NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjemput Anjing Baru

Seravina melangkah masuk ke dalam gym pengap itu, membiarkan bunyi sepatu hak tingginya beradu dengan lantai semen yang retak. Di sudut ruangan, Viktor menghantam samsak dengan brutal.

"Ah... jadi di sini tempat monster berlatih," suara Seravina memecah keheningan, membuat gerakan Viktor terhenti seketika.

Viktor berbalik, napasnya memburu dengan uap panas yang keluar dari mulutnya. Tatapan matanya yang kosong bertemu dengan seringai lebar Seravina. Ia tidak bertanya bagaimana wanita itu bisa menemukannya.

"Pergi," geram Viktor pendek.

Seravina justru mendekat, mengabaikan bau keringat dan aura mematikan yang terpancar dari tubuh besar pria itu. Ia mengulurkan tangan, menyentuh buku jari Viktor yang berdarah dengan ujung jarinya yang dingin.

"Mikhail bilang kau adalah api yang akan membakarku," bisik Seravina dengan tawa kecil yang terdengar gila. "Tapi dia lupa, aku sudah lama ingin merasakan bagaimana rasanya terbakar hidup-hidup."

Viktor menarik tangannya kasar, tidak memahami emosi di balik mata wanita di depannya.

"Aku bukan mainanmu," ucap Viktor datar.

Viktor baru saja hendak berbalik untuk kembali menghantam samsak

Tiba-tiba sebuah tarikan kuat pada kerah kaosnya yang basah oleh keringat menghentikan gerakannya. Seravina, dengan kekuatan yang tak terduga dan kegilaan yang sudah mencapai puncak, menarik leher pria tinggi itu ke bawah.

Sebelum Viktor sempat memproses apa yang terjadi, bibir Seravina sudah membungkam miliknya.

Itu bukan ciuman yang lembut—ia kasar, menuntut, dan penuh dominasi. Seravina menciumnya seolah ingin menghisap seluruh nyawa dari dalam tubuh Viktor, sementara jemarinya mencengkeram erat tengkuk pria itu, memaksanya untuk tetap di sana.

Mata Viktor membelalak. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.

Selama ini, satu-satunya hal yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang adalah hantaman tinju lawan atau retakan tulang saat ia bertarung di arena underground. Adrenalin dari rasa sakit adalah satu-satunya frekuensi yang ia kenal. Namun saat ini, di dalam gym yang pengap itu, dadanya bergemuruh hebat karena alasan yang sama sekali asing.

Jantungnya berdetak liar.

Seravina melepaskan ciumannya, tetap membiarkan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Viktor. Ia bisa merasakan napas Viktor yang tidak beraturan menghantam kulitnya.

Viktor mematung selama beberapa detik, otaknya gagal memproses anomali yang baru saja terjadi. Detak jantung yang liar itu terasa seperti gangguan sistem pada mesinnya.

Tepat saat Seravina baru saja hendak menarik napas untuk membisikkan sesuatu yang gila lagi, insting pertahanan diri Viktor mengambil alih.

Dengan satu gerakan kasar, Viktor mencengkeram kedua bahu Seravina dan mendorongnya menjauh hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

"Jangan sentuh aku," suara Viktor terdengar lebih dalam dan berbahaya dari biasanya, ada getaran kemarahan yang tidak ia pahami di sana.

Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya yang kasar dan berdarah, seolah-olah mencoba menghapus jejak kehadiran Seravina dari kulitnya. Matanya yang kosong kini berkilat tajam, menatap Seravina bukan sebagai wanita, melainkan sebagai ancaman yang mengganggu ritme hidupnya.

Viktor mengepalkan tinjunya hingga handwrap-nya kembali merembeskan darah segar.

"Keluar. Sebelum aku lupa kau adalah seorang wanita," ancamnya dingin.

Alih-alih merasa takut, Seravina justru melihat bagaimana dada Viktor naik-turun dengan cepat.

Seravina memiringkan kepala, menatap wajah Viktor yang kini tak lagi sepi. Mata yang biasanya mati itu berkilat—ada amarah, keterkejutan, dan kebingungan yang bertabrakan di sana.

"Kenapa?" tanya Seravina polos. "Kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat hantu, Viktor?"

Ia tidak tahu soal obsesi Viktor pada adrenalin atau rasa sakit. Reaksi fisik pria itu hanyalah tanda bahwa mesin ini akhirnya mulai rusak di bawah kendalinya.

Viktor tidak menjawab. Ia hanya menatap Seravina dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau..." Viktor menggeram, suaranya pecah, tidak mampu melanjutkan kalimatnya saat rasa asing di dadanya semakin mencekik.

Seravina hanya tersenyum tipis. "Lihat. Matamu akhirnya terlihat hidup."

Pandangan Viktor jatuh ke bibir Seravina yang sedikit bengkak dan kemerahan. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam dadanya. Detak jantung ini—gejolak yang terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas—harus ia temukan ujungnya.

Tanpa satu patah kata pun, Viktor melangkah maju. Tubuh raksasanya menghimpit Seravina hingga wanita itu terdesak keras ke samsak kulit di belakangnya. Rantai besi samsak itu berdenting nyaring, suara itu langsung terkubur saat Viktor meraup kasar bibir Seravina.

Jantungku... kenapa?

Viktor tidak mencium; dia menyerang. Bibirnya menghantam milik Seravina dengan rasa lapar yang mentah dan primitif. Suara hisapan yang basah memenuhi keheningan gym yang pengap.

Tangan Viktor yang masih terbalut handwrap kasar mencengkeram rahang Seravina hingga kuku-kukunya memutih, memaksa wanita itu menerima setiap lumatan kasarnya.

Jantungku... kenapa berdegup sekeras ini? Rasa apa ini? Sial, apa-apaan ini?!

Selama ini, adrenalin hanya datang dari tulang yang patah. Sekarang rasa panas yang menjalar dari lidah Seravina ke seluruh sarafnya terasa jauh lebih mematikan.

Viktor menggeram di tengah ciuman itu. Ia menekan tubuhnya lebih rapat, membiarkan otot dadanya yang keras mengunci pergerakan Seravina.

"Mmph!" Seravina tersentak. Oksigen di paru-parunya menipis. Ciuman Viktor terlalu brutal, terlalu menuntut, seolah pria itu sedang mencoba menyedot nyawa dari tenggorokannya.

"Vik— akh... hen—" Ucapan Seravina terputus saat Viktor kembali membungkamnya dengan lebih ganas.

Viktor tidak memberi celah. Setiap kali Seravina mencoba berpaling untuk meraup udara, Viktor akan menjambak pelan rambut wanita itu ke belakang dan kembali menghisap bibirnya, mengabaikan fakta bahwa bibir mereka mulai terasa anyir karena luka yang saling beradu.

Kenapa semakin aku melakukan ini, dadaku semakin sesak? Kenapa aku tidak mau berhenti?

"Mmghh!" Seravina mulai memukul-mukul bahu Viktor yang sekeras beton, matanya mulai berair karena rasa sesak yang luar biasa. Ia butuh napas, namun Viktor seperti monster yang baru saja menemukan mangsa pertamanya—ia tidak akan berhenti sampai ia benar-benar paham kenapa mesin di dalam dirinya mendadak hidup.

Di tengah himpitan tubuh Viktor yang menyesakkan dan ciuman yang hampir merenggut kesadarannya, Seravina tidak membiarkan dirinya kalah begitu saja. Meskipun napasnya tersengal dan tubuhnya gemetar karena dominasi brutal pria itu, insting bertahan hidup sang Putri Zharvok tetap menyala.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, tangan kanan Seravina meluncur turun ke balik gaunnya. Di sana, terikat pada thigh strap di paha mulusnya, sebuah jarum suntik kecil dengan cairan penenang dosis tinggi sudah siap sedia.

"Mmph—!" Seravina mengerahkan tenaga terakhirnya untuk sedikit melonggarkan kuncian Viktor.

Tanpa ragu, Seravina menghujamkan jarum itu tepat ke sisi leher Viktor.

Tssk!

Cairan bening itu melesat masuk ke dalam aliran darah sang petarung underground dalam hitungan detik.

Viktor tersentak. Ciuman kasarnya terhenti seketika. Matanya yang tadi berkilat liar kini perlahan mulai meredup dan mengabur. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Seravina, tangannya meraba lehernya sendiri, namun kekuatannya hilang secepat adrenalin yang tadi membakarnya.

"Sial... kau..." gumam Viktor, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.

Tubuh raksasa setinggi 191 cm itu limbung ke depan. Seravina dengan sigap menghindar, membiarkan tubuh berat Viktor jatuh berdebam di atas lantai semen gym yang kotor. Kepala Viktor terkulai, napasnya yang tadi memburu kini melambat secara paksa akibat pengaruh obat.

Seravina berdiri mematung, dadanya masih naik-turun dengan cepat saat oksigen kembali mengisi paru-parunya yang sempat nyaris kolaps. Ia mengusap bibirnya yang bengkak dan terasa perih, lalu perlahan menundukkan kepala untuk menatap tubuh raksasa yang kini terkapar tak berdaya di lantai semen yang dingin.

Tatapan matanya berubah. Dingin, tajam, berkilat dengan kepuasan yang murni. Ia menatap Viktor seolah sedang menilai sebuah barang pecah belah yang baru saja ia hancurkan untuk melihat isinya.

"Benar-benar makhluk yang kasar," gumam Seravina, suaranya terdengar rendah dan serak di tengah keheningan gym.

Ia melangkah mendekat, lalu dengan ujung sepatu hak tingginya, ia sedikit menggeser kepala Viktor agar ia bisa melihat wajah pria itu dengan lebih jelas. Wajah yang tadi terlihat hidup karena emosi yang meledak-ledak, kini kembali kosong karena pengaruh obat.

"Tenaga yang liar, napas yang menjijikkan, dan cara mencium yang sama sekali tidak punya etika..." Seravina terkekeh pelan.

Ia berjongkok di samping tubuh Viktor, jemarinya yang lentik menelusuri rahang tegas pria itu yang baru saja mencengkeramnya dengan brutal.

"Tapi justru itu yang membuatmu sangat berharga. Semakin liar kau menggigit, semakin besar kepuasan yang akan kudapat saat aku berhasil memakaikan kalung di lehermu nanti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!