GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Konser Patah Hati, Tombol Merah, dan Anjing Berbisa
Keesokan harinya, lambung raksasa GPS Andromeda kembali membelah lautan bintang, meluncur mulus menuju tata surya berikutnya di dalam gugusan Galaksi Andromeda. Mengingat beban kerja bongkar muat kargo logistik Urana yang menguras tenaga di planet Ninovia Industri telah usai, suasana di dalam kapal kini jauh lebih santai.
Di salah satu sudut Dek Kargo Utama yang luas, tumpukan kontainer kosong disulap menjadi panggung dadakan.
Siang itu, Febri dan Harry sedang menggelar konser mini. Divisi kargo yang sedang tidak ada jadwal tugas berkerumun duduk bersila di atas lantai logam, menyoraki dua rekan mereka yang sedang bernyanyi dengan penuh penghayatan menggunakan sapu pembersih lantai sebagai mikrofon.
Di kejauhan, Eve sang primadona ras Seraphi duduk anggun di atas sebuah peti, memangku sabak digitalnya sambil mencatat laporan inventaris. Namun, mata bersinarnya sesekali mencuri pandang ke arah panggung, tersenyum tipis menikmati hiburan tersebut. Tak jauh dari Eve, Null bersandar di pilar baja, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak buahnya. Pusaran materi gelap di wajah sang Kepala Kargo itu beriak pelan, membentuk pola yang menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum geli.
"Jangankan untuk bertemu..." Febri memulai liriknya dengan suara mendayu-dayu yang luar biasa meresapi jiwa, sambil mengarahkan gagang sapu ke arah penonton. "...semuanya!!"
"BERTEMUUUU!" sahut belasan kru kargo serempak layaknya penonton bayaran profesional.
Gantian Harry yang mengambil alih gagang sapu, memejamkan mata sambil memegang dadanya. "Memandang pun saja sudah tak boleeh~"
"TAK BOLEEEH~" balas penonton.
"Apalagi menyanyi bersama bagai hari lalu~" lanjut Febri dengan gaya dramatis, tubuh jelinya bergoyang ke kiri dan kanan.
"BAGAI HARI LALUUU!"
"Jangankan mengirim suraat~" ratap Harry, suaranya dibuat serak basah.
"MENGIRIM SURAAT!"
"Menitip salam pun sudah tak boleeh~" sambung Febri.
"TAK BOLEEEH!"
Harry berdeham, bersiap menyanyikan bagian reff yang menjadi andalannya. Ia memutar tubuhnya perlahan, sengaja mengarahkan pandangannya lurus ke sudut tempat Eve duduk.
"Ternyata memang kau tercipta bukan untukku, ho-wo-oh~" nyanyi Harry dengan percaya diri. Di akhir nada, pemuda plontos Zennor itu memberikan satu kedipan mata (wink) yang sukses mendarat tepat ke arah Eve.
Eve yang sedang menatap ke arah panggung sedikit terkesiap. Garis-garis cahaya keemasan di kulit wajahnya seketika menyala lebih terang, menandakan bahwa gadis ras Seraphi itu sedang tersipu malu. Ia buru-buru menundukkan wajahnya, pura-pura kembali fokus pada layar sabaknya.
Melihat respons positif dari pujaan hatinya, dada Harry langsung membusung bangga. Ia merasa seperti pria paling beruntung di seantero galaksi siang itu. Nyanyian dan tawa pun terus berlanjut hingga akhirnya lagu melankolis itu tiba di lirik penutup.
Febri mengambil alih gagang sapu untuk nada terakhir. Ia menatap ke arah langit-langit kargo dengan ekspresi luar biasa tragis.
"Biarlah di sini sendiri... Merajut hari-hari... Bukankah esok atau lusa?" Febri menjeda nyanyiannya, lalu menatap Harry dengan seringai jahil di wajah lendirnya. "Mati pun Harry sendiriiii~"
Harry langsung melotot. "Hei!!!?"
