Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANTIAN NGAMBEK
"Suamiku udah pulang, Mbak?" tanya Pevita girang. Tadi dia keluar bersama Dio beli chikuro di depan minimarket sekalian beli jajanan, agak lama. Jadi tak tahu kalau Kala sudah pulang, terlihat motornya sudah terparkir di halaman rumah.
"Ya elah, suami pulang telat sekali aja bingung minta ampun," sindir Bunda sembari menata makan malam di meja makan.
"Bunda sudah terbiasa ditinggal papa tidur rumah sakit sih," ledek Pevita, meletakkan es krim ke kulkas, baru naik ke kamarnya. Begitu pintu terbuka, Kala sudah selesai mandi, dan sedang charge ponsel. Pevita paham kenapa sang suami tidak membalas pesannya sejak tadi.
"Hai, Sayang!" sapa Kala dengan rambut berantakan, Pevita ingin segera memeluk, tapi tunggu kok ada sesuatu yang beda di wajah sang suami.
"Kenapa ini?" tanya Pevita sembari melihat bekas luka di sudut bibir Kala. Si suami hanya nyengir seolah tak terjadi apa-apa. "Jawab!" titah Pevita dengan mendelik.
"Gak pa-pa, Yang!" Kala masih mengelak.
"Oke, gak usah minta jatah selama satu bulan!" Pevita sudah tidak mau ambil pusing. Perkara minum obat dan makan kemarin sudah membuat citra Pevita rusak di depan nenek. Kalau Kala tak mau terbuka, jangan salahkan Pevita buat cut jatah mendesah. Enak aja, dulu janjinya terbuka dalam hal apapun, bisa-bisanya sudut bibir terluka hanya jawab gak pa-pa.
Cowok memang gak mau pasangannya khawatir, tapi percayalah, semakin kalian menyembunyikan suatu masalah, bakal ketahuan juga sama pasangan, dan semakin menyakitkan hati pasangan bila tahu dari orang lain. Perkara nanti dia marah atau apapun, urusan belakangan. Yang penting kalian jujur di awal, dan libatkan pasanganmu dalam masalah sekecil apapun, karena sejatinya kalian akan menemukan solusi bersama. Jangan takut dimarahi atau bertengkar, lebih baik jujur meski menyakitkan.
"Jangan dong, Yang. Please, emang kamu kuat?" masih saja Kala bisa meledek sang istri. Serasa dia punya 9 nyawa, dengan wajah Pevita yang tak ramah.
"Oh, bisa lah! Gampang, aku ajak jalan-jalan temanku healing ke pantai. Bakal lupa urusan begituan," jawab Pevita jutek. Kalau sudah begini, Kala tak bisa mengelak.
Dia menarik tangan Pevita untuk duduk di ranjang. Kala lebih takut pada respon Pevita, daripada menghadapi Andro. Dia sampai menelan ludah kasar ditatap sinis oleh sang istri.
"Aku ditonjok Andro!" aku Kala yang langsung dipelototi Pevita.
"Kok bisa?" Kala pun menceritakan prosesnya mendapat nomor hingga janji temu.
"Awalnya aku mengajak dia buat stop ganggu kamu, baik-baik. Eh dia gak terima, aku ditonjok begitu saja. Luka nih mulut, jadi kalau ciuman nanti pelan-pelan ya," rasanya Pevita pengen jambak rambut sang suami. Situasi serius malah melipir ke ciuman segala, mana terpikir dalam otak Pevita.
"Bisa gak, serius?" omel Pevita sembari menekan kapas pada sudut bibir sang suami. Enak-enak diobati, serius mendengar alasan berakhir pada hal mesum, kesal juga Pevita.
"Awww, aduh, Yang. Perih loh," adu Kala, kalau sudah begini baru terasa perih dan ngilu. Kemarin saat menyetujui janji temu apa gak dipikir sejauh ini.
"Makanya, kalau gak jago berantem gak usah sok nantangin," malah diledek oleh sang istri. Tak tahu saja sekarang, Andro panas dingin di kos, rasanya tulang belikatnya seperti patah.
"Jangan salah, Yang. Andro mungkin sekarang badannya ngilu," ucap Kala bangga. Pevita menghentikan oles obatnya.
"Kok bisa?" tanya Pevita heran.
