#bebas promo euy!!!🥳🥳🥳
#yang mampir wajib like..komen dan vote ya..😎
##
(Season 1)
Haniza Tiara Putri..
seorang putri konglomerat yang rela berpenampilan seperti Betty La Fea hanya untuk terbebas dari sikap protektif sang ayah dan kakak laki-laki nya. Mempunyai sifat keras kepala.
Mencoba mencari cinta sejatinya diantara bayang-bayang masa lalunya.
#Aldian Reza Kusuma
seorang pengusaha muda nan sukses. Namun menyimpan seribu duka dihatinya. Mulai dari penghianatan sang kekasih hingga fitnah keji yang mengikuti setiap langkahnya.
Akan kah kali ini takdir menghadirkan cinta tanpa duka untuk Reza?
Sanggupkah dia menggenggam cinta nya walau berbagai rintangan melanda?
ikuti cerita seru Reza-Tiara ya gengs.... 😘
🥳🥳🥳telah hadir season 2 nya juga di karya ini ya zeyeng ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kalung senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cemas
"Ada apa, Za?" Tanya Siska, heran melihat anaknya seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
Karena tidak mendengar jawaban dari anaknya, Siska bertanya kepada Ardi tentang apa yang terjadi. "Reza kenapa, di?"
Ardi yang juga hanyut dalam pikirannya tentang kemungkinan -kemungkinan gadis yang menolong Daffa pagi ini adalah Tiara, juga tidak segera menjawab pernyataan mom Siska. "Ardi!!" Tanya Siska, dan menepuk pundak Ardi.
"Ya, tante!" Jawabnya, langsung setelah kembali ke alam sadar nya.
"Kalian kena...?"Lanjut Siska bertanya.
" Mom, tolong jaga Daffa. Reza dan Ardi harus segera kembali ke kantor!" Seru Reza memotong pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Siska.
Ardi melihat jamnya, dan sudah hampir jam 4.Artinya 1 jam lagi adalah jam pulang kantor. "Ayo, cepat!" Seru Ardi, seakan mengerti jalan pikiran bosnya.
"Za, ada apa?" Tanya Siska panik, melihat Reza dan Ardi buru-buru kembali ke kantor. "Ada masalah dengan perusahaan?" Lanjutnya, dan menahan tangan Reza.
"Perusahaan baik-baik saja mom, tapi.."
"Za, buruan!" Potong Ardi.
"Za, pergi dulu mom. Kabari Za, kalau Daffa kenapa-napa." Kata Reza, melepas tangan mommynya dan bergegas pergi.
Reza dan Ardi pun bergegas berangkat ke kantor.
***
Tiara yang selesai membuat minuman di Pantry segera kembali keruangannya. Dilihatnya, Putra belum kembali ke ruangan itu sejak mereka berpisah dj roof top tadi. "Mungkin mas Putra marah sama aku, dan mencari udara segar di luar." Pikir Tiara, dan langsung membagikan minuman yang dibawanya.
"Nah, ini punya mas Tama, no gula!" Ucapnya,dan memberikan kopi itu ke Tama.
"Nah, ini kopi untuk teman seperjuangan kuh... " Tiara meletakan kopi di meja Zaki.
"Dan terakhir, kopi susu untuk babang gendang kuh!" Seru Tiara, dan meletakan kopi terakhir di meja Alam.
"Dan ini makan siang untuk boneka barbih ku... " Kata Alam, dan mengeluarkan nasi kotak untuk Tiara.
"Wah, ada apa nih? Kok ada nasi kotak?" Tanyanya, sambil menerima kotak nasi yang diberikan oleh Alam.
"Ini bukan dari babang sayang! Ini dari mas Tama. Kata mas Tama hari ini kita makan di ruangan aja mengingat kita semua kita dikejar-kejar deadline design client."
"Oo.. Thanks ya mas!"
"Yo, sami-sami!" Jawab Tama, sambil mengangkat cangkir kopi nya.
"Kalau gitu, yuk kita makan siang dulu." Ajak Alam.
"Tapi mas Putra mana nih?" Tanya Zaki karena tidak melihat Putra.
"Hany, Putra mana?" Tanya Tama.
" Gak tahu, mas. Tadi kita pisah gitu di.." Ucapan Tiara terhenti, ketika Putra masuk ke dalam ruangan.
"Masih marah sepertinya," Gumam Tiara dalam hati,melihat Putra yang masuk ruangan dengan wajah datarnya.
