NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035

Tetapi rahasia di punggung Hans baru saja mulai terbuka.

Kiana tidak sempat mengejarnya malam itu.

Dokter memaksa Kiana diperiksa lebih dulu. Oksigen dipasang lagi, tekanan darah dicek, paru-parunya didengarkan, lalu ia diberi obat untuk tenggorokan yang perih karena asap. Semua proses itu berlangsung seperti kabut. Ia menjawab pertanyaan dokter, mengangguk pada perawat, tetapi matanya selalu kembali ke arah ruang tindakan tempat Hans berada.

Saat akhirnya Hans dipindahkan ke kamar rawat, hari sudah melewati tengah malam.

Ia berbaring miring dengan punggung dibalut perban tebal. Bau obat luka dan antiseptik membuat kamar itu terasa terlalu putih, terlalu dingin. Wajah Hans pucat, tetapi rahangnya masih keras, seolah tubuhnya menolak mengakui rasa sakit.

Kiana duduk di kursi samping ranjang, tangan masih menggenggam jarinya.

"Kamu harus tidur," kata Hans pelan.

Kiana menatapnya.

"Kamu baru terbakar, tapi yang kamu suruh tidur aku?"

Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Kamu menghirup asap."

"Dan kamu memakai punggungmu untuk menahan api."

Hans diam.

Kiana tidak menangis di depan Jovian ketika ditampar. Ia tidak menangis saat terkurung asap di kantor. Namun melihat Hans berbaring seperti ini, dengan tubuh yang biasanya kuat mendadak dibatasi perban dan obat, sesuatu di dadanya retak pelan.

Ia menunduk, mengambil sendok kecil dari mangkuk bubur yang baru diantar perawat.

"Makan."

"Kia."

"Kalau kamu bisa memberi perintah di tengah kebakaran, aku juga bisa memberi perintah di kamar rawat."

Hans menatapnya beberapa detik. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia menurut tanpa membantah.

Bubur itu hambar, hanya sedikit garam dan kaldu ayam. Kiana meniupnya sampai hangat, lalu menyuapkannya pelan. Karena posisi Hans tidak bisa banyak bergerak, setiap sendok harus menunggu ia menelan dengan hati-hati. Kadang alisnya berkerut karena punggung tertarik. Kadang napasnya tertahan begitu saja.

Setiap kali itu terjadi, tangan Kiana ikut berhenti.

"Sakit?"

"Tidak."

"Aku tidak sedang tanya ke tembok."

Hans menutup mata sebentar. "Sakit. Tapi tertahan."

Jawaban jujur itu justru membuat mata Kiana panas.

Perawat datang pukul enam pagi untuk memeriksa suhu dan mengganti lapisan luar balutan yang terkena cairan obat. Kiana berdiri di sisi ranjang, membantu memegang gelas air dan kantong peralatan sesuai instruksi. Ia tidak menyentuh luka. Ia tidak berani.

Namun saat perawat membuka sebagian perban luar, Kiana melihat kulit di sekitar bahu Hans memerah parah. Bukan pemandangan berdarah, tetapi cukup membuat ujung jarinya dingin.

Hans tidak bersuara.

Hanya tangan yang menggenggam seprai menjadi putih.

Kiana meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Hans.

"Remas saja."

"Nanti sakit."

"Aku tidak terbuat dari kaca."

Hans menoleh pelan. Matanya redup oleh obat, tetapi tatapannya tetap jatuh pada bekas merah di pipi Kiana.

"Pipimu."

"Jangan alihkan topik."

"Siapa?"

Pertanyaan itu keluar begitu rendah hingga perawat yang berdiri di dekat pintu ikut menahan napas.

Kiana tahu ia tidak bisa menyembunyikannya lagi. "Jovian."

Udara di kamar rawat berubah.

Hans tidak bergerak. Ia bahkan tidak menaikkan suara. Tetapi jari-jarinya yang tadi lemah mendadak mengeras di bawah tangan Kiana.

"Kapan?"

"Kemarin siang. Di kafe. Ada CCTV. Aku sudah minta manajer simpan rekamannya."

"Bagus."

Hanya satu kata.

Tetapi Kiana mengenal perbedaan di balik pendeknya suara itu. Ini bukan bagus karena ia puas. Ini bagus karena bukti sudah ada dan sesuatu di dalam dirinya sedang menghitung balasan.

"Kamu tidak boleh urus apa pun sekarang," kata Kiana cepat. "Kamu pasien."

"Saya masih bisa menelepon."

"Hans."

Ia menatapnya dengan mata yang untuk pertama kalinya benar-benar memohon.

Hans akhirnya menarik napas pelan. "Baik. Hari ini saya pasien."

"Bukan cuma hari ini."

"Kita negosiasi nanti."

Kiana hampir marah, tetapi ia melihat wajahnya memucat lagi setelah perawat selesai. Jadi ia hanya menarik selimut lebih rapi di sisi tubuh Hans.