"BWAHAHAHAHAHA!"
Tawa seluruh kru kargo meledak seketika. Harry memukul bahu jeli Febri dengan kesal, sementara Febri hanya bergoyang-goyang kegirangan. Di sudut ruangan, tawa merdu Eve ikut terdengar, bahkan Null tak bisa menahan dengungan tawa statisnya melihat kurir andalannya itu di-roasting mentah-mentah di depan gebetannya sendiri.
Namun, di tengah keriuhan tawa yang menggema ke seluruh penjuru dek itu, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari sebuah insiden kecil sedang terjadi di bagian belakang.
Tepat di balik dinding pemisah, terdapat Sektor Stasis Fauna, sebuah ruangan khusus bersuhu rendah yang digunakan untuk menyimpan paket berisi hewan hidup. Hewan-hewan peliharaan maupun satwa eksotis itu ditidurkan menggunakan teknologi Cryo-Sleep Pods (kapsul tidur beku) agar aman selama pengiriman.
Di ruangan sunyi itu, Oren si kucing Triceracat sedang berjalan mengendap-ngendap mencari tempat nyaman untuk tidur siang. Ia melompat ke atas deretan kapsul logam tersebut.
Matanya yang bulat besar tiba-tiba menangkap sebuah tombol darurat berwarna merah terang yang berkedip-kedip di salah satu kapsul pengiriman berukuran besar. Naluri kucing Oren seketika mengambil alih. Ia mengendus tombol itu, lalu dengan santai menyerudukkan cangkang kepalanya tepat ke arah tombol merah tersebut.
Klik.
Sssssssssshhhhhhh!
Bunyi desisan gas bertekanan tinggi terdengar saat segel kedap udara kapsul raksasa itu terbuka secara manual. Sayangnya, suara desisan itu sepenuhnya tenggelam oleh gelombang tawa dari konser Harry dan Febri di ruangan sebelah.
Tutup kapsul itu tergeser terbuka.
Bruk!
Seonggok tubuh hewan berukuran cukup besar jatuh menggelinding keluar dari dalam kotak dan mendarat di atas lantai logam. Melihat makhluk aneh itu tiba-tiba keluar, Oren kaget setengah mati. Bulu oranyenya meremang. Tanpa berpikir dua kali, Oren langsung berlari terbirit-birit dan menyelinap keluar dari sektor itu melalui sebuah lubang udara berukuran kecil di sudut pintu yang memang khusus dimodifikasi oleh para kru sebagai 'pintu kucing'.
Perlahan-lahan, efek gas tidur di ruangan itu mulai memudar dari sistem saraf hewan tersebut.
Makhluk itu mulai bangkit berdiri, meregangkan otot-ototnya. Ukurannya sebesar anjing mastiff dewasa. Penampilannya sangat mengerikan: kulitnya dipenuhi sisik tebal bergerigi, matanya menyala dengan insting predator liar, dan dari sela-sela taringnya yang tajam, menetes cairan bisa beracun yang mendesis saat menyentuh lantai logam.
Sensor biologis kapal kargo seketika mendeteksi adanya aktivitas makhluk hidup tak terdaftar yang berkeliaran di luar kapsul penahan.
Di dek atas, di sebuah ruangan kerja yang sepi.
YUI sedang berdiri bersandar di dinding, menunggu Kapten Arka. Tiba-tiba, sistem prosesor di otaknya menerima sinyal kedipan peringatan dari Sektor Fauna.
YUI mendengus bosan. Matanya seketika menyala merah terang. Dari kedua retinanya, memancar seberkas cahaya yang memproyeksikan layar CCTV holografik langsung ke udara di depannya.
Melalui mata kameranya, YUI melihat anjing alien beracun itu mulai mengendus-endus udara, mencari mangsa pertamanya setelah terbangun dari tidur panjang. Hewan mematikan itu mengendap-ngendap keluar dari ruang stasis, memasuki lorong penghubung antar-sektor.
