan."
Sementara itu, di kamar sebelah, Liora benar-benar tenggelam dalam buku-bukunya. Sesekali ia menguap, tetapi tetap memaksa dirinya menghafal mata pelajaran yang harus dikuasai sebelum ulangan esok pagi.
"Aku harus dapat nilai sempurna," gumamnya penuh semangat.
Bukan hanya demi dirinya sendiri. Ia juga ingin membuktikan kepada Marco bahwa julukan "gadis culun" memang pantas ia sandang, bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai kebanggaan.
Tanpa mereka sadari, percakapan sederhana malam itu perlahan mengubah hubungan keduanya. Ejekan yang dulu terdengar menyebalkan kini berubah menjadi candaan ringan yang menghangatkan suasana.
Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion itu, malam terasa jauh lebih damai bagi keduanya.
***
Keesokan harinya.
"Apa? Liora menemukan Mauren?" tanya Audrey dengan mata membelalak.
"Ya, Nyonya," jawab seorang pria yang sejak tadi menyampaikan laporan.
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi.
Deg.
Audrey mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya dipenuhi penyesalan.
"Sial..."
Ia baru menyadari kesalahan terbesarnya. Mengusir Liora dari rumah.
Jika saja gadis itu masih berada di bawah kendalinya, ia bisa memanfaatkan hubungan Liora dengan keluarga Collins untuk mendapatkan keuntungan. Namun, karena emosi sesaat, ia justru kehilangan kesempatan emas itu.
"Dasar bodoh..." gumam Audrey kepada dirinya sendiri.
Wanita itu berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah sederhananya. Wajahnya tampak berpikir keras.
"Liora ternyata benar-benar dekat dengan mereka..."
Sudut bibir Audrey perlahan terangkat membentuk senyum licik. "Kalau begitu..."
Tatapannya berubah tajam. "Aku tidak perlu merebut Liora kembali."
Ia berhenti melangkah. "Cukup manfaatkan keberadaannya."
Di benaknya mulai tersusun berbagai rencana. Jika keluarga Collins menerima Liora, maka nama gadis itu bisa menjadi jalan baginya untuk mendekati keluarga terpandang tersebut.
Audrey memang telah kehilangan kendali atas Liora. Namun, itu tidak berarti ia kehilangan kesempatan.
"Bagaimanapun juga," gumamnya pelan, "orang-orang masih tahu kalau aku pernah menjadi ibu tirinya."
Ia tersenyum semakin lebar. "Hubungan itu masih bisa dimanfaatkan."
Pria di hadapannya hanya menunduk, menunggu perintah berikutnya.
"Cari tahu semua kegiatan Liora."
"Baik, Nyonya."
"Jangan sampai dia menyadari jika sedang diawasi."
"Siap."
Setelah pria itu pergi, Audrey menatap ke luar jendela.
"Liora... kali ini kau akan menjadi jalan untuk mengubah nasibku."
Senyumnya semakin dalam. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan gadis itu. Yang ada di benaknya hanyalah keuntungan dan ambisi.
Audrey masih berdiri di depan jendela rumahnya. Senyum tipis yang menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi tawa pelan.
"Kalau keluarga Collins benar-benar menerima Liora, berarti mereka juga tidak akan langsung menolak orang yang pernah menjadi keluarganya."
Wanita itu mulai membayangkan berbagai kemungkinan yang menguntungkan dirinya. Termasuk harta, kekayaan yang segalanya.
"Uang... status... semua itu bisa kembali." Tatapannya berubah penuh ambisi. "Tapi aku tidak boleh terburu-buru."
Audrey mengambil ponselnya, lalu mencari sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
"Delon."
Suara di seberang terdengar ragu.
"Nyonya Audrey?"
"Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Cari tahu aktivitas keluarga Collins. Terutama Mauren Collins dan adiknya, Marco."
"Baik, Nyonya. Tapi... apa hubungannya dengan Anda?"
Audrey tersenyum tipis. "Itu bukan urusanmu. Lakukan saja apa yang kuminta."
Sambungan telepon pun berakhir. Audrey kemudian duduk di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Liora... kau memang sudah pergi dari rumahku. Tapi kau tetap tidak akan lepas dari rencanaku."
***
Di sisi lain kota.
Liora baru saja keluar dari ruang kelas setelah ulangan selesai. Ia mengembuskan napas lega.
"Syukurlah... soalnya tidak sesulit yang kupikirkan."
Beberapa teman sekelas menghampirinya. "Liora, kau pasti dapat nilai tinggi lagi."
Liora hanya tersenyum kecil. "Semoga saja."
Saat mereka berjalan menuju kantin, ponsel Liora bergetar pelan.
Sebuah pesan masuk dari Marco.
"'Bagaimana ujianmu?'
Liora tanpa sadar tersenyum.
'Lumayan. Kurasa bisa mengerjakannya dengan baik.'
Tak sampai satu menit, balasan kembali masuk.
'Bagus. Jangan langsung pulang sendiri. Sopir sudah menunggumu di gerbang kampus.'
Liora membaca pesan itu dua kali. Entah mengapa, perhatian sederhana dari Marco membuat hatinya terasa hangat.
Dasar Paman tua, Mulutnya memang sering menggodaku, tetapi diam-diam selalu memastikan aku baik-baik saja.
Di kejauhan, tanpa disadari siapa pun, seorang pria berjaket kulit hitam berdiri di balik pepohonan dekat gerbang kampus.
Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Liora. Pria itu mengangkat ponselnya, lalu memotret Liora yang sedang berjalan bersama teman-temannya.
Beberapa detik kemudian, foto itu terkirim kepada seseorang. Tak lama, layar ponsel pria itu menampilkan balasan singkat.
'Terus awasi dia. Laporkan setiap pergerakannya.'
Pria itu mengangguk pelan sebelum kembali menyimpan ponselnya. Sementara Liora sama sekali tidak menyadari bahwa sejak pagi, ada sepasang mata yang terus mengikutinya dari kejauhan. Dan semua itu, merupakan awal dari rencana baru Audrey.