Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Beberapa saat kemudian, tubuh Rafael yang sudah nyaris kehilangan kesadaran diseret kasar keluar dari gudang. Hujan deras langsung mengguyur tubuhnya, membasuh luka-luka terbuka yang terasa perih membakar.
Jemarinya yang hancur terus mengalirkan darah segar yang langsung larut bersama air hujan, sementara wajahnya mengesankan rona pucat yang mengerikan, tak ubahnya mayat hidup.
Pintu sebuah SUV hitam pekat dibuka dengan sentakan kasar, sebelum akhirnya tubuh lemas Rafael dilempar begitu saja ke lantai kursi belakang.
Di bagian depan, Hank melangkah masuk ke dalam kabin kemudi tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Tak lama, iring-iringan mobil hitam itu mulai bergerak membelah kegelapan, meninggalkan gudang tua yang sepi. Sorot lampu kendaraan memotong tirai hujan malam, melaju mantap menuju satu titik yang paling ditakuti di seluruh Kota S.
Mansion milik Aragon De Hartmann.
Sebuah tempat megah namun terkutuk, di mana nasib akhir seorang Rafael Bellucci akan benar-benar diputuskan.
Iring-iringan mobil hitam itu melaju cepat, membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan malam. Pendar merah dari lampu belakang kendaraan memantul di atas aspal yang basah karena air hujan, menciptakan ilusi aliran darah yang memanjang di tengah pekatnya kegelapan.
Di dalam mobil barisan belakang, Rafael Bellucci terbaring lemah dengan napas yang kian tersengal. Tubuhnya remuk dipenuhi luka, sementara darah segar masih terus merembes dari jemarinya yang hancur, terbalut kain seadanya yang kini telah basah kuyup.
Rafael terus mengerang kesakitan, menahan denyut nyeri yang menyiksa. Apagi leher dan rahangnya sudah retak dan patah. Namun, tidak ada seorang pun di dalam kabin itu yang peduli.
Tak lama kemudian, laju mobil paling depan mulai melambat.
Dari kejauhan, sebuah gerbang besi raksasa menjulang tinggi, tampak angkuh layaknya pintu masuk menuju dunia lain. Lambang keluarga De Hartmann terukir megah di tengah gerbang hitam tersebut, kilau warna peraknya memantulkan cahaya samar yang justru tampak mengerikan di bawah guyuran hujan.
Beberapa pria bersenjata lengkap berjaga ketat di sana. Begitu mengenali iring-iringan kendaraan Hank, mereka serentak menundukkan kepala penuh hormat seiring dengan pintu gerbang yang perlahan terbuka secara otomatis.
Suara berat dari gesekan besi tua yang masif menggema rendah, memecah keheningan malam saat mobil-mobil hitam itu mulai memasuki area mansion.
Namun, perjalanan mereka belum usai.
Di balik gerbang utama, terbentang jalan panjang berlapis batu alam hitam yang membelah taman luas milik keluarga De Hartmann.
Rentetan lampu-lampu taman berdiri berjajar, menerangi jalur panjang menuju kediaman utama yang masih terletak jauh di ujung sana. Pepohonan tinggi di sisi kanan dan kiri jalan bergoyang liar diterpa angin malam, menciptakan bayangan-bayangan hitam yang membuat atmosfer sekitar terasa kian mencekam.
Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, Rafael perlahan mengangkat kepalanya, melirik ke luar jendela. Detik itu juga, sepasang matanya membelalak penuh horor.
Di kejauhan sana, berdiri mansion milik Aragon De Hartmann.
Bangunan megah bak istana gelap itu menjulang kokoh di tengah kepungan hujan malam. Cahaya kekuningan dari deretan jendela tinggi memancar dingin, menyerupai tatapan predator yang sedang mengawasi mangsa yang berjalan mendekat.
Semakin dekat roda mobil itu berputar, semakin Rafael menyadari bahwa ia tidak sedang dibawa menuju sebuah rumah, melainkan langsung ke gerbang kematiannya sendiri.
Iring-iringan mobil hitam akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama mansion De Hartmann.
Deretan pilar marmer raksasa menjulang tinggi di bawah guyuran hujan malam, sementara cahaya lampu kristal dari dalam mansion memantul dingin di lantai basah.
Pintu mobil terbuka hampir bersamaan.
Para pengawal segera turun lebih dulu sebelum menyeret Rafael Bellucci keluar dari kendaraan.
Tubuh pria itu sudah nyaris tidak mampu berdiri. Kedua kakinya lemas seperti kehilangan tulang setelah dihajar tanpa ampun oleh Hank. Wajahnya dipenuhi darah dan lebam, napasnya tersengal menyakitkan, sementara tangan yang terluka terus meneteskan darah ke lantai marmer.
“Bangun,” bentak salah satu pengawal sambil menarik kerah Rafael kasar.
Rafael hanya bisa mengerang pelan.
Mereka kemudian menyeret Rafael melewati aula utama mansion yang luas dan sunyi. Suara langkah sepatu para pengawal menggema menyeramkan di tengah keheningan malam.
Di ujung aula.
Aragon De Hartmann sudah menunggu.
Pria itu duduk santai di sofa hitam mewah dengan kaki panjang tersilangkan elegan. Jas hitam sempurna membalut tubuhnya, sementara jemarinya memutar pelan cincin hitam di jari manisnya.
Tatapan matanya dingin.
Begitu dingin hingga membuat siapa pun merasa sulit bernapas.
Hank berdiri di samping Aragon dengan wajah tanpa ekspresi, menundukkan kepala sedikit memberi kan hormat.
“BRAK!”
Tubuh Rafael dilempar kasar ke atas lantai tepat di depan Aragon.
Pria itu langsung mengerang kesakitan sambil berusaha bangkit, tetapi tubuhnya terlalu hancur untuk bergerak normal.
Aragon menatap Rafael beberapa detik tanpa bicara.
Tatapan itu jauh lebih mengerikan daripada amarah.
“Berani sekali kau mencuri barang milikku,” ucap Aragon akhirnya dengan suara rendah dan tenang.
Rafael langsung gemetar hebat.
Aragon berdiri perlahan dari tempat duduknya lalu melangkah mendekat.
Suara sepatu kulit mahalnya menggema pelan di lantai marmer.
“Senjata rakitan itu, semua barang-barang yang kau curi..” lanjut Aragon dingin. “Di mana kau sembunyikan?”
“BRUK!”
Aragon menginjak tangan Rafael tanpa ampun. Sepatu hitam itu terus menekan tangan Rafael yang nyaris sudah tak sempurna lagi.
“AAAAARGHHH!!”
Rafael menjerit histeris saat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Ma-maaf Tuan… saya hanya disuruh…” katanya terbata-bata sambil menangis ketakutan.
Tatapan Aragon menyipit tipis.
“Siapa yang menyuruhmu?”
Rafael menggeleng panik.
“Sa-saya tidak mengenalnya… wajahnya ditutupi topeng…”
Aragon tetap diam menunggu.
“Tapi… dia terlihat sangat kuat…” lanjut Rafael dengan napas gemetar. “Orangnya bukan sembarangan… pengawalnya banyak… saya hanya diperintah menyimpan barang itu sementara…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hank dan para pengawal saling berpandangan singkat.
Sementara Aragon perlahan menurunkan tatapannya ke Rafael dengan sorot mata yang kini berubah jauh lebih gelap.
Karena jika ada seseorang yang cukup berani menyentuh barang miliknya. Berarti orang itu sedang menantang Aragon De Hartmann secara langsung.
Suasana di dalam aula luas itu mendadak mencekam. Keheningan yang tercipta setelah pengakuan Rafael terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di dalam ruangan telah habis tersedot oleh aura intimidasi yang memancar dari tubuh Aragon.
Aragon perlahan mengangkat kakinya dari tangan Rafael yang kini hancur dan bersimbah darah. Ia tidak langsung merespons.
Dengan santai, ia mengulurkan tangannya, lalu Hank memberikan sapu tangan, Aragon kemudian menaikkan kakinya di punggung Rafael, dan menyeka noda darah yang sedikit mengotori sepatunya, itu karena muncratan darah dari tangan Rafael.
Gerakan yang begitu tenang, namun justru mengalirkan kengerian yang nyata ke lubuk hati semua orang di ruangan itu.
"Bertopeng. Pengawal banyak. Bukan orang sembarangan?” Aragon mengulang kata-kata Rafael dengan nada datar, hampir seperti bisikan.
Ia melempar saputangan yang telah ternoda merah itu tepat ke wajah Rafael yang bersujud di lantai.
Aragon berbalik memunggungi Rafael, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menampilkan siluet guyuran hujan badai di luar.
Bersambung