"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6
Di atas kasur busa tanpa dipan, Rea bergelung dalam gelisah. Berkali-kali tubuhnya hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Sesekali matanya menatap kartu yang ia pegang sejak tadi.
Victoria cafe. Tulisan yang tertera dalam kertas itu. Tadi pagi, sang artis memberikannya sebagai tempat untuk bertemu. Namun, Rea tak datang.
Sekarang sudah jam sepuluh, dua jam lewat dari waktu yang dijanjikan untuk ia menemui artis itu. Ia tak tahu apa tujuan artis itu minta untuk bertemu, tapi yang pasti ia tak mau mengambil resiko. Dari beberapa kasus yang terjadi di lingkungan kerjanya, ada tamu hotel yang memang iseng mengajak bertemu, ujung-ujungnya ngajak check in juga. Rea butuh uang, tapi tak mau juga kalau sampai harus jual badan.Ia masih akan sabar menunggu berita pekerjaan part time yang Hana janjikan.
Lagi pula, banyak artis yang terlibat skandal. Sebelumnya ia sudah mencari informasi tentang artis ini—Dewangga Rahardian—di internet, ternyata memang sedang tersandung masalah. Itu menambah alasan untuk Rea harus menjaga jarak dengan sang artis.
Meski sudah memutuskan demikian, entah kenapa terbetik rasa bersalah dalam hatinya. Bagaimana jika pria itu benar-benar menunggunya.
"Ah, aku kan nggak janji apa pun. Lagi pula mana mungkin dia nunggu aku. Memang aku ini siapa?" gumam Rea pada dirinya sendiri.
"Mending tidur, besok kan harus kerja." Rea meletakkan kartu yang sejak tadi ia pegang lalu berusaha untuk memejamkan mata.
*
Di cafe, Dewa sudah bosan menunggu pegawai hotel itu. Baru kali ini ia dibuat menunggu dua jam hanya untuk seorang pegawai hotel. Ia bahkan sudah berbohong pada Luky saat pria itu mengajaknya pergi clubing tadi. Tapi pada akhirnya, ia menyusul managernya itu juga.
"Dari mana lo?"
" Cari angin segar," jawab Dewa asal.
"Cari angin apa cari cewek?"
Dewa diam. Ia justru memesan minuman.
"Wa, please jangan main di pinggir jurang. Kalau jatuh, gue nggak bisa nolong lo. Kali ini aja, kita cari aman dulu sampai semua selesai." Luky mengingatkan.
Dewa mengabaikan ucapan Luky ia justru menenggak minuman yang ia pesan tadi, langsung dari botol.
Meski terlihat tenang-tenang saja, sebenarnya di dalam otak Dewa begitu berisik mencari cara untuk menyelesaikan skandal yang menimpanya. Ia tidak mau karirnya berakhir, ia juga tidak mau maminya makin drop. Ia benar-benar pusing sekarang ini. Bahkan jalan keluar yang sudah ia pikirkan pun seakan gagal sebelum dimulai.
"Jangan mabok, besok pagi lo ada acara sarapan bersama Pak Galih sebelum kita balik ke Jakarta." Luky kembali mengingatkan.
Dewa meletakkan botol yang baru ia tenggak. Menatap tajam Luky yang seolah menganggu kesenangannya.
Ia pun meninggalkan bar. Waktunya di Surabaya ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menjalin banyak kerja sama. Selain untuk memulihkan nama baiknya, ia juga harus menjaga namanya tetap bersinar dengan banyak karya. Profesionalitas harus dijaga, karenanya ia memilih untuk tak lanjut minum dan kembali ke kamar.
*
Rea sudah bersiap untuk berangkat ke hotel saat Ayu—teman satu kosnya—menyapa, "Udah dapat kerjaan tambahan belum, Re?"
"Belum, Mbak. Susah ternyata cari kerja tambahan. Apa lagi aku nggak mau lepas kerja aku di hotel," jawab Rea jujur.
"Nah, kan, nggak gampang cari kerja tambahan. Makanya ikut aku aja, Re, waktunya pas banget sama jam kerja kamu. Pagi kamu bisa di hotel, malam jadi LC, cocok, kan? Cuannya jelas, kerjanya ringan."
Rea nyengir saja. "Nggak dulu deh, Mbak, aku takut kalau deket sama om-om. Bisa bisa aku nangis di tempat."
Ayu tertawa dengan penolakan Rea. Ia tahu Rea gadis baik-baik. Dan ia tahu juga resiko untuk terjerumus ke dunia yang lebih gelap sangat besar terjadi di lingkungan kerjanya meski duit yang dihasilkan nyata besarnya.
"Aku berangkat dulu, Mbak, takut telat."
"Ya, nanti kalau kamu udah mentok nggak dapat kerja dan tertarik kerja sama aku bilang aj, Re. Aku bantu sampai jadi profesional."
Rea hanya mengacungkan jari jempolnya.
Ia pun berangkat dengan angkot menuju hotel seperti biasa. Sampai di sana, ia melakukan rutinitas briefing sebelum mulai bekerja.
Kali ini ia lebih santai menuju kamar sang artis. Ketidakhadirannya semalam pasti sudah membuat sang artis tahu jika dirinya menolak.
"Housekeeping." Rea mengetuk pintu kamar Dewa.
Tidak ada jawaban, tapi pintu justru langsung dibuka oleh Dewa sendiri.