"Put, ini makan siang lo! Lo dari mana sih?" Tanya Alam, dan meletakan kotak makan siang Putra di atas meja Putra.
"Gue tadi ada perlu bentar." Jawabnya datar.
"Yuk, buruan makan. Dah telat banget ni kita makan!" Ajak Tama.
"Elo sih Hany, bikin minuman nya kelamaan."Gerutu Zaki, membuka kotak makan siangnya.
" Maaf-maaf...! Tadi rame banget yang mau buat kopi. Pada stes kali hari ini. Jadi pada pengen minum kopi." Jawab Tiara Asal.
"Buruan! udah hampir jam 1.30 ini, pada belum sholat kan. Ntar sholat diruangan aja gantian." perintah sang kepala suku.
Mereka pun makan siang dengan penuh senda gurau di dalam ruangan itu. Semua nya terlihat bahagia, kecuali Putra. Dia makan dengan wajah datar dan kesal. Dia lah satu-satunya yang mengetahui kalau mulai besok Tiara tidak akan berada di ruangan ini lagi, ataupun di perusahaan ini lagi.
"Aku harap, lain kali bisa makan siang bersama lagi." Gumam Tiara dalam hati dan sesekali tersenyum dan tertawa mendengar celotehan para babangnya ketika makan.
selesai makan, mereka pun sholat bergantian di ruangan itu. Bagi mereka yang sudah selesai sholat, langsung melanjutkan kan membuat design perhiasan pesanan client. Ada banyak sekali pesanan perhiasan yang masuk ke Boa dalam beberapa tahun ini, sehingga divisi design harus sering gerak cepat atau bahkan lembur untuk menyelesaikan semua design itu agar dapat segera di produksi oleh divisi produksi. Seperti halnya hari ini. Semua di ruangan design bekerja tanpa henti hingga mereka tidak sadar hari sudah menunjukan pukul 4.45, artinya 15 menit lagi sudah waktunya pulang kerja.
"Alhamdulillah, design gue udah rampung!" Seru Alam, dan merenggangkan punggung dan pinggangnya yang terasa sudah menyatu itu.
"Gue, tinggal dikit lagi, bang!" Timpal Zaki, masih menggambar di atas mejanya.
"Kalau gue, gue mau lanjut di rumah aja!" Seru Tama, sambil membereskan mejanya.
"Lo gimana, Hany? Dah siap?" Tanya Zaki.
"Udah. Nih liat!" Tiara mengangkat tiga design perhiasan yang baru saja dia buat.
"Wuidiiih... ! Keren rupanya maskot kita ini!" Tama berdecak kagum melihat hasil kerja Tiara. Dia gak tahu aja alasan Hany menyegerakan ketiga design tersebut.
"Mas, bisa tolong antarin design -design ini ke bagian produksi gak besok? Soalnya, aku mau fokus mendesign sesuatu. Jadi aku malas kesana kemari besok!" Rayu Tiara pada Tama.
"Sini! biar ntar sekalian mas antarin dengan design mas! Udah kamu tulis nama client nya, kan?"
"Udah dong, mas!"
"Kalau gitu, yuk. Dah jam 5 nih. Pulang! Ntar macet. " Seru Alam yang sudah siap beres-beres dan menyandang tas ransel nya.
"Cieeeh... bapak Dora udah siap! Mau kemana kita hari ini bapak Dora?" Goda Tama melihat Alam yang menyandang Ransel nya.
" Ke neraka... neraka!!"Timpal Alam Sewot.
"Cieeeh... bapak Dora marah!!!!" Lanjut Tama menggoda Alam.
"Gue tinggal juga lo, mas!" Ancam Alam. Akhirnya kata-kata saktinya keluar.
"Ye ileeeh... mentang gue nebeng ama lo hari ni teddy bear!Main ancam bae..!" seru Tama, berjalan ke arah Alam.
"Semua, kami duluan ya." Seru Tama dan Alam, dan meninggalkan ruangan itu.
"Aku juga duluan ya!" Zaki pun meninggalkan ruangan itu.
Saat ini, hanya tinggal Tiara dan Putra di ruangan itu. Putra masih tidak memperdulikan Tiara.
Tiara yang melihat sikap dingin Putra, menghampiri nya sebelum meninggalkan ruangan. " Mas, aku pulang dulu ya. Hhmmm.. besok mas udah boleh cerita ke teman-teman kalau aku udah keluar dari perusahaan." Ucap Tiara, di depan meja Putra.
Putra sama sekali tidak menghiraukan perkataan Tiara. Tiara yang melihat Putra seperti itu hanya bisa menghela nafas." Aku pamit, mas!" Ujarnya kemudian, dan meninggalkan ruangan itu.
ketika ingin memasuki lift,..
"Apa aku sebaiknya ke HDR dulu ya untuk mengambil surat pemberhentian ku?" Tiara menghentikan langkahnya. Dia ragu, langsung turun ke Loby atau singgah ke HRD dulu. "Hmmm...kayaknya gak usah aja kali ya! Toh aku kan akan magang di perusahaan kak Dimas! Jadi gak perlu surat-suratan untuk masuk! Yang diperlukan itu, tebel-tebelin muka menahan malu kegagalan ini depan kak Dimas dan ayah nanti malam" Tiara menepuk-nepuk dadanya dan melanjutkan langkah menuju lift dan memencet tombol ke loby. "Kuat kan hamba, Y Allah mendengar semua kata sakti kak Dimas nanti malam!"
Pintu lift pegawai terbuka, Tiara keluar dari lift dan langsung menuju parkiran. Sedangkan Reza dan Ardi, baru saja naik ke lantai atas menggunakan lift khusus direktur. Mereka bergegas ke ruangan design. kemacetan jalan karena arus pulang kerja, membuat perjalanan mereka untuk kembali ke kantor menghabiskan waktu satu jam lebih.
Tanpa banyak cerita, Reza dan Ardi mempercepat langkah mereka begitu telah melihat lampu di ruangan divisi masih menyala. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Reza langsung masuk dan diikuti oleh Ardi di belakangnya.
"Shiiit!!!" Umpat Reza kesal, ketika dia tidak melihat Tiara di dalam ruangan itu. Reza sangat kesal karena dia telat kembali ke kantor.
"Ada?" Tanya Ardi di belakang Reza.
"Dia udah pulang!" Jawab Reza. Tidak menyadari bahwa di ruangan itu masih ada satu orang yang menatapnya penuh kekesalan.
"Lo nyari siapa!" Suara berat dari laki-laki itu akhirnya terdengar.
Reza dan Ardi segera melihat ke arah sumber suara. Mereka yang dari tadi fokus mencari Tiara, benar-benar tidak menyadari kehadiran Putra disana.
"Hany, udah pulang?" Ardi yang melihat ketegangan antara kedua sepupu ini, langsung bertanya ke Putra.
"Udah!" Jawabnya singkat.
Reza langsung membalikan badannya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Gue gak nyangka! Lo sangat kekanak-kanakan, Aldian Reza Kusuma. Hanya karena hal Sepele! Lo sanggup batalin magang Hany di sini! Apa lo tadi memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan keterlambatan nya pagi ini?" Putra tersenyum sinis. "Pasti gak, kan!"Lanjut Putra. " Asal lo tau ya, Za! Hany itu terlambat, karena membantu evakuasi anak-anak korban kecelakaan bus tadi pagi." Seru nya kesal. " Dan elo sebagai bos, malah mecat dia hanya karena rapat dadakan yang lo kabari 1 jam sebelumnya. Gue kagum banget dengan jiwa kepemimpinan loe, Aldian Reza Kusuma!!"
Reza yang menyadari kesalahannya, tidak ingin berdebat dengan Putra. Setelah mendengar semua ocehan dan umpatan sepupunya itu, dia pergi begitu saja. Meninggalkan Putra dengan seluruh kekesalannya.
Ardi mengikuti Reza dari belakang."Telepon HRD, tanyakan alamat Hany pada mereka." Perintah Reza.
Ardi segera menelpon orang kepercayaan nya di HRD. Dan tidak lama kemudian, sebuah pesan berisi alamat rumah Tiara pun dikirimkan ke handphone Ardi.
"Gue udan dapat alamat rumah nya. Kita kesana sekarang?" Tanya Ardi pada bos sekaligus sahabat nya itu.
Reza hanya mengangguk dan mempercepat jalannya menuju parkiran.
Mobil yang dikemudikan oleh Ardi itu melaju kencang menuju alamat yang dipercayai adalah alamat rumah Tiara.
Setelah berkemudi hampir 45 menit, akhirnya mobil sport itu berhenti disebuah rumah sederhana dengan halaman rumah yang luas. Namun rumah itu terlihat tertutup dari luar. Bahkan vespa yang selalu dikendarai oleh Tiara, tidak terlihat terparkir di halaman itu.
