NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan Cemburu di Keramaian

Lampu remang studio perlahan berganti dengan terangnya cahaya lobi bioskop saat film berakhir. Isaac masih setia merangkul pinggang Luna, memastikan istrinya itu berjalan dengan stabil di atas karpet tebal yang kadang membuat langkah kaki terasa lebih berat. Di pundak Luna, jaket bomber Isaac masih tersampir rapi, sementara Isaac sendiri tampak gagah meski hanya mengenakan kaos lengan pendek yang memperlihatkan lekuk otot lengannya yang kokoh. Mereka berjalan menuju pintu keluar, berniat segera turun ke lantai bawah untuk mencari perlengkapan bayi. Namun, tepat di persimpangan antara lorong keluar dan masuk, kerumunan orang mulai memadat karena ada film blockbuster lain yang akan segera dimulai.

Dari arah berlawanan, dua wanita dengan riasan wajah yang cukup mencolok dan pakaian yang mengikuti tren terkini sedang berjalan terburu-buru. Salah satu dari mereka, yang mengenakan gaun mini ketat, tampak sengaja tidak mengurangi kecepatannya. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, wanita itu sedikit memiringkan bahunya dan...

Dug!

Bahu wanita itu bersentuhan cukup keras dengan lengan Isaac. Isaac, yang refleks protektif, segera menarik Luna lebih dekat ke arahnya agar tidak ikut terhimpit. Sebagai seorang pria yang menjunjung kesopanan, Isaac langsung menoleh sekilas. "Maaf, saya tidak sengaja," ujar Isaac singkat dengan nada datar dan dingin yang profesional. Baginya, itu hanyalah kecelakaan kecil di tengah keramaian.

Namun, wanita itu justru tidak segera berlalu. Ia berhenti, memutar tubuhnya, dan menatap Isaac dengan tatapan yang sangat berani—seolah-olah sedang memindai setiap inci wajah dan tubuh atletis Isaac. "Oh, tidak apa-apa. Wangi sekali ya parfumnya, sampai saya jadi sedikit pening," sahut wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil menyunggingkan senyum menggoda. Ia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Luna yang berdiri tepat di samping Isaac dengan perut yang jelas-jelas menonjol dan tangan yang melingkar di lengan suaminya. Wanita itu berperilaku layaknya predator yang baru saja menemukan mangsa menarik di tengah mall.

Isaac hanya mengangguk singkat sebagai tanda sopan santun terakhir, lalu kembali menuntun Luna berjalan tanpa menoleh lagi. Di pikiran Isaac, masalah itu sudah selesai. Namun, di pikiran Luna, badai kecil baru saja dimulai. "Ih, gila! Ganteng banget!" bisik wanita tadi kepada temannya begitu mereka sudah berjarak beberapa meter. "Badannya... gila, tegap banget. Kaosnya sampai ketat di bagian dada. Wanginya juga maskulin banget, beda sama parfum pasaran."

"Iya! Sayang banget sudah bawa 'buntelan' di sampingnya," sahut temannya sembari terkikik sinis. "Tapi kalau modelan begitu sih, digoda sedikit juga pasti goyah." Luna mendengar tawa kecil mereka di kejauhan, dan hatinya terasa panas. Ia mendadak merasa sangat kesal. Rasa tidak percaya diri yang sempat ditenangkan Isaac tadi pagi di meja rias kini kembali muncul ke permukaan, dipicu oleh keberanian wanita "predator" tadi.

Mereka menaiki eskalator menuju lantai perlengkapan bayi. Isaac mulai berbicara dengan antusias. "Sayang, kita cari stroller yang tipe ganda dulu atau langsung cari bak mandi bayi yang ada pengatur suhunya? Aku lihat di brosur tadi, ada merk dari Jerman yang sangat bagus untuk keamanan bayi kembar." Luna tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah depan dengan bibir yang terkatup rapat.

"Luna? Kau lebih suka warna abu-abu atau biru tua untuk tas perlengkapan bayinya nanti?" tanya Isaac lagi, kali ini ia menoleh dan mendapati istrinya hanya diam seribu bahasa. Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi yang sangat besar. Isaac menyadari ada yang salah. Atmosfer di antara mereka berubah menjadi dingin, lebih dingin daripada AC mall. Ia segera menghentikan jalannya, memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan di tengah koridor yang agak sepi di samping toko.