"Permisi, boleh saya bersihkan kamarnya, Bapak?"
"Ya."
Rea mengganjal pintu kamar, lalu mendorong troli ke depan pintu.
"Permisi," ujar Rea saat melewati Dewa yang masih berdiri di samping pintu.
Seperti kemarin, Rea membuka gorden lebih dulu.
"Kenapa kemarin tidak datang."
Suara itu membuat gerakan tangan Rea terhenti. "Maaf, saya pikir Bapak hanya bercanda."
Ia pun balik badan, menghadap Dewa. "Apa Bapak mau saya ganti seprainya sekalian?"
Ini yang harus Rea lakukan, mengalihkan topik.
"Apa kemarin terlihat bercanda?"
"Bagaimana jika saya ganti saja untuk kenyamanan Bapak." Rea mengabaikan ucapan Dewa, ia justru melepas seprai dari kasur dan segera membawanya ke troli untuk seprai kotor.
Ia kembali mengabaiakan Dewa yang masih mematung di samping pintu. Saat Rea kembali untuk melanjutkan tugasnya, Dewa menyingkirkan ganjalan pintu, dan menutupnya tiba-tiba.
Secara reflek Rea langsung balik badan dan waspada. "Apa yang Bapak lakukan?"
"Gue cuma ingin bicara sebentar."
"Kita bisa bicara sambil saya mengerjakan pekerjaan saya. Kalau tidak begitu saya akan dimarahi atasan saya karena membuat pekerjaan teman-teman saya keteteran nantinya."
"Lima menit."
"Silakan, tapi saya tetap akan bekerja." Rea harus tetap bersikap profesional.
Namun Dewa tidak mau. Ia ingin ucapannya di dengar, bukan hanya dianggap sekadar angin lalu. Pria itu dengan lancang menarik Rea, mendudukkannya di sofa. Mengurungnya dengan dua lengan yang bersandar di kiri dan kanan tubuh Rea.
"Bapak sudah kelewat batas, saya bisa melaporkan perbuatan ini pada pihak hotel." Rea tak menunjukkan ketakutan sama sekali, lebih tepatnya ia menyembunyikannya agar tamu tak makin mengintimidasinya.
"Gue mau nawarin kerjasama sama lo. Gue tahu lo butuh duit, gue akan kasih kalau lo mau nerima tawaran gue."
Rea tercengang. Bagaimana bisa pria ini tahu masalahnya.
"Lo nggak usah mikir dari mana gue tahu soal masalah lo, gue cuma mau lo terima tawaran gue."
"Saya harus lanjut bekerja, Bapak." Rea mencoba bangkit. Tapi dengan cepat Dewa mendorongnya ke sofa.
"Kita bicara lagi setelah jam kerja lo habis, kasih tahu gue di mana kita bisa bicara."
"Maaf pak, saya harus segera menyelesaikan pekerjaan saya." Sekali lagi Rea berusaha bangkit, dan sekali lagi Dewa mendorongnya.
"Jangan bikin gue emosi!"
"Bapak juga jangan menghalangi pekerjaan saya!"
"Jam berapa lo pulang?"
"Saya masih banyak pekerjaan, Pak."
"Gue bisa bikin lo kehilangan pekerjaan ini kalau gue mau!" ancam Dewa.
"Saya juga bisa laporkan apa yang bapak lakukan ini pada pihak hotel. Ada CCTV yang merekam Bapak menutup pintu dengan sengaja saat saya sedang bekerja, dan itu sudah bisa jadi bukti kalau Bapak punya niatan tidak baik pada saya. Saya yakin ini akan berakibat buruk untuk karir Bapak." Entah dari mana keberanian itu muncul. Rea bisa bicara dengan lancar, membalas ancaman Dewa.
Dewa mengembuskan napas kasar. Wanita ini tak semudah yang Dewa bayangkan. "Ok, gue tunggu lo di tempat kemarin, jam 8."
Dewa pun menyingkir dari hadapan Rea. Ia lalu pergi meninggalkan kamar dan membiarkan Rea melanjutkan pekerjaannya.
Di depan pintu kamar, Luky sudah menunggu Dewa. Ia cukup kaget melihat troli housekeeping di depan kamar Dewa, tapi dengan pintu kamar yang tertutup. Sekilas tadi ia juga bisa melihat jika seorang pegawai hotel duduk di sofa kamar Dewa. "Ada siapa di dalem?"
"Housekeeping."
Luky mengernyit. "Kok kamarnya di tutup?"
"Bukan urusan lo!"
"Lo nggak bikin ulah kan, Wa, kali ini?"
"Udah buruan, entar ditunggu lagi sama Pak Galih dan istrinya." Dewa tak mau menjelaskan. Semua masih rencana, nanti kalau sudah deal, ia baru akan cerita pada Luky.
Di dalam kamar hotel, Rea mendadak lemas. Jujur tadi ia sangat ketakutan, saat Dewa menariknya ke sofa. Ia berusaha menutupi semua ketakutannya itu sebisa mungkin. Begitu Dewa keluar, lemas sudah sekujur tubuhnya. Ia tak habis pikir akan mengalami hal ini. Selama bekerja baru kali ini ada tamu yang memperlakukannya seperti ini.
Sebenarnya pria itu mau apa darinya? Untuk apa minta bertemu?
.