Menjelang siang, kabar kebakaran sudah mulai beredar di lingkaran bisnis. Navara Tech disebut dalam pesan-pesan WhatsApp, beberapa rekan mengirim pertanyaan, Vani menulis bahwa ia sedang mengurus akses CCTV gedung dan laporan awal ke pihak berwajib.

Kiana belum sempat menjawab semuanya ketika pintu kamar rawat diketuk.

Ia mengira itu perawat.

Yang masuk justru Jovian Loe.

Di belakangnya, Vanya Pai berdiri dengan wajah cemas yang terlalu rapi untuk orang yang benar-benar khawatir. Jovian membawa buket bunga putih. Vanya membawa kotak buah premium dengan pita besar.

Kiana berdiri seketika.

"Keluar."

Jovian berhenti di ambang pintu. Tatapannya jatuh ke wajah Kiana, lalu ke ranjang tempat Hans berbaring.

Wajahnya mengeras.

"Kiana, aku dengar kamu kena kebakaran. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

"Kamu sudah lihat. Aku hidup. Keluar."

Vanya maju setengah langkah. "Kiana, jangan begitu. Kami benar-benar khawatir. Apalagi setelah kemarin... suasana di kafe kan cuma salah paham."

Kiana tertawa pendek. Tidak keras, tetapi cukup membuat Vanya berhenti.

"Salah paham yang meninggalkan bekas tangan di pipiku?"

Jovian menggenggam batang buket terlalu kuat. "Aku sudah bilang, aku tidak bermaksud."

Di ranjang, Hans membuka mata.

Ia tidak bangun. Tubuhnya tidak memungkinkan. Namun tatapannya cukup membuat Jovian menoleh.

"Pak Jovian," kata Hans datar, "kalau tidak bermaksud, tangan Anda seharusnya tidak mendarat."

Jovian menatapnya dari ujung kepala sampai tubuh yang dibalut perban. Ada sesuatu yang pahit dan panas di matanya. Cemburu, terlambat, dan tidak punya hak.

"Ini urusan aku dan Kiana."

"Bukan lagi."

Suara Hans tetap pelan.

"Dia istri saya."

Wajah Jovian berubah gelap.

Sebelum ia sempat menjawab, suara lain terdengar dari koridor.

"Istri siapa yang kamu bicarakan, Jovian?"

Kiana menoleh.

Mama Lily berdiri di depan pintu.

Wanita itu datang dengan rambut disanggul rapi, tas tangan masih tergantung di lengan, dan wajah yang biasanya lembut kini setajam kaca. Bi Lan berdiri di belakangnya dengan mata merah, membawa tas berisi pakaian dan perlengkapan Kiana.

"Mama..."

Lily tidak langsung menghampiri Kiana. Matanya berhenti pada bekas merah di pipi putrinya, lalu pindah ke Jovian.

Satu detik.

Dua detik.

"Jadi benar," ucap Lily pelan. "Kamu memukul anak saya."

Jovian kehilangan warna di wajahnya. "Bu Lim, saya bisa jelaskan."

"Jelaskan apa?" Lily melangkah masuk. Tidak cepat, tetapi setiap langkah membuat udara kamar makin sempit. "Bahwa tanganmu terpeleset? Bahwa anak saya membuatmu marah? Bahwa laki-laki dewasa dari Keluarga Loe tidak diajari menahan diri?"

Vanya mencoba menyela dengan suara lembut. "Bu Lily, Kak Jovian kemarin cuma terlalu panik karena Kiana menuduh saya macam-macam..."

Lily menoleh.

Vanya langsung diam.

"Saya tidak bertanya padamu."

Kalimat itu bersih. Tidak berteriak. Justru karena itu, Vanya tampak kehilangan pijakan.

Lily kembali menatap Jovian.

"Kamu punya wajah datang ke kamar rawat anak saya setelah menamparnya, membawa bunga seolah itu bisa menghapus bekas tanganmu?"

"Saya sungguh khawatir."

"Kekhawatiranmu datang terlambat."

Jovian menelan ludah. "Bu Lim, hubungan saya dan Kiana sudah lama. Saya cuma..."

"Sudah lama berakhir," potong Lily. "Kamu yang memilih orang lain. Kamu yang mempermalukan anak saya. Dan sekarang kamu yang memukulnya. Mulai hari ini, orang dari Keluarga Loe tidak boleh mendekati anak saya setengah langkah tanpa izin saya atau kuasa hukum kami."

Kiana menatap Mama dengan dada sesak.

Selama ini, Mama sering lembut. Sering memilih menenangkan suasana. Namun hari ini Lily Lim berdiri seperti dinding di depan putrinya.

Jovian membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Lily menunjuk pintu.

"Pergi."

Vanya memucat. "Bu Lily, kami cuma..."

"Kamu juga."

"Tapi saya bukan keluarga Loe."

"Kamu datang bersama dia. Maka keluar bersama dia."

Tidak ada ruang untuk drama. Tidak ada kesempatan untuk air mata palsu. Vanya menggigit bibir, menunduk seolah terluka, tetapi tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang membelanya.