"Yah lumayan lah, pernah ekskul taekwondo 2 tahun di SMA, tendangan mengunci ada gunanya sekarang," ucap Kala membanggakan skill bela diri yang ia punya dan Pevita tak tahu hal itu.
"Kamu menendang bagian mana?" giliran Pevita kini yang khawatir, bukan pada Andro. Tapi takut Kala yang disalahkan.
"Cuma sini," ujar Kala menunjuk area antara leher dan dada. "Aku berhenti saat dia gak bisa napas kok," jujur Kala semakin membuat Pevita pusing kepala. Ini gimana kalau Andro sampai kenapa-napa, bisa-bisa Kala dikeluarkan dari kampus karena melakukan tindakan kriminal.
"Aduh, aku gak tahu lagi kalau kamu kena masalah sama kampus. Dia anak BEM loh, pasti rekannya banyak, dan bisa aja balas dendam! Ya Allah, Cil. Terlalu nekad kamu ini! Kenapa gak berpikir panjang sih," lagi-lagi Pevita tak tahu jalan pikiran sang suami. Khusus kali ini Kala dianggap ceroboh oleh Pevita. Terlalu mengutamakan emosi dan gengsi.
Omongan Andro tuh gak usah dipedulikan, dia cowok tapi punya skill banyak omong layaknya perempuan yang harus mengeluarkan 2000 kata sehari.
"Kok kamu malah marah sih, Yang. Kan aku bela kamu. Melindungi kamu dari pelecehan Andro. Kalau dia gak distop dari sekarang, dia bakal lanjut dan bisa saja sampai perkosa kamu!" inilah perbedaan pemikiran Kala dan Pevita. Yang satu cari aman, yang satu visioner meski harus kena tonjok.
Kala langsung keluar kamar, giliran dia yang ngambek. Harusnya Pevita bangga sudah dilindungi oleh suami brondongnya, kenapa harus marah? Kala merasa pengorbanannya tak dihargai oleh sang istri. Kala memilih menuju ruang makan untuk segera makan malam.
"Pevita mana?" tanya Tante Lily.
"Masih di kamar," jawab Kala sedikit ketus. Tante Lily menghela nafas pelan, sangat peka pasti anak dan menantunya sedang bertengkar.
"Kali ini apa lagi yang bikin kalian bertengkar? Pengantin baru kok sering berantem sih?" tanya Tante Lily menasehati.
"Hanya salah paham, Te!" jawab Kala terpaksa makan lebih dulu.
"Salah paham kalau dipelihara lama-lama juga bikin ovt, Kal!"
"Iya, nanti aku luruskan pemahamannya dengan Pevita!" ujar Kala ingin mengakhiri obrolan tentang rumah tangganya. Setelah makan, ia bermain PS dengan Dio, tak peduli saat Pevita menuju ruang makan. Malam ini, mereka benar-benar mogok bicara.
Kala berhenti main PS saat ada panggilan video dari sang mama. "Halo, Mas. Kok gak balas chat mama?" tanya beliau, mungkin saat ponsel Kala mati tadi, chat dari mama masuk dan belum sempat dibuka olehnya.
"HP baru nyala, Ma!" jawab Kala singkat.
"Eh tuh muka kenapa? Jangan bilang berantem dengan Pevita?" tebak mama khawatir, namun buru-buru bibir beliau dibungkam, gerak matanya mengarah ke salah satu area. "Ada nenek kamu!" bisik mama.
"Ck, bukan Pevita yang bikin lebam begini. Kalau Pevita mah bikin jontor bibir tapi gak sampai luka," Kala begitu lancar mengumbar urusan intim pada sang mama, tak malu lagi.
"Astaghfirullah, anak mama ya Allah, sudah tahu hal begituan?" mama pikir keduanya hanya tidur di kamar bersama saja, tanpa melakukan cumbuan, karena mungkin tak ada cinta. Tapi mendengar ocehan absurd sang putra, mama yakin keduanya benar-benar memanfaatkan hubungan halal mereka.
"Mas, ingat. Pevita habis ini PKL KKN dan skripsi, jangan sampai kebablasan!" pesan mama yang hanya diacungi jempol oleh Kala.
yuk bisa yuk kita lakban bntar aja
besok jadwal latihan Zumba lo