"Kelihatannya, dia belum pulang, Za!" Seru Ardi, sambil mencari posisi duduk yang paling nyaman. Karena dia tahu, Reza pasti akan menunggu di sini hingga Tiara tiba.
Reza hanya diam dan meminum air mineral yang ada di mobilnya. Tenggorokan nya terasa sangat kering.
"Jadi kita nunggu nih?" Tanya Ardi lagi, walaupun pertanyaan nya tadi belum dijawab oleh Reza.
Reza menurunkan sedikit kursinya dan memejamkan matanya. Pikirannya saat ini sangat ruwet. Bagaimana bisa dia bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Hanya karena dendamnya pada Tiara soal di restoran waktu itu, yang kalau dipikir-pikir lagi, itu semua juga berawal dari dia dan Ardi yang memulai taruhan bodoh itu. Lihat lah akibatnya sekarang! Dia malah memecat orang, yang telah menyelamatkan kan nyawa anak nya!!Reza benar-benar menyesal!
Hari sudah menunjukan pukul 7 malam. Namun tidak ada tanda-tanda kalau ada Tiara telah pulang ke rumah itu malam itu. Keadaan rumah yang gelap gulita karena lampu yang tidak menyala menandakan bahwa pemilik rumah belum pulang.
"Apa dia belum pulang?" Tanya Reza, akhirnya buka suara. Namun masih memejamkan matanya.
"Sepertinya belum!" Jawab Ardi yang mulai mengantuk dan lapar.
"Za, seperti nya tuh anak gak pulang malam ini." Ucap Ardi pelan.
Reza membuka matanya, terlihatlah lampu-lampu di rumah tidak menyala. Tiba-tiba Reza merasa risau! Jangan-jangan tuh anak kenapa-napa di jalan! pikirnya.
"Ardi, suruh orang-orang kita untuk mengecek apakah hari ini ada terjadi kecelakaan seorang wanita muda menggunakan vespa, dan cek juga apakah ada kasus bunuh diri wanita muda hari ini.Gue takut dia kenapa-kenapa setelah gue marahi siang tadi." Perintah Reza, dan mengurut-urut keningnya.
Ardi yang dalam keadaan ngantuk dan lapar, memang tidak terpikir kan kalau akan ada kemungkinan seperti itu. Namun ketika mengingat Reza melemparkan bola karet siang tadi dengan penuh kekesalan, maka tidak menutup kemungkinan gadis itu bisa menjadk down dan melakukan sesuatu yang gila. Segera diperintahkan nya anak buahnya untuk memeriksa rumah sakit, dan kantor polisi sesuai dengan institusi yang diberikan Reza.
Reza mengambil handphone nya dan menelpon mommynya, menanyakan keadaan Daffa.
Setelah mengetahui keadaan Daffa yang sudah boleh pulang, Reza merasa lega dan menutup panggilan itu.
Kembali dipejamkan nya mata sambil menunggu gadis itu pulang.
Ardi yang melihat Reza membaringkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata, langsung dapat memprediksikan kalau mereka akan bermalam di mobil malam ini.
Segera diketikannya pesan ke orang kepercayaannya. Dia meminta dibawakan makan malam untuk dirinya dan sang bos. Serta dia juga meminta beberapa anak buahnya berjaga disekitar mobilnya. Bagaimana pun, keamanan Reza adalah hal yang utama.
***
Ngapain tu babang Reza nyariin Tiara?
dan dimana Tiara?😚😚kok dia gak muncul dirumah yang dikatakan adalah rumah miliknya?
apakah terjadj sesuatu sama Tiara di perjalanan karena tidak fokus mengemudi?
atau jangan-jangan Tiara bunuh diri gaes!! karena tidak sanggup menanggung nasib malang nya?
atau... Jangan-jangan, ini bukan rumah Tiara? Jadi kalau ini rumah Tiara, ini rumah siapa? kenapa bisa terdaftar di data Tiara? atau ini rumah dalam lagunya Ayu ting-ting yang judulnya Alamat palsu🤣
"kemana-kemana... kemanaaaa...?"
"Ku harus mencari kemana..?"
"kekasih tercinta tak tahu rimbanya,"
#eeaaaak.. dangdut dulu...
#Jempol di atas!!!
wkwkwk...
penasaran dengan kelanjutan ceritanya, tungguin up otor lagi yan..
jangan lupa, like, komen dan vote ya..
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣
lsng minta d kelonin