Jovian menatap Kiana sekali lagi. Tatapannya kacau, seperti baru menyadari pintu yang dulu selalu terbuka untuknya kini benar-benar ditutup.

Kiana tidak menunduk.

Akhirnya Jovian meletakkan buket di meja dekat pintu.

"Bawa kembali," kata Kiana.

Tangannya berhenti.

"Aku tidak menerima bunga dari orang yang memukulku."

Wajah Jovian menegang. Ia mengambil buket itu lagi, lalu keluar bersama Vanya. Pintu tertutup pelan, tetapi rasanya seperti palu yang memutus sesuatu.

Baru setelah itu Lily berbalik.

Kemarahan di wajahnya runtuh menjadi cemas.

"Kia."

Kiana hampir tidak sempat bernapas sebelum Mama memeluknya.

Pelukan itu hati-hati karena Kiana masih lemah, tetapi hangatnya membuat pertahanan Kiana runtuh. Ia menempelkan wajah di bahu Mama. Tenggorokannya sakit, bukan lagi karena asap saja.

"Mama tahu dari Vani," bisik Lily. "Kenapa kamu tidak langsung bilang?"

"Aku tidak mau Mama khawatir."

"Tugas anak bukan menyembunyikan luka supaya ibunya tenang."

Kiana memejamkan mata.

Di ranjang, Hans mencoba menggerakkan tubuh. Gerakan kecil itu langsung membuat wajahnya berubah pucat.

Kiana melepas pelukan Mama. "Jangan bangun."

Tetapi Hans tetap berusaha menopang tubuh dengan siku, cukup untuk menghadapkan diri pada Lily.

"Mama," katanya dengan suara serak tetapi jelas. "Saya Hans Kei. Maaf, saya belum sempat datang memperkenalkan diri dengan benar."

Lily menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia benar-benar melihat laki-laki di ranjang itu. Muda. Pucat. Tampan dengan cara yang tidak banyak bicara. Punggungnya dibalut perban tebal, tetapi ia masih berusaha bersikap sopan kepada ibu dari perempuan yang ia selamatkan.

"Jadi kamu suami Kia."

"Iya, Mama."

Kiana merasakan pipinya panas, kali ini bukan karena bekas tamparan.

Lily berjalan ke sisi ranjang. Suaranya lebih lembut, tetapi berat.

"Anak saya terjebak api. Kamu masuk dan mengeluarkannya. Nyawa itu, saya Lily Lim, ingat."

"Saya hanya melakukan yang harus saya lakukan."

"Tidak semua orang melakukan yang seharusnya."

Kalimat itu membuat kamar hening.

Lily menoleh pada Kiana, lalu menyentuh rambut putrinya.

"Mulai sekarang, Kia tinggal di rumah sakit sampai kamu pulih. Anak Mama, tentu Mama yang rawat."

Kiana belum sempat menjawab.

Hans sudah berkata pelan, "Mama."

Lily menoleh.

Wajah Hans masih pucat. Obat membuat suaranya berat. Namun mata pria itu tenang, tidak menantang, tidak juga mundur.

"Dia istri saya. Tentu saya yang rawat."

Kiana membeku.

Bi Lan di dekat pintu menutup mulut, seolah menahan senyum di tengah mata merah.

Lily diam selama satu detik.

Lalu dua detik.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

Bukan senyum sopan untuk tamu. Bukan senyum sosial keluarga Lim. Itu senyum seorang ibu yang melihat laki-laki di depannya bukan sebagai penyelamat sesaat, tetapi sebagai seseorang yang berani berdiri di sisi anaknya bahkan saat tubuhnya sendiri terluka.

"Kamu bahkan belum bisa duduk sendiri," kata Lily.

"Saya bisa mengatur dari ranjang."

"Keras kepala."

"Sedikit."

Kiana menatap Hans, lalu Mama. Untuk pertama kalinya sejak kebakaran, dadanya terasa tidak hanya sesak. Ada rasa hangat yang pelan-pelan tumbuh di antara ketakutan.

Lily menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang.

"Baik," katanya. "Kita rawat bersama. Tapi kalau kamu menyuruh Kia begadang semalaman, saya yang marahi kamu."

Hans menunduk sedikit. "Siap, Mama."

Kata itu membuat Lily tersenyum lagi.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Saat Bi Lan mengeluarkan formulir administrasi dari tas, satu berkas kecil jatuh ke meja. Di bagian atas, nama pasien tertulis jelas.

Hans Kei.

Mata Lily berhenti pada nama belakang itu.

Kei.

Jari Lily yang sedang memegang tas mengencang tipis. Perubahannya sangat kecil, hampir tidak terlihat. Tetapi Kiana melihatnya.

Mama mengenal nama itu.

Atau setidaknya, nama itu membuatnya mengingat sesuatu.

Kiana menatap Mama, lalu menatap Hans yang sudah kembali memejamkan mata karena obat.

Di kamar rawat yang baru saja terasa hangat, satu pertanyaan baru diam-diam berdiri di antara mereka.

Apa sebenarnya arti nama Kei bagi Mama?

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!