Di layar yang sama, YUI melihat Bu Maya dan asisten mungilnya, Sarah, sedang berjalan santai dari arah berlawanan, menyusuri lorong tersebut untuk mengecek stok sayuran di gudang belakang.
YUI memiringkan kepalanya. "Wah, seru nih," gumam asisten gotik itu dengan senyum pasif-agresifnya, sama sekali tidak berniat membunyikan alarm evakuasi.
Di dalam layar CCTV.
Anjing alien berbisa itu melihat siluet Bu Maya dan Sarah yang mendekat. Insting buasnya mengambil alih. Dengan kecepatan luar biasa, monster setinggi lutut orang dewasa itu melompat menerjang maju, mengincar target yang paling besar: Bu Maya.
HAP! CRUNCH!
Rahang anjing buas itu berhasil menggigit pergelangan kaki Bu Maya dengan sekuat tenaga, berusaha menyuntikkan bisanya yang mematikan.
Langkah Bu Maya terhenti.
Namun, bukannya menjerit kesakitan, Bu Maya hanya menundukkan wajahnya dengan ekspresi bingung. Di bawah sana, anjing alien itu justru yang sedang menahan rasa sakit luar biasa. Bagaimana tidak? Gigi taringnya baru saja menggigit kulit ras Belial yang murni terbuat dari batu vulkanik sekeras intan, yang di dalamnya mengalir suhu panas layaknya lahar mendidih. Bukannya menembus daging, taring anjing itu malah nyaris rontok dan moncongnya melepuh kepanasan.
"Eh?" Bu Maya mengerjapkan mata emasnya, menatap hewan buas yang kini malah merengek ketakutan sambil menggigit kakinya. "Ya ampun, ada anjing peliharaan siapa ini yang lepas dari paket?"
Tanpa terlihat kesulitan sedikit pun, tangan raksasa Bu Maya yang kokoh langsung mencengkeram tengkuk anjing buas itu, mengangkatnya tinggi-tinggi layaknya menjinjing tas belanjaan. Anjing berbisa itu langsung kicep, ekornya terselip di antara kedua kaki belakangnya, tak berani berkutik sedikit pun di hadapan makhluk setinggi tiga meter yang auranya jauh lebih menyeramkan dari iblis.
"Kasihan banget kamu sampai kedinginan di luar sini," ucap Bu Maya dengan nada keibuan yang lembut.
Sambil masih menjinjing anjing predator yang tak berdaya itu, Bu Maya melangkah masuk ke Sektor Stasis Fauna, menemukan kapsul yang terbuka, lalu dengan santai memasukkan kembali anjing itu ke dalamnya. Ia menekan tombol panel hijau di luar kotak.
Ssssh. Kapsul itu tertutup rapat, dan gas tidur kembali disemprotkan.
"Udah, tidur yang nyenyak lagi ya. Kasihan nanti majikannya," gumam Bu Maya menepuk-nepuk penutup kaca kapsul tersebut, lalu berjalan santai keluar bersama Sarah seolah baru saja memungut remahan biskuit yang jatuh di lantai.
Di lorong dek atas, YUI yang menonton seluruh kejadian itu melalui proyektor matanya mendecakkan lidah kecewa.
"Cih. Nggak seru. Padahal aku ngarep ada yang lari-larian kek gitu," gerutu YUI mematikan pancaran CCTV-nya.
"YUI! Di sini toh kamu, aku cariin ke mana-mana."
Suara Arka memecah tontonan YUI. Sang Kapten berjalan menghampirinya dengan sabak digital di tangan.
"Jadi gimana? Ada laporan masuk atau masalah apa nggak siang ini?" tanya Arka.
YUI menatap kaptennya itu, lalu tersenyum manis penuh rahasia.
"Hmm... nggak ada apa-apa sih, Bos. Aman terkendali. Yuk!" jawab YUI santai, berbalik dan berjalan memimpin di depan, menyimpan rapat-rapat fakta bahwa salah satu krunya baru saja kebal dari gigitan monster mematikan.