Isaac menangkup wajah Luna dengan kedua telapak tangannya. Sentuhannya sangat lembut, jemarinya mengusap pipi Luna yang terasa sedikit dingin. Ia menatap dalam ke mata istrinya, mencari tahu apa yang sedang berkecamuk di sana. "Ada apa, Luna? Kenapa diam saja sedari tadi?" tanya Isaac dengan nada suara yang penuh kekhawatiran. "Apa kau menyembunyikan rasa pegalmu lagi? Atau kakimu lemas? Katakan padaku, apa kau ingin duduk dulu?"

Luna masih diam, ia mencoba membuang muka namun tangan Isaac menahannya dengan lembut agar tetap menatapnya. "Atau kau lapar? Ingin minum sesuatu yang manis lagi? Atau... apa ada omonganmu yang tidak kudengar saat berjalan tadi? Maafkan aku jika aku kurang fokus, Luna. Katakan padaku, mana yang sakit?" cecar Isaac, suaranya naik satu tingkat karena rasa panik mulai merayapinya. Ia takut Luna sedang menahan sakit fisik yang hebat demi menyenangkan hatinya.

Luna menghirup napas panjang, ia melepaskan tangan Isaac dari wajahnya namun tetap menggenggam jemari suaminya itu dengan erat. "Aku tidak sakit secara fisik, Mas." "Lalu? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" "Aku kesal!" sembur Luna akhirnya, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga. "Wanita tadi... dia sengaja menyenggolmu, Mas! Dan kau malah meminta maaf seolah-olah kau yang salah. Dia menatapmu seperti ingin memakanmu hidup-hidup, dan temannya mengejekku! Aku benci melihat bagaimana mereka menatap milikku seolah-olah aku tidak ada di sana!"

Isaac tertegun sejenak. Ia mengerjapkan matanya, mencoba memproses informasi yang baru saja ia terima. Jadi, semua kebuntuan komunikasi ini bukan karena kesehatan Luna, melainkan karena kecemburuan? "Wanita yang mana? Yang di bioskop tadi?" tanya Isaac polos. "Tentu saja! Siapa lagi? Yang menyenggol lenganmu dan memuji wangimu dengan suara menjijikkan itu," Luna mendengus, ia membuang muka ke arah deretan baju bayi di etalase toko. "Ternyata benar kata orang, meskipun aku dandan atau tidak, wanita-wanita di luar sana tidak akan peduli jika mereka melihat pria sepertimu."

Isaac terdiam sebentar, lalu sebuah senyum tipis mulai terukir di wajahnya. Bukannya marah karena dituduh, ia justru merasa hatinya menghangat. Ia menarik Luna ke dalam pelukannya di pinggir koridor itu, tidak peduli jika ada orang lewat yang memperhatikan. "Jadi... istriku yang cantik ini sedang cemburu?" bisik Isaac tepat di telinga Luna.

"Aku tidak bercanda, Mas Isaac!" "Aku juga tidak bercanda saat mengatakan bahwa aku tidak mengingat wajah wanita itu sama sekali, Luna," ujar Isaac sembari melonggarkan pelukannya agar bisa menatap mata Luna kembali. "Demi Tuhan, aku bahkan tidak sadar dia menatapku seperti apa. Pikiranku tadi hanya satu: memastikan kau tidak tersenggol dan tidak jatuh di tengah keramaian itu. Bagiku, dia hanyalah hambatan di jalan, tidak lebih dari tiang mall."

Isaac mengecup kening Luna dengan lembut. "Jangan biarkan orang asing merusak sore kita. Aku tidak peduli mereka memuji wangiku atau tubuhku. Wangi ini hanya untuk kau hirup, dan tubuh ini hanya untuk menjagamu dan si kembar. Mengerti?" Luna menatap mata Isaac, mencari kejujuran di sana, dan ia menemukannya. Kejujuran yang begitu murni sehingga rasa panas di hatinya perlahan mulai mereda, berganti dengan rasa malu karena sudah bersikap kekanak-kanakan.

"Maaf... aku hanya merasa sangat tidak berdaya dengan perut besar ini," bisik Luna pelan. "Perut besar ini adalah kebanggaanku, Luna. Jangan pernah merasa kecil karena itu," tegas Isaac. "Sekarang, ayo masuk ke toko itu. Kita beli barang paling mahal dan paling bagus untuk bayi kita, agar wanita-wanita tadi tahu bahwa pria yang mereka puji ini sedang sangat sibuk menjadi seorang ayah yang bahagia."

Luna akhirnya tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Isaac. Rasa kesal itu menguap, digantikan oleh semangat baru. Mereka melangkah masuk ke dalam toko perlengkapan bayi dengan tangan yang saling bertautan erat, siap untuk memulai perburuan pertama mereka bagi sang buah hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!