Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nisa Hamil
Raka tidak menunggu sedetik pun. Wajah Nisa yang pucat pasi membuat dadanya sesak.
“Nis, tahan ya sayang... kita ke rumah sakit sekarang!” suaranya bergetar. Tanpa pikir panjang, Raka langsung menyambar tubuh Nisa, menggendongnya ala _bridal style_. Langkahnya lebar-lebar menerobos pasir menuju mobil.
Bu Sri ikut lari kecil di belakang, sendalnya hampir lepas. “Ya Allah, Nisa... Nak, hati-hati!”
Raya mematung sepersekian detik, lalu tersadar. “Galang, Gilang, sama nenek dulu ya!” teriaknya sambil nyusul Raka. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil belakang.
“Bu, tolong buka pintunya!” Raka setengah membentak karena panik.
Bu Sri buru-buru buka pintu. Raka pelan-pelan merebahkan Nisa di jok tengah, Raya segera masuk kedalam. memangku kepala Nisa di pahanya.Nafas Nisa lemah, pelipisnya basah oleh keringat dingin.
“Mas, kamu bisa nyetir kan?” Raya menatap Raka yang tangannya ikut gemetar.
“Bisa. Pegangin Nisa yang bener, Ray.” Raka banting pintu, lari ke kursi sopir. Mesin langsung meraung. Ban mobil menghamburkan pasir waktu Raka putar balik dengan kasar.
Di pantai, Satria menurunkan Gilang dari gendongannya. Dia menatap mobil Raka yang makin menjauh, lalu menoleh ke Bu Sri yang masih berdiri mematung dengan muka syok.
“Bu, saya antar Ibu sama anak-anak pulang Bagaimana?” Suara Satria pelan, tapi tegas. “Kasihan kalau menunggu di sini. Biar mereka fokus ke Mbak Nisa.”
Bu Sri mengangguk lemas. “Iya, Nak,, tolong ya. Ibu juga bingung harus bagaimana sekarang. "
Gilang menarik narik baju Satria, bibirnya manyun. “Bude Nisa kenapa, Om? Bude sakit ya?”
Galang langsung rangkul adiknya. Tangannya ikut dingin. “Bude pingsan, Dek. Kita doa ya biar Bude cepet sembuh.”
Satria jongkok, mengusap kepala dua bocah itu. “Bude pasti sembuh. Sekarang kita beresin barang-barang dulu, terus pulang. Om janji akan menemani kalian."
Raya di dalam mobil tidak berhenti komat-kamit doa. Satu tangan memegang kepala Nisa, satu lagi genggam tangan Nisa yang dingin.
“Mas, ngebut dikit lagi...” bisiknya. Air matanya sudah menetes tanpa sadar.
Raka tidak jawab. Rahangnya keras, matanya fokus ke jalan tapi merah. Dia injak gas lebih dalam, klakson mobil sampe putus-putus minta jalan.
“Mbak, kamu jangan kenapa-kenapa.kita baru mau mulai hidup tenang, Mbak...” Raya berbisik di telinga Nisa, suaranya pecah.
Sepuluh menit yang rasanya seperti setahun, mereka sampai di IGD RSUD terdekat. Raka langsung loncat, teriak, “Dok! Suster! Istri saya pingsan!”
Brankar langsung didorong keluar. Nisa dipindahkan dengan cepat. Raka dan Raya mengikuti sampai pintu IGD, sebelum dicegat suster.
“Keluarga tunggu di luar dulu ya, Pak, Bu. Biar kami periksa dulu.”
Pintu IGD ditutup. Tinggal Raka dan Raya di depan, dengan napas ngos-ngosan, keringat dingin, dan ketakutan yang sama.
Raka duduk lemas di kursi tunggu, kepalanya ditundukkan di antara kedua tangan. Raya berdiri mematung, matanya tidak lepas dari pintu IGD.
“Mas... Mbak Nisa akan baik-baik aja kan?” Suara Raya lirih.
Raka menarik napas panjang, lalu menarik Raya ke pelukannya. “Harus, Ray... Dia harus baik-baik aja.”
Satria sudah selesai memasukkan barang barang, ke bagasi mobilnya. Pajero hitam.
“Sudah masuk semua kan? ayo kita jalan.” Satria buka pintu buat Bu Sri, Galang, dan Gilang.
Bu Sri naik sambil mengendong tas, matanya sembab. “Makasih ya, Nak. Maaf jadi merepotkan”
“tidak apa-apa, Bu. sudah seperti keluarga sendiri.” Satria senyum tipis, melirik ke arah Galang dan Gilang.
Di dalam mobil, Gilang diem. tidak ada lagi nyanyian _Balonku Ada Lima_. Galang memeluk bolanya erat-erat, matanya berkaca-kaca melihat jalan.
Satria melirik dari kaca spion. “Galang, Gilang... mau Om puterin lagu?”
Gilang geleng. “Gilang mau Bude Nisa...”
Kalimat polos itu bikin dada Satria sesak. Juga dada Bu Sri.
Mobil melaju pelan meninggalkan pantai. Tawa yang tadi pecah di bibir pantai, sekarang diganti sama hening yang berat.
Sementara di RS, lampu IGD masih merah menyala. Raka genggam tangan Raya erat. Menunggu kabar, dengan doa yang tidak putus-putus.
Pintu IGD kebuka. Seorang dokter perempuan paruh baya keluar, melepas maskernya. Stetoskop masih menggantung di leher.
Raka langsung berdiri, Raya ikut. Jantung mereka seperti mau copot.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Suara Raka serak. Tangannya dingin.
Dokter itu tersenyum tipis, menenangkan. “Pak Bu. Alhamdulillah, pasien sudah sadar. Kondisinya stabil sekarang.”
Raya langsung lemas, memegang lengan Raka. “Alhamdulillah ya Allah...”
“Tapi,” Dokter jeda, menatap keduanya. “Saya perlu memberitahu sesuatu. Pasien sedang hamil. Usia kandungannya sekitar delapan minggu.”
“Hamil?” Raka dan Raya bicara hampir bersamaan. Mata mereka melebar, kaget.
Raya menutup mulutnya, tidak percaya. “Hamil, Dokter? Mbak Nisa hamil?”
Dokter ngangguk. “Iya. Itu yang membuat pasien mual, pusing, lemas. Cuma...” Ekspresinya berubah jadi serius. “Kondisi kandungannya lemah, Bu, Pak. Ibunya kecapean, dehidrasi, plus tekanan darahnya rendah. Tadi sempat flek sedikit. Jadi harus bedrest total dulu. tidak boleh stres, tidak boleh capek.”
Raka seperti disambar petir. Campur aduk. Kaget, syok, tapi ada hangat yang menyebar di dada. Hamil. Nisa hamil. Anak mereka.
Tangannya gemetar memegang kepala. “Anak saya.” suaranya hampir tidak terdengar,, Raka masih belum percaya.
Raya menangis. Tapi menangis bahagia. “Ya Allah, Mas. Mbak Nisa hamil. Aku akan punya ponakan.” Dia tersenyum di tengah air mata.
“Karena tidak ada yang tahu pasien hamil, jadi tidak ada yang jaga pola makan sama aktivitasnya,” jelas Dokter. “Mulai sekarang harus ekstra hati-hati. Saya alan berikan obat penguat kandungan sama vitamin. Kontrol seminggu lagi ya. Yang penting jangan sampe kecapean atau berpikir berat.”
Raka ngangguk-ngangguk cepat. “Iya, Dok. Pasti. Saya jaga, Dok. Saya nggak bakal biarin Nisa kecapean lagi.”
“Apa kami bisa bertemu sekarang, Dok?” Raya sudah tidak sabar.
“Boleh, tapi jangan lama-lama. Pasien butuh istirahat. Jangan dikasih kabar yang buat kaget dulu. Biar tenang.”
Mereka berdua masuk. infus dipasang di tangan kanannya. Wajahnya masih pucat, tapi sudah ada rona merah sedikit. Begitu melihat Raka dan Raya, Dia baru tersenyum.
“Sayang.” Raka langsung duduk di pinggir ranjang, menggenggam tangan Nisa hati-hati.
“Kamu membuat Mas takut, sayang ” bisiknya, Raka mengelus kening Nisa.
" Maaf ya mas, Raya. Aku buat kalian cemas." Nisa merasa bersalah, karena telah merusak kesenangan semuanya.
Raya langsung mengeleng cepet, menangis lagi. “Sama sekali tidak Mbak. Yang penting Mbak sehat.” Dia melirik Raka, kode. Raka ngangguk kecil.
“Mbak,” Raya menggenggam tangan Nisa yang sebelah kiri. “Dokter bilang, Mbak itu kecapean. Mbak harus banyak istirahat ya. tidak boleh mikir macem-macem.”
Nisa mengerutkan keningnya. “Memangnya Mbak sakit apa, Ray?”
Raka menarik napas. Senyumnya lebar, matanya berkaca-kaca. Dia mengelus kening Nisa.
“Sayang.kamu tidak sakit.kita akan punya anak, Nis.”
Nisa terdiam. Napasnya tertahan. “Hah?”
“Hamil, Mbak!” Raya sudah tidak bisa menahan. Dia peluk Nisa pelan-pelan. “Mbak hamil delapan minggu kata Dokter, Mbak akan jadi ibu."
Mata Nisa langsung berkaca-kaca. Tangannya refleks ke perutnya yang masih rata. “Aku. hamil? Mas, aku hamil?”
“Iya, sayang. Anak kita.” Raka mencium tangan Nisa berkali-kali, suaranya bergetar menahan tangis bahagia. “Maafin Mas nggak peka. Mas tidak tahu kamu sedang berjuang membawa anak kita sendirian.”
Air mata Nisa jatuh. Tapi dia senyum. Senyum paling lega dan bahagia setelah semua badai kemarin. “Ya Allah. pantas saja aku mual terus. aku kira cuma masuk angin...”
Ruangan itu mendadak hangat. Kabar yang tidak disangka-sangka, di tengah kepanikan, jadi hadiah paling indah.
Raya tertawa sambil menangis. “Sudah, Mbak sekarang fokus istirahat. Pokoknya Mbak tidak boleh kenapa-kenapa. Biar Mas Raka yang urus semuanya.”
“Iya,” Raka ngangguk tegas. “Mulai detik ini, tugas kamu cuma makan, tidur, sama senyum buat Mas sama dedek. Ngerti?”
Nisa tertawa kecil, ngangguk lemah. Tangannya tidak lepas dari perut. Dua puluh tahun penantian akhirnya berbuah manis juga. Allah maha adil.
HP Raka berbunyi ,Bu Sri menelpon berkali-kali .
Raka mengangkat telpon.
" Halo Bu,"
" Raka, bagaimana keadaan Nisa? apa dia baik baik saja? " Suara Bu Sri.
" Alhamdulillah Bu, Nisa baik baik saja. Ibu sekarang ada dimana?"
Raka sampai lupa dengan yang lainnya karena tadi panik melihat Nisa yang tiba tiba pingsan.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Ibu sama Galang dan Gilang sudah ada dirumah. Tadi teman Raya yang antar."
Raka lirik ke Nisa yang lagi dielus-elus kepalanya sama Raya. Senyumnya tidak bisa hilang.
" Bu. Nisa hamil. Ibu akan punya cucu lagi."
Hening. lalu dari seberang terdengar suara Bu Sri kenceng, “HAH?! HAMIL?! Ya Allah Alhamdulillah...” disusul suara Gilang teriak, “HOREEE BUDE PUNYA DEDE BAYI!”
Raka tertawa. Pertama kalinya hari ini. Lega. Bahagia.
Badai sepertinya sudah bener-bener lewat. Sekarang tinggal pelangi sama penantian kecil yang bikin semua jadi lebih berarti.
Raka mematikan sambungan telpon sambil tersenyum, memasukan kembali HPnya kedalam saku celana.
" Dimana ibu sama anak-anak Mas? " Tanya Raya yang tadi sedikit lupa dengan anak anaknya.
" Mereka sudah pulang dek, diantar teman kamu." Jawab Raka yang kembali memegang tangan Nisa.
Raya merasa lega.
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN