NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Batas yang Mengabur

Hening malam kembali menguasai ruangan kerja setelah kotak bekal plastik itu kosong tak bersisa. Nadia meletakkan sendoknya, lalu menyandarkan tubuh ke sofa dengan helaan napas lega. Ada kepuasan sederhana yang terpancar dari wajahnya, sesuatu yang bahkan tidak bisa ia dapatkan dari jamuan makan malam bisnis paling mewah sekalipun.

"Terima kasih ya, Andra. Masakanmu benar-benar menyelamatkan saya malam ini," ucap Nadia, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen formal yang biasa ia gunakan di luar ruangan ini.

Andra yang sejak tadi duduk kaku di ujung sofa segera mengangguk sopan. Ia buru-buru membereskan kotak bekal tersebut, memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik hitam agar meja kaca itu kembali bersih. "Sama-sama, Bu Nadia. Saya justru senang kalau Ibu menyukainya. Saya sempat takut kalau rasanya terlalu sederhana untuk lidah Ibu."

Nadia terkekeh kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat lepas. "Sederhana itu yang mahal, Andra. Di kota ini, mencari makanan mahal itu mudah, tapi mencari makanan yang dimasak dengan ketulusan seperti ini... itu yang sulit."

Nadia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua sikunya di atas lutut sambil menatap hamparan lampu kota Jakarta di balik dinding kaca yang besar. Hujan di luar telah mereda, menyisakan kerlap-kerlip lampu jalanan yang memantul di atas aspal basah Sudirman. Pemandangan dari lantai 17 ini selalu terlihat megah, namun malam ini, kemegahan itu terasa tidak lagi seangkuh biasanya bagi Nadia. Kehadiran pemuda desa di sampingnya entah bagaimana memberikan jangkar kedamaian yang baru.

"Andra," panggil Nadia tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada bentang kota di luar.

"Nggih, Bu?"

"Jangan panggil saya 'Bu Nadia' jika kita sedang berdua saja seperti ini. Panggil saja Mbak Nadia," ujar wanita itu pelan.

Andra tersentak kecil di tempat duduknya. Jantungnya melewatkan satu ketukan. "Tapi... itu kurang sopan, Bu. Di kantor, Ibu adalah pimpinan saya. Mas Joko juga berpesan agar saya selalu menjaga tata krama."

Nadia memutar kepalanya, menatap Andra dengan seulas senyum tipis yang sarat akan makna. "Ini sudah lewat jam kantor, Andra. Di ruangan ini sekarang hanya ada saya dan kamu. Tidak ada Managing Director, tidak ada staf administrasi. Hanya ada dua orang yang kebetulan terdampar sampai larut malam di gedung ini. Apa memanggil 'Mbak' terasa begitu berat untukmu?"

Andra menatap mata Nadia yang jernih di bawah pendar lampu ruangan yang temaram. Ada kilau permohonan yang halus di balik sepasang mata indah itu, sebuah keinginan untuk melepaskan beban status sosial yang menjepitnya setiap hari. Andra menelan ludahnya pelan, tenggorokannya mendadak terasa kering.

"Baik... Mbak Nadia," ucap Andra lirih. Menyebut kata itu terasa seperti melompati sebuah garis batas tak kasat mata yang selama ini ia patuhi dengan ketat.

Senyuman di wajah Nadia semakin melebar mendengarnya. Ia merasa dihargai bukan karena jabatannya, melainkan karena dirinya sebagai seorang wanita. Kedekatan yang tercipta di antara mereka di atas sofa kulit itu perlahan-lahan mulai mengubah atmosfer ruangan. Udara malam yang dingin karena pendingin ruangan seolah memadat, menyisakan kehangatan yang canggung namun mendebarkan di antara posisi duduk mereka yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

Nadia bergeser sedikit, berniat mengambil ponselnya yang tergeletak di ujung meja kaca. Namun, gerakan yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan karena rasa lelah yang teramat sangat setelah terjaga seharian. Tubuhnya condong ke arah Andra.

Refleks Andra kembali bergerak cepat. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menahan bahu Nadia agar tidak terantuk tepi meja. Namun, karena jarak yang sudah sangat dekat, tindakan itu justru membuat tubuh Nadia bersandar sepenuhnya di dada bidang Andra.

Kedua tangan Andra kini mendekap bahu Nadia yang halus, sementara wajah Nadia berada tepat beberapa sentimeter di bawah dagu Andra. Waktu seolah berhenti berputar di dalam ruangan lantai 17 itu. Andra bisa merasakan dengan sangat jelas detak jantung Nadia yang berpacu cepat, beradu dengan debaran dadanya sendiri yang bergemuruh kencang bagai tabuh jendral. Keharuman melati yang intens dari rambut Nadia mengunci seluruh indra penciumannya, meruntuhkan fokus pikiran yang sejak tadi ia pertahankan mati-matian.

Nadia tidak menolak dekapan itu. Ia justru mendongakkan kepalanya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Andra yang teduh namun kini dipenuhi oleh gejolak ketidakpastian. Jarak di antara wajah mereka begitu tipis, hingga embusan napas hangat Andra yang teratur terasa menyapu permukaan kulit wajah Nadia.

Di bawah temaramnya malam Jakarta, pesona matang dan kerapuhan Nadia sebagai wanita yang kesepian memancarkan daya pikat yang teramat kuat. Sementara bagi Nadia, ketampanan maskulin Andra yang bersih, rahangnya yang kokoh, dan aroma tubuhnya yang jantan adalah oase kehangatan yang selama ini ia rindukan di dalam sangkar emasnya yang dingin.

Batas profesional yang mereka bangun dengan sekrup-sekrup aturan korporat kini telah mengabur sepenuhnya. Di tengah sunyinya gedung Apex Media, godaan itu tidak lagi mengetuk pintu, melainkan telah melangkah masuk dan meruntuhkan dinding pertahanan moral yang Andra jaga demi keluarganya di desa.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!