Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
3 bulan berlalu, tidak terasa kehamilan Delina sudah memasuki 7 bulan. dan hari ini akan diadakan acara siraman 7 bulanan, dirumah Delina dan Agam di perumahan Desa kangruiana.
Ummi Jemmah, ABah Ahmad serta Pas Roslan dan Mak NUrlela mnginap dirumah Delina seminggu sebelum acara dan beberapa ibu-ibu juga ada merewang membantu-bantu persiapan Delina.
Pagi ini, Delina sudah bersiap dengan pakaian siraman nya dan serangkaian acara dilaksanakan. serta diadakan pengajian juga.
Delina tengah duduk di kursi, acara telah selesai dilaksanakan. dan saat ini para ibu-ibu dan keluarga hanyha duduk santai bersama. Delina tengah menikmati makan siangnya, bersama Agam tentunya pria itu dengan setia berada disamping Delina sepanjang hari.
" LIn! " panggil Aldo, pria itu tampak tersentum sumbringah menghampiri Delina dan juga agam ditempat dengan seseorang digandengan nya tentunya.
" Cie, cie..... yang sudah dapat restu bebas yaa, gandengan dimanapun. dan kapanpun." ledek Delina.
" Iyalah, emangnya cuman lo doang yang bisa gandengan? gue juga bisa kali..." balas Aldo semakin memamerkan kemesraan nya dengan Mbak Sri.
Ya, pria itu akhirnya berhasil menjalanin hubungan dengan Mbak Sri setelah serangkaian kejadian lika-liku dan pengorbanan Aldo untuk dapatkan hati MBak Sri akhirnya wanita itu luluh juga.
Sedangkan Mbak Sri, seperti wanita yang baru saja mengalami puber kedua buru-buru melepaskan pegangan tangan mereka wanita itu segera menjauh dan memilih duduk disamping Delina sembari memberikan buah tangan.
" LIn, ini buat mu. hadiah dari ku dan Aldo." ucap MBak Sri memberikan dua paperbag besar.
Aldo yang meras dicuekin, tercengo melihatnya.
" Wah, makasih yaa Mbak. " ucap Delina menerima dengan senang hati.
" Jadi, kapan kalian akan menyusul?" tanya AGam pada Aldo yang duduk disampingnya juga.
" Kalau aku maunya, sii gak perlu lama-lama. cuman Sri bilang nanti aja." ucap Aldo menoleh pada Sri.
" Nanti aja dulu Om, takutnya si Aldo macem-macem lagi..."
" IYa, jagnan dulu Mbak. tahu sendiri Aldo itu ucaman nya senin kamis, gak punya pendirian." ucap Delina mengompori.
" MUlutmu LIn! ingin kutabok! hah! " kesal Aldo .
" Do! dia istri saya !" bela Agam.
" IYa-iya, maaf.... tapi, kami sudah bicarakan dengan keluarga juga dan keputusan ada di aku dan Sri juga."
" Jadi apa keputusan kalian? " tanya Delina penasaran.
Aldo dan Sri saling pandang sejenak, dengan isyarat Aldo mengangguk saja. lalu Sri mengeluarkan sebuah plastik hitam dan mengeluar satu lembar kertas disana.
" Apaanih? " tanya Delina keherann.
" LIat aja sendiri." ucap Aldo.
Delina membuaknya dan dibaca tertera nama SRi dan juga Aldo disana.....
" WHAT! 2 MINGGU LAGI! " pekik Delina membuat semua orang disana terkaget.
" HAH ADA APA LIN?! KAMU GAK APA-APA KAN?"
" KENAPA LIN? MAU LAHIRAN KAH?"
Mak NUrlela dan Ummi Jemmah langsung menghampiri anak dan menantunya didepan, sedangkan yang ditanya hanya nyegir biasa saja.
" G-gak ada kok Mak, Umi. ini sii, Aldo kasih udnagna." ucap Delina.
" Undangn apa Do?"
" jangan bilang kamu kawin lagi? "
" Hahaha.... mungkin bisa jadi, tapi kayaknya. masih lama deh, wong masih keliatan muda banget."
" Jangan terlalu percaya sama raut muka Umi, ini saya kasih undangannya nanti datang ya. " ucap Aldo memberikan dua kartu udangan pada Ummi Jemmah dan Mak NUrlela.
" HAH! 2 MINGGU! "
" KAMU GAK HAMILIN ANAK ORANG KAN DO! "
" Gak lah, Bu Lela. saya masih waras."
" Sri, beneran ini? kalian mau nikah? kau yakin sudah sama pilihan mu?" tanya Ummi Jemmah lagi.
" Yakin, Umi. mungkin sudah takdir Sri..." jawab Sri seperti malu-malu.
" KOk Mama mu gak ada bilang sama bule Do??" tanya Mak NUrlela.
" Hehehe, sebenarnya aku yang sengaja gak aksh tahu kesemua orang. biar jadi kejutan."
" Aku aja gak dikash tahu sama Aldo Mak. " sahut Delina.
" Kalua gitu selamat ya, kalian berdua. kami pasti datang." ucap Mak NUrlela.
" Iya Bule terimakaish, nanti datang bule." ucap Sri menyalami kedua wanita itu.
Aldo dan Sri berpamitan pulang. begitu juga Ummi Jemmah , Mak Nurlela dan yang lainnya berpamitan pulang. karena acaranya sudah selesai dan serangkaian perabotan nya juga sudah bersih dan rapi.
DALAM KAMAR.
" Dek, gimana kok bisa mereka cepet banget langsungkan pernikahan?" tanya Agam keheranan.
" Mas, kalau tahu ceritanya gak bakalan berenti ketawa." ucap Delina jika mengingat tingkah Absurd keduanya yang sama-sama saling curhat pada Delina.
" Makanya ceritakan sama Mas."
" Males, kalau diceritakan panjang banget Mas. makanya jangan kerja di kota, disini aja sama sitri nya."
" Kan, mas kerja dek. gak bisa 24 jam disini terus.." rengut AGam.
" Aku lagi mager Mas, aku mau tidur aja."
" Ya sudah, nanti Mas tanya Aldo aja."
" Hihi.. tanya aja, palingan gak bakal di kasih tahu juga sama Aldo." batin Delina diakhir kalimatnya.
" Dek." panggil Agam lagi dilihat nya sang istri sudah memejamkan matanya.
" Apa mas..." balas Delina yang masih memejamkan matanya.
" SEhabis ini, kamu mau Mas bawa ke kota? sudah siap ditinggal Mak sama Bapak?" tanya Agam.
Delina membuka matanya lagi.
" Iya Mas, aku bakalan ikut kemanapun Mas mau aku nurut aja."
" Berarti sesuai rencana kan Dek? dua minggu setelah acara 7 bulanan kamu."
" IYa, Mas... pakaian nya sudah sebagian ku siapkan. pakaian dedeknya juga sudah dimasukan sama Mamak di tas tinggal diangkut aja."
" Mas, juga sudah konsul kedokter dan persiapkan rumah sakit yang dirasa Mas cocok buat kamu."
" Rumah sakit yang ku kasih tahu itu kan Mas?"
" Iya, sesuai yang kamu mau. sudah mau cari tahu juga semua nya. "
" Gak sabar nunggu ndut lahirr." ucap Delina mengelus perutnya yang membulat besar.
" Sama, Mas... juga gak sabaran. " ucap AGam ikut mengelus perut sang istri.
" Nanti sampai dkota, kamu mau Mas bawa ke makam almarhum.... dek? " tanya AGam tiba-tiba.
Entah kenapa, AGam sduah lama tidak menunjungi almarhum istri pertama nya. semenjak menikahi dengan Delina terakhir ia pergi ke makam... pada saat sebelum pergi ke desa cempaka.
" Mas yakin? Mas sudah siap? mau kenalin aku sama almarhum Mbak....?" tanya Delina.
" MAs sudah siap, Mas kan sudah pernah bilang sama Adek. Mas akan belajar mencintai istri dan pasangan Masa depan yang Allah titipkan pada mas lagi. ibaratnya Mas diberi kesempatan kedua untuk menjadi imam yang lebih baik lagi. "
" Berarti mas sudah gak mencinta Mbak...?"
" Kalau ditanya cinta tau gak... kalian ada tempatnya masing-masing dihati Mas, karena Mas. pernah menjalin kasih dan jatuh cinta terdalam dengan beliau dan kini Mas kembali merasakan kisah cinta lagi untuk yang kedua kalinya dengan pasangan Mas yang sekarang."
" Yakin Mas?" ledek Delina.
" IYa, dek.... Mas yakin demi Allah dan Rosullullah." ucap AGam serius.
" Aku maunya besok, kita ke makam nya." ucap Delina.
" apa gak kecepatan dek? nanti saja tunggu 2 minggu lagi, jadi sekalian capeknya."
" Tuh kan, aku suruh besok gak mau. berarti Mas bohong kan." tuding Delina.
" Astagfirullah, dek. gak boleh soudzon sama suami sendiri."
" Makanya besok! aku gak mau dibantah!"
" Tapi, dek. Mas harus prioritaskan keselamatan mu." ucap AGam.
" Aku gak apa-apa Mas, kan kamu yang nyetir bukan aku."
" Ya sudah, ktia besok kesana."
" Mas cuman gak mau bikin kamu kecapekan. apalagi kamu lagi hamil besar, kalau besok kita kesana 2 minggu lagi kita akan tinggal disana juga."
" GAk apa-apa, aku suka bolak balik kota dan desa." kekeh Delina tidak mau dibantah.
" IYa, besok pagi kita kesana. "
" Bungan kesukaan Mbak... apa Mas?" tanya Delina.
" Bunga? dia sukannya daisy."
" Besok kita mampir beli bunga DAisy dulu baru ke makam MBak."
" IYa, dek. terserah